Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Menginap


__ADS_3

Melihat Cresentia yang selalu menghindarinya membuat Alexander salah paham.


"Apa ia mendengar rumor kalau aku akan menikah? Kalau begitu aku harus mengatakan padanya kalau aku mencintainya." batin Alexander.


Lalu ia memberitahukan perasaannya pada Cresentia ke Cresen. Tapi ia tidak menyangka akan jawaban Cresen yang melarangnya untuk melamar Cresentia. Cresen sudah mendengar ucapan kakak perempuan neneknya. Saat ia tanpa sengaja mendengar kakak perempuan neneknya berbicara pada adiknya.


Dan setelah terjadilah banyak kesalah pahaman yang dampaknya dapat dirasakan oleh Te Apoyo dan Te Espere saat ini.


Te Espere berhasil melewati masa kritisnya. Keluarga Nicholas datang berkunjung. Dan untuk beberapa hari Te Espere terpaksa berbaring di rumah sakit.


Ada kejadian aneh yang terjadi pada pedang yang menancap di tubuh Te Espere. Setelah pedang itu dicabut dari tubuh Te Espere. Pedang itu menghilang. Dan ternyata pedang tersebut kembali ke ruangan kecil di bawah peti. Dan noda darah Te Espere menguap dan menghilang.


Te Apoyo tetap bersekolah di kota kecil. Ada hal baru yang ia sadari. Kini ia bisa menarik kembali kemampuan melihat roh setiap orang yang menyentuhnya. Hal itu berawal dari 'papanya' yang menyentuhnya tanpa sengaja. Dan terkejut saat tiba-tiba melihat roh Klara.


Saat itu Te Apoyo berharap seandainya ia bisa menarik kembali kemampuannya. Dan ia mencoba menyentuh 'orang tuanya' tersebut. Orang tua itu lalu tampak kebingungan saat yang ia lihat tiba-tiba menghilang. Tapi juga merasa lega.


"Ada apa pa?" tanya Te Apoyo berpura-pura tidak menyadari yang baru saja terjadi.


"Tidak apa, sepertinya mataku mulai rabun, jadi aku melihat halusinasi," jawabnya pada Te Apoyo.


Te Apoyo pergi ke proyek pembangunan. Tampak para pekerja kembali bekerja. Para preman ditangkap aparat setempat. Setelah kepala polisi di daerah itu digantikan dengan yang lain. Dan kepala polisi ini tidak takut pada preman dan tidak tergiur oleh lembaran segi empat. Dia adalah om Nicholas yang pindah tugas.


Melihat pembangunan proyek berjalan kembali Te Apoyo meninggalkan tempat tersebut lalu mengunjungi keluarga dari teman sebangkunya yang pertama. Kehidupan mereka sudah berkecukupan. Kakak laki-laki teman sebangkunya sudah sehat dan sedang mengikuti tes masuk militer yang sempat tertunda karena sakit.


"Te Apoyo, silahkan masuk ada perlu apa ya tadi?" tanya mama teman sebangku pertamanya.


Belum sempat ia menjawab kakak laki-laki temannya mengetuk pintu. Ia tampak lesu. Mamamya menyambutnya.


"Aku gagal ikut tes," ujarnya bahkan sebelum mamanya bertanya.


"Baguslah kalau begitu, jadi mama tidak perlu kuatir,"


"Anaknya gagal kok dibilang bagus?"

__ADS_1


"Mama kuatir kalau kamu lulus dan jadi angkatan bersenjata, lalu kamu harus berhadapan dengan penjahat,"


"Ya ampun mama, itukan tugas mulia, melindungi masyarakat,"


"Ya tapi kamu gagal, artinya belum jodoh dengan senjata api," ujar mamanya.


Te Apoyo yang mendengarkan hal tersebut hanya tersenyum ia mengerti kekuatiran mama teman sebangkunya itu. Lalu mereka pun berbincang-bincang tentang masa depan. Dan saat ditanya apa cita-cita Te Apoyo, ia hanya mengangkat bahu.


"Aku belum tahu," jawabnya.


Setelah berbincang agak lama ia pun pamit pulang. Di tengah perjalanan Nicholas menghentikannya.


"Ayo naik, kita makan malam di rumah omku," ujar Nicholas pada Te Apoyo.


