Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Pembukaan Pabrik Sepatu


__ADS_3

Ketika dia berbicara demikian ternyata bersaaman dengan datangnya Alicia. Alicia bengong.


"Aku baru datang, sudah disuruh pergi," ujarnya.


Te Apoyo menoleh ke belakang, melihat Alicia membawa kotak bekalnya lalu duduk dan menyantap makanannya.


"Maaf bu guru aku tidak berniat mengatakan hal itu," ujar Te Apoyo secepatnya.


"Hahaha, jangan gugup begitu. Ini ayo makan, aku sudah menambah porsi bekalku," ujar Alicia mengajak Te Apoyo untuk makan.


"Saya tidak lapar, terima kasih," jawab Te Apoyo seperti biasa.


Klara menatap Alicia dengan tatapan tajam. Lalu ia tersenyum menyeringai. Tepat saat Te Apoyo menoleh padanya. Te Apoyo menerka kalau Klara ingin merasuki Alicia. Sebelum Klara bergerak Te Apoyo mencoba menggagalkan tindakan Klara.


Tapi gerakan Klara lebih cepat tiba ke Alicia. Te Apoyo mencoba menghalangi dengan kekuatannya. Namun ia gagal sebab Klara berhasil menjatuhkan kotak bekal Alicia. Dan makanannya pun berhamburan di lantai. Alicia terbengong seperti orang bodoh, yang membuat Klara menertawainya.


Te Apoyo menatap Klara kesal, tapi ia menahan diri karena Klara hanya menjatuhkan kotak bekal Alicia. Klara menatap Te Apoyo yang tidak berbuat apa-apa padanya. Ia pun semakin merasa di atas awan. Dan memutuskan merasuki Alicia. Tapi hal yang tidak pernah ia bayangkan terjadi.


"Hei, siapa kamu mau mengganggu acara makanku?" ujar Alicia menangkap leher Klara saat Klara mendekat dan mencoba merasuki Alicia.


Klara dan Te Apoyo tidak menduga hal tersebut sama sekali. Sebab keduanya mengira kalau Alicia tidak bisa melihat roh. Tapi bukan cuma melihat, ia bahkan bisa mencengkram leher Klara. Tanpa rasa ragu sedikit pun ia membanting roh Klara ke lantai.


Tidak tahu apakah itu terasa sakit bagi Klara atau tidak. Tapi Klara seperti mencoba melepaskan lehernya dari cengkraman Alicia. Te Apoyo masih melongo dan tidak tahu berbuat apa, saat melihat dua jenis mahluk yang berbeda namun sejenis itu bergulat.


"Lepaskan aku!" teriak Klara.


"Ternyata kekuatanmu cuma segini, tapi sudah berani macam-macam denganku," jawab Alicia dengan wajah sinis ke arah Klara.


"Te Apoyo, tolong aku," pinta Klara.


Alicia memandang Te Apoyo sekilas.


"Apa kalian dulunya sepasang kekasih, sampai-sampai kau melukai setiap gadis yang mendekati Te Apoyo akhir-akhir ini?" tanya Alicia pada Klara.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu, lepaskan aku!" ujar Klara dan meronta semakin kuat.


"Te Apoyo, tolong aku!" lagi-lagi Klara mencoba meminta belas kasih dan bantuan dari Te Apoyo.


"Maaf aku tidak bisa membantumu," ujar Te Apoyo lalu meninggalkan tempat tersebut.


"Apa itu balasanmu?! Setelah aku berkali-kali menolongmu?!" teriak Klara geram pada Te Apoyo.


Te Apoyo pun berpaling dan menatap Klara dengan tajam.


"Jika bukan karena mengingat bantuanmu selama ini, kamu sudah musnah di tanganku selama ini," jawab Te Apoyo dengan tegas. Lalu dengan cepat pergi meninggalkan tempat tersebut.


Alicia mencengkram leher Klara lebih erat setelah Te Apoyo meninggalkan tempat tersebut.


"Akh, lepaskan! Lepas kataku!" teriak Klara.


Tapi semakin kuat Alicia mencengkramnya.


"Kumohon lepaskan aku," ujar Klara memelas mohon ampun.


Roh Klara pun hancur dan musnah. Te Apoyo yang melihat hal itu dari balik tembok berusaha menenangkan diri. Ia tidak menyalahkan Alicia. Sebab Klara yang menggali kuburannya sendiri. Menantang lawan yang tidak ia kenali seberapa kuat kemampuan orang tersebut.


Alicia menepuk-nepuk tangannya seolah membersihkan bekas sisa remahan roh Klara di telapak tangannya. Dan memandang sedih pada makananya yang tumpah. Lalu mengumpulkan makanan itu dan membuangnya ke dalam tong sampah.


