Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Penangkapan


__ADS_3

Dengan berpura-pura menjadi seorang dokter, anak buah papa Kelly masuk ke ruangan tempat wartawati dan teman Dion berada. Sikap waspada teman Dion bisa melihat kalau perawat itu palsu. Dokter tersebut menggunakan sepatu boots. Ia mencoba bersikap tenang dan untungnya dokter palsu itu tidak melakukan apa pun. Meski jarak mereka cukup dekat, dokter palsu hanya mengamati watawati sekilas. Sesekali ia melihat ke sebuah catatan.


Teman Dion menangkap gelagat mencurigakan. Segera ia berpikir keras, bagaimana caranya agar mereka dapat selamat. Keringat menguncur dari pori-porinya. Pakaian yang ia kenakan menjadi basah. Seperti habis mandi dan tanpa menyeka dengan handuk, dan langsung berpakaian. Mungkin bahkan lebih dari itu.


Ia ingin menghubungi Dion, tapi ia tidak mau Dion kuatir. Saat melihat ponsel wartawati ia ingat sesuatu. GPS ponsel itu dapat terlacak. Lalu ia melihat panggilan keluar dan memeriksanya. Sadarlah ia bahwa ada aparatur pecinta lembaran segi empat, sudah berhianat. Jika tidak, bantuan harusnya sudah datang dari tadi.


Ia memikirkan cara keluar dari kamar tersebut tanpa diketahui siapa pun. Tapi ia harus memastikan dulu bahwa tidak ada orang di luar. Saat mengintip ke luar ia melihat beberapa orang yang mencurigakan berada di luar sambil mengawasi ruangannya.


Dan ada sepasang mata yang sempat beradu pandang dengannya. Detak jantungnya seakan berhenti. Semua orang di ruangan itu tengah terlelap. Meski ada yang sebentar-sebentar terbangun.


Segera ia membuat pilihan terakhir. Membuat salinan file tersebut lalu mengirimkannya pada Dion. Tidak lupa ia mengucapkan kata-kata perpisahan. Seolah ia sudah pasrah akan usianya yang kemungkinan besar harus berakhir hari ini atau pun esok.


Dion tengah berpelukan dengan istrinya setelah kelelahan menikmati rasa rindu yang telah lama terpendam. Suara ponselnya dalam keadaan mute, membuatnya tidak menyadari pesan masuk. Ditambah lagi ia baru saja tertidur pulas.


"Setidaknya aku sudah membantumu, ingat untuk membalas jasaku. Kau harus makamkan aku dengan cara terhormat." batin teman Dion.


Lalu ia tertawa tapi juga berubah sedih. Terlebih melihat kondisi temannya. Ia tidak tau apa yang akan terjadi pada mereka. Saat sedang menghayal ia melakukan penghapusan data pada ponselnya. Tapi sebelum itu, ia mengirim file tersebut, ke semua tempat yang ia rasa aman. Lalu mengirimkan petunjuk-petunjuk, cara untuk menemukan file tersebut pada Dion.


Penghapusan data selesai. Kedua ponsel sudah seperti baru dibeli. Seluruh data kosong. Lalu ia memilih memejamkan matanya sejenak. Menenangkan pikiran dan bersiap untuk segala hal.


Pagi hari pun tiba, mereka mulai melancarkan aksi. Tanpa rasa segan dokter palsu dan perawat palsu masuk dan membawa wartawati. Teman Dion yang mencegah hal tersebut pun mendapat ancaman. Dokter palsu mendekatinya dengan menodongkan pistol.


"Ikut dengan kami untuk menemani pasien." ujar dokter palsu.


Merasa tubuhnya berpindah pada akhirnya wartawati terbangun dari tidurnya akibat pengaruh obat bius. Saat ia membuka mata, teman Dion memberi israyat agar ia tetap tenang. Wajah yang kaku mengambarkan suasana mencekap, dapat ditangkap oleh wartawati sebagai tanda bahaya. Ia pun pura-pura memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


Mereka dibawa ke sebuah kamar lift. Di dalam ada beberapa yang mengawal mereka. Sambil melirik teman Dion dan wartawati agar tidak melakukan perlawanan. Salah satu dari mereka menguap. Dan ia tanpa sadar berpaling ke arah dinding ruangan tersebut. Tampak olehnya bayangan wanita cantik namun samar. Berpakaian ala putri jaman kerajaan.