"Tapi aku belum pulang ke rumah,"


Nicholas pun mengantar Te Apoyo ke rumahnya setelah mandi dan berganti pakaian, ia pun pamit pada 'orang tuanya' dan pergi ke rumah om Nicholas. Ternyata sepupu Nicholas berulang tahun. Tampak mama Nicholas dan adik-adiknya turut hadir.


Di sana ia disambut seperti keluarga sendiri. Gina bahkan tidak pergi jauh dari sisinya. Seolah menjaganya dari mata-mata para wanita dan para gadis yang tertarik pada wajahnya.


"Tidak boleh," jawab Gina dengan cepat.


"Sudahlah Gina, biarkan anak-anak bersenang-senang. Ayo kita berkumpul dengan yang lain." ujar saudara laki-laki Gina.


Gina merasa kecawa karena ia masih ingin mengambil foto bersama Te Apoyo untuk diunggah di akun media sosialnya. Dengan status, keponakanku datang berkunjung.


"Dah, Te Apoyo tante pergi dulu, kalau gadis-gadis ini menggodamu, lapor ke tante," ujarnya sambil memperlihatkan ponselnya.


Te Apoyo hanya tersenyum dan senyumnya makin menarik perhatian gadis-gadis yang ada di situ. Ia pun segera dikelilingi gadis-gadis tersebut. Mereka adalah teman kuliah sepupu Nicholas. Te Apoyo ragu saat menerima tangan mereka untuk bersalaman. Jadi ia pun mencoba menghidar dengan berpura-pura hendak ke kamar kecil. Dia pun bertanya lokasi yang ingin ia tuju pada Nicholas. Lalu meninggalkan gadis-gadis tersebut.


"Huffs, hampir saja," ujarnya setelah tiba di kamar kecil.


Setelah beberapa menit, ia pun keluar dari kamar kecil. Ia tidak berniat lagi pergi ke tengah pesta. Jadi ia pergi ke taman.

__ADS_1


"Hey, sedang apa kamu di sini?" ujar seorang gadis padanya.


Ia membawa sepiring penuh bermacam-macam jenis kue. Lalu menawarkannya pada Te Apoyo. Te Apoyo menolak dengan halus.


"Namaku Alicia, siapa namamu?" tanyanya sambil memasukkan kue ke dalam mulutnya.


"Te Apoyo,"


"Nama yang aneh," ujar gadis itu.


Ia tidak berhenti makan. Tubuhnya berukuran jumbo, sepertinya ia memilih menyendiri karena tidak ada yang mengajaknya berbicara di pesta.


"Kenapa kamu duduk sendirian? Apa benar kamu anak selingkuhan mama Nicholas?"


Te Apoyo terkejut.


"Oh kamu terkejut ya? Tadi di dalam banyak yang membicarakanmu, meski kami bukan teman kuliah Nicholas, tapi banyak dari kami yang mengenalnya. Dia selalu ikut lomba antar kampus."


"Aku memilih bertanya secara langsung, karena aku tidak mau percaya begitu saja pada gosip. Tapi kalau kamu tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa," ujarnya sambil menghabiskan kue yang terakhir.


"Aku akan mengambil kue lagi, apa kamu akan tetap di sini?" tanyanya.


"Aku akan segera pergi," ujar Te Apoyo.


Lalu Te Apoyo mencari Nicholas di pesta, ia ingin segera pulang. Rasanya tidak nyaman berada di tengah-tengah orang yang bergosip aneh tentangnya dan mama Nicholas. Tapi Nicholas malah memintanya untuk menginap.


"Kalau kamu mengantuk, pergilah ke kamar atas, yang itu, aku sering menginap di kamar itu. Nanti kalau aku mengantuk aku juga akan tidur di situ," ujar Nicholas yang tidak menghiraukan Te Apoyo yang lebih memilih pulang dari pada menginap.


Te Apoyo akhirnya menuruti saja perkataan Nicholas lalu ia pergi ke kamar yang ditunjukkan. Saat ia menaiki tangga Alicia memperhatikannya, sambil terus menyantap hidangan yang tersedia. Seolah ingin menghabiskan semuanya sendirian.


Te Apoyo yang tidak akrab dengan keluarga sepupu Nicholas merasa kurang nyaman di kamar tersebut. Ia sudah lama berbaring dan mencoba memejamkan matanya. Iseng-iseng ia membuka akun sosial medianya. Hingga akhirnya ia tertidur karena matanya lelah melihat status dari halaman yang ia ikuti.


Tidak lama setelah ia tertidur lelap ia merasakan kalau sesuatu menyentuh bibirnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2