
Tapi hal di luar dugaan terjadi. Pedang besi yang tadi tegak berdiri menjadi bengkok setelah ditimpa oleh peti. Pesulap menampilkan wajah heran ke arah kursi penonton dan ke arah kamera. Lalu menyuruh orang yang menggerakkan alat khusus, untuk mengangkat peti perlahan-lahan. Sehingga pedang yang tadi bengkok berdiri tegak kembali.
Pesulap menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Dan penonton belum tahu, harus bereaksi seperti apa. Mereka heran dan bingung. Kemudian kamera diarahkan ke Nicorazón yang diam di dalam peti. Dia mengangkat kedua jempolnya.
Pesulap menyuruh sepasang penonton yang masih berada di atas pentas untuk memindahkan papan tersebut. Papan yang menjadi tempat pedang itu ternyata hanyalah busa. Sehingga dengan mudah mereka mengangkat dan memindahkannya.
Penonton pria dan wanita yang ada di atas panggung disuruh untuk memeriksanya. Mereka hanya geleng-geleng kepala dan tertawa. Sambil memukuli alat itu.
"Kenapa kalian tertawa? Apa alat-alatku rusak?" tanya pesulap dengan nada serius.
"Ini bukan pedang sungguhan. Ini hanya pedang karet. Dan alasnya hanyalah busa," ujar penonton pria tertawa, dan wanita yang disebelahnya juga ikut tertawa.
"Kamu yakin?" tanya pesulap pada mereka bergantian.
Keduanya mengangguk.
Para penonton bernafas lega lalu tertawa sambil terus menggelengkan kepala. Primavera pun akhirnya menghela napasnya dan mengendurkan pelukan pada lengan suaminya. Ia sangat ketakukan saat peti itu dijatuhkan.
Si Pesulap hanya menampilkan deretan giginya karena telah berhasil mengelabui penonton. Untuk beberapa menit ia masih membiarkan penonton bernapas dengan lega. Tapi kemudian ia mengambil sebuah jerigen dan menyuruh kedua penonton untuk mencium aroma dari mulut jerigen tersebut. Dan menanyakan aroma apa itu.
"Bensin."
"Yakin?"
Lagi-lagi keduanya mengangguk. Beberapa asisten muncul kembali dan membawa sebuah alas yang tidak bisa terbakar. Diletakkan di bawah peti. Dan peti di letakkan ke alas tersebut. Isi dari jeringen disiramkan ke atas peti sampai habis. Penonton mulai terdiam lagi. Pesulap mengeluarkan korek api dari sakunya.
"Bakar!" katanya pada penonton wanita.
__ADS_1
Wanita itu mundur dan menolak, lalu bersembunyi di balik punggung kekasihnya. Ia tidak berani untuk melakukan permintaan si pesulap. Tapi penonton pria menerima korek tersebut. Saat membukanya dia tertawa kembali. Ternyata korek itu sudah di pakai semua.
"Ada apa? Aku sudah mencoba korek api itu tadi dan semuanya bisa menyala."
Mendengar hal itu penonton menepuk jidad mereka dan tertawa terpingkal-pingkal. Lagi-lagi mereka kena tipu. Penonton wanita yang di atas panggung hanya bisa menutup wajahnya karena malu sudah dikerjai oleh pesulap.
"Ya sudah, simpan saja korek api itu untuk anda kalau begitu," ujar Pesulap.
Pesulap pun bertepuk tangan dan meminta penonton yang ada di kursi ikut bertepuk tangan. Lalu mempersilahkan sepasang kekasih itu turun dan kembali ke kursinya. Kemudian mengucapkan salam perpisahan. Membuat penonton yang tadinya bertepuk tangan menjadi diam. Mereka mulai berbisik-bisik lagi.
Nicorazón akhirnya dikeluarkan dari peti dalam keadaan baik-baik saja. Pesulap menyalaminya dan menanyakan kabarnya. Penonton masih diam, dan bertanya-tanya satu dengan yang lain. Tentang akhir dari pertunjukan yang belum memuaskan mereka.
Pesulap menyadari kalau penonton masih mengharapkan pertunjukan lain yang lebih menarik dan menegangkan. Maka pesulap tidak langsung menyuruh Nicorazón untuk turun. Ia meminta putra Te Apoyo itu untuk tetap menemaninya di atas panggung. Lalu ia menceritakan sebuah kisah lain.
"Zaman dahulu kala, ada seorang pesulap. Ia sangat suka mengerjai penontonnya," katanya memulai awal cerita dan penonton kembali tersenyum dan sebagian tertawa.
"Dan akibat kejahatan pesulap itu, para petinggi istana menjadi gusar. Melaporkan kejadian itu kepada raja. Lalu raja memerintahkan prajurit untuk menangkap si pesulap. Dan menjebloskannya ke dalam penjara. Namun ternyata si pesulap berhasil kabur, dan melakukan penipuan."
"Akan tetapi ia berhasil ditangkap lagi. Dan dijebloskan kembali ke dalam penjara yang pengawasannya lebih ketat. Dan lokasi penjara itu berada di bawah tanah. Namun lagi-lagi ia berhasil kabur, dan korban penipuannya makin bertambah."
