
Siangnya ia malah dipaksa ikut untuk membeli perlengkapan sekolah. Dalam keadaan setengah mengantuk ia masuk ke dalam mobil dan tidak sadar duduk di sebelah Esperanza. Ia bahkan tertidur selama di perjalanan.
"Tukang tidur, kita sudah sampai!" teriak Brillo di telinganya barulah ia bangun.
Lalu dengan keadaan masih mengantuk ia masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Para wanita memilih keperluan mereka bersama, begitu juga dengan para pria.
Gina dengan penuh semangat membelikan keperluan untuk Esperanza. Ketika melihat Nicorazón sedang sendirian Gina menarik Esperanza mendekat.
"Nicorazón, nenek titip Esperanza ya. Nenek mau ke toilet," pinta Gina.
Mendengar nama Esperanza seketika rasa kantuk Nicorazón menghilang. Ia jadi gugup sekaligus senang. Tapi kemudian mengutuk dirinya sekaligus.
"Kenapa dititipkan padaku, pacarnya kan ada?" batin Nicorazòn sungkan.
"Di mana Gris?" tanya Esperanza setelah Gina pergi.
"Tidak tahu," jawab Nicorazón jujur.
Nicorazón melirik sekilas. Kedua tangan Ezperanza sudah penuh. Ia menekuk kakinya lalu duduk di lantai.
"Duduk saja dulu, apa tidak lelah berdiri terus?"
"Tidak," jawab Esperanza singkat.
Nicorazón tidak percaya dan terus menyuruhnya duduk. Esperanza akhirnya duduk di lantai seperti yang ia lakukan. Sesekali mencari-cari keberadaan Gris. Sementara Gris yang melihat situasi itu mengawasi dari jauh.
"Berapa lama kamu mengenal Gris?" tanya Nicorazón penasaran.
"Sejak kecil, mungkin sejak dalam kandungan," jawab Esperanza datar.
"Hah?"
"Mamaku dan mamanya teman baik dan kami tetangga. Rumah kami berhadapan. Dan dari kecil kami selalu dijodohkan," jawab Esperanza selengkap mungkin.
"Maksudmu kalian pacaran karena selalu dijodohkan sejak kecil? Kalau kita dijodohkan sejak kecil, apa kamu juga akan pacaran denganku?" tanya Nicorazón dengan serius.
Esperanza terperanjat lalu menoleh pada Nicorazón yang ternyata sudah sangat dekat padanya.
"Tentu saja tidak, aku dan Gris sejak kecil bersahabat. Dia menyukaiku dan aku menyukainya. Makanya kami berpacaran!" jawab Esperanza ketus.
Esperanza merasa kesal dengan pertanyaan Nicorazón yang terkesan terlalu ikut campur. Tapi entah kenapa, ia merasa sikap Nicorazón berbeda. Seolah-olah dia adalah Nicholas yang sedang melarang Te Espere dekat dengan pria lain.
__ADS_1
"Oh baguslah, kalau begitu," Nicorazón menjauhkan wajahnya dari wajah Esperanza.
Tiba-tiba terdengar pertengkaran dari balik rak tempat Esperanza dan Nicorazón berada. Nicorazón berdiri dari tempat duduknya dan mencoba melihat dari celah-celah. Ternyata seorang pria dan wanita sedang bertengkar.
Esperanza keluar dari balik rak dan melihat si pria mengeluarkan pisau dan membuat sayatan di wajah si wanita. Wanita itu terjatuh saat mencoba menghindar. Esperanza yang melihat pria itu masih ingin menghujamkan senjatanya mengambil sebuah kotak dan melempar ke kepala pria itu.
Membuat pria itu marah dan mengejar Esperanza. Nicorazón menarik Esperanza ke dalam pelukannya dan menatap tajam pada pria itu. Pria itu mendadak membeku di tempatnya berdiri. Karena saat ini yang ia lihat adalah sosok makhluk yang tinggi besar sedang memegang pedang berbentuk sabit menatap padanya.
"Apa ini karena aku mabuk?" gumam pria itu.
Lalu ia tersenyum dan mengarahkan pisau itu untuk menyakiti Esperanza. Di luar dugaan Nicorazón menarik Esperanza ke punggungnya dan menendang pria itu dengan kuat. Dan tidak cukup sampai di sana, ia maju lalu mencekik pria tersebut.
"Hentikan!" teriak Esperanza saat melihat pria itu hampir mati.
