
Beberapa hari kemudian beredar kabar aneh di sekolah. Banyak yang mengatakan kalau Te Apoyo berpacaran dengan seorang nenek. Ada yang bilang mereka sudah menikah.
"Ya ampun, dia memang jelek, tapi apa dia takut tidak menikah sampai harus menikahi nenek-nenek?"
"Aduh seleranya aneh ya,"
"Mungkin dia hanya kasihan pada nenek itu."
"Atau jangan-jangan nenek tersebut dijadikan tumbal pesugihan. Buktinya nenek tersebut meninggal di rumahnya."
Beberapa pernyataan saling dukung dan saling bertentangan beredar di kalangan murid perempuan. Dan murid laki-laki hanya menertawakan ocehan mereka yang tidak ada habisnya. Tapi jika Te Apoyo muncul maka mereka akan berhenti bergosip.
Hingga suatu hari seorang murid perempuan bertemu dengannya di saat jam istirahat. Ia mencoba menyapanya dengan ramah. Tapi Te Apoyo cuek saja.
"Hah, apa jangan-jangan yang dikatakan orang lain itu benar, kalau dia suka nenek-nenek." gumam anak tersebut.
"Apa aku bilang? Terbuktikan, ia tidak tertarik gadis muda," ujar sahabatnya.Te Apoyo yang mendengar ucapan mereka diam saja dan berlalu.
Kemudian sekolah mengadakan pentas seni drama. Semua murid diminta untuk berpartisipasi. Te Apoyo kebagian seksi peralatan. Ia harus membawa barang-barang yang dibutuhkan untuk bermain drama nanti. Tugasnya tidak terlalu berat saat latihan. Ia justru lebih banyak duduk.
Tapi ia harus memegang naskahnya agar tahu peralatan apa yang harus digunakan di saat adegan tertentu. Guru memberikan aba-aba pada mereka akan hal apa yang harus dikerjakan.
Ia sekelompok dengan teman sebangkunya. Biasanya mereka tidak pernah berbicara di dalam kelas. Karena teman sebangkunya lebih suka berpindah tempat duduk. Tapi di acara ini mereka harus bekerja sama. Untuk menghapal dialog para pemain. Jika pemain lupa maka tugas mereka mengangkat kertas karton yang berisi tulisan. Agar pemain bisa membacanya dari panggung.
__ADS_1
Teman sebangku Te Apoyo mencoba mendekatkan diri pada Te Apoyo. Tapi Te Apoyo tampaknya malah menjaga jarak padanya. Hingga suatu hari ia melihat mahluk tengkorak berjubah di balik punggung anak tersebut.
Karena selalu dicuekin oleh Te Apoyo, ia pun mulai berhenti mengajak Te Apoyo berbicara. Tapi ia terkejut saat Te Apoyo justru lebih dulu menyapanya begitu sampai di kursinya. Karena Te Apoyo yang mengajaknya berbicara duluan maka ia pun mulai mengajak Te Apoyo bergabung dengan teman-temannya. Tapi Te Apoyo justru lebih banyak diam saat berada dia antara yang lain.
Jika teman sebangkunya tidak ada, maka ia akan memilih menjauh. Meski teman sekelasnya yang lain mengajaknya bergabung. Dan hari ini teman sebangkunya mengajaknya ke rumahnya. Rumahnya kecil dan ternyata ia punya saudara laki-laki yang sedang sakit.
Besok adalah hari pertunjukan dan mereka harus mempersiapkan banyak hal. Dan karena teman sebangkunya harus menjaga kakak laki-lakinya yang sedang sakit. Maka pekerjaan mereka dikerjakan di rumahnya.
"Kamu tidak keberatankan?" tanyanya pada Te Apoyo dan dijawab dengan anggukan.
Malam itu Te Apoyo terus saja kepikiran tentang teman sebangkunya. Hal apa yang akan terjadi pada temannya. Sambil memikirkan cara untuk menyelamatkannya. Sehingga ke esokan harinya ia datang lebih cepat ke rumah temannya tersebut. Dan di sepanjang jalan ia melihat kiri dan kanan.
Ia kuatir kalau ada kendaraan yang akan menabrak temannya. Dan saat melewati pepohonan, ia akan melihat cabang-cabang pohon tersebut. Untuk memastikan kalau temannya tidak akan tertimpa cabang pohon selama di perjalanan.
