Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Keributan


__ADS_3

Beberapa orang ikut ke kantor polisi, rasa prihatin pada gadis itu membuat mereka tidak keberatan dibawa ke kantor untuk memberi keterangan. Sebab mereka berpikir seandainya anak perempuan, adik perempuan, atau siapa pun keluarga mereka yang mengalami nasib yang sama dengan gadis itu. Dan bisa saja jika tidak ada yang perduli, maka kejahatan yang sama akan terjadi lagi. Dan mungkin giliran berikutnya adalah giliran keluarga mereka.


Pemilik kedai ikut ke rumah sakit untuk menemani gadis itu. Ia merasa kasihan pada gadis itu. Tapi sosok mahluk halus berbentuk kepala dengan bagian dalam tubuh yang terurai marah besar. Ia pun mengganggu anak dari pemilik kedai itu yang masih berusia dibawah lima tahun.


Anak itu tiba-tiba terkejut dan menangis serta tidak mau diam. Sebab mata batinnya masih terang dan bisa melihat mahluk halus. Roh kepala itu memasuki raganya. Dia pun mengalami kejang. Dan akhirnya pertumbuhan anak itu jadi terganggu. Sebab roh kepala itu menghisap energi anak tersebut.


Di rumah sakit gadis itu divisum dan dari hasilnya dinyatakan kalau ia dipakai berkali-kali oleh pemuda yang menculiknya. Mahkota gadis itu sudah hilang. Dan ditubuhnya terdapat zat yang membuat kesehatan organ dalam tubuhnya terganggu.


Te Apoyo sangat terkejut saat om Nicholas memberikan keterangan kalau gadis itu korban penculikan. Dan ia jadi pelepas dahaga pria, oleh pemuda yang menculiknya, yang merupakan teman sekampus Te Apoyo dulu. Hal itu membuat Te Apoyo jadi teringat tentang pakaian yang bernoda bercak darah di depan pintu teman kuliahnya tersebut.


Ke esokan harinya gadis itu terbangun. Dan ia heran saat melihat kalau ia sudah berada di rumah sakit. Dan mamanya juga sudah ada di sana. Papanya terlihat sangat kesal. Ia merasa putrinya sudah mencoreng mukanya.


Gadis itu terkejut saat melihat Te Apoyo datang untuk memeriksa kondisinya. Dia berteriak-teriak dan marah pada Te Apoyo.


"Pergi kamu! Dasar pria tidak punya perasaan! Kamu menyerahkanku pada pria itu! Aku membencimu!" ujarnya histeris.


Ia mengira saat ia tidur, Te Apoyo mengantarkannya atau pun menyerahkannya pada pemuda yang telah merenggut kesuciannya. Ia sudah kesal karena merasa Te Apoyo telah mengambil keuntungan darinya. Mengira kalau Te Apoyo menikmati tubuhnya saat pertama kali rohnya terbangun di kamar Te Apoyo tanpa busana.


Tapi karena ia tidak ingat apa pun, ia tidak tahu harus berbuat apa selain ingin agar Te Apoyo bertanggung jawab padanya. Ia pikir Te Apoyo akan bertanggung jawab cepat atau lambat. Apalagi Malika telah berjanji bahwa ia akan membantunya.


Papa gadis itu melihat Te Apoyo sekilas. Lalu ia pun menjadi geram. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dan dalam hitungan detik ia mendekati Te Apoyo.


"Oh jadi kamu yang sudah menjerumuskan putriku! Tanggung jawab kamu! Dokter yang tidak punya perasaan! Aku akan menyebarkan perbuatan burukmu!" ujar papa gadis itu dan langsung mendaratkan mangga muda di pipi Te Apoyo.


"Sabar pak! Sabar!" ujar Te Apoyo.

__ADS_1


"Sabar katamu?! Sabar! Ini sabar!" kata pria paruh baya itu terus saja memukuli Te Apoyo.


Te Apoyo mencoba melarikan diri tapi si istri juga ikutan memukuli Te Apoyo dengan sepatu.


"Dasar dokter tidak berpendidikan! Teganya kamu menghancurkan putri kami!" ujar si Istri.


"Aku tidak berbuat apa pun, Ini pasti salah paham!" teriak Te Apoyo.


