
Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga sampai di rumah tanpa ada gangguan apa pun. Anak itu masih meminta maaf setelah tiba di halaman rumah Esperanza. Membuat Esperanza meyakinkannya berulang kali kalau ia baik-baik saja.
"Aku akan mengganti pakaianmu saat aku punya uang nanti," ujarnya.
"Sudahlah, aku bilang tidak apa-apa. Jangan terlalu dipikirkan. Aku bisa mencucinya. Pasti nodanya akan hilang."
Esperanza tetap tersenyum tanpa memperlihatkan wajah kecewa sedikit pun. Akhirnya anak itu permisi pulang. Dan Esperanza segera masuk ke rumah menuju kamar. Mengganti pakaian lalu merendam cuciannya. Berharap nodanya bisa hilang jika segera dicuci.
Sementara anak itu kini menatap rumah Esperanza dari balik jendela, sebelum akhirnya ia ke dapur untuk mempersiakan makan malamnya. Saat mempersiapkan makan malamnya ia terus saja membayangkan wajah Esperanza. Ia tidak benar-benar memasak dengan sungguh-sungguh. Sebab ia tidak akan memakannya.
Malam pun tiba. Tidak ada tanda-tanda kalau seseorang akan keluar dari rumah Esperanza. Maka anak itu bergegas keluar. Menuju suatu tempat. Untuk mengambil uang di mesin ATM. Dengan uang itu ia membeli sebuah gaun yang cantik untuk Esperanza.
Setelah menikmati makan malam di tempat yang menyajikan menu kesukaannya. Ia pergi ke pertunjukan sulap. Di sana ada seorang wanita yang menatap pintu gedung teater. Ini bukan pertama kalinya ia berdiri di tempat itu pada jam yang sama.
Wajahnya tampak sedih dan ia tidak mampu mengungkapkannya. Ia merasa sangat malu melaporkan pada polisi kalau putranya hilang. Karena ia tidak ingat membawanya pulang.
Wanita itu berharap kalau putranya masih di dalam gedung dan menunggunya. Atau mungkin putranya berada di suatu tempat dan akan kembali ke tempat itu. Pasalnya putra wanita itu tidak mungkin pulang sendiri. Sebab jarak dari gedung teater ke rumahnya cukup jauh.
Ia akan menunggu sampai gedung teater kosong barulah pulang ke rumah. Meski anaknya belum pulang bersamanya. Dan malam ini ia membeli tiket masuk gedung itu. Ia duduk di sebelah tetangga Esperanza.
Sepanjang acara ia tidak menikmati pertunjukan sama sekali. Pandangannya liar melihat setiap orang yang membawa anak seumuran dengan putranya. Teman Esperanza tersenyum melihat tingkahnya. Sebab ia tahu apa yang ada di pikiran wanita tersebut.
__ADS_1
Ia berada di dalam gedung saat putra dari wanita menjadi korban pengganti dalam pertunjukan sulap yang merenggut nyawa tersebut. Tetangga sekaligus teman dekat Esperanza adalah satu-satunya penonton yang menyadari hal itu.
Acara pertunjukan sulap hari ini berakhir. Wanita itu belum beranjak dari kursinya, saat teman sekaligus tetangga Esperanza dan penonton lainnya meninggalkan kursi mereka tanpa memperdulikan wanita itu.
Saat teman Esperanza pulang ke rumah malam semakin larut. Sebuah rumah yang ia lewati tampak kosong. Sepertinya pemilik rumah itu sedang pergi. Tampak ada kegiatan yang mencurigakan dari orang yang berdiri di depan rumah itu.
Anak itu pura-pura tidak perduli dan dengan segera pulang ke rumah. Diletakkannya gaun yang ia beli untuk Esperanza di dalam lemarinya dengan perlahan. Seolah takut benda itu rusak. Setelah itu dengan cepat ia pergi ke sebuah ruangan.
Di ruangan itu ada tampak banyak roh yang menempel di dinding. Ia menarik kepala salah satu roh yang menyembul di dinding ruangan itu. Lalu ia memberi perintah. Agar roh itu mengikuti orang yang mencurigakan. Di depan rumah kosong yang ia lewati saat pulang.