Ia mengucek matanya lalu menoleh ke arah yang berlawanan. Tampak jelas wanita itu berada di tengah tengah mereka. Gadis itu menoleh padanya dan tersenyum. Lagi-lagi ia mengucek matanya. Dan saat ia melihat wanita itu terkejutlah dia. Wajahnya berubah menjadi menakutkan. Tampak seperti wujud Kelly yang tengah berbaring di kamarnya.


Wanita itu mengeluarkan darah segar dari mata, hidung serta ujung bibirnya. Dan saat ia menyeringai dan membuka mulutnya keluarlah belatung hidup. Anak buah papa Kelly kehilangan keseimbangannya. Ia mundur satu langkah, mulutnya ternganga. Dan wanita itu menyentuh kedua pundaknya.


Beberapa detik kemudian ia berdiri tegak kembali, membetulkan setelannya seolah tidak terjadi apa-apa. Saat lift terbuka, ia memerintahkan teman Dion mendorong tempat tidur wartawati terlebih dahulu. Lalu setelah mereka keluar, ia menahan rekannya.


"Kalian tunggu di sini atau pulanglah lebih dahulu. Biar urusan ini di urus kelompok lain." perintahnya.


Para anak buah di dalam lift saling pandang. Tapi kemudian mengangguk. Mereka mengira tugas pengawalan tawanan akan dilanjutkan oleh orang-orang yang menggunakan lift yang lain. Pintu lift ditutup mereka menekan angka.


Setelah itu anak buah papa Kelly menyuruh teman Dion mendorong wartawati ke salah satu ruangan yang ada di situ. Lalu membawanya masuk ke dalam lift. Teman Dion bingung, tapi ia mengikuti perintah itu begitu saja.


Setelah masuk ke dalam lift ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia heran. Ia merasa ruangan tersebut mendadak sepi, hanya karena ia mengedipkan matanya.


Teman Dion membelalak kebingungan. Pintu lift terbuka. Sekelompok pria berdiri di pintu. Mereka menatap teman Dion serta orang tang menodongnya dengan pistol.


"Di mana tawanannya?" tanya pria tegap pada orang yang bersama teman Dion.


"Aku juga tidak tau," jawab orang itu.


Pria tegap itu masuk ke dalam lift yang hampir menutup. Tapi terbuka kembali setelah ia berhasil menahan dengan tangannya.


"Jawab, di mana wanita itu?" tanya pria tegap itu.

__ADS_1


"A-aku tidak tau," jawab teman Dion gugup.


Tanpa banyak tanya ia memukul rekannya dan menanyakan hal yang sama. Tapi rekannya tetap menjawab tidak tahu.


"Beraninya kau berhinat!"


Sebuah lubah kecil membuat darah dari tengkorak kepala temannya menguncur.


"Aku rasa kau tau di mana wanita itu sekarang?" ancamnya pada teman Dion.


Teman Dion menelan cairan dalam mulutnya. Rasanya sangat kering. Berbeda dengan keringatnya yang menguncur deras. Secepatnya ia mengangguk. Lalu berpura-pura menunjukkan posisi wanita tersebut.


Sementara wartawati mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari ruangan itu. Melihat kiri kanan dan mencoba kabur. Tapi ia bingung ketika mengingat teman Dion sedang bersama anak buah papa Kelly.


Saat itu seorang perawat wanita masuk ke ruangan tersebut. Secepat kilat wartawati bersembunyi. Lalu menyadari kalau ruangan tersebut adalah ruang ganti. Saat seorang perawat itu membuka lemarinya, wartawati memukul tengkuknya hingga pingsan.


Lalu wartawati mengambil pakaian yang ada di lemari dan memakainya. Kini dengan memakai pakaian perawat ia keluar ruangan ganti. Tidak lupa ia pakai sepatu dan atribut perawat yang pingsan tersebut. Serta topi yang menutupi rambutnya. Kini tidak akan ada yang curiga padanya. Selama ia bisa menahan rasa sakit pada lukanya. Dan berharap luka itu tidak akan terbuka lagi.


Ia berhasil menemukan teman Dion, tapi rumah sakit mengalami kepanikan setelah seorang pria ditemukan tewas di sebuah lift. Dan seorang menarik tangannya.


"Ayo ada pasien gawat darurat!" ujar perawat itu tanpa memperhatikan wajah wartawati.


Sentakan tersebut membuat lukanya sedikit terbuka. Ia menjadi pucat. Menahan tubuhnya, dan menarik kembali tangannya. Perawat itu kaget. Melihatnya memegangi lukanya dengan posisi membungkuk.


"Kamu, kenapa?!" tanya perawat itu gusar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2