Temannya tertawa melihat tingkah Te Apoyo. Ia mengira kalau Te Apoyo takut terkena tabrak oleh kendaraan dan takut tertimpa ranting pohon. Akhirnya Te Apoyo berhenti melakukannya secara terang-terangan. Ia melakukannya dengan lebih tenang.
Saat tiba di kelas suasana terlihat kacau. Sebab pemeran utamanya tidak bisa datang. Ia terjatuh ketika berkendara dan kakinya terkilir. Mereka kebingungan mencari pengganti. Hanya ada dua orang yang tau dialog pemeran utama tersebut. Yaitu Te Apoyo dan teman sebangkunya. Tapi karena teman sebangkunya pendek. Mau tidak mau mereka memilih Te Apoyo.
"Itu tidak bisa, drama kita akan hancur. Masa pemeran utamanya cupu."
"Tapi kalau pendek juga aneh, atau kau saja yang jadi peran utamanya."
"Tidak bisa, aku hanya hapal dialogku sebagai sahabat peran utama."
__ADS_1
Perdebatan mereka berakhir dengan Te Apoyo yang jadi peran utama. Sebab pakaiannya cocok dengan ukuran tubuh Te Apoyo. Te Apoyo berganti pakaian dan saat akan di rias ia harus melepas kaca matanya.
"Wow!" ujar penata riasnya singkat.
Waktu sudah dekat dan secepatnya Te Apoyo tampil. Dengan gugup ia berjalan ke atas panggung. Teman sebangkunya memberinya semangat. Dan mengacungkan dua jempol padanya. Te Apoyo pun melakukan bagiannya. Mulanya ia bingung harus berbuat apa, tapi ia tiba-tiba teringat perkataan temannya.
"Seharusnya bagian ini peran pria seperti ini,"
"Bagian ini alangkah baiknya begitu,"
Ujar temannya saat mengomentari peran teman-temannya, saat latihan di atas panggung. Dan tentu saja hanya Te Apoyo yang mendengarnya. Sebab teman sebangkunya lebih mirip berbisik saat berbicara agar tidak di dengar orang lain. Dan Te Apoyo yang mendengarnya hanya tersenyum saja.
Peran wanita sempat bingung, antara terpesona pada tampang Te Apoyo dan ia lupa dialognya. Berkali-kali ia melihat kertas karton yang diangkat tinggi-tinggi oleh teman sebangku Te Apoyo. Babak pertama berjalan dengan lancar.
Orang-orang bertepuk tangan, meski akting Te Apoyo pas-pasan, wajahnya membuat pertunjukan jadi sempurna. Guru pembimbingnya juga senang melihat reaksi penonton. Drama yang harusnya romantis jadi komedi karena akting Te Apoyo yang diluar dugaan mereka. Terlihat canggung tapi terasa lucu.
Babak kedua di mulai. Pemeran drama satu persatu naik kembali ke atas panggung. Kali ini di bagian akhir, akan ada taburan bintang saat peran utama pria menyatakan cinta pada peran utama wanita. Saat Te Apoyo menoleh ke temannya ia terkejut sebab mata makluk berjubah itu terlihat berwarna merah. Sehingga ia tidak menyadari kalau tiang panggung rubuh.
Temannya berlari kearahnya dan melindunginya. Dan akibatnya tiang besi yang menopang seorang murid di atas mengenai tengkorak kepalanya. Dan ia tertimpa tubuh murid yang jatuh dari atas. Murid yang berada di atas bertugas untuk menaburkan manik-manik di adegan akhir. Teman sebangku Te Apoyo pun tewas dalam hitungan detik. Suasana berubah suram. Mobil ambulan pun segera datang. Tapi pertolongan tidak bisa menyelamatkan sahabatnya.
Suasana duka menyelimuti keluarganya. Pemakaman dilakukan ke esokan harinya. Teman sekelas Te Apoyo tidak mengikuti mata pelajaran di hari pemakaman.
Ke esokan harinya setelah pemakaman, Te Apoyo kembali seperti semula. Ia tidak mau diajak berbicara oleh siapapun. Padahal banyak murid wanita menyukainya setelah mereka melihatnya di atas panggung. Meski ia masih memakai kata matanya dan menata rambutnya seperti anak culun.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Apa aku harus mati besok baru kamu mau berbicara padaku?" tanya seorang gadis yang tertarik padanya.
Bersambung...