Sejak saat itu roh Klara tidak pernah muncul lagi. Te Apoyo dan Alicia berbagi kisah mereka di jam istirahat makan siang.


"Jadi selama ini bu guru sudah tahu? Tapi kenapa bu guru diam saja, dan pura-pura tidak melihat Klara?" ujarnya esok hari kemudian.


"Memangnya aku harus mengatakan padamu jika aku bisa meliharnya?" tanya Alicia.


"Tidak juga, bukan begitu maksudku," ujar Te Apoyo kebingungan menemukan kata yang tepat.


"Di balik kekuatan besar, tersimpan tanggung jawab yang besar. Aku tidak ingin seseorang memanfaatkan kemampuanku saat mereka mengetahuinya," jawab Alicia sambil menyantap bekalnya.

__ADS_1


"Kenapa bu guru banyak makan?" tanya Te Apoyo tiba-tiba yang membiat Alicia tersedak. Lalu dengan cepat membuka tutup botol minumannya.


"Apa aku harus menjawab hal itu juga?" tanya Alicia pada Te Apoyo dengan nada kesal.


Te Apoyo mengernyitkan keningnya, lalu mengalihkan pandangannya.


"Apa aku salah bicara?" tanya Te Apoyo dalam hati.


"Apa boleh buat, aku ini gampang lapar. Jadi aku harus makan banyak agar tetap berlemak," jawab Alicia kemudian.


Sebenarnya Alicia menutupi kenyataan kalau ia lari dari masalahnya. Sejak ia gagal berumah tangga. Suaminya meninggal di malam pernikahan mereka. Karena muntah darah hingga kehabisan darah di tubuhnya.


Alicia tidak menyadari kalau ia adalah salah satu keturunan suku Cresentia. Sebab ia diadopsi dari panti asuhan. Sehingga ia tidak mengetahui asal usulnya. Ketika ia jatuh cinta dan memutuskan menikah, ia pun kehilangan kekasih hatinya. Dan sejak saat itu ia menjadi frustasi dan mengalihkan pikirannya ke makanan. Ia tidak tertarik untuk menjalin hubungan lagi.


Beberapa minggu kemudian, pabrik sepatu milik Te Apoyo mulai berjalan. Dan menerima banyak karyawan. Ia menerima kakak laki-laki dari teman sebangku pertamanya bekerja di pabrik tersebut sebagai mandor. Tentu membuat kakak temannya terkejut tapi sekaligus merasa senang. Sebab ia mendapat posisi yang bagus.


Meski gagal masuk kemiliteran, setidaknya kini ia tidak menjadi buruh dengan upah kecil. Para perkerja di pabrik itu banyak juga yang berasal dari keluarga yang ikut jadi pekerja saat pembangunan pabrik.


Dan hal ini membuat jumlah pengangguran berkurang. Serta perekonomian di daerah itu meningkat perlahan-lahan. Tapi tetap saja ada yang tidak senang dengan hal itu. Lalu menyusupkan kaki tangannya ke perusahaan sepatu tersebut. Mereka mencari celah untuk merusak pabrik tersebut dari dalam.


Suatu hari saat Te Apoyo melintasi pabrik tersebut, ia melihat setiap orang yang keluar dari pabrik tersebut diikuti oleh mahluk berjubah hitam yang membawa sabit. Hal itu menjadi tanda tanya besar oleh Te Apoyo.


"Kenapa ada banyak orang yang memilik tanda-tanda akan segera meninggal," batin Te Apoyo.


"Papa sepertinya di pabrik akan ada masalah besar," ujar Te Apoyo saat melakukan panggilan pada papanya yang berada di kota besar.


Sebab hatinya menjadi gusar dan tidak bisa diam saja. Te Apoyo meminta papanya untuk menyuruh anak buahnya menyisir seluruh ruangan yang ada di pabrik. Memastikan kalau tidak ada bagian bangunan yang mungkin akan rubuh dan menimpa pekerja.


"Kami sudah tiba di lokasi dan memeriksa setiap ruangan dan bagian bangunan tuan. Tapi kami tidak ada menemukan tanda-tanda kalau bangunan akan rubuh," ujar salah satu petugas.


"Baiklah kalau begitu, tapi terus pantau situasinya dan kalian harus waspada akan setiap kemungkinan kecil, lalu mencari jalan pintas seadainya bangunan akan rubuh. Untuk memperkecil jatuhnya korban," ujar Dion pada anak buahnya.


"Huhffss ada apa sebenarnya, aku pikir aku sudah bisa tenang, setelah kemampuan melihat hari akhir seseorang hilang dariku. Tapi siapa sangka si kembar malah memilikinya. Seolah kemampuanku berpindah pada mereka," gumam Dion.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2