
Tapi sebelum pecahan kaca mengenai Te Apoyo, Te Espere mendorong Cresentia dan pecahan kaca itu terlempar ke segala arah. Te Apoyo berlindung di bawah kolong tempat tidurnya. Dan kaca-kaca tersebut menancap di kasur. Serta berserakan di lantai.
Sementara di ruang tengah Cresentia menendang perut Te Espere, yang sudah berubah karena melepas cincinnya. Ia menatap geram pada perlawanan Te Espere yang tidak terduga.
"Beraninya anak kecil seperti kalian melawanku!" ujar Cresentia penuh amarah.
Lalu ia menggerakkan tangan seolah mengendalikan udara yang ada di ruangan tersebut. Ia lalu mengangkat barang-barang yang masih utuh dan melemparkannya ke arah Te Espere. Tapi semua hancur saat Te Espere menangkis benda tersebut dengan tangannya.
Kemudian Te Espere berlari dan menyerang Cresentia secara langsung. Tapi Cresentia berhasil menangkap tangan kanannya lalu mencengkram lehernya. Tapi Te Espere mengambil kesempatan tersebut untuk menggunakan ke kuatannya, lalu menghisap roh Cresentia.
"Hah! Beraninya kau!" hardik Cresentia melepaskan tangannya dari tangan dan leher Te Espere.
Lalu berbuat seolah memukul angin ke arah Te Espere. Dah hal itu membuat Te Espere melayang ke udara dan membentur diding. Lalu ia pun tersungkur di lantai.
"Kau terlalu percaya diri melawanku, usiamu baru seumur jagung. Aku bukanlah tandinganmu," ujar Cresentia sambil melangkahkan kakinya mendekati Te Espere.
"Berhenti, jangan sakiti dia! Akulah yang bersalah," ujar Te Apoyo yang tiba-tiba keluar dari kamarnya sebelum Cresentia menyakiti saudarinya.
Melihat Te Apoyo yang sudah keluar dari kamarnya, Cresentia langsung melempar tubuh Te Apoyo tanpa menyentuhnya ke dinding yang berada tepat di hadapan Te Espere.
"Kenapa kamu marah saat kami melakukan hal itu pada kepala polisi? Kamu ada di mana saat ia berbuat jahat? Apa kamu tahu kalau sampai saat ini, temanku masih mengalami trauma? Semua itu adalah akibat ulah kepala polisi itu. Ia membebaskan para preman begitu saja!" teriak Te Espere.
"Kenapa tidak kamu balas perbuatan kejam yang mereka lakukan pada temanku?!" tanya Te Espere.
"Karena itu bukan urusanku!" jawab Cresentia.
"Kalau begitu, kamu tidak berhak melarang kami melakukan apa pun dengan kemampuan kami," ujar Te Espere.
"Berani sekali kau berdebat denganku yang sudah ada selama 7 generasi!"
"Tapi yang aku katakan benar kan? Sekarang kekuatan ini adalah milik kami dan kami berhak menggunakannya," ujar Te Espere.
__ADS_1
*Prang!
Sebuah benda dilempar ke arah Te Espere, tapi berhasil ditangkisnya.
"Apa kamu kesal karena ucapanku benar? Jika kepala polisi tidak bisa memberi keadilan pada teman kami, maka kamilah yang akan memberikan keadilan padanya!"
"Dasar cerewet! Keadilan apa yang kau maksud bocah! Apa kau tahu kenapa ia mengalami hal buruk? Itu karena ia berasal dari keturunan penjahat seperti kalian! Dan ia pantas menerima balasannya!"
"Meskipun ia berasal dari keturunan penjahat, ia tidak pantas menerima kejahatan dari orang lain yang tidak pernah ia lukai!"
"Memangnya kau tahu apa soal pantas dan tidak pantas, kami juga tidak pantas menerima hukuman atas tuduhan palsu, kau tahu?!"
"Jika kamu mengatakan, temanku pantas menerima hukuman dari kejahatan yang dilakukan oleh generasi sebelumnya di masa lalu. Maka kamu dan keluargamu juga pantas menerima hukuman dari kejahatan yang tidak pernah kalian lakukan!"
"Cukup!" Cresentia melampiaskan kesesalannya dengan melayangkan benda-benda ke arah Te Espere dan lagi-lagi ditangkis oleh Te Espere.
"Kenapa? Apa kamu tidak tahu kalau genarasi sebelum keluargamu lahir, mereka telah melakukan kejahatan yang sama pada keluarga Alexander?!"
"Bohong! Itu tidak mungkin, keluargaku berasal dari suku terhormat!"
Lagi-lagi Cresentia melempar benda ke arah Te Espere. Kini Cresentia semakin dekat dengan Te Espere. Te Apoyo ingin menolong saudarinya, tapi melalui kontak batin Te Espere melarangnya.
"Cepat pergi ke ruang rahasia dan ambil pedang yang ada di bawah peti. Jangan perdulikan aku, aku akan mengulur waktu di sini, cepatlah pergi!"
