
Apakah kamu sudah berkeluarga? tanya mahasiswa itu.
Sudah, jawab Alicia.
Mahasiswa itu merasa sedikit kecewa. Tapi kemudian ia mengucapkan kata selamat. Lalu menanyakan tentang anak-anak Alicia. Yang akhirnya pembicaraan sampai pada kisah meninggalnya suami Alicia di malam pengantin.
Pemuda itu terkejut, dan memperbaiki cara duduknya. Berulang kali ia membaca pesan tersebut. Memastikan kalau ia tidak salah baca.
Lalu ia pun menghubungi melalui panggilan vidio, dan akhirnya mereka saling bertatap muka untuk pertama kalinya. Rasanya sangat canggung. Tapi pemuda itu merasa sangat senang melihat Alicia.
Berbeda dengan Alicia, ia merasa sangat sedih melihat sahabat kecilnya. Sebab ia bisa melihat kalau usia sahabatnya itu tidak lama lagi. Tanpa terasa air matanya menetes.
"Hei kenapa kamu menangis?" tanya pemuda itu.
"Aku terharu," jawab Alicia.
"Sudahlah jangan menangis, nanti cantiknya luntur," ujar mahasiswa itu.
"Memangnya aku cantik? Apa kamu tidak lihat banyak lemak di pipiku?" tanya Alicia.
"Cantik, bahkan sangat cantik, dan lebih cantik dari semua wanita yang pernah kutemui," ujar mahasiswa tersebut.
"Bohong," ujar Alicia.
"Untuk apa aku berbohong?" tanya mahasiswa itu tertawa kecil menutupi rasa gugupnya karena telah memuji teman kecilnya tersebut.
Alicia pun menyeka air matanya dengan ibu jarinya. Dan mencoba tegar. Lalu melemparkan sepotong senyum. Dan dibalas dengan senyuman oleh pemuda itu.
"Oh iya, aku masih menyimpan gelang-gelang pemberianmu," ujar Alicia kemudian.
Lalu memperlihatkannya pada mahasiswa itu, dan mahasiswa itu pun memperlihatkan gelang yang ada padanya.
"Kamu ingat, ini adalah hadiah pemberianmu di hari ulang tahunku?" tanya Alicia.
"Tentu saja, bukankah itu hadiah permen coklat itu," ujar mahasiswa tersebut.
Saat itu uang koin milik Alicia sudah habis tapi ia belum mendapatkan hadiah gelang kesukaannya. Jadi mahasiswa itu membeli sebungkus coklat untuk mencoba keberuntungannya. Dan ternyata ia berhasil mendapatkan hadiahnya.
Mereka tertawa bersama saat mengingat masa kecil mereka di panti asuhan. Uang koin terasa seperti permata. Sebab sangat jarang mereka bisa merasakan menyentuhnya, apalagi sampai memilikinya.
"Oh iya, bukankah besok adalah hari ulang tahunmu?" tanya Alicia.
"Ya, memangnya kenapa? Apa kamu mau memberikan aku kado?" tanya mahasiswa itu.
"Ya tentu saja, apa yang kamu mau?" tanya Alicia.
__ADS_1
"Memangnya kamu akan memberikan apa pun yang aku minta?" tanya pemuda itu.
"Kalau kamu minta bintang, tentu aku tidak sanggup, juga jika kamu minta bulan aku tentu tidak mampu memberikannya," jawab Alicia.
"Jika aku mau kamu, apa kamu akan memberikannya?" tanya pemuda itu.
Beberapa detik kemudian telinganya terasa panas karena malu. Sementara Alicia mengernyitkan keningnya.
"Apa? Kamu ingin aku berbuat apa?" tanya Alicia.
"Hehehe, lupakan saja, aku cuma bercanda," ujar mahasiswa itu.
"Aku tidak dengar dengan jelas, ayo katakan!" pinta Alicia.
Pemuda itu terus saja tertawa menutupi kegugupannya. Sedangkan Alicia terus saja bertanya. Dan mengancam tidak ingin berbicara lagi dengan pemuda itu.
"Jika aku memintamu jadi istriku? Apa kamu bersedia?" tanya pemuda itu kemudian dengan serius.
Sebab ia merasa mungkin ini terakhir kalinya ia akan berbicara pada Alicia. Jadi ia memilih untuk mengatakan isi hatinya yang paling dalam.
"Jika kita bisa bertemu lagi, aku akan menikah denganmu," ujar Alicia.
"Hei, aku serius," ujar mahasiswa itu.
"Aku juga," jawab Alicia dengan serius.
"Alicia, jika aku jadi seorang pembunuh, apa kamu masih mau jadi istriku?" tanya mahasiswa tersebut.
"Tentu, aku juga seorang pembunuh," kata Alicia.
