Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Melarikan Diri


__ADS_3

Saat sedang pusing memikirkan lehernya yang terasa perih, panas dan gatal, ia melihat bayangan tangan menyentuh lehernya di cermin. Ia terkejut dan berdiri dari kursinya dan berpaling. Tapi tidak ada siapa pun di situ. Dan saat berpaling ke cermin dengan perlahan-lahan, ia pun melihat sesosok bayangan dengan penuh bekas luka jahitan di seluruh tubuhnya.


Dan dari luka itu tampak belatung-belatung menempel di sana. Mama Maya ketakutan dan akhirnya berlari keluar kamarnya. Dan ia menutup kamar tersebut. Setelah tiba di luar ia berteriak memanggil para pelayannya. Para pelayan datang, dan dengan wajah cemas menatap majikannya.


"Ada apa nyonya?"


"A.. ada ada setan di kamarku." teriaknya tergagap. Para pelayan saling pandang, tidak seorang pun yang berani membuktikan ucapan sang majikan.


"Cepat usir dia...!" teriak mama Maya.


Maya mendengar teriakan mamanya, dan dengan segera memakai pakaian yang bisa digunakan untuk menutupi kulitnya. Saat keluar dari kamarnya, mamanya sudah berada di ruang tamu. Maya pun menuruni tangga. Saat melihat Maya, mamanya langsung berlari ke arah Maya


"May... tolongin mama... di di kamar.. mmmama ada sssetannn." ujar mama Maya. Mama Maya terus menggaruk lehernya yang semakin gatal. Tanpa ia sadari ia sudah mengaruk dagingnya yang membusuk. Maya yang melihat hal itu ketakutan dan mencoba menghentikan tangan mamanya.


Maya memegangi tangan mamanya. Dan saat itu ia pun merasakan hal yang sama. Mau tidak mau ia pun melepaskan pegangannya. Dan menggosok lehernya yang gatal dengan sapu tangan. Para pelayan kebingungan melihat Maya dan mamanya. Maya akhirnya menyuruh para pelayan untuk menelepon papanya.


Namun papanya tidak menerima panggilan tersebut. Maya lalu meminta supir mengantarkannya dan mamanya ke rumah sakit milik papanya. Di tengah perjalanan, mama Maya terus berteriak kesakitan. Dan Maya sesekali menahan tangan mamanya agar tidak terus menggaruk lehernya.

__ADS_1


Daging busuk dari leher mamanya semakin dalam. Dan mamanya semakin tidak terkendali. Maya tidak mampu menahan kedua tangan mamanya disaat ia juga merasakan gatal yang luar biasa di lehernya. Semakin digaruk lehernya semakin gatal dan akhirnya mama Maya merobek nadinya sendiri dengan kukunya. Darah mengalir dari lukanya. Maya semakin ketakutan.


Sambil menahan rasa gatal di lehernya dia juga harus menahan darah yang keluar dari nadi mamanya. Mamanya mengalami kejang-kejang dan sebelum tiba di rumah sakit milik papa Maya, mamanya sudah kehabisan darah.


Maya berhasil sampai di rumah sakit. Supirnya berteriak minta pertolongan untuk majikannya. Mulanya petugas yang berjaga tidak memperhatikan hal tersebut. Karena melihat Maya yang masih bisa berjalan keluar dari mobil.


Maya yang kesal mendatangi mereka dan berteriak dengan kencang. Mengatakan kalau ada mamanya yang terluka di dalam mobil barulah mereka bertindak. Salah satu dari mereka memberi tau kalau mama Maya sekarat papa Maya yang masih bermain dengan tubuh-tubuh yang ada di ruang operasi tempat tubuh Dion terbaring.


Saat hendak membedah tubuh pasien yang pingsan akibat kecelakaan, seseorang datang dan mengabarkan tentang istrinya. Iya beserta dokter-dokter lain yang hendak melakukan mall praktek mau tidak mau meninggalkan calon korban berikutnya.