"Salah paham katamu! Setelah kami lapor ke polisi dan kamu masuk penjara baru kamu akan mengaku?!" teriak mama gadis itu.


Beberapa dokter maupun perawat masuk karena mereka mendengar ada suara ribut-ribut. Dan mereka membantu Te Apoyo yang dikeroyok oleh orang tua pasien. Sebenarnya Te Apoyo bisa saja membalas mereka. Tapi ia mengetahui kalau mereka tidak boleh dilawan dengan kemampuan bela dirinya.


"Hei kalian jangan bela dia! Dia dokter yang tidak berpendidikan. Aku akan laporkan kamu agar kamu dipecat!" teriak papa gadis itu.


"Asal kalian tahu, orang itu sudah menjerumuskan putriku! Ia kan putriku!" kata papa gadis itu.


Gadis itu menangguk sambil menangis dan mamanya memeluknya. Te Apoyo mengernyitkan jidatnya. Dan ia memandang gadis itu dengan heran. Hal itu dilihat olen papa gadis itu, dan sekali lagi Te Apoyo terkena kepalan tangan papa gadis itu.


Para dokter pun menjauhkan papa gadis itu dan Te Apoyo akhirnya memilih keluar. Tapi sebelum keluar dari pintu gadis itu berteriak.


"Aku akan melaporkanmu pada Malika!" teriaknya.


Te Apoyo tersentak. Sesaat ia mengingat tentang arwah yang mengikutinya. Lalu ia ingat kata-kata Malika. Dan ia pun menempelkan telapak tangannya ke wajahnya. Kemudian membiarkan gadis itu terus berteriak histeris. Seorang dokter menyuntikkan obat penenang padanya.


Te Apoyo menghubungi Malika, dan memintanya untuk membantu membereskan masalah yang ada di rumah sakit. Para dokter memandangi Te Apoyo dan menanyakan apa hubungan Te Apoyo dan gadis itu sebenarnya. Te Apoyo memilih diam. Ia hanya meminta mereka agar memeriksa kondisi gadis itu dan memberikan keterangan selanjutnya.

__ADS_1


Malika pun datang. Untungnya ia belum kembali ke negaranya. Dan sekarang ia berada di kamar gadis itu. Ia pun menjelaskan apa yang terjadi pada gadis itu. Tapi penjelasannya sama sekali tidak diterima oleh kedua orang tua gadis tersebut.


"Dibayar berapa kamu sama dokter gadungan itu?" ujar papa gadis itu.


"Saya mengatakan yang sebenarnya pak," ujar Malika.


"Jangan banyak bicara, kalau kamu juga ternyata terlibat, jangan harap kamu bisa hidup tenang!" teriak papa gadis itu.


Malika pun terbengong. Dan saat itu om Nicholas datang. Mama gadis itu langsung mengatakan apa yang gadis itu tuduhkan tentang Te Apoyo. Om Nicholas heran karena ia merasa itu tidak masuk akal. Ia mengenal Te Apoyo meski mereka hanya beberapa kali bertemu.


"Itu tidak mungkin pak, ini pasti ada salah paham," ujar om Nicholas tersebut.


"Hahaha, kamu lihat itu istriku, seburuk apa selingkuhanmu ini! Bukan hanya merebut istri orang lain tapi juga menipu. Bekerja sama dengan penjahat artinya secara tidak langsung telah berbuat jahat! Ingat itu pak! Apa anda tidak malu dengan seragam anda?!" ujar papa gadis itu mengejek.


"Papa apa-apaan sih?" tanya mama gadis itu.


"Jaga bicara anda, ini rumah sakit, berhentilah berteriak-teriak, pasien butuh ketenangan," ujar om Nicholas.


"Kenapa?! Kenapa?! Takut! Takut kalau semua orang tahu kebusukanmu!" ujar papa gadis itu.


Om Nicholas melirik ke arah mama gadis itu. Ia ingin agar mama gadis itu membujuk atau menenangkan suaminya. Mama gadis itu mendekati suaminya. Namun suaminya memandangnya dengan pandangan jijik.


"Kenapa? Apa karena ini berhubungan dengan selingkuhanmu sehingga kamu melupakan penderitaan putri kita?!" ujar papa gadis itu dengan geram menatap ke arah istrinya dan om Nicholas bergantian dengan bola mata yang hampir keluar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2