Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Permen Coklat


__ADS_3

"Sekarang bagaimana? Kita tidak ada bukti, bagaimana cara kita melaporkanya ke pihak berwajib?" tanya Malika.


"Aku bisa membuka riwayat penelusuran. Datanya akan tetap ada, dan lagi aku juga sudah membuat salinan. Dan menyimpannya di tempat khusus," ujar Tomi.


"Tidak perlu cemas, kata-kata orang itu tidak usah dipikirkan," ujar Tomi saat memandang Te Espere yang tampak resah.


"Aku tidak memikirkan kata-kata itu, tapi yang aku pikirkan sekarang adalah, bagaimana caranya agar ia meninggal dengan tenang. Tanpa rasa benci, sebab kutukan yang aku terima berasal dari rasa benci," ujar Te Espere.


"Dulu Cresentia sangat marah saat Te Apoyo dan aku menggunakan kemampuan kami untuk membalas kejahatan kepala polisi. Karena secara tidak langsung kami telah berbuat jahat. Saatnya kini aku ingin menggunakan kemampuan ini dengan benar. Yaitu dengan memberikan ketenangan pada tiap roh yang akan meninggalkan raganya," lanjut Te Espere.


"Agar dendamnya terhapuskan dan siapa tahu kutukan ini pun bisa segera berakhir. Oleh karena itu aku akan mengorbankan diriku sendiri," ujar Te Espere.


Malika dan Tomi tersentak oleh ucapan Te Espere. Yang berniat melakukan pengorbanan.


"Apa hanya dengan cara itu?" tanya Malika.


Yang mengira kalau Te Espere akan membiarkan mahasiswa itu membunuhnya begitu saja.


"Setiap kemampuan pasti memiliki tujuannya masing-masing. Dan aku yakin kalau itu semua untuk tujuan yang baik bukan untuk tujuan yang jahat," kata Te Espere.


"Bantu aku, untuk mengubah nasipnya, agar ia meninggal dengan tenang. Dengan mengabulkan keinginan terakhirnya," ucap Te Espere.


"Keinginan terakhirnya adalah kematianmu. Dia ingin kamu meninggal di tangannya, apa kamu tahu artinya? Apa kamu akan muncul dihadapannya begitu saja, dan menyerahkan diri. Lalu mati konyol?" tanya Tomi dengan sedikit emosi.


"Tidak, bukan begitu maksudku, tapi aku ingin kita membuatnya berubah pikiran. Kita akan membantunya mendapatkan keadilan agar arwahnya bisa pergi dengan tenang. Dan nasibnya bisa berubah," ujar Te Epere yang kebingungan mengungkapkan pikirannya.


"Memangnya kita bisa mengubah nasib seseorang?" tanya Malika.


"Takdir tidak bisa, tapi nasib pasti bisa," jawab Te Espere.

__ADS_1


"Ok, apa rencanamu sekarang, aku tidak punya ide untuk mengetahui cara mengubah nasibnya selain memanggil polisi," ujar Tomi.


Malika pun mengangguk.


"Bukankah akun kedua tersebut, menunjukkan sifat aslinya yang sebenarnya," ujar Te Espere.


Tomi berpikir sejenak, lalu mengabil riwayat penelusuran. Dari situ ia masih bisa melihat data akun tersebut. Te Espere dan Malika melihat kembali pada layar tersebut.


"Kalian lihat? Ia adalah pria yang kesepian. Perhatian kecil sangat berarti baginya. Terbukti dari caranya memperlakukan benda tersebut. Dikirim ke akunnya dan diatur agar hanya ia yang bisa melihatnya. Apa kalian tidak berpikir kalau ia menyukai orang yang memberikannya? Jika kita bisa menemukan orang yang memberikan benda itu, maka kita bisa mengubah pemikiran mahasiswa tersebut," kata Te Espere.


Malika dan Tomi kini mengangguk. Sepertinya mereka mulai mengerti arah pikiran Te Espere. Mereka pun memperhatikan dengan lebih teliti setiap postingan yang ada. Lalu Tomi mencari akun-akun yang terhubung dengan akun mahasiswa tersebut.


Tidak banyak akun yang terhubung dengan akun tersebut, hanya ada beberapa. Tomi melacak seluruh akun tersebut. Betapa terkejutnya ia bahwa akun-akun tersebut menuliskan status yang sama.


*Jika aku sampai tahu siapa kamu, aku akan pastikan kalau kamu akan menyesali tindakanmu hari ini!


"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Malika.


"Hanya ada satu cara, mengambil alih akunnya dengan paksa dan memfitnahnya sebagai hacke**r. Dan meminta pihak aplikasi mengembalikan data yang terhapus dengan membatalkan aktifitas yang baru," ujar Tomi.


