
Setelah beberapa menit akhirnya ia tertidur, dan saat ia tertidur, Ray terbangun kembali. Ia terbangun karena merasa ada yang aneh. Saat membuka mata dan melihat mamanya memeluknya, ia pun segera duduk.
Ia menatap tengkorak berjubah yang masih menatap lekat pada mamanya. Dan saat itu roh yang bersemayam di tubuh Teresia sedang terbangun, terkejut melihat penampakan itu. Ia sangat mengetahui mahluk tersebut. Segera ia menutup matanya dan mencoba mengalihkan pikirannya dan berharap pemilik raga yang asli terbangun.
"Esa mujer morirá," ujar roh wanita tersebut.
"Kau sedang apa?" tanya Ray yang mendengar roh yang merasuki tubuh teresia bergumam dalam hati. Tapi tentu saja bahasa yang digunakan berbeda. Tapi karena sudah biasa mendengarnya Ray menganggap Teresia sedang mengigau.
"Huh bahasa apa sebenarnya yang kau ucapkan? Kenapa kau aneh sekali," tutur Ray.
Tapi karena tidak ada jawaban, Ray pun mencoba menutup matanya.
Pagi harinya, Ray bangun lebih cepat. Segera ia mengerjakan tugas-tugasnya. Setelah itu ia mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. "Apa kau sudah sarapan?" tanya Emile ketika Ray hendak berangkat.
"Ia sudah," jawab Ray dengan singkat.
"Tunggu Ray, mama akan mengantarmu ke sekolah hari ini." kata Emile.
Ray bingung waktu sudah menunjukkan kalau ia harus segera bergegas pergi ke sekolah, jika ia tidak ingin terlambat. Tapi ia juga tidak mau melawan Emile. Akhirnya dia pasrah menunggu mamanya berkemas. Dan setelah selesai berkemas, barulah mereka berdua pergi ke sekolah bersama.
Emile sebenarnya berniat memindahkan Ray ke sekolah lain. Ia ingin membawa Ray pergi jauh secepatnya, sebelum Gina berhasil menemukan orang tua Ray. Tapi ia tidak menyadari ada beberapa orang yang sudah mencari kesempatan untuk menghabisi Ray. Dan saat melihat mereka, penjahat itu tidak menyia-nyiakan kesempatannya.
Saat itu Ray diserang dari belakang, tapi Emile yang melihat penyerang melindungi Ray. Dan karena takut ketahuan, akhirnya penyerang secara brutal menyerang mereka berdua. Dan saat mendengar ada orang lain yang datang mereka meninggalkan ke duanya dalam keadaan berlumuran darah.
__ADS_1
Ray dan Emile dibawa ke rumah sakit terdekat. Tapi karena tidak ada yang mengenal mereka, maka tidak ada yang berani menandatangani surat untuk melakukan operasi. Lalu pihak rumah sakit mencoba menghubungi pihak sekolah Ray saat melihat atribut sekolah Ray.
Tapi tentu saja itu adalah kabar gembira untuk pemilik sekolah yang menaruh dendam pada Ray. Dengan berpura-pura akan menghubungi keluarga Ray, mereka pun mengakhiri panggilan dari pihak rumah sakit.
Saat itu Gina yang datang berkunjung merasa heran karena rumah Emile tutup, jadi ia berpikir untuk menunggu di depan rumah kontrakan Emile. Tapi tidak lama kemudian pihak rumah sekolah datang dan menemukan Gina di depan rumah.
Terjadilah percakapan mengenai insiden yang terjadi pada Ray dan Emile. Gina secepatnya pergi ke rumah sakit tempat Emile dan Ray berada. Dengan tanda tangannya barulah pihak rumah sakit melakukan penanganan lebih akurat.
Sampai sore hari keduanya belum siuman. Dan Gina mulai kuatir. Dan malam harinya Emile tampak membuka matanya. Gina sangat senang melihatnya. Dia menggenggam tangan Emile dengan erat. Memberinya semangat dan dukungan. Tapi Emile hanya bisa menangis.
