Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Rencana Gagal


__ADS_3

Di sudut sekolah dua anak gadis berseragam dengan bahan yang sama dengan Ray berbisik-bisik. Lalu salah satu dipukul hingga terluka.


"Aduh, sakit tahu!"


"Oh maaf, terlalu keras ya?"


Yang memukul gadis itu adalah putri kepala sekolah. Lalu ia mengambil rambut panjang anak perempuan itu. Kemudian mengaturnya menutupi bekas luka gadis itu.


"Nah, sempurna," ucapnya dengan senyum mengembang.


Lalu ia mengingatkan peran mereka masing-masing yang berkumpul di tempat tersebut.


"Ayo kita mulai." ujar salah satu dari mereka dengan membuat aba-aba.


Mereka bersembunyi dan menunggu aba-aba dari temannya. Dua orang melihat dari lantai dua dan dua orang menunggu di tangga. Lalu dua orang di lantai satu. Semuanya dengan tujuan yang sama.


Ray melewati jalan yang sering ia lewati jika ingin pergi ke atap gedung. Dua orang yang berada di lantai ke dua memberi tahu kalau Ray sudah datang. Dua orang yang berada di bawah tangga menuju lantai kedua berpura-pura tidak menyadari Ray lewat, dengan melihat-lihat ponsel mereka.


Ray dengan santai melangkahi anak tangga dan saat ia tiba di anak tangga terakhir tiba-tiba ada dua anak perempuan menabraknya. Satu terjatuh dan berteriak dengan keras.


"Akkhhh!"


"Hey, kamu tidak apa-apa?" tanya seorang murid pada temannya yang kesakitan.


"Tolong... tolong...!" teriaknya lagi.


Ray melongo kebingungan. Jelas-jelas gadis itu yang menabraknya, tapi entah kenapa seolah ia yang disudutkan. Dua anak perempuan dari atas dan dua orang dari bawah datang.


"Hah.. ya ampun berdarah!" teriak mereka sambil merekam Ray dan anak yang terluka tersebut.


"Hey kau, apa yang kau lakukan padanya? Apa kau mendorongnya?"


"Oh ya ampun, ternyata benar yang dikatakan orang-orang," ujar yang lain sambil menatap Ray dengan gemetaran.


"Apa?" kata yang lain.


"Dia, di.. dia itu akkk aku takut...!" kata yang ditanya bertingkah seperti anak tiri yang dianiaya.


Ray masih diam. Orang-orang berdatangan menyaksikan keributan tersebut lalu berbisik-bisik.


"Ayo lapor pada guru, siapa pelakunya," kata yang baru datang dan melihat seorang anak perempuan memegangi jidatnya yang berdarah.


"Iya ayo lapor ke polisi sekalian. Ada pembunuh di sekolah kita." ujar yang lain menyahut.

__ADS_1


Mereka merasa berani bersuara karena saat ini jumlah mereka banyak dan tidak takut pada Ray. Dan sepertinya yang lain jadi ikut berani. Sebab mereka juga berharap Ray diusir dari sekolah tersebut.


"Siapa yang akan kalian laporkan ke polisi?" sebuah suara memecah keramaian.


Mereka menoleh ke arah suara. Dan melihat seorang anak perempuan berjalan membagi dua kerumunan. Lalu berdiri tepat di samping Ray. Sambil melipat tangan di atas perutnya.


"Tentu saja orang yang ada di sampingmu itu!" teriak orang ramai.


"Kalian yakin?"


"Ya tentu saja, hari ini dia melukai teman kita. Mungkin besok dia menculik salah satu dari kita lalu membagi menjadi beberapa bagian!" umpat yang lain dengan nada marah.


Anak perempuan itu mengeluarkan ponselnya lalu memutar rekaman beberapa anak perempuan yang sepakat untuk memfitnah Ray. Semua melongo. Anak perempuan itu mendekati yang dianggap sebagai korban.


"Wow lukanya pas sekali dengan yang ada di rekamanku. Apa aku sebarkan ke akun sosial mediaku ya. Kalau putri kepala sekolah memukul murit perempuan di belakang gedung sekolah." ancamnya.


Semua yang ada di situ terdiam. Putri kepala sekolah menaiki tangga dan berusaha merebut ponsel tersebut.


"Jangan coba-coba, jika aku gugup video ini bisa terkirim tanpa sengaja."


