Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Ray


__ADS_3

Di lokasi yang berbeda Ray yang baru berusia lima tahun, tidur sendirian di kamarnya. Tidak ada pelukan yang hangat dari siapa pun juga. Emile tidak melakukannya karena takut, dan juga melarang orang lain menemani putranya tidur.


Ray yang tidak bisa tidur, membuka tirai jendelanya. Ada banyak anak-anak seusianya bermain dengan riang. Sesekali mereka menatap Ray, seolah mengajaknya untuk bermain. Tapi Ray sudah puas dengan melihat mereka bermain saja.


Para arwah tersebut sengaja memancing perhatian Ray. Menurut mereka mungkin dengan menarik perhatiannya Ray akan melakukan sesuatu yang akan membahayakan nyawanya. Dengan begitu mereka berhasil melenyapkannya.


Untungnya Ray ingat pesan mamanya agar jangan keluar jika hari sudah malam. Dia akhirnya memilih menggeser kursi kecil miliknya, dan menyaksikan para arwah itu bermain. Dan tanpa sadar ia pun ketiduran.


Saat pagi hari pukul lima Emile terkejut mendengar suara orang jatuh. Ternyata itu adalah Ray. Ia terjatuh dari kursi tempatnya tidur. Emile terkejut melihatnya tergeletak di lantai, dan kursi kecilnya sudah terjungkal. Perlahan Ray bangun dan meringis kesakitan.


Jika saja Emile tidak ingat hal buruk yang akan menimpanya jika menyentuh Ray, ia pasti sudah memeluknya. Tapi karena takut itu terjadi ia pun cuma melihat saja.


"Sayang...kau baik-baik saja?" tanya Emile.


Ray menggangguk perlahan.


"Kenapa kau bisa jatuh? Apa kau baru bangun lalu duduk di kursi?" tanya Emile.


Ray menggeleng. Lalu Ray bangun dan berpindah ke tempat tidurnya. Ia tau mamanya tidak akan membantunya bangun atau pun menggendongnya ke tempat tidur.


Beberapa hari kemudian neneknya datang. Saat tau mertuanya akan datang Emile segera memakaikan masker pada Ray.


"Kenapa dia pakai masker?" tanya suaminya.


"Tadi pagi dia flu. Aku takut nanti yang lain tertular," ujarnya.


Sebenarnya tadi pagi ia membangunkan Roy dan menyuruhnya mandi dengan air dingin. Dan membuat Roy menggigil dan tentu saja ia juga menjadi bersin-bersin. Hal itu Emile lakukan untuk menyembunyikan kebenaran tentang putranya jika disentuh orang lain.


Dan ternyata kedatangan neneknya adalah untuk memberitahukan sebuah yayasan untuk pendidikan Taman Kanak-Kanak. Nenek menyarankan agar menantunya menyekolahkan cucunya di sana. Emile cukup pusing dibuatnya.


Sulit untuk menolak hal itu, selama ini ia sudah banyak berbohong pada suami dan mertuanya. Ia melakukan banyak hal untuk membuat mereka tidak menyentuh Ray. Tapi itu jika Ray di dalam pengawasannya. Jika ia ke sekolah maka, akan sulit bagi Emile untuk menjauhkan putranya dari teman-temannya.


Mengingat anak-anak suka bermain dan bersentuhan. Rasanya sulit membayangkan jika saat menyentuh Ray, anak-anak tersebut akan ketakutan. Memikirkan hal itu tanpa sadar Emile menghembuskan napasnya dengan kasar. Dan membuat mertuanya salah paham.

__ADS_1


"Hei juga kau tidak setuju, cukup katakan saja, tidak usah mendengus seperti itu." ujar mertuanya.


Untuk memperbaiki kesalah-pahaman mau tidak mau Emile mengiyakan saran mertuanya.


Ke esokan harinya ia dan suaminya membawa putranya mendaftar ke Yayasan tersebut. Dan setelah membayar biaya yang diperlukan mereka pun menerima seragam dan peralatan lainnya, untuk kebutuhan proses belajar mengajar.


"Ray senangkan? Akhirnya Ray bisa sekolah," ujar suami Emile.


Ray diam saja dan menatap ke arah mamanya. Mamanya tersenyum dan mengangguk. Lalu Ray mengikuti tindakan mamanya.


