
Setelah jauh berkeliling dan tidak menemukan putrinya, Lina meminta supir pribadi Ros untuk menepikan kendaraan yang mereka tumpangi. Lalu ia keluar dan menghirup napas dalam-dalam, dan menghembuskannya secara bersamaan.
"Lina, yang sabar ya, kita pasti bisa menemukannya." ucap Ros yang ikut turun. Ia mencoba meringankan beban mental sahabatnya.
Lina mencoba menenangkan dirinya, air matanya mengalir tidak terbendung. Dan Ros memeluknya seraya memberikan tepukan pelan di pundaknya.
"Ini sudah lewat tengah malam, jalanan mulai sepi," gumam supir Ros yang juga akhirnya ikut keluar.
"Ayo kita cari sebentar lagi, setelah itu kita pulang. Siapa tau kalau Teresia sudah pulang dari tadi. Dia pasti takut dan kebingungan, sebab rumah dikunci. Dan ia tidak dapat masuk." tutur Ros. Dan membuat Lina berhenti menangis.
"Ia benar, bisa jadi seperti itu," ujar supir setuju pada ucapan Ros. Ros mengangguk. Lina menyeka air matanya.
Maka untuk terakhir kalinya mereka mencari berkeliling dan setelah itu mereka pulang. Di perjalanan pulang, Lina terus menggenggam tangan kirinya, dengan tangan kanannya dan menundukkan kepala. Sambil menutup mata dan berharap Teresia sedang menunggunya di rumah.
Tapi setelah tiba di depan rumahnya, tidak ada tanda-tanda keberadaan putrinya. Meski begitu, ia tetap turun dari mobil dan mencari putrinya di sekitar rumah. Siapa tau putrinya sedang duduk atau ketiduran menunggu kepulangannya di suatu tempat.
Tapi tetap tidak ada, lalu ia memanggil putrinya dengan lembut. Siapa tau ia akan mucul sendiri jika mendengar panggilannya. Lagi-lagi hasilnya nihil. Ros juga ikut turun dan mencari di sekitar rumah Lina. Suasana malam itu tampak sangat sepi. Tidak ada aktifitas apapun seperti tadi siang.
Jika bukan karena memikirkan nasib Teresia, Ros tidak akan mau berjalan sendiri menapaki jalan sepi itu. Lalu ia kembali ke rumah Lina. Tampak Lina sudah menyalakan lampu rumahnya dan duduk lemah di lantai. Ia sudah memeriksa setiap sudut ruangan. Tapi bayangan putrinya saja pun tidak ada.
"Pulanglah," ujarnya pada Ros dengan nada pasrah.
Ros cuma diam mematung. Dan saat ia hendak mendekat, Lina berdiri tegak.
"Pulanglah, kalian juga pasti sudah lelah dan butuh istirahat. Aku juga sudah lelah dan ingin istirahat."
"Lina, kau baik-baik saja kan?" tanya Ros cemas. Lina mengangguk dan melempaskan seiris senyum tipis di bibirnya.
Ros bisa merasakan kegetiran yang Lina rasakan. Jadi ia tidak langsung mengikuti perintah sahabatnya. Melihat Ros belum beranjak, Lina pun mendekat. Lalu memeluknya.
"Aku akan baik-baik saja, jangan kuatir." katanya.
Ros menarik napas dalam-dalam lalu membalas pelukan temannya. Dan mengusap punggung sahabatnya berkali-kali. Tidak terasa air matanya menetes. Segera ia seka bulir bening yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik, semoga Teresia pulang secapatnya. Kalau tidak, kita akan cari lagi besok, ya." ujar Ros sebelum akhirnya melangkahkan kakinya.
Lina tidak mengantarkan Ros. Begitu Ros keluar dari rumahnya, ia hanya melambaikan tangan, lalu menutup pintu. Dan setelah mendengar suara mobil Ros menjauh, pergilah ia ke kamar dan menangis sekuat-kuatnya.
Kelelahan membuatnya tertidur, dengan air mata yang perlahan mengering di pipinya.
Sementara Teresia kini telah terbangun dan melihat sekelilingnya.
"Kau sudah sadar?" tanya Nicholas.
Teresia terkejut mendengar suara yang menyapanya. Lalu ingatan tentang api dan oran-orang yang hendak membakarnya, muncul dalam benaknya. Seketika ia mendadak gemetaran.
"Tenanglah, kau sudah aman sekarang. Ini rumah sakit. Siapa namamu? Apa aku boleh tau?"