"Hingga akhirnya raja menyuruh untuk memberi hukuman mati pada pesulap itu. Sehingga ia pun dihukum mati, saat ia tertangkap kembali," katanya lebih lanjut.
Asisten pesulap memindahkan peti dan menyusun alat-alat sembari pesulap bercerita. Setelah pesulap selesai bercerita alat yang akan dipakai pun telah siap di atas panggung.
"Dan malam ini, anda adalah jelmaan raja itu. Dan saya adalah jelmaan si pesulap penipu. Karena saya sudah melakukan kejahatan pada anda barusan dan menipu para penonton. Maka anda berhak untuk menjatuhkan hukumun pada saya."
"Saya akan berbaring di atas alat ini. Dan akan memberi aba-aba saat saya siap dihukum. Dengan mengangkat jempol saya. Maka dengan segera, tanpa rasa ragu, anda harus menarik tuas yang ini. Sehingga keempat pisau besar itu, akan memotong apa saja yang ada dibawahnya. Mengerti?" tanya pesulap. Nicorazón mengangguk.
__ADS_1
Pesulap pun naik ke atas meja yang terbuat dari besi. Dengan mulut di tutup perekat. Tangan dan kakinya juga diikat. Ia pun berbaring lalu ditutup dengan sehelai kain hitam yang lebar oleh asistennya.
Di balik kain hitam Pesulap itu merasa sangat gugup malam ini. Sebab tiba-tiba ia menjadi ragu dengan keputusan yang telah ia ambil. Ia sudah berhasil melepaskan ikatan tangannya dengan alat khusus dari saku bajunya. Juga sudah melepas perekat di mulutnya. Sambil memikirkan ulang rencananya.
Ia bisa saja membuat pertunjukan itu sukses, meski tanpa bantuan Putri penunggu danau. Dengan menekan sebuah tombol yang akan membuka laci di bawah meja dan bersembunyi di sana. Lalu menggantikan posisinya dengan sebuah boneka yang dibuat mirip dengannya.
Boneka itu bisa ia gerakkan dari dalam laci dengan seutas benang bening. Sehingga saat boneka itu digerakkan akan terlihat seolah dia masih berada di atas meja. Dan ketika tuas di turunkan pisau-pisau itu akan memotong boneka yang berisi cairan merah yang merupakan darah hewan yang dicampur zat kimia agar tidak mengental.
Tapi saat ia mengingat korban-korbannya, dia pun menarik kembali tangannya yang berada di atas tombol. Dan batal menekan tombol tersebut. Lalu mengeluarkan jempolnya dari balik kain hitam dan siap untuk dieksekusi. Meneguhkan hati untuk menjalankan rencananya. Berharap kali ini eksekusi akan berhasil. Agar tidak ada lagi korban berjatuhan.
Nicorazón mulanya ragu. Dan penonton memberinya dukungan begitu juga para asisten yang ada di panggung. Para asisten pesulap tampak tenang, sebab mereka mengetahui trik yang akan dipakai untuk pertunjukan kali ini. Mereka mengira pesulap sudah bersembunyi di dalam laci di bawah meja.
Dan para asisten yang berada di atas panggung, mengira kalau tangan yang bergerak itu adalah tangan boneka. Tidak ada yang tahu kalau tangan itu milik si pesulap. Sebab si pesulap memakai sarung tangan, yang sama seperti sarung tangan boneka, yang ada di dalam laci.
Nicorazón menarik napas dalam-dalam. Pisau yang ada di hadapannya tampak asli. Dan ia yakin betul kalau semua benda itu asli. Asisten pesulap meyakinkannya untuk segera melakukan eksekusi. Nicorazón pun meletakkan tangannya pada tuas. Dengan menutup mata dia bersiap menariknya.
"Apa kamu pikir, aku akan membiarkanmu mati begitu saja?" gumam Putri penunggu danau dari sudut panggung.
Tidak ada yang bisa melihat Putri penunggu danau sedang tersenyum. Para penonton menahan napas, baik yang ada di dalam gedung teater, maupun yang ada di luar gedung teater.
Tingkah mereka pun beragam. Ada yang menutup mata dengan telapak tangan. Lalu mengintip, dari celah jari-jarinya. Ada yang memeluk orang di sebelahnya dan ada juga yang bahkan menutup matanya, sehingga mereka tidak melihat apapun sama sekali.
Saat tuas ditarik Putri penunggu danau langsung menggunakan kekuatannya untuk mengantikan posisi pesulap dengan Nicorazón. Sebab ia mengetahui kalau yang berada di atas meja adalah si pesulap.
Pisau-pisau jatuh dan memotong apa saja yang ada di atas meja. Darah mengalir dari atas meja. Menetes ke lantai. Satu kepala menggelinding jatuh ke lantai dengan mata terbelalak. Darah keluar dari mata, serta hidung dan mulutnya menyemburkan darah.
"AARRRGGGKKK!!"
__ADS_1