Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Bermain Api


__ADS_3

Dan Shasa memilih lari dari kamar tersebut, dan saat ia berhasil keluar ternyata si OB sudah ada di luar kamarnya. Betapa terkejutnya Shasa. Ia heran kenapa OB tersebut bisa masuk ke rumahnya. Meski hatinya bertanya-tanya,tapi ada rasa lega dalam hatinya, karena ia merasa ada orang lain selain dia dan roh halus tersebut.


"Ada apa sayang?" tanya OB.


"I-itu a-a-ada setan!" kata Shasa terbata-bata.


Si OB langsung menuju kamar yang Shasa tunjukkan. Tidak terlihat apa pun di dalam kamar Shasa. Shasa ikut melihat ke dalam ketika si OB tidak kunjung keluar kamarnya setelah beberapa menit.


Ponselnya sudah tidak lagi berdering. Shasa memberanikan diri untuk mengambilnya. Ternyata panggilan itu berasal dari Dion. Shasa tersenyum senang. Gerak-geriknya diperhatikan oleh si OB tanpa ia sadari.


Saat sadar diperhatikan oleh si OB Shasa terkejut. Ternyata ia belum berganti pakaian, ia hanya mengenakan baju mandinya. Dengan cepat ia menyuruh si OB keluar kamarnya. Dan sambil melihat seluruh sudut ruangan Shasa berganti pakaian.


Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Shasa yang ketakutan terkejut dan berteriak. Membuat si OB yang berada di luar kamar menggedor pintunya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Shasa.


Lalu melihat layar ponselnya. Terlihat nama kontaknya bertuliskan 'Sayangku' dan disambung dengan emot hati. Nomor tersebut adalah nomor Dion. Sengaja ia buat seperti itu.


Shasa menerima panggilannya.


"Apa yang sedang kau lakukan sekarang?" tanya Dion di sebrang panggilan.


"Aku? Aku sedang berpakaian." jawab Shasa dengan nada genit.


"Kau ada di mana?" tanya Dion.


"Ah...aku lagi di kamar..." jawab Shasa manja.


"Baguslah, jangan pergi kemana-mana, dan cepat tidur." perintah Dion.


Shasa tersenyum mendengar kata-kata Dion lalu ia memberanikan diri untuk bersikap lebih manja.


"Ia sayang..." kata Shasa.


Dion kebingungan dengan cara Shasa menjawab, tapi kemudian dia menganggap kalau Shasa sedang bercanda.


"Aku berkata serius, malam ini jangan pergi kemana pun, aku tidak mau terjadi hal buruk padamu." kata Dion dengan serius.


"Sebenarnya,"

__ADS_1


"Sebenarnya apa?" tanya Dion.


"Ada yang ingin aku sampaikan."


DEG!


Dion terkejut dengan ucapan Shasa, ia mengira kalau yang dikatakan Shasa adalah hal penting.


"Iya, katakanlah, aku akan mendengarkannya."


"Sebenarnya...aku...sudah lama su-ka," kata Shasa.


"Apa?" tanya Dion yang kurang jelas mendengar kata-kata Shasa yang diucapkan dengan nada manja.


"Aku suka...kamu Dion." kata Shasa.


Dion membelalakkan matanya. Lalu mencubit batang hidungnya.


"Sudah malam, jangan bercanda lagi dan cepat tidur." kata Dion.


"Iya...sayang..." jawab Shasa dibarengi dengan ciuman jarak jauh.


"Sayang..." kata si OB.


Shasa tersentak. Ia baru ingat kalau si OB ada di luar. Shasa ingin menyuruhnya pulang. Namun saat ia membuka pintu, terlihat bayangan yang terpantul di cermin ada di belakan si OB dan tersenyum. Dan seketika Shasa dengan spontan menutup mulutnya.


Kakinya lemas. Dan perlahan ia mundur dan mencari ponselnya yang ada di kasurnya. Secepatnya ia memencet panggilan terakhir. Dan saat panggilan tersambung si OB mengambil ponsel tersebut dari tangannya.


"Beraninya kau selingkuh di depanku." kata si OB.


"Apa maksudmu?"


"Bukankah kau sudah menerima mawar dariku, dan aku sudah bilang kalau aku suka padamu. Dan kita akan menikah." jawab si OB.


