
"Kamu mengusirku?"
"Ya."
Brillo memutar bola matanya 360 derajat. Tidak menyangka kalau Nicorazón yang sudah jadi sepupu baginya sejak kecil, sekarang malah mengusirnya. Tanpa banyak bicara ia pun mengemasi barang-barangnya.
"Sayang kamu mau pulang?" tanya Primavera pada Dorado.
"Iya tante," jawabnya tersenyum.
"Sebentar, tante panggilkan supir!" pinta Primavera.
Lalu dengan diantar supir, Brillo pulang ke rumah orang tuanya, yang merupakan rumah kakek dan neneknya. Beberapa menit kemudian Nicorazoón tampak menyesal dengan ucapannya, dan berlari keluar kamar, tapi Brillo sudah tidak terlihat lagi. Ia menghubungi nomor ponsel putra Malika tersebut namun tidak diangkat.
"Ah, dasar!" umpat Nicorazón merutuki perbuatannya dan menjitak kepalanya sendiri.
Lalu ia melihat sekelilingnya, namun ia tidak berani melihat kebelakang, akibat mengingat ucapan anak yang beberapa hari ini menginap di kamarnya.
"Hati-hati, dia ada di belakangmu!" ujar Brillo memperingatkan Nicorazón saat ia keluar dari kamar Nicorazón.
Nicorazón mengangkat ponselnya berpura-pura sedang selfy tapi sebenarnya ingin melihat di belakangnya ada apa. Saat Nicorazón ketakutan, Brillo malah tertawa sendiri melihat tingkah Nicorazón di layar ponselnya yang terhubung dengan kamera pengawas di rumah Te Apoyo.
"Dasar penakut."
Saat Brillo tiba di depan rumahnya, mama dan kakaknya telah rapi dan siap untuk berangkat. Dan kakek, nenek dari papanya juga telah siap. Ia pun mengucapkan terima kasih pada supir yang mengantarkannya tadi. Lalu masuk ke mobil mamanya. Mereka akan menjemput Tomi yang akan tiba hari ini.
Sejak kepergian Brillo, Nicorazón terus-terusan mengekor pada Primavera. Dia bermain ponsel atau pura-pura belajar di tempat mamanya berada. Jika mamanya sedang di teras, maka ia pun akan pergi ke teras. Jika mamanya ke dapur, ia pun akan pergi ke dapur. Mulanya Primavera tidak menyadarinya, namun kemudian ia pun tahu kalau putranya selalu mengikutinya.
"Apa putraku, masih takut sendirian?" batinnya.
"Sayang... bantuin mama ya!" panggil Primavera pada putranya yang bermain dengan ponselnya.
Nicorazón menoleh dan mengernyitkan keningnya. Sebab tidak biasanya mamanya meminta bantuan seperti itu. Tapi kemudian ia tersenyum, setidaknya ia bisa bersama seseorang saat ini. Jadi ia pun mengangguk.
__ADS_1
Ia diminta mengambil benda-benda yang diperlukan untuk membuat kue, lalu ia diminta mengaduk bahan tersebut. Saat adonan telah siap dibentuk, maka Nicorazón ikut mencetak kue tersebut. Ia melakukannya dengan serius dan hal itu membuatnya lupa akan ucapan Brillo.
Saat sedang asik mencetak tiba-tiba ia melihat hal aneh pada hasil cetakannya. Karena yang seharusnya berbentuk bintang dan bunga malah membentuk huruf.
JADILAH MILIKKU
"Semakin lama kamu semakin pandai mencetaknya," puji Primavera pada Putranya.
Tapi Putranya salah mendengar ucapan mamanya. Ia mendengar kalau mamanya bertanya, bagaimana caranya dia menbuat adonan itu, sehingga membentuk sebuah kalimat.
"Jadi Mama melihatnya juga?" tanya Nicorazón yang pendengarannya diusik oleh roh yang ada di dekatnya.
"Ia tentu saja, loyang sebesar ini mana mungkin tidak terlihat oleh Mama," ujar Primavera menanggapi pertanyaan aneh putranya.
Tapi lagi-lagi Nicorazón salah dengar. Ia mendengar kalau mamanya berkata bahwa mamanya ingin agar ia mencetak dan membuat kalimat lain.