Teresia memandangnya dengan takut-takut. Lalu ia ingat wajah tersebut. Wajah orang yang menghentikannya dari korban pembakaran. Tanpa sadar ia memandangi Nicholas tanpa berkedip sedikit pun.
"Kau ingat aku? Aku yang menolongmu, jadi jangan takut."
"Di mana rumah mamamu? Katakan alamatmu, nanti aku akan mengantarkanmu ke sana!"
Teresia lalu mengatakan alamat mamanya dengan lengkap. Sama seperti yang selama ini mamanya ajarkan. Nicholas lalu memeriksa alamat yang telah diberikan oleh Teresia melalui Google Map di ponselnya. Karena dia tidak tau lokasi tempat tersebut.
Ia sebenarnya sedang kabur dari rumah. Dan berniat berlibur di rumah pamannya yang kebetulan seorang aparat keamanan di tempat tersebut. Dan kebetulan saat hendak pulang ke rumah pamannya sehabis jalan-jalan dengan sepupu dan teman-temannya, mereka bertemu Teresia.
"Ternyata jaraknya cukup jauh dengan lokasi kantor paman ya." gumamnya setelah memperbesar peta di ponselnya untuk mendapatkan hasil maksimal.
"Kenapa kau bisa sampai di sini?" tanya Nicholas. Lalu tanpa sengaja ia melihat cincin di jari manis Teresia.
"Apa dia sudah menikah? Dan kabur dari suaminya, lalu hendak pulang ke rumah mamanya?" batin Nicholas bertanya-tanya.
"Aku tidak tau, saat sadar aku sudah diikat dan disiram dengan bensin."
"Hah!" Nicholas mengangakan mulutnya. Jawaban Teresia terasa aneh dan janggal.
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan 'tidak tau' itu bukan jawaban yang tepat?" lanjut Nicholas mengintrogasi.
"Aku benar-benar tidak tau, tadinya aku di kamar sedang tidur. Dan aku bermimpi menaiki tangga yang ada di belakang rumahku. Lalu melompati dinding yang membentengi bagian belakang rumah." Teresia menceritakan sebuah kejadian yang ia lihat seperti mimpi.
Lagi-lagi Nicholas terbegong dibuatnya. Tapi Nicholas tetap mendengarkan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun juga.
"Ok, lalu,"
"Setelah melompati pagar, di mimpiku aku menapaki jalan tanpa menoleh kebelakang. Dan banyak orang melihatku dengan pandangan aneh. Tapi aku terus berjalan, dan aku tidak tau sudah sejauh apa aku berjalan." lanjutnya bercerita.
Nicholas menopang dagu serasa sedang mendengarkan neneknya bercerita kisah dongeng. Dan Teresia terus bercerita sesuai dengan yang dilakukan arwah wanita tersebut, saat raganya digunakan roh lain.
"Lalu saat merasa lapar, aku mengambil beberapa kue dan roti di toko makanan."
Kini Nicholas mengangkat kepalaya. Dan mulai serius mendengarkan dan ingin tahu bagian akhirnya.
"Mulanya mereka mengusirku dan mengataiku sebagai orang sakit jiwa."
Kini Nicholas mengernyitkan keningnya.
"Mereka mendorongku keluar toko dengan kasar. Tapi aku tidak mau. Aku terus mengambil beberapa roti lagi. Dan hal itu membuat orang yang ada di toko menjadi marah."
Nicholas memicingkan matanya dan memiringkan kepalanya 45 derajat. Sepertinya ia mulai mengerti seseuatu. Hal yang berkaitan dengan kejadian saat pertama kali melihat Teresia.
"Mereka memukulku, dan aku melawan. Aku mengacak-acak toko tersebut dan menghancurkan beberapa benda di toko itu. Dan mereka semakin kasar. Beramai-ramai mereka memegangiku dan membawaku keluar. Tapi kemudian aku berhasil melepaskan diri. Dan aku menggunakan apa saja untuk melawan mereka."
Kini Nicholas manggut-manggut dan mengerti duduk perkaranya. Dan ia jadi faham kenapa orang-orang tersebut bisa setega itu hendak membakar Teresia hidup-hidup.
"Lalu mereka mengeroyokku dan mengikatku dengan tali, dan melingkarkan ban di tubuhku dan menyiramku dengan bensin. Lalu membuat api yang sangat besar. Aku ketakutan saat mereka hendak membakarku, dan akhirnya aku terbangun."
"Dan saat kau terbangun ternyata mimpimu menjadi nyata, begitukan?"
Bersambung...
__ADS_1