
Saat roh Te Espere keluar dari raganya, roh itu Nicholas juga mengalami hal yang sama. Dan saat itu muncul sosok berjubah putih. Kemudian mengambil roh Te Espere dan juga Nicholas.
"Apa yang kamu lakukan! Kembalikan saudariku!" teriak Te Apoyo.
Namun sosok tersebut, justru mengulurkan tangannya ke atas kepala Alicia. Dan munculah sebuah gambar yang mengitari Alicia. Seperti sedang menyaksikan pemutaran film yang diputar mundur, Alicia melihat saat sang ratu untuk pertama kalinya meminta kekuatan pada penguasa kegelapan.
"Untuk membatalkan perjanjian tersebut, kamu harus melakukan ritual pengorbanan, sebagai pemilik darah murni keturunan sang ratu, agar keturunanmu tidak lagi mendapatkan kutukan!" ujar sosok tersebut.
Alicia pun menyetujui ucapan dari sosok itu. Dan dengan meneteskan darahnya ketanah Alicia pun melakukan ritual pembatalan sumpah. Alam tiba-tiba menjadi gelap gulita, padahal hari masih siang. Dan secara naluri Alicia melakukan ritual, seolah-olah ia mengetahuinya sejak awal.
Setelah membaca mantra, Alicia pun menenteskan darahnya pada pedang yang menusuk jantung Nicholas. Lalu pedang itu menghilang. Setelah itu ia pun jatuh pingsan. Semua orang yang ada di situ ambruk, kecuali Malika.
"Apa yang akan kamu lakukan pada roh temanku?!" tanya Malika.
"Aku hanya diutus untuk mengambilnya," ujar sosok tersebut.
Malika pun melihat roh Cresentia dan juga roh yang sempat menyatu dengan roh Oscuridad mengikuti sosok tersebut. Ia tidak tahu harus berbuat apa, selain menyadarkan yang lainya.
Lalu Malika mendengar seseorang memanggil dari lorong, yang mereka lewati menuju ruangan tersebut. Tampak papa Malika dan serombongan orang datang. Lalu membawa mereka keluar.
Setelah roh Oscuridad menghilang, ilusinya pun menghilang. Sehingga papa Malika bisa mendeteksi keberadaan Malika melalui jam tangan yang dikenakan oleh Malika yang memiliki GPS.
Lima hari kemudian Te Apoyo pergi ke makan Te Espere dan juga Nicholas yang disemayamkan bersebelahan. Te Apoyo tidak mengingat apapun yang berhubungan dengan kemampuannya yang telah hilang. Ia hanya mengingat kalau ia dan yang lainnya diculik oleh sekte pemuja kegelapan.
Dan Nicholas serta Te Espere dan para mahasiswa yang hilang adalah sebagai korban. Begitu juga dengan Alicia. Ia hanya ingat kalau ia sedang melayat sahabat kecilnya. Ia tidak mengingat hal-hal yang berkaitan dengan kekuatannya.
Dan sepertinya semua orang mengalami hal yang sama. Tidak ada yang mengingat alasan yang sebenarnya, tentang cincin yang melingkar di jari Nicholas dan juga cincin Te Espere, yang ditemukan di ruang bawah tanah tempat mereka ditemukan oleh papa Malika.
__ADS_1
Dalam ingatan mereka hanyalah Te Espere dan Nicholas sudah bertunangan dari kecil. Bahkan buku yang tersimpan di bawah peti di ruang rahasia di rumah kakek Dion juga menghilang.
"Kamu juga datang hari ini?" tanya Gina yang baru datang.
"Iya tante, rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya, tapi kini ia pergi," ujar Te Apoyo sedih.
"Putraku bahkan terasa baru lahir kemarin, dan sekarang ia sudah lebih dahulu pergi dariku," ujar Gina mencoba untuk tegar.
Lalu keduanya pulang bersama. Namun mereka berpisah di persimpangan jalan. Te Apoyo menatap jalanan dengan pandangan kosong. Ia selalu merasa ada ingatan yang hilang, namun ia tidak tahu apa itu.
Te Apoyo menjalani kehidupannya seperti biasa, hingga akhirnya ia menjadi seorang dokter. Pabrik sepatu berkembang pesat. Kota kecil telah menjadi kota yang maju. Kehidupan masyarakat semakin baik.