"Kalau begitu cepat lakukan!" ujar Malika.


"Tidak semudah itu, aku harus membuktikan kalau aku pemilik aslinya. Syaratnya aku harus menggunakan perangkat yang sering digunakan mahasiswa itu. Jika tidak, maka akulah yang jadi 'hacker' dan upaya mengembalikan data yang dihapus akan gagal," ujar Tomi seraya mengutak-atik laptopnya.


Ia mengubah lokasi perangkatnya dengan mode penyamaran. Menyesuaikan dengan lokasi perangkat yang biasa digunakan oleh mahasiswa itu. Proses pengembalian data yang dihapus pun berhasil kembali.


Secepatnya Tomi memindahkan semua data kepenyimpanannya sebelum pemilik akun sadar. Beberapa menit kemudian akun itu ditutup oleh pihak aplikasi. Karena ada tindakan yang mencurigakan. Dan sebagai sanksinya akun ditutup selama tiga hari.


Tapi Tomi tersenyum karena ia sempat menduplikat data yang ada di akun tersebut. Pemilik akun asli sangat kesal. Karena akun-akunnya telah dibobol. Kini ia mencoba melakukan serangan balik. Tapi gagal. Ia hanya menemukan 'virus' saat mencoba mencari perangkat yang sudah mencuri datanya.

__ADS_1


"Dasar! Siapa dia sebenarnya? Dan mau apa dia? Apa dia mau mengancamku dengan data-data tersebut. Lalu meminta uang tebusan?" pikir mahasiswa tersebut.


Karena kesal ia pun membanting benda-benda yang ada di mejanya. Sebuah benda bergemerincing saat jatuh ke lantai. Gelang kecil yang memiliki krincingan tergeletak di lantai. Lalu seperti merasa bersalah ia memungut gelang kecil itu.


"Alicia, maafkan aku. Aku tidak seharusnya melampiaskan kekesalanku padamu," ujarnya.


Lalu ia memandangi benda tersebut. Benda yang diberikan oleh teman masa kecilnya. Mereka dulunya sangat akrab dan sering bermain bersama. Di sebuah panti asuhan.


Gelang itu adalah milik Alicia, jumlahnya ada 7. Saat Alicia kecil diadopsi oleh orang tuanya, satu gelangnya ia berikan pada mahasiswa itu. Sebagai kenang-kenangan, agar mereka tidak lupa satu dengan yang lain.


Alicia masih sering berkunjung ke panti tempatnya dulu dibesarkan, sebelum orang tua angkatnya membawanya pindah ke negara lain. Dan sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu.


Ditambah lagi orang tua Alicia sempat mengalami kebangkrutan karena kena tipu. Sehingga keuangan mereka merosot dengan drastis. Membuat Alicia paham kalau ia tidak akan pernah bertemu dengan teman kecilnya itu lagi.


Di waktu yang sama di negara yang berbeda, Alicia kecil sudah tumbuh besar. Bukan hanya bertambah tinggi, tapi juga bertambah lebar. Sedang membuka kotak kecil tempat ia menyimpan gelang-gelang masa kecilnya.


Jumlahlah tinggal 6 dan meski sudah tidak utuh, karena beberapa krincingnya hilang, benda itu tetap disimpan. Ia sangat ingat saat masih kecil, ia memilik seorang teman laki-laki di panti asuhan. Mereka membeli permen coklat berhadiah di hari ulang tahunnya.


"Kata orang, hari kelahiran adalah hari keberuntungan. Jadi hari ini aku ingin mencoba keberuntunganku. Siapa tahu aku bisa mendapatkan bungkus gelang krincing itu hari ini," ujar Alicia penuh semangat.


Tapi ternyata bungkus permen coklat yang ia beli kosong. Kebetulan bungkus permen milik anak laki-laki itu berhasil mendapatkan hadiah sebungkus gelang. Dan karena ia laki-laki maka hadiahnya ia berikan pada Alicia.


Alicia sangat senang menerimanya, karena ia sudah lama menginginkannya. Dan sudah banyak menghabiskan uang koinnya, setiap hari hanya untuk mendapatkan hadiah tersebut. Siapa sangka ia mendapatkan gelang itu di hari ulang tahunnya, saat membeli permen coklat bersama temannya.


"Selamat ulang tahun Alicia, kalau aku sudah besar nanti, aku akan belikan kamu gelang yang paling bagus di dunia ini!" ujar anak laki-laki tersebut penuh semangat.


"Esok adalah hari ulang tahunmu," ujar Alicia pada gelang tersebut, sambil membayangkan wajah teman kecilnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2