
"Kita tidak tau apa rencana mereka, tidak mungkin secepat itu mereka berubah pikiran.Pasti ada apa-apanya." kata Dion.
Ia sudah tau apa yang ada di dalam benak istrinya. Jadi ia pun menjawab sebelum ada perselisihan paham di antara mereka berdua. Lina hanya bisa diam dan membiarkan obat itu diserahkan pada salah satu pelayan. Pelayan itu pun menerimanya, lalu membawanya ke dapur untuk dibuang.
"Kalau kau mau kita akan beli sendiri dan kita harus konsultasi dulu pada dokter." ucap Dion lagi pada Istrinya.
Kini Lina tidak berdebat lagi dengan suaminya dan membiarkan semua obat herbal yang ada untuk dibuang. Karena menurutnya wajar saja kalau suaminya curiga, meskipun menurut Lina suaminya terlalu curiga.
Obat herbal itu masih terbungkus rapi seperti dari pabrik, jadi mana mungkin obat itu mengandung sesuatu di dalamnya. Tapi apa boleh buat, Lina tidak ingin suasana bahagian itu dirusak oleh pendapat yang berbeda.
Ke esokan harinya di pagi hari, Lina bangun dengan cepat. Tapi alangkah terkejutnya dia, karena melihat seorang tamu yang tidak di undang berada di kamarnya. Bukan saja tidak di undang, tapi tamu tersebut bertampang sangat mengerikan. Dan belum pernah Lina lihat sebelumnya.
ARRRKKKK!!!
Lina beteriak karena sesosok bayangan hitam muncul di kamarnya dengan senjata yang berbentuk sabit, dengan gagang yang panjang. Sekilas sosok itu tampak seperti seseorang yang mengenakan jubah hitam panjang dan jubah itu memilki penutup kepala. Dan teriakannya membuat suaminya sontak terbangun.
"Ada apa sayang?" Tanya Dion..
"I..itu...takut sayang... "Ucap Lina terbata-bata.
Dan bukan hanya itu Lina kini melihat hal-hal yang tidak kasat mata lainnya saat dia berpaling ke arah lain. Lina pun membenamkan wajahnya di dada suaminya agar tidak melihat mereka. Meski demikian seluruh tubuhnya gemetaran karena rasa takut. Keringat dingin menguncur di seluruh tubuhnya.
Melihat kondisi istrinya, Dion menjadi sangat cemas. Dion pun berusaha menenangkan istrinya. Dia juga mengatakan kalau tidak ada apa pun di kamar mereka.
__ADS_1
Lalu sosok bayangan itu pergi dari kamar mereka. Namun Lina tidak tau karena ia masih belum berani membuka matanya. Dion mencoba menerka ada apa dengan istrinya. Apakah itu akibat dari kehamilannya. Sehingga mengakibatkan perubahan emosi pada istrinya. Mungkin dia bermimpi buruk dan terbawa sampai saat setelah ia bangun.
"Sayang apa kau bermimpi buruk, ayo ceritakan padaku," ucap Dion dengan lembut.
Dion menepuk-nepuk pundak istrinya dengan lembut, seperti hal yang dulu sering kakeknya lakukan padanya, saat ia masih kecil dan ketakutan. Entah kenapa sesaat Dion mengingat kalau dia sempat melihat bayangan hitam di hotel tempat mereka berbulan madu.
"Apa mungkin ada yang mengganggu istriku, karena kata orang wanita yang sedang hamil disukai mahluk yang tidak kasat mata." Pikir Dion.
"Ah tapi masa sih ada hal seperti itu di zaman modern ini." Pikirnya lagi dalam hati.
"Sayang...ayo buka matamu...tidak ada siapapun di sini." Bujuk Dion.
Perlahan-lahan suara lembut suaminya memberi keberanian pada istrinya untuk membuka mata. Dan ia mencoba melihat arah di mana mahluk tak kasat mata itu tadi berada. Betapa terkejutnya dia, bahwa mahluk itu kini tepat berada di sampingnya.
Saat Lina diturunkan dari pelukan Dion, Lina terduduk di lantai, karena sepertinya kakinya sangat lemah. Lina seolah kehilangan tenaga, maka dengan cepat Dion membuka pintu dan menggendongnya keluar. Tapi ternyata Lina sudah pingsan.
"Sayang...hei..sayang ayo bangun." kata Dion.
Namun Lina tidak bergeming sedikit pun. Tentu hal ini mambuat Dion semakin pusing. Dia jadi panik. Lalu Dion memanggil seorang pelayan dan menyuruhnya untuk menelepon dokter.
Beruntung dokter segera menerima panggilan dan ia mengatakan akan sampai di rumah kakek kurang lebih tiga puluh menit lagi. Dalam beberapa 25 menit kemudian dokter pun sampailah di kediaman Dion dan Lina. Dokter tersebut adalah dokter keluarga yang sudah melayani sejak kakek masih ada.
Dengan membawa peralatannya ia datang ke tempat Lina berbaring pingsan. Salah satu alat yang dibawa ia keluarkan untuk memeriksa detak jantung. Tampaknya tidak ada yang perlu diwaspadai, karena sepertinya dokter sangat tenang memeriksa jantung, lalu memeriksa pupil Lina. Tapi semuanya normal.
__ADS_1
Setelah di periksa dokter memberikan beberapa resep untuk Dion.Kata Dokter kondisi Lina secara medis baik-baik saja. Bahkan kandungannya juga baik. Namun Dion masih terlihat was-was.
Melihat wajah cemas Dion dokter tersebut menyarankannya untuk memeriksakan kandungan Lina ke dokter spesialis kandungan. Dion pun setuju dan mengiyakan saran dokter.
Tak lama kemudian Lina siuman namun ia tetap seperti saat ia berada di dalam kamarnya tadi. Dia tetap ketakukan dan tidak berani membuka matanya. Melihat hal itu dokter menyarankan untuk memeriksakan kejiwaan Lina. Mendengar hal itu Lina menjadi marah.
"Aku tidak gila...aku tidak gila...!" teriak Lina.
"Pergi kalian...jangan ganggu aku...!" Teriakannya makin histeris disertai isak tangis.
"Iya sayang...tenanglah...tenang ya...tidak apa-apa ada aku di sini." bujuk Dion. Entah sudah yang keberapa kalinya Dion mengucapkan hal yang sama pada istrinya.
Lalu Dion menatap dokter tersebut dan kemudian memanggil pelayannya agar menyuruh supir untuk mengantarkannya pulang. Dan setelah itu Dion pun fokus untuk menenangkan istrinya.
"Sayang...ceritakan padaku...ada apa sebenarnya..." kata Dion.
Lina diam tidak berbicara sepatah kata pun, seolah bibirnya terkunci. Dion akhirnya hanya bisa diam saja membiarkan istrinya memeluknya dengan erat. Dan kemudian dia meminta pelayan membawakannya segelas air putih.
Pelayan itu pun membawakannya, lalu Dion mencoba membujuk istrinya untuk minum. Ia ingat kalau air putih bisa menenangkan seseorang yang sedang panik.
"Sayang...ayo minum dulu air putih ini...ya..." bujuk Dion.
Bersambung...
__ADS_1