Dan Te Apoyo membangun rumah sakit di kota tersebut. Dan Alicia menjalani diet yang ketat di rumah sakit tersebut. Lalu bertemu seorang dokter yang mirip teman kecilnya. Mereka pun melangsungkan pernikahan setelah berpacaran selama satu tahun.
Lina membangun Panti Asuhan dan Panti Jompo. Sedangkan Dion membangun sekolah. Dan memberikan sekolah gratis pada anak-anak yang tidak mampu.
"Mau ke mana?" tanyanya pada temannya tersebut.
"Aku hanya mau ke toko, yang ada di ujung sana," ujar teman satu kampus Te Apoyo dulu.
"Ayo naik, biar aku antar," ujar Te Apoyo.
Orang itu pun naik. Saat orang itu naik Te Apoyo mencium bau darah dari tubuh orang tersebut. Namun ia mencoba tidak berprasangka buruk. Setelah tiba di depan toko, orang itu pun turun.
Lalu mengawasi mobil Te Apoyo yang melaju meninggalkan tempat ia berdiri, setelah Te Apoyo berpamitan ingin melanjutkan perjalanannya. Orang itu pun menyeringai penuh makna.
"Sepertinya aku harus pindah alamat lagi," gumamnya.
__ADS_1
Setelah membeli bahan yang ia butuhkan. Ia pun pergi ke sebuah jalan sepi lalu ia menuju sebuah rumah yang terletak paling ujung. Lokasi tersebut tampak seperti rumah susun yang kumuh dan tidak terurus. Dan sepertinya hanya ia dan seorang gadis tinggal di tempat itu.
Seorang gadis yang terbaring di sebuah ranjang. Ia tidak bergerak sama sekali, namun ia belum mati. Pemuda tersebut membawanya ke kamar mandi lalu memandikannya. Dan menaruhnya kembali ke atas tempat tidur.
Gadis itu merupakan seorang gadis yang mengalami depresi, karena melihat orang tuanya yang sering bertengkar. Ia kabur dari rumah dan mendatangi temannya, lalu terlibat dengan obat-obatan terlarang hingga kecanduan.
Seorang pria kenalan dari temannya tertarik padanya. Dan mengajaknya untuk menjadi pasangannya. Pria itu adalah teman sekampus Te Apoyo saat kuliah. Karena gadis tersebut menolak untuk tinggal bersama teman Te Apoyo. Maka pemuda itu jadi gelap mata dan melakukan apa saja untuk mempertahankan gadis tersebut.
Dengan ilmu kedokteran yang ia miliki, ia membuat gadis tersebut menjadi seperti mayat hidup. Ia tetap bisa bernapas tapi ia tidak bisa bergerak sama sekali. Dan karena ia sudah terlalu banyak mendapatkan suntikan, maka tubuhnya tidak kuat lagi, sehingga ia menjadi koma, serta kehilangan kesadarannya.
Separuh jiwanya kembali ke rumah. Dan ia merasa kalau ia pulang dengan raganya. Tapi saat ia pulang, ia melihat kedua orang tuanya bertengkar. Dengan kesal dia lari kekamarnya. Dan membanting pintu kamarnya.
Kedua orang tuanya terkejut. Pintu kamar putrinya tiba-tiba tertutup. Mereka tidak bisa melihat jiwa putrinya. Dan mereka mengira pintu tertutup oleh angin. Mereka diam sejenak, dan berhenti bertengkar.
"Baguslah, akhirnya kalian diam juga, aku yang sudah tidak pulang berhari-hari justru tidak kalian perdulikan. Terserahlah, sekarang aku mau tidur," gumamnya.
Pada tengah malam gadis itu terbangun dan mendengar suara berisik di ruang depan. Terdengar suara alunan musik yang cukup kuat. Ia pun keluar dan melihat apa yang terjadi.
Banyak anak-anak perempuan menari mengikuti alunan musik. Dan sepertinya mereka tidak perduli dengan munculnya gadis tersebut.
"Apa yang kalian lakukan di rumahku, pergi kalian semua!" hardiknya.
Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Te Apoyo bermimpi, tentang sosok berjubah putih yang membawa roh saudarinya.
"Jangan bawa dia, apa yang ingin kamu lakukan pada saudariku! Kembalikan!" teriak Te Apoyo.
Bersambung...
__ADS_1