Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Sepotong Kue


__ADS_3

Te Apoyo jadi kesal lalu mendiamkan Malika. Dan akhirnya Malika mencari kesempatan untuk berbicara pada Te Apoyo. Kalau ada arwah yang mengikutinya. Lalu ia mengatakan kalau arwah yang mengikuti Te Apoyo bukan seperti roh biasa pada umumnya.


Malika mengatakan kalau roh gadis itu mencampurkan khayalannya dengan kenyataan. Sehingga gadis itu sendiri kesulitan membedakan mana yang terjadi dan mana yang tidak terjadi.


"Satu-satunya jalan adalah membuatnya berpikir kalau kita mengikuti jalan pikirannya. Tapi perlahan kita menyadarkannya, bahwa yang ia pikirkan tentang kita itu salah," saran Malika.


"Dan saat ini, sepertinya gadis itu merasa kamu sudah mengambil mahkotanya. Jadi kamu harus berpikir bagaimana caranya membuat gadis itu sadar kalau ia sudah salah paham, mengerti!" ujar Malika dengan tegas.


Te Apoyo merasa sangat pusing, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa mengacak-acak rambutnya karena pusing.


"Dan satu hal lagi, gadis itu adalah anak yang dinyatakan hilang, yang sering dibagikan dalam status orang hilang di sosial media," lapor Malika.


Te Apoyo hanya memutar manik matanya. Malika jadi sedikit kesal dan menjewer Te Apoyo. Sebab Te Apoyo terlihat seperti tidak perduli.


"Hei, aku salah apa lagi? Aku sudah cukup pusing sekarang. Kenapa ia mendatangiku, kenapa dia tidak datang ke Tomi saja?" protes Te Apoyo.


"Karena Tomi pacarku, tidak ada yang boleh mengganggunya!" ujar Malika seenaknya saja.


"Hah, menurutmu itu jawaban?" tanya Te Apoyo kesal.


Malika meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Mengisyaratkan agar Te Apoyo diam. Sebab gadis itu sudah datang. Mendadak Malika menjauh dari Te Apoyo. Padahal dari tadi tangannya terus berada di bahu Te Apoyo dan mendorong tubuh Te Apoyo ke dinding.


"Dia datang, ingat pesanku barusan. Ini demi kebaikanmu juga," bisik Malika pada Te Apoyo.


Lalu Malika berbicara pada gadis itu. Sambil memegang bahu gadis tersebut.

__ADS_1


"Aku sudah berbicara padanya, dia akan bertanggung jawab, dan kalau ia macam-macam. Segera hubungi aku!" ujar Malika menyorotkan tatapan mengancam pada Te Apoyo.


Malika menggerakkan tangannya, merogoh tas kecilnya. Lalu meletakkan tangannya yang kosong di telapak tangan gadis itu.


"Simpan ponsel ini, nomorku sudah ada di dalam. Kapan pun kamu membutuhkanku, segera panggil aku, dan secepatnya aku akan datang!" Malika berpesan pada gadis itu.


Sebenarnya tangan Malika kosong, tapi karena ucapannya, gadis itu pun melihat kalau Malika meletakkan ponsel di telapak tangannya. Dan ia pun memegang ponsel yang sebenarnya tidak ada itu.


Te Apoyo ingin tertawa melihat tingkah Malika, tapi ia menahannya. Ia tidak mau kena jewer atau pun kena tendang. Baginya Malika sangat cerewet dan menyebalkan. Walau pun ia pernah diam-diam menyukainya setelah mereka sama-sama kuliah.


Tapi Te Apoyo sadar diri, meski Malika perhatian padanya, perhatian itu tidak lebih dari sekedar perhatian pada teman. Atau malah Malika menganggapnya seperti adik laki-lakinya sendiri. Sebab Malika suka sekali menindasnya. Dan gadis itu tidak pernah terlihat tertarik padanya seperti gadis lain. Yang bahkan pernah nekat mengancam bunuh diri jika Te Apoyo menolaknya.


Tapi Te Apoyo tidak tahu di mana gadia itu sekarang. Te Apoyo tidak tahu kalau gadis itu benar-benar bunuh diri dan sering mendatanginya saat ia tertidur. Hanya saja ia pergi setelah melihat ada roh gadis lain yang mendekati Te Apoyo.