"Ta-tapi aku tidak melakukannya Ma," kata Nicorazón lalu menjauh dari meja dapur.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Primavera pada Putranya.
Putranya hanya diam saja dan beranjak meninggalkan dapur. Istri Te Apoyo itu hanya menghembusakan napas pelan dan menggelengkan kepala. Kemudian Primavera memasukkan loyang yang telah berisi adonan yang telah dicetak. Sebenarnya bentuk adonan itu tidak membentuk huruf. Dan hanya Nicorazón yang melihatnya seperti huruf.
"Apa dia sebaiknya ikut terapi lebih sering biar dia tidak tampak seperti orang linglung lagi?" batin Primavera.
"Ia tidak bisa melihatku, apa mungkin ramalan Bibi salah?" ujar Gadis pemilik roh yang menggoda putra Primavera.
"Bibi tidak pernah salah. Jika kamu tidak percaya, coba beri dia masalah yang lebih besar. Jika perlu, sesuatu yang akan mengancam nyawanya."
"Mengancam nyawa ya? Hmm kira-kira hal apa ya yang harus aku buat?" gumam gadis itu tersenyum.
Di tempat lain, Tomi dan keluarganya sudah tiba di rumah mereka. Para pelayan menyambut dengan gembira. Tanpa tahu kalau ada hadiah kejutan yang sudah dipersiapkan untuk mereka semua.
Saat Tomi sedang membagi-bagikan hadiah pada para pelayan, Brillo justru mengecek ponselnya. Ia melihat rekaman saat Nicorazón diganggu oleh roh seorang gadis.
__ADS_1
"Gawat, hanya sebentar tidak diawasi para roh pengganggu mulai muncul," gumamnya.
"Siapa?!"
"Kakak! Jangan membuatku kaget!"
Kedua bersaudara itu pun memeriksa rekaman tersebut di ruang kerja papa mereka. Mereka pun saling pandang setelah menyaksikan vidio itu.
"Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan roh ini? Bukankah roh seharusnya terlihat buruk?"
"Apa menurut Kakak, mungkin itu roh yang sedang tidak sadarkan diri dan ia mengenal Nicorazón?"
"Berbicara tentang rumah sakit, aku jadi teringat tentang hal aneh di rumah sakit Om Te Apoyo. Ada banyak pasien yang dinyatakan sudah sembuh dan sudah bisa pulang esok hari, tiba-tiba jatuh sakit. Masalah ini tidak diperpanjang karena Om Te Apoyo membayar ganti rugi pada keluarga pasien," ujar Putri Malika.
"Jika salah mendiagnosa seharusnya hanya satu pasien, kan?" tanya Putri Malika pada adiknya.
"Jadi... pasien yang ada di rumah sakit Om Te Apoyo juga diincar ya? Kira-kira siapa pelakunya sebenarnya?" tanya Brillo.
Putra Malika ingin menjawab tapi ternyata mereka dipanggil untuk bergabung. Saat itu keluarga Te Apoyo ternyata telah tiba, Nicorazón juga ikut. Ia tampak sangat pendiam. Karena ia mengalami hal yang aneh seharian.
Saat melihat Brillo ia ingin berbicara dan meminta maaf tapi, ia menjadi ragu saat melihat Putra Malika menjauhinya. Dan akhirnya ia tidak mengatakan apapun sampai akhirnya ia dan orang tua, serta kakek dan neneknya akan pulang.
"Nicorazón ikut pulang jugakah? Apa tidak mau menginap? Kan Brillo sudah menginap di rumah kalian beberapa hari?" tanya Malika.
Nicorazón ingin menjawab tapi Primavera langsung angkat bicara.
"Oh ya sudah kalau mau menginap di sini, kalau begitu kami pulang dulu ya," ujar Primavera dan segera mengapit lengan suaminya.
Nicorazòn kehabisan kata-kata, sebab ia tidak tahu harus berkata apa. Dan saat orang tua dan kakek, neneknya pergi ia hanya bisa mematung. Malika hanya tersenyum sambil melambaikan tangan mengantarkan kepergian keluarga Te Apoyo.
"Sudah malam, ayo semuanya tidur, Brillo ajak Nicorazón ke kamarmu!" pinta Malika sambil tersenyum.
Bersambung...
__ADS_1