Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Lingkungan Baru


__ADS_3

Tiga bulan kemudian, Te Apoyo telah pulih dan kembali bisa bergerak bebas, walau terasa sedikit ngilu pada tulangnya. Setelah mengetahui kalau kedua orang tuanya masih berada di rumah kakek papanya, Te Apoyo memutuskan untuk tinggal di sana. Ia tinggal sendirian. Sementara Te Espere tetap tinggal di rumah Malika.


Nicholas sudah selesai membacakan isi dari buku tersebut selama mereka masih dalam perawatan. Dan setelah buku itu selesai dibaca, maka buku itu dibawa oleh Te Apoyo ke rumah kakek Dion. Dan dikembalikan seperti semula.


Isi buku tersebut kebanyakan tentang pengakuan dosa yang telah diperbuat oleh generasi sebelumnya. Perebutan harta dan kekuasaan dan peristiwa pembunuhan. Cukup menyedihkan menyadari ia lahir dari keturunan orang jahat. Yang bahkan membuatnya menanggung banyak kesialan akibat kutukan tersebut.


Tidak mau berlarut-larut ia mencoba menjalani kehidupannya seperti orang lain. Petunjuk tentang syarat yang diajukan Cresentia tidak ada di dalam buku tersebut. Dan ia juga sudah tidak pernah bermimpi tentang Cresentia. Namun ia tidak pernah lupa akan hal tersebut. Sebab ia masih merasakan rasa terbakar di malam hari.


Di hari pertama ia membersihkan rumah tersebut dengan bantuan Nicholas. Hal pertama yang ia lakukan adalah memastikan tidak ada hewan melata yang berbisa akan masuk rumah jika ia sedang tidur. Dan ia membersihkan satu kamar di lantai satu untuk menjadi kamarnya.


Sebelum aliran air hidup kembali. Ia pun mandi ke kamar mandi umum. Dan membeli air mineral isi ulang untuk memasak dan minum. Hari pertama cukup sulit untuk dilalui apa lagi saat ia sakit perut. Mau tidak mau harus mengunakan air mineral untuk bersih-bersih setelah buang air besar mau pun kecil. Sehingga terjadi pemborosan air minum.


Jadi ia memutuskan memakai kamar kecil di belakang. Dan untuk menghemat air ia tidak menyiram setelah membuang air kecil sebelum ia membuang air besar. Cukup bau pesing. Tapi karena jaraknya cukup jauh, aroma tidak sedap itu tidak mengganggunya saat ia dikamar mau pun di dapur.


Sehari-hari waktunya hanya dihabiskan untuk merawat rumah itu dan membersihkannya. Ia tidur pagi hari sampai siang dan bangun di sore sampai malam hari. Saat malam hari seluruh jendela di buka agar udara dingin bisa masuk ke rumah. Sebagai pengganti pendingin udara, untuk mengurangi rasa panas di tubuhnya.


Seminggu kemudian listrik sudah di alirkan ke rumah itu begitu juga dengan airnya. Te Apoyo tidak perlu lagi mengantar cucian ke luar atau pun mandi di kamar mandi umum yang berbayar.


Rumah kakek Dion sudah tertata rapi, Nicholas juga sering datang membantu di hari liburnya. Dan terkadang ia juga menginap di rumah itu. Ia tidak pernah diganggu sekali pun oleh penghuni gelap di rumah itu. Sebab Te Apoyo telah mempringati mereka agar tidak berbuat macam-macam.


Tahun ajaran baru tiba, petunjuk masih belum ada. Hal itu hampir saja membuat Ta Apoyo putus asa. Bahkan ia merasa Cresentia hanya mempermainkannya.

__ADS_1


Beberapa hari yang lalu papa Malika datang membawa berkas untuk ditanda tangani. Dan saat itu ia mengingatkan Te Apoyo tentang pentingnya pendidikan. Sehingga ia pun mulai bersekolah. Meski ia tidak bisa belajar di rumah. Ia mengulang pendidikan kelas 10 dari awal lagi.


Perusahaan masih diserahkan pada sahabat papanya yaitu papa Malika. Tapi jika ada yang perlu di tanda tangani, maka ia atau Malika yang akan menandatangani berkas tersebut. Sebagai penganti orang tua mereka. Karena perusahaan masih berjalan lancar, pihak penanam modal masih merasa kalau perusahaan masih dibawah pantauan Dion.


Te Apoyo belajar tentang hal-hal yang dibutuhkan nantinya saat ia harus terjun ke perusahaan. Papa Malika mendidiknya secara disiplin seperti yang Dion lakukan padanya dahulu.


