Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Berpacaranlah Denganku


__ADS_3

Ke esokan harinya, ia pergi ke sekolah bersama dengan Te Apoyo sambil bergandengan. Sesekali ia melirik reaksi Te Espere. Dan selama di sekolah ia jadi pusat perhatian dan bahan gosip. Tapi ia tidak perduli karena impiannya jadi pusat perhatian berhasil.


Lalu berpura-pura tidak melihat roh halus di sekitarnya. Ia justru memanfaatkan hal itu dan memeluk lengan Te Apoyo makin erat.


"Aku takut sayang," ujarnya dengan manja.


"Kalau takut, jangan pegang-pegang," ujar Te Apoyo. Gadis itu pun merengut.


Setelah pulang sekolah ia masih berharap bisa menginap lagi di rumah Te Apoyo, tapi orang tuanya menjemputnya pulang. Ia merengut di sepanjang jalan.


"Buat apa sih mama pakai menjemputku segala?" tanyanya pada mamanya sambil mengirim pesan pada Te Apoyo.


Ia meminta Te Apoyo menemuinya di sebuah taman. Sebagai kencan pertama mereka. Te Apoyo pun mengiyakannya. Balasan Te Apoyo membuatnya yang tadi merengut jadi senyum-senyum. Ia membayangkan apa yang akan ia lakukan.


Sesampainya di rumah mamanya menyuruhnya untuk berkemas. Lalu mamanya pergi ke kamarnya untuk melakukan hal yang sama. Lalu mamanya memanggil pelayan dan memberinya sebuah amplop. Mengatakan beberapa kalimat sebelum akhirnya pelayan tersebut juga pergi ke kamarnya dan berkemas.


"Ayo cepat papa sudah menunggu!" ujar mamanya.


"Buat apa sih kita berkemas?" tanyanya.


"Jangan banyak tanya," ujar mamanya lalu mengeluarkan koper putrinya dan membuka lemari.


"Cepat pilih yang mau dibawa, karena kita akan pergi lama. Atau mungkin kita tidak akan pernah pulang ke rumah ini lagi." kata mamanya.


Gadis itu heran. Dan karena ia terus tidak bergerak, mamanya akhirnya menariknya keluar.

__ADS_1


"Ya sudah, tidak usah bawa apa pun. Dari pada kita terlambat!" ujar mamanya kesal.


"Lepasin, aku tidak mau ikut!" ujar gadis itu.


Ia tidak tahu seberapa serius masalah yang keluarganya hadapi. Karena kesal mamanya pun menampar putrinya.


"Berhentilah membuat masalah, cepat berkemas atau tidak usah berkemas sama sekali!" perintah mamanya.


Ia kesal dan bersungut-sungut sambil menyusun pakaian yang ingin ia bawa. Ponsel mamanya berbunyi. Dan akhirnya mamanya menariknya keluar kamar. Sebelum ia selesai berkemas.


"Sudah, tidak usah bawa apa pun!" ujar mamanya. Lalu menarik putrinya keluar kamar.


Lalu dengan tergesa-gesa ia membawa putrinya menuju mobil. Lalu mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan yang cukup tinggi.


"Ada apa ini sebenarnya?! Mama jawab aku ma!" pinta gadis itu.


Dengan kecepatan yang tinggi mobil itu melaju dengan kencang. Tampak papanya berulang kali melihat kaca spion belakang. Lalu dari depan mobil mereka dihadang dua mobil. Papanya memundurkan mobil lalu memutar kemudi dan mempercepat lajunya. Mobil yang menghadang ikut menaikkan kecepatan mereka.


Gadis itu mulai ketakutan. Ia merasa seperti sedang bermain film aksi. Sayangnya ini terlalu nyata jika dikatakan cuma akting. Dan sebuah peluru melesat memecahkan kaca mobil. Untungnya amunisi tersebut tidak ada yang mengenai mereka. Sepertinya itu hanya gertakan. Papanya banting stir saat melihat ada mobil truk melaju dengan kecepatan tinggi. Tapi telat tabrakan tidak bisa dihindari dan mobil mereka terjatuh dari tebing yang tinggi. Mobil mereka terbalik dan seluruh penumpangnya tewas.