"Jangan menangis, Ray baik-baik saja," ujar Gina sambil menunjukkan Ray yang terbaring di ranjang sebelah di ruangan itu.
Saat melihat Ray yang terbaring di sebelahnya ia hanya bisa menjulurkan tangannya. Gina memahami perasaan Emile dan mencoba menghiburnya. Tapi itu adalah yang pertama dan yang terakhir Emile membuka mata. Meski masih bernapas ia sudah tidak membuka matanya lagi.
Denyut jantungnya makin melemah. Dokter mengatakan usianya sudah tidak lama lagi. "Dia hanya bisa mendengar, jika ada kata-kata terakhir yang ingin diucapkan, sebaiknya diucapkan sekarang." saran dokter yang menangani Emile.
"Jangan!" teriak Ray tiba-tiba. Ia tidak tau apa yang akan terjadi tapi firasatnya mengatakan hal buruk akan menimpa mamanya. Meski berteriak, sabit telah menebas mamanya. Dan setelah itu perlahan-lahan mahluk tersebut menghilang, seiring dengan denyut nadi Emile yang berhenti.
"Mama...! Jangan tinggalkan aku!" teriak Ray histeris. Gina kebingungan memanggil dokter. Dan saat dokter datang, ia hanya bisa mengatakan kalau pasien telah tiada. Ray menangis memeluk mamanya. Dan tanpa ia sadari roh Emile menatapnya dengan hangat.
"Mama sayang kamu...maafkan mama," ujar Emile yang memeluk Ray dari belakang. Sesaat Ray berhenti menangis karena merasakan dekapan roh Emile di punggungnya dan mendengar ucapan Emile. Lalu ia menoleh ke belakang. Arwah Emile menyentuh kedua pipinya lalu mencium kening Ray.
"Selamat tinggal putraku." ujarnya lalu menghilang. Emile pergi dengan tenang, karena keinginan terdalamnya sudah tercapai. Ia ingin merasakan rasanya menjadi seorang mama. Dan ia ingin menutup mata di dalam dekapan orang yang menyayanginya.
__ADS_1
Pemakan Emile dilakukan setelah Ray bisa keluar dari rumah sakit, dan makamnya berada di sebelah makam putra kandung Emile sendiri. Setelah kejadian itu Ray dibawa oleh Gina ke rumahnya.
"Siapa dia, apa dia anak dari simpanan mama?" ujar anak tertua Gina saat melihat Ray.
"Dia anak tante Emile," ujar Gina pada anak pertamanya.
"Anak tante Emile apanya, aku dengar dia bukan anak kandungnya," ujar putra kedua Gina.
"Cukup, jangan banyak bicara, ayo Ray tante tunjukkan kamarmu." ujar Gina pada Ray.
Dan saat itu ia berpapasan dengan putra ketiganya. Anak itu diam saja, lalu melewati Ray dan mamanya.
"Papa dan mama memang sama saja," gumamnya hampir tidak bersuara.
Gina mendengar ucapan anak ketiganya tapi ia memilih diam saja. Ia mengerti jika ketiga putranya, tidak akan ada yang percaya, pada apa pun yang akan ia katakan sekarang.
"Ray istirahatlah, lukamu masih belum pulih benar."
Ray hanya mengganguk dan merebahkan tubuhnya pada kasur yang ada di kamar tersebut. Semua terasa sangat asing, termasuk roh-roh yang mendiami tempat itu. Mereka mencoba mengusik Ray. Tapi Ray memgacuhkan mereka dan akhirnya memilih untuk memejamkan matanya.
Ray bermimpi tentang sebuah rumah besar yang terlihat seperti bagunan kuno dan tampak ia menjelajahi rumah tersebut. Kakinya seperti di tarik ke sebuah ruangan. Ruangan penuh buku, dan ada satu buku yang menarik perhatiannya.
Tangannya tergerak untuk mengambil buku tersebut dan saat menarik buku tersebut, ia melihat lemari itu terbuka. Dan tampaklah sebuah ruang rahasia. Di sana terlihat juga sebuah peti, yang dihias dengan ukiran naga.
__ADS_1
"Siapa kau!"
Bersambung...