Roh itu segera melesat ke rumah kosong tersebut. Lalu melaksanakan tugas yang diberikan padanya. Sementara anak itu pergi tidur dengan tenang malam itu.
Ke esokan paginya ia pergi ke sekolah seperti biasa. Terlebih dahulu ia pergi ke rumah Esperanza dan sarapan di sana. Lalu berangkat bersama menuju sekolah.
Mereka duduk bersebelahan.
Saat ia telah meletakkan tasnya ke dalam laci. Ia mengatakan pada Esperanza kalau ia mau ke kamar kecil. Esperanza mengangguk kecil. Anak itu pergi ke kamar kecil. Tapi bukan untuk buang air kecil ataupun air besar. Melainkan mengeluarkan sebagian rohnya sendiri dari raganya.
Rohnya melesat bersamaan dengan roh yang memberinya informasi menuju tempat penyimpanan barang curian. Lalu dengan hentikan jari barang-barang itu segera berpindah tempat ke gudang bawah tanah anak tersebut.
Selesai memindahkan barang curian tersebut, roh anak itu kembali ke tubuhnya. Setelah ia menyuruh roh yang memberinya lokasi penyimpanan hasil curian untuk kembali ke ruangan ia berasal.
__ADS_1
Anak itu kembali ke kelas seperti tidak terjadi apa-apa. Ia mengikuti pelajaran bersama anak-anak yang lainnya. Tampak tenang dan tidak mencurigakan.
Sepulang sekolah ia langsung pulang ke rumahnya. Menolak tawaran Esperanza untuk makan siang dirumahnya. Dengan alasan kalau ia sudah makan siangnya tadi pagi. Jadi ia hanya perlu menghangatkannya siang ini.
Ia segera menuju ruang bawah tanah. Dengan kemampuannya ia mengeluarkan separuh jiwanya dari dalam raganya. Kemudian merasuki seseorang. Orang itu bergerak sesuai dengan keinginan teman sekelas Esperanza itu.
Membeli makanan dengan uangnya sendiri dan mengantarkan makanan itu ke rumah teman Esperanza. Mengetuk pintu lalu meletakkan makanan tersebut di depan pintu. Setelah itu orang tersebut pergi dari sana.
Saat orang itu sudah pergi cukup jauh, separuh jiwa teman Esperanza kembali ke raganya. Mengambil makanan yang berada di depan pintunya dan menikmati makan siangnya yang mewah. Sementara tubuh yang ia rasuki kebingungan.
Ia ditinggalkan di tempat yang bukan tujuannya. Heran tiba-tiba berada di jalan yang jarang ia lalui. Lalu dengan ling-lung ia mencari jalan yang hendak ia lalui. Betapa terkejutnya ia saat tiba di toko tempat ia membeli obat untuk putrinya. Dompetnya ternyata sudah kosong. Uangnya habis, dan ia tidak tahu bagaimana bisa tidak tersisa selembar pun di dompetnya.
Akhirnya ia pulang dengan sedih. Uang yang berhasil ia pinjam untuk membeli obat putrinya. Kini tidak bisa ia gunakan. Ia pun tidak mungkin meminjam lagi. Sedih rasanya melihat putrinya berbaring lemah dan membutuhkan obatnya dengan segera.
Dan teman Esperanza justru tengah menikmati makanan yang ia beli, dengan menggunakan uang untuk membeli obat putri dari tubuh yang ia rasuki, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Tidak sia-sia aku menemukan buku usang ini. Dan berkat buku usang ini aku bisa hidup tanpa rasa kuatir kelaparan atau pun kekurangan," gumamnya.
Sambil memandangi buku yang terdapat di sebuah peti yang terletak di ruang bawah tanah rumah kakek dan neneknya.
"Seperti ini ternyata rasanya menjadi keturunan ke-7 dari pemilik buku ini. Hahahahaha!"
__ADS_1
Tamat.
*Cerita selanjutnya di Keturunan Ke Tujuh season dua.