Di tempat lain Te Apoyo membeli pesanan yang diminta oleh gadis itu tanpa mengetahui kalau gadis itu telah menghembuskan napas terakhirnya. Ia hanya tahu kalau usia gadis itu tidak lama lagi. Jadi ia mencoba memberikan kenangan yang baik untuk gadis tersebut.


Sesuai dengan janji yang ditentukan, Te Apoyo pun datang ke taman yang dijanjikan. Namun sampai berjam-jam menunggu gadis tersebut belum juga datang. Buket bunga yang ia beli sudah tidak lagi ia pegang. Melainkan meletakkannya di kursi semen di taman itu. Sambil menunggu si gadis dan menopang dagu.


Akhirnya ia pun menghubungi si gadis setelah sekian lama. Ponselnya berdering namun kemudian mati sebelum ada yang menerima panggilannya. Ponsel itu tertinggal di rumah gadis tersebut. Beberapa orang datang ke rumah itu dan mengangkut barang-barang yang berharga mahal yang ada di rumah itu.

__ADS_1


Pelayan sudah pergi ke kampung halamannya setelah menerima pesangon pemecatannya. Beberapa akun media sosial mengungah foto mobil yang akhirnya berhasil diangkut dari jurang. Yang dimana mobil tersebut adalah mobil si gadis. Polisi memasang garis garis kuning. Lalu membawa jasad si gadis dan kedua orang tuanya, untuk melakukan Otopsi.


Ke esokan harinya sudah banyak orang yang membagikan status tentang kecelakaan yang dialami keluarga si gadis. Hingga akhirnya berita tersebut tersebar ke akun media sosial teman-teman gadis itu. Polisi tidak mengetahui kalau telah terjadi penembakan sebab kaca mobil sudah pecah semua.


Te Apoyo yang menunggu sampai jam 23:00 akhirnya sadar kenapa gadis itu tidak datang. Gadis itu sudah tiada sebelum jam perjanjian ketemuan tiba.


Di sekolah tepatnya di dalam kelas Te Apoyo dan Te Espere, banyak orang yang ikut berduka cita meski wali kelasnya belum memberikan kabar berita duka secara formal. Sehingga saat wali kelas menyampaikan berita tersebut, mereka yang sudah lebih dahulu tahu, tidak terkejut lagi. Tetapi masih ada sebagian yang baru mengetahui setelah wali kelas memberi keterangan.


Te Apoyo dan Te Espere yang melihat sosok mahluk yang membawa sabit berada di balik punggung gadis itu tidak merasa terkejut. Sebab mereka mengetahui kalau usia gadis itu tidak lama lagi. Te Espere pun mengerti kenapa Te Apoyo menyetujui permintaan gadis itu untuk jadi kekasihnya. Walau ia sempat kesal melihat tingkah gadis itu yang ia rasa sudah berlebihan saat bersama Te Apoyo.


Setelah gadis itu meninggal, Alicia datang mengucapkan ucapan bela sungkawa pada Te Apoyo. Dan mengucapkan kata penghiburan, seperti yang dilakukan murid sekelas Te Apoyo pada saudara laki-laki Te Espere tersebut. Meski sebenarnya mereka melihat kalau Te Apoyo tidak terlalu butuh dihibur. Sebab Te Apoyo tidak berpura-pura sedih sekali. Meski ia merasa turut berduka juga. Karena biar bagaimanapun gadis itu adalah teman sekelasnya.


"Apa aku boleh tahu? Kenapa kalian bisa berpacaran?" tanya Alicia kemudian.


Te Apoyo tidak menjawab, dan Alicia tidak memaksa. Lalu setelah menghabiskan makanannya ia pun pergi. Setelah Alicia pergi Klara pun muncul kembali ke hadapan Te Apoyo.


"Aku pikir kamu sudah menghilang," ujar Te Apoyo.


Klara tidak menyahut ucapan Te Apoyo.


"Berpacaranlah denganku," katanya kemudian.


Te Apoyo tidak menjawab dan memilih meninggalkan tempat itu. Klara melesat dengan cepat ke hadapan Te Apoyo.


"Aku bilang, ayo kita berpacaran!" ujarnya sedikit menekan suaranya dan terkesan memaksa dari pada mengajak untuk menjalin hubungan.

__ADS_1


"Kalau aku tidak mau, kamu mau berbuat apa?" tanya Te Apoyo.


Bersambung...


__ADS_2