Cresentia yang tersulut emosi oleh Te Espere, tidak menyadari kalau Te Apoyo perlahan pergi ke ruang rahasia. Untuk mengambil sebuah pedang yang mungkin bisa digunakan untuk mengalahkan Cresentia. Meski tidak tahu akan berhasil, mereka akan tetap mencoba jalan terakhir yang bisa mereka pikirkan.
"Seorang penjahat justru banyak terlahir dari orang baik yang disakiti. Dan orang baik bisa lahir dari orang jahat yang menyadari kesalahannya. Hal seperti ini saja kamu tidak tahu?" tanya Te Espere yang terus memancing kekesalan Cresentia.
Cresentia semakin gelap mata karena merasa diremehkan dan dengan segala kekuatannya dia mengerakkan udara lalu mengarahkannya pada Te Espere. Te Espere menangkis serangan tersebut, tapi kali ini kekuatannya tidak cukup kuat untuk melindunginya. Dan ia terluka oleh benda-benda yang dileparkan ke arahnya.
Akhirnya ia mencoba menyerap lebih banyak lagi kekuatan roh yang ada di sekitarnya. Tapi kemampuanya tetap tidak bisa menandingi kekuatan Cresentia. Berkali-kali ia rubuh. Cresentia melihat lawannya tidak mampu melawan lagi. Maka kiini Cresentia mengubah udara menjadi percikan api lalu membakar benda-benda yang bisa terbakar.
__ADS_1
"Sekarang, kau akan jadi debu!" ujarnya sambil melemparkan seluruh benda yang terbakar api ke arah Te Espere.
Te Espere menghindar meski percikan api sempat membakar kulitnya. Te Apoyo yang datang sambil berlari membawa pedang, dengan cepat menghunus Cresentia dari belakang. Cresentia menoleh kebelakang, lalu membalikkan badan dan melompat mundur. Ia merasakan sakit pada dadanya.
"Pedang itu! Itu pedang pusaka sukuku! Kembalikan!" ujarnya sambil mengejar Te Apoyo.
Te Apoyo mengayunkan pedang itu lagi, tapi kali ini Cresentia berhasil mengelak. Lalu ia menangkap tangan Te Apoyo dan merebut pedang tersebut dari tangan Te Apoyo
"Pedang ini diberikan papaku pada Alexander untuk melindunginya dari orang jahat. Karena mengira Alexander orang yang baik. Akan tetapi ternyata dialah penjahatnya! Ia menusuk keluargaku dari belakang! Dan kau, yang memiliki wajah yang sama dengannya, kini menusukku dengan pedang sukuku sendiri! Wajah yang sama ini sudah menusukku dua kali, dan aku tidak akan biarkan orang yang memilik wajah ini menusukku untuk yang ke tiga kalinya!"
"Matilah kau!" teriaknya.
Te Espere berlari ke tengah mereka untuk melindungi Te Apoyo. Sehingga ia yang terluka akibat pedang tersebut, darah menguncur dari lukanya. Dan percikan darahnya mengenai tangan dan wajah Cresentia.
Tiba-tiba angin bertiup kembali semakin kencang seolah ada angin topan. Listrik di kota itu padam. Rumah-rumah di terpa angin yang kencang. Membuat para penghuni terbangun dan ketakutan. Tanah seperti berguncang.
Cresentia yang terkena percikan darah Te Espere seolah melihat masa lalu Te Espere dan juga melihat generasi Alexander. Terlihat jelas apa yang Alexander perbuat pada keluarganya.
"Malam ini kalian akan disidang, dan kalian akan dihukum bakar oleh papaku. Karena kalian dituduh sebagai keluarga penyihir. Jadi larilah dengan kereta kuda malam ini juga sebelum ada orang membawa kalian ke persidangan!" ujar Alexander pada Nathan.
"Takdir seseorang terkadang harus terjadi nak! Meski bersusah payah lari untuk menghindarinya, tetap saja kita akan ditarik kembali ke takdir yang sudah digariskan pada kita sejak lahir," jawab Nathan menolak bantuan Alexander.
"Jika kami lari maka suku kami juga pasti akan berada dalam bahaya," lanjutnya lagi.
Lalu ia membuka sebuah peti, tempat ia menyimpan pedang yang diwariskan padanya sebagai ketua dari sukunya. Kemudian menyerahkan pedang itu pada Alexander.
"Apa ini?" tanya Alexander.
"Ambillah pedang ini. Sepertinya aku tidak bisa lagi menjaganya. Beberapa hari ini Cresentia tampak murung jika melihat kami, dan setelah mendengar kata-katamu, aku jadi mengerti kalau hari akhir kami sudah dekat." ujar Nathan dengan suara yang berat.
"Hanya saja aku tidak menyangka, kalau ternyata ajal akan menjemput seluruh anggota keluargaku secara bersamaan." ucapnya pilu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu seperti apa nantinya takdir putriku, tapi aku mohon tolong lindungi dia, dan juga tolong lindungi sukuku," ujar Nathan.
Bersambung...