"Malika apa-apaan kau, dasar anak aneh!"


"Hey ada apa ini ramai-ramai?" tanya seorang guru yang lewat.


Putri kepala sekolah melotot padanya. Malika bersikap santai. Putri kepala sekolah menyerah.


"Tidak apa-apa bu guru." ujarnya kemudian dan menoleh ke arah guru tersebut sambil tersenyum.


"Ayo semuanya bubar," ujarnya pada yang lain.


Yang lain bubar dengan perasaan kecewa. Kini tinggal Ray dan Malika serta putri kepala sekolah dan komplotannya.


"Awas kau Malika, kau akan menyesal sudah membela pembunuh!" ujarnya sambil menatap Ray dengan sinis.


Lalu ia dan komplotannya pergi dari situ ke ruang kesehatan. Untuk mengobati lukanya.


"Ah sial sekali hari ini. Rencana berantakan. Anak aneh itu ikut campur segala. Maunya dia apa sih!" ujar putri kepala sekolah di ruang kesehatan.


"Gawat nih, bagaimana kalau Ray balas dendam," ujar yang terluka gemetaran.


"Iya, kita tadi sudah menyudutkannya di depan yang lain."


"Aduh, nanti malam aku tidur sendirian lagi. Rumahku sepi. Bagaimana ini?" ujar yang lain hampir menangis.

__ADS_1


Putri kepala sekolah jadi ikut cemas akan ke amanannya. Rasa was-was merasukinya dan ia gemetaran membayangkan jika tubuhnya terbagi-bagi. Seketika ia jadi pucat lalu minta ijin untuk pulang lebih awal. Dan tindakannya di ikuti oleh yang lainnya.


"Untuk sementara, kita jangan masuk sekolah dulu. Dan hari ini kita pulang lebih cepat. Agar si pembunuh itu tidak bisa membuntuti kita. Dengan begitu dia tidak akan tau alamat kita." saran putri kepala sekolah pada rekan-rekannya. Dan mereka setuju.


"Terima kasih," ujar Ray pada gadis yang menolongnya tadi saat gadis itu menuruni tangga.


"Tidak perlu berterima kasih." jawabnya singkat.


"Kenapa kamu menolongku?"


"Aku tidak menolongmu,"


"Lalu?"


"Aku hanya tidak suka melihat kebohongan." katanya sambil terus menjauh.


Ray mendekatinya gadis itu berhenti.


"Ada apa lagi?" tanya gadis itu.


Ray menghentikan langkahnya. Ia bingung harus bilang apa tapi ia merasa ini pertama kalinya ada orang lain di sekolah ini yang memperlakukannya berbeda.


"Malika," panggil anak laki-laki yang tidak jauh dari mereka.


Ray dan Malika pun menoleh pada anak laki-laki tersebut.


"Tomi? Dari mana saja kamu?" tanya Malika lalu mendekati yang dipanggil Tomi.


Malika mengapit tangan Tomi, dan menariknya menjauh dari tempat itu. Dan Tomi melirik Ray sekilas.


"Malika? Tomi?" batin Ray seolah-olah mengingat-ingat kenangan lamanya.


Sementara Tomi yang melihat Ray menjadi ingat akan masa kecilnya di sebuah Taman Kanak-Kanak.


Saat itu ia ketahuan sebagai anak pungut dari kedua orang tuanya. Dari percakapan para orang tua yang suka bergosip saat menjemput putra mereka. Dan hal itu membuat teman-temannya yang kesal padanya mengusilinya.


"Jadi mamamu sebenarnya sudah membuangmu ya ke tong sampah!" ujar anak-anak nakal padanya.


Lalu mereka menarik Tomi ke arah tong sampah lalu menuangkan isi tong sampah ke atas kepala Tomi. Mereka pun menertawainya. Tomi kesal lalu mendorong ke tua dari anak nakal tersebut. Mereka jadi makin kesal. Kemudian mereka menarik Tomi ke kamar mandi dan menceburkan kepalanya ke bak mandi.


"Lepaskan!" teriak Tomi.


Karena takut teriakan Tomi terdengar oleh guru. Mereka menekan kepalanya lebih lama ke dalam bak mandi. Tomi kesulitan bernapas dan tenaganya tidak sanggup melawan dua orang yang memegangi tangannya dan dua orang yang menekan kepalanya ke dalam air.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2