"Aku tidak pernah berkata begitu," kata Shasa.


"Apa katamu? Beraninya kau menipuku."


Shasa panik dan roh halus yang ada di situ menyaksikan mereka sambil tersenyum, seperti menyaksikan sebuah drama. Shasa bingung apa yang harus ia lakukan. Tapi kemudian ia mencoba untuk merebut kembali ponselnya yang sedang memanggil. Tidak lama panggilannya di terima oleh Dion.

__ADS_1


"Halo," ucap Dion. Shasa hendak menjawabnya namun mulutnya ditutup oleh si OB.


Kemudian panggilan diakhiri. Dion bingung dengan panggilan tersebut lalu balik menghubungi Shasa. Namun panggilannya tidak diterima.


Karena susah terlalu terbakar api cemburu, si OB bertanya pada Shasa. "Apa kau mencintaiku?"


Shasa menggeleng dengan wajah penuh kemarahan. Ia berusaha melepaskan tangan OB yang menekan kepalanya ke lantai saat menutup mulutnya.


"Dasar penghianat."


Si OB melepaskan mulut Shasa dan tangannya merayap ke leher Shasa dan mencekiknya ssbelum Shasa sempat berteriak. Setelah Shasa pingsan ia pun membuka pakaian Shasa lalu mengeluarkan sebilah senjata tajam. Lalu mengeluarkan isi tubuh Shasa. Bagian yang selalu di ucapakan sebagai lambang cinta. Lalu tubuh Shasa mengejang karena kekurangan darah. Dan si OB menikmati isi tubuh Shasa tersebut.


"Dengan begini, hatimu hanya jadi milikku seorang," katanya. Saat si OB menghabiskan bagian yang ia keluarkan dari tubuh Shasa, tiba-tiba ia tersadar. Jampi-jampi pemikat yang menguasainya hilang.


Betapa terkejutnya saat melihat sesuatu yang ada di tangannya. Seketika perutnya terasa mual. Ia membuang bagian yang belum habis ia santap. Dan memuntahkan bagian yang sudah ia kunyah dan telan.


Ia ketakutan dan bingung, tanpa mengingat apa yang baru saja ia lalukan. Dan saat itu ponsel Shasa kembali berdering. Dia terkejut dan melihat ke arah ponsel tersebut. Tampaklah olehnya roh halus yang menyaksikan aksi mereka berdua tersenyum.


Ssseee-seeesss Setan...!


Tergagap si OB mundur kebelakang lalu ia berbalik dan melarikan diri. Sementara roh halus tersebut tertawa akan kelakuan dua insan yang ada di hadapannya.


Tidak perduli apa yang terjadi si OB mencari jalan keluar. Ia lupa kalau ia masuk melalui jendela. Dan sekarang ia harus keluar dari pintu yang terkunci. Melihat sosok menyeramkan yang terus cekikan mendekat membuatnya makin panil. Tanpa berpikir untuk mencari kunci ia pun mencoba merusak pintu agar bisa keluar.


Suara bising yang ia buat membuat beberapa tetangga Shasa terbangun. Mereka akhirnya penasaran dari mana suara itu berasal. Dan saat si OB berhasil keluar, para warga telah berkumpul di luar rumah Shasa.


Tampak oleh mereka si OB berlumuran darah. Para warga keheranan. Mereka bingung seperti terhipnotis. Dan kesempatan itu digunakan untuk kabur oleh si OB.


Tapi warga yang sudah ramai itu berhasil menangkapnya. Sebagian memeriksa ke rumah Shasa dan mendapati jasad Shasa yang berlumuran darah dan tewas mengenaskan.


Para warga melaporkan kasus tersebut pada pihak berwajib. Si OB yang tadi kabur dari penjara, kini kembali lagi ke sel tahanan.


Ke esokan harinya Dion di hubungi oleh pihak berwajib. Dion yang tidak tau kalau Shasa sudah tiada mengira kalau panggilan tersebut berkaitan dengan istrinya. Ia pikir kalau keberadaan istrinya telah diketahui.


Tapi saat tiba di kantor polisi ia sangat terkejut. Ternyata Shasa meninggal dengan cara yang tragis. Dan fakta lain tentang Shasa pun terkuak. Hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya.


Saat melihat isi galeri foto di ponsel Shasa, Dion terkejut karena...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2