Te Apoyo bersekolah di kota kecil yang jauh dari rumah kakek. Mengunakan data baru, dengan nama Te Apoyo dan walinya papa Malika. Dia tinggal dengan pelayannya. Tapi di tempat tinggal mereka di kota kecil yang hampir mirip sebuah desa itu, Te Apoyo meminta pelayannya untuk memanggilnya dengan panggilan nama.


Dua orang pelayan tersebut sudah mengetahui kalau Dion dan Lina menghilang. Tapi untungnya mereka adalah pelayan yang baik dan setia. Mereka bersedia mengakui sebagai orang tua Te Apoyo. Dan tinggal di sebuah rumah kecil. Agar tidak menarik perhatian orang sekitar.


Te Apoyo menggunakan kaca mata yang tidak berpengaruh apa-apa dan merubah sedikit penampilannya. Seperti seorang anak culun di sekolah barunya. Dan ia berpura-pura sering bersin agar orang-orang tidak tertarik untuk mendekatinya.


Sekolah di hari pertama tidaklah buruk. Teman sekolahnya bukan orang yang ramah terhadap orang sepertinya. Tapi mereka juga tidak tertarik untuk menganggu. Mereka hanya asik berkumpul dengan orang yang cocok menurut mereka.


Pulang sekolah seperti biasa ia pulang berjalan kaki ke rumahnya. Dan hari ini ia berpapasan dengan seorang nenek yang sudah tua renta. Nenek tersebut mengumpulkan barang bekas. Te Apoyo memandangnya sekilas dan melewatinya begitu saja.


Saat melewatinya, ia mendengar suara orang jatuh. Ternyata nenek tersebut jatuh dan barang yang ia bawa berserakan. Te Apoyo mengulurkan tangannya. Tapi belum sempat tangannya disambut oleh sang nenek, segera ia tarik kembali. Lalu menggunakan sarung tangannya.


Setelah menggunakan sarung tangannya ia pun mengulurkan tangannya lagi. Tapi ditepis oleh nenek tersebut.


"Kalau tidak mau menolong ya tidak usah. Nenek masih bisa berdiri sendiri." ujarnya kecewa lalu ia bangkit sendiri.

__ADS_1


Te Apoyo membantunya memungut barang bekas yang tercecer. Lalu memberikannya pada si nenek. Tapi nenek itu menolaknya. Seolah-olah ia merasa barang bekas yang sudah disentuh Te Apoyo itu menjijikkan. Lalu ia pergi begitu saja.


Te Apoyo sudah lupa akan hal tersebut jika ia tidak bertemu lagi pada nenek tersebut. Saat mereka berselisih jalan Te Apoyo membungkukkan badannya sedikit. Tapi ia tidak digubris oleh nenek tersebut.


Hari berikutnya Te Apoyo melihat nenek tua itu jatuh dan kakinya terkilir. Dan secepatnya ia memakai sarung tangan agar bisa menolong nenek tersebut berdiri.


"Sudah! Tidak usah dibantu!" teriak si nenek kesal.


Ia kesal melihat Te Apoyo memakai sarung tangan untuk menyentuhnya. Jadi dia merasa sangat tersinggung. Untungnya ada seseorang yang lewat di jalan tersebut. Lalu orang itu menggendong nenek tersebut ke rumahnya. Dan orang itu meminta Te Apoyo untuk membawakan barang-barang bekas yang dikumpulkan si nenek.


Setelah mengetahui tempat tinggal si nenek Te Apoyo jadi sering ke rumah tersebut untuk membawakannya makanan. Meski pertama kali ia mengantar makanan, nenek itu langsung membuang makanan tersebut tepat di depan wajahnya.


"Kata mama, kita tidak boleh buang-buang makanan. Karena ada orang kelaparan di tempat lain. Jika kita membuang makanan saat orang lain kelaparan. Itu artinya kita menghina mereka." ucap Te Apoyo sambil memungut makanan yang jatuh.


Ke esokan harinya Te Apoyo datang lagi membawa makanan. Berbeda dengan kemarin. Si nenek tidak membuang makanan tersebut.


"Hei nak, kenapa kau datang lagi. Apa kau tidak merasa jijik datang ke tempat ini? Kumuh kotor dan bau. Sampah berserakan di mana-mana."


Te Apoyo tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Kalau begitu, besok bawakan lagi aku makanan. Kakiku masih terkilir dan aku belum bisa mencari barang rongsokan untuk dijual buat beli makan. Jadi selagi kakiku sakit. Jangan lupa datang dan membawa makanan padaku!" perintah nenek itu tanpa rasa malu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2