Saat mendengar ada seseorang yang datang ia berpura-pura tidur. Dari langkah kaki ia menghitung kalau hanya ada satu orang yang masuk. Ia mencoba menerka-nerka apa yang akan orang itu lakukan. Dan ia mendengar suara langkah kaki yang menuju tempat tidurnya.


Saat tangan orang tersebut menyentuhnya dengan cepat ia membuka matanya. Dan kemudian menangkap tangan orang tersebut. Lalu dengan cepat mengambil alih jarum yang ada di tangan orang itu. Lalu menyuntikkan isinya pada leher orang tersebut.


Seketika orang itu rubuh. Ia pun tidak ingin membuang waktu dan segera mengganti pakaiannya dengan pakai orang yang hendak menyuntiknya. Ia ingin segera keluar dari tempat itu kalau saja ia tidak melihat Dion.


Ia adalah teman sekaligus karyawan yang bekerja di perusahaan Dion. Melihat kondisi Dion yang memprihatinkan ia mencoba untuk membawanya pergi dari situ. Ia juga melihat korban lain yang berada di ruangan itu. Tapi sepertinya sudah tidak bernyawa lagi. Bagian tengkorak kepalanya hancur. Wajahnya terlihat memprihatinkan.

__ADS_1


Teman Dion memikirkan cara membawa untuk membawa Dion. Mulanya ia menolong orang tersebut karena kasihan. Tapi setelah memperhatikan dengan seksama, barulah ia menyadari kalau itu adalah Dion. Maka niatnya untuk menolong semakin besar.


Dengan berpura-pura menjadi dokter ia mendorong tempat tidur Dion. Ia yakin jika terus membiarkan Dion berada di situ cepat atau lambat temannya akan tiada. Dia kebingungan dan tidak tau harus membawa Dion kemana. Tapi kemudian ia menyadari kalau ia bisa meminta bantuan yang lain.


Dengan berpura-pura meminta bantuan ia menyuruh seorang perawat yang sedang asik bermain ponsel untuk mengantarkan tubuh Dion ke mobil ambulan. Dan dengan sigap perawat itu mendorong tempat tidur Dion menuju lift. Dan setelah itu mengantarkannya ke tempat mobil ambulan di parkirkan. Supir ambulan yang melihat hal itu dengan cepat membuka pintu belakang. Dion pun segera dipindahkan ke mobil ambulan tersebut.


Teman Dion meminjam ponsel si perawat. Dan perawat itu tanpa banyak tanya menyerahkan ponselnya begitu saja. Teman Dion memanggil nomor tertentu. Sambil memanggil nomor tersebut dia memperhatikan atribut pakaian perawat itu. Tapi perawat itu salah paham. Ia mengira teman Dion menatap dadanya. Jadi ia membelakangi teman Dion.


Setelah selesai melakukan panggilan. Teman Dion menghapus riwayat panggilan dan mengembalikan ponsel tersebut dan berterima kasih. Lalu ia menyuruh si supir untuk mengantarkan mereka ke suatu tempat. Tempat yang diberi taukan oleh seseorang di sebrang panggilan. Supir itu pun segera melaksanakan perintah.


Setelah keluar dari rumah sakit tersebut teman Dion merasa lega. Apa lagi kini mereka tiba di sebuah rumah sakit yang menurutnya bisa ia percaya. Supir tersebut membantunya mengeluarkan Dion dari mobil ambulan. Dan ternyata sudah ada yang menunggu mereka. Setelah itu ia menyuruh si supir pulang sendirian. Tanpa banyak tanya supir itu kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja.


Di rumah sakit yang dirujuk oleh orang yang dihubungi oleh teman Dion, akhirnya Dion mendapatkan perawatan yang seharusnya. Saat Dion sedang mendapatkan perawatan, temannya pergi ke kamar kecil untuk menenangkan diri. Dia mengingat kalau sebelum kecelakaan ia melihat sosok wanita yang tiba-tiba muncul di jalan yang ia lalui.


Untuk menghindari wanita tersebut ia pun akhirya mengalami kecelakaan. Tapi siapa yang tau, kalau ia justru dipertemukan dengan sahabatnya setelah kejadian itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2