Pemuda itu membelalakkan matanya. Lalu Alicia mengatakan kalau ia sudah membunuh banyak nyamuk yang menghisap darahnya. Memotong ayam atau pun ikan untuk dijadikan lauk.
Pemuda itu tertawa melihat Alicia menceritakan kisah pembunuhannya. Lalu ia geleng-geleng kepala. Dan ia tidak meneruskan lagi pertanyaannya. Ia pun menjadi sedikit pendiam.
"Kenapa diam? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Alicia.
"Tidak ada, aku hanya sangat senang bisa melihatmu," jawabnya.
Tanpa terasa mereka berbincang sampai larut malam. Tepat jam 12 malam Alicia mengucapkan selamat ulang tahun pada sahabat kecilnya. Dan itu menjadi perbincangan mereka yang terakhir.
"Apa kado yang kamu inginkan di hari ulang tahunmu?" tanya Alicia sekali lagi.
"Aku sudah mendapatkannya. Kado terindahku. Bisa melihat senyum dan tawa di wajahmu. Seandainya aku tiada esok pun aku sudah rela," ujar mahasiswa itu.
Alicia mencoba menanggapinya dengan tidak serius. Meski ia tahu arah dan tujuan ucapan teman kecilnya.
__ADS_1
"Aku ingin kamu tetap jadi seperti yang dulu aku kenal, hiduplah dengan baik, sampai kita bertemu lagi," ujar Alicia di akhir katanya.
Lalu panggilan pun berakhir. Setelah itu mahasiswa tersebut pergi ke suatu tempat. Menemui orang yang menjual senjata api yang ia beli.
Keesokan harinya, pemuda itu melancarkan aksinya. Meski Tomi dan teman-temannya mencoba menghalanginya untuk tiba di kampus. Oscuridad justru membantu pemuda itu sampai ke kampus untuk melancarkan aksi dendamnya.
Saat di tengah pelajaran ia masuk ke kelas Te Espere. Lalu maju ke depan dan menodongkan senjata api ke arah dosen dan menyuruhnya keluar. Lalu mengunci pintu dari dalam. Semua mahasiswa menjadi panik.
Oscuridad tersenyum penuh kemenangan, sebab rencananya berhasil. Kini mahasiswa itu memiliki dendam yang sangat besar. Dan itu akan menjadi sumber energinya.
"Apa yang kamu ingin lakukan?" tanya Te Espere.
"Aku ingin kematianmu," jawab mahasiswa itu.
"Kenapa?" tanya Te Espere.
"Karena orang yang selama ini berbuat jahat padaku adalah kekasihmu," jawab mahasiswa itu.
"Tapi aku tidak punya kekasih," ujar Te Espere.
Pemuda itu mengernyitkan keningnya. Lalu menatap ke arah pemuda yang ditempati oleh Oscuridad. Oscuridad bersikap seolah merasa kuatir dan takut jika Te Espere akan terluka.
"Walau pun ia bukan kekasihmu, jika aku membunuhmu, maka ia akan ikut terluka," ujar mahasiswa tersebut.
"Kalau begitu lakukanlah, tapi jangan salahkan aku jika Alicia membencimu," ucap Te Espere.
"Dari mana kamu tahu nama itu?" tanya mahasiswa itu terkejut. Lalu menurunkan senjata apinya sedikit.
"Oh ternyata kamulah penyusup itu, aku sangat kesal awalnya saat mengetahui ada penyusup yang masuk ke akunku, tapi aku juga berterima kasih karenamu aku bisa melihat Alicia sekali lagi," kata mahasiswa itu kemudian.
"Keinginan terakhirku sudah terwujud, ayo kita mati bersama hari ini," ujarnya menodongkan senjata apinya kembali ke arah Te Espere.
Di dalam pikiran Oscuridad ia berharap Te Espere akan mengutuk aksi pemuda tersebut. Tapi ternyata Te Espere melangkah dengan tenang, mendekat pada mahasiswa itu. Dan hal itu membuat mahasiswa tersebut gugup dan mundur.
"Berhenti atau aku akan benar-benar menembakmu sekarang!" ancam pemuda itu.
"Aku tahu apa yang kamu alami, aku benar-benar minta maaf karena tidak ada di sampingmu. Jika kita bertemu lebih cepat, aku akan sangat senang jadi sahabatmu," ujar Te Espere.
Pemuda itu menjadi ragu, Oscuridad merasa kesal melihat keraguan yang ada dihati pemuda itu. Dan ia mendekati Te Espere mencoba menyulut emosi pemuda tersebut.
Sekali lagi pemuda itu mengarahkan senjata apinya.
*Dorr!
Satu timah panas melesat tepat sasaran.
__ADS_1
Bersambung...