Lalu mencari suami Alicia.


"Mengapa mencariku? Alicia di rumah," ujar suami Alicia saat Malika memberikan undangan.


"Aku tadi menumpang di mobil Te Apoyo. Jadi sekalian ke mari. Aku akan ke rumah kalian juga, tapi aku kuatir rumah kalian kosong. Pilihan yang tepat adalah menemui kakak di sini," jawab Malika.


Malika dan Alicia berteman baik setelah peristiwa di museum, meski Alicia tidak ingat kejadian sebenarnya. Tapi Alicia yang menganggap kalau mereka sama-sama korban penculikan, merasa mereka perlu mengakrabkan diri.


"Alicia selalu di rumah sekarang, sejak kami memiliki bayi, ia sudah berhenti mengajar," ujar suami Alicia.


"Oh ok, ternyata begitu, jadi kalian tidak memakai jasa Baby Sister kalau begitu aku akan ke rumah dan melihat si kecil sekalian," ujar Malika lalu pergi dari ruangan suami Alicia.

__ADS_1


Sementara Te Apoyo masih belum tahu harus berbuat apa pada arwah gadis tersebut. Jadi ia melakukan kegiatannya seperti biasa tanpa mengatakan apa pun pada gadis itu. Kesal dicuekin gadis itu pun menghubungi Malika dengan ponsel khayalannya.


Malika bisa merasakannya, dan segera Malika yang sedang menuju rumah Alicia menghubungi Te Apoyo. Dan mengingatkan Te Apoyo harus bersikap baik pada gadis itu dan jangan mengabaikannya.


"Tunggu di sini, aku harus memeriksa pasienku dulu," ujar Te Apoyo kemudian pada angin saat ia berada sendirian di ruangannya.


Ia tidak melihat gadis itu, tapi Malika mengatakan kalau gadis itu selalu mengikutinya. Jadi ia berpura-pura bisa melihatnya. Gadis itu pun memonyongkan mulutnya, meski akhirnya dia menuruti perkataan Te Apoyo. Dia memilih duduk di kursi kantor Te Apoyo.


Sekilas Te Apoyo sedikit terkejut melihat kursinya seperti bergeser sedikit. Ternyata saat gadis itu melakukan sesuatu dengan emosi, benda yang disentuhnya benar-benar bergerakan dan gerakannya bisa terlihat. Te Apoyo mencoba bersikap biasa meski ia merasa sedikit bergidik. Lalu ia dengan cepat menguasai situasinya dan meninggalkan ruangan itu. Dan segera memeriksa pasiennya.


Ternyata ada kabar duka cita, anak kecil yang berulang tahun semalam meninggal dunia baru saja. Dan ia menitipkan sepotong kue pada Te Apoyo melalui mamanya dan juga meninggalkan sebuah pesan.


"Ma, titipkan kue ini pada pak dokter ya, kalau nanti kakak yang kemarin datang lagi. Suruh dokter memberikan kuenya pada kakak tersebut," ujar anak kecil itu pada mamanya.


Tidak lama setelah berpesan demikian anak itu memejamkan matanya dan menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang. Ia senang akhirnya hari ulang tahunnya di rayakan bersama banyak orang. Padahal selama ini hanya dirayakan oleh ia dan mamanya saja.


Mamanya tidak memiliki uang untuk membuat perayaan ulang tahun untuk putranya. Kehidupan mereka juga sangat susah. Putranya mendapatkan pengobatan gratis sehingga ia bisa dirawat di rumah sakit. Sementara suaminya sudah lama tiada.


Te Apoyo menerima sepotong kue tersebut. Lalu merangkul mama anak itu. Wanita itu menangis, kini dia sudah tidak memiliki siapa pun. Pemakaman anak itu pun segera di langsungkan setelah mama anak itu sudah bisa melepas ke pergian anaknya.


Te Apoyo ikut mengantarkan jasad anak itu ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dan saat itu ia tidak ingat kalau ada arwah seorang gadis yang menunggunya di kantornya. Sepulang dari pemakaman ia langsung pulang ke rumah.


"Te Apoyo, kamu ada di mana sekarang? Gadis itu sekarang ketakutan, cepat cari dia!" teriak Malika di seberang panggilan di malam itu, saat Te Apoyo baru saja hendak pergi tidur.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2