"Baguslah, jangan nakal ya, harus baik kepada teman-teman. Dan jika ada yang nakal, beritahu pada guru. Ya!" kata papanya.


Ray menatap mamanya lagi dan mengulang hal yang sama lagi.


"Aku jadi kuatir jika ia bersekolah, siapa yang akan ia contoh. Untuk menjawab pertanyaan sederhana saja ia kebingungan," kata suaminya pada istrunya.


Emile hanya melipat tangannya dan memandang ke arah lain. Tidak tahu harus menjawab apa.


Ray mengangguk.


"Kalau masalah makan, sepertinya dia tidak kesulitan ya untuk menjawabnya," ucap suaminya sambil tertawa kecil.


Dan akhirnya mereka pun pulang. Dan di sambut dengan gembira oleh neneknya. Sangkin senangnya si nenek mencium ke dua pipi Ray. Emile terkejut bukan main, tanpa sengaja ia menarik tangan putranya agar menjauh dari mertuanya.


"Hei...ada apa ini? Apa sekarang aku bahkan tidak boleh mencium cucuku?" tanya nenek Ray.


Ia kesal Emile tiba-tiba menarik Ray dari dekapan neneknya. Tapi kemudian ia menjadi kaku dan tergagap. Sosok mahluk halus yang menghuni rumah mereka terlihat olehnya.


"Ssseeettt-set...setan...!" teriaknya.


Emile yang tanpa sengaja menyentuh pipi putranya juga melihat hal yang sama. Dan untuk melawan rasa takutnya dengan cepat ia menarik putranya ke dalam kamar. Mertuanya yang ke takutan bersembunyi di balik tubuh suami Emile.


"Ada apa ma? Mana setannya. Ini siang-siang, mana mungkin ada setan," ujar suami Emile.

__ADS_1


Seketika nenek Ray yang dalam kondisi terkejut dan syok membuat para arwah itu memiliki celah untuk merasukinya.


"AAARRRRGGGGHHHHH!"


"BUNUH DIA! BUNUH DIA! BUNUH DIA! HAHAHAHAHAHAHA!"


Dengan suara parau nenek Ray berteriak-teriak dan tertawa.


"Dia bukan anak kalian... bunuh... bunuh... dia... sekarang...!"


Ucapan yang tidak pernah terpikirkan selama ini, terucap dari mulut si nenek. Suami Emile mengguncang tubuh mamanya.


"Ma sadar ma...sadar..." kata suami Emile.


Tapi mamanya tertawa semakin kencang. Suami Emile mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan menelepon paranormal kenalannya. Sebelum paranormal itu datang Emile yang berada di kamar putranya juga ketakutan. Sebab di dalam kamar putranya, juga ada beberapa mahluk halus.


Mereka menatap Emile dan tersenyum memamerkan penampilan mereka. Dan Emile yang ketakutan menggigil sambil memeluk Ray. Hal ini membuat Ray penasaran, kenapa mamanya ketakutan. Ray yang sudah biasa melihat mereka, tidak merasa takut sedikit pun. Ia selama ini bisa melihat mereka. Tapi ia mengira mereka adalah penghuni rumah tersebut seperti ia dan mamanya.


Karena tidak kuat lagi menahan rasa takut, ia pun menarik putranya keluar kamar. Dan saat ia keluar tiba-tiba mertuanya mengamuk. Ia melihat Ray dan hendak menyerangnya. Dengan sigap Emile melindungi putranya.


Mertua Emile menjambak rambutnya dan menariknya. Melihat hal itu terkejutlah suami Emile dan membantu istrinya melepaskan rambutnya dari tangan mertuanya.


"Dasar bodohhh kalian membesarkan yang bukan darah daging kalian...!"


"Ma...sadarlah ma... sadar...!"


Suami Emile berusaha menyadarkan mamanya. Tapi gagal, beruntung tidak lama kemudian, seorang paranormal datang. Tapi baru saja ia melewati pintu mertua Emile sudah melepaakan diri dari tangan papa Ray. Ia berlari ke arah paranormal tersebut.


"Kau lagi...selalu saja mengganggu kesenanganku...hahaha..."


Paranormal itu pun membaca mantra dengan cepat untuk menghalau nenek Ray. Saat jarak mereka semakin dekat, paranormal berhasil menepuk jidat nenek Ray. Tapi yang terpental justru paranormal tersebut. Dan akhirnya ia mengeluarkan darah dari hidung serta mulutnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2