Nicorazón menoleh pada Esperanza dan tersenyum lalu melepas cengkramannya. Orang itu pingsan dan dilaporkan pada pihak berwajib. Gris menyadari Nicorazón tidak sedang menjadi dirinya sendiri.
"Kekuatan besar itu, apakah muncul untuk melindungi Esperanza?" batinnya.
"Wow yang tadi itu keren." Brillo mendekati Nicorazón lalu merangkulnya.
"Apa maksudmu?" tanya Nicorazón yang sedang pucat pasi sebab ia sempat melihat darah.
Brillo heran dan sempat bengong. Tapi Estrella menyadari satu hal sama seperti Gris. Lalu menepuk pundak adiknya.
Setelah kekacauan diselesaikan mereka pun pulang. Banyak orang berbisik-bisik mengingat pria yang membuat rusuk adalah anggota preman setempat.
"Ada apa ini?" tanya Primavera saat mereka tiba.
"Nicorazón melihat darah," jawab Estrella.
Dengan cepat Primavera memberi obat penenang untuk putranya dan membawanya istirahat.
"Kamu lihat tadi, Nicorazón sempat jadi pribadinya yang lain," tutur Estrella pada Brillo.
Lalu mereka berdua menceritakan hal itu pada Malika dan Tomi yang sedang berada di negara kelahiran Nicorazón.
"Sayangnya kemapuanku belum kembali," tutur Brillo.
"Aku juga," ujar Estrella.
Mereka khawatir jika muncul kekuatan jahat dan tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan saat ini mereka tidak bisa melihat roh.
__ADS_1
Hari pertama masuk sekolah tiba, Esperanza terbangun dari tidurnya. Seseorang mengetuk pintu yang ternyata adalah Gina. Wanita itu mendandani Esperanza setelah mengenakan seragamnya. Dan tidak mengizinkan Esperanza melihat ke cermin sebelum selesai.
"Gina, ia berangkat sekolah, bukan sedang jadi model," protes Lina yang muncul di belakang.
Lina menyadari kebiasaan Gina yang tidak pernah berubah. Untung saja dia datang tepat waktu sehingga Esperanza tidak akan terlihat berdandan berlebihan di hari pertama masuk sekolah. Gina cemberut melihat hasil karyanya dirusak.
"Dia bukan lagi putrimu! Kamu tidak bisa melarangku sekarang!" Tatap Gina tajam pada Lina.
"Meski dia bukan lagi putriku, kelihatannya dia nyaman denganku!" Lina balas menatap tajam pada Gina.
Namun keduanya memperlihatkan senyuman yang sangat manis di hadapan Esperanza. Persaingan kedua wanita itu untuk menarik perhatian Esperanza membuat Te Apoyo geleng-geleng kepala. Ia ingat dulu mereka juga suka rebutan hak asuh pada Te Espere.
"Lillo, aku pergi ke sekolah hari ini, jaga rumah baik-baik ya!" perintah Brillo.
Dan saat ini ia sudah tidak bisa lagi berbagi penglihatan ataupun bertukar tubuh dengan Lillo. Tapi Lillo masih mengerti kata-katanya. Lalu menjawab dengan kibasan ekornya.
Setelah semua yang akan berangkat sekolah masuk ke dalam mobil, kendaraan itu akhirnya bergerak. Selama di perjalanan. Diam-diam Nicorazón mencuri pandang pada Esperanza lewat kaca spion mobil.
Sesampainya di sekolah beberapa orang yang mengenal Brillo menyambutnya. Tapi seorang gadis menubruk Esperanza saat hendak memeluk Brillo.
"Hey, apa kamu tidak punya mata?" Gris bertanya dengan marah dan membantu Esperanza berdiri tegak.
"Memangnya kamu siapa? Kamu hanya orang asing di negara ini," jawab gadis yang ditanya.
"Minta maaflah pada mereka," suruh Brillo.
"Untuk apa, mereka pasti orang yang numpang di rumahmukan? Warga dari negara yang hancur. Menyedihkan!" jawab gadis itu acuh.
Dengan kasar Brillo melepaskan pelukan gadis itu padanya.
"Mereka itu keluargaku! Tidak menghormati mereka, sama dengan tidak menghormatiku!"
Ke-empat orang tersebut akhirnya meninggalkan orang-orang yang terdiam melihat kejadian tersebut. Dan wajah gadis itu merah padam.
"Hanya demi mereka kamu berkata kasar padaku. Padahal kamu tidak pernah kasar padaku. Keluarga katamu? Kamu pikir aku tidak tahu kalau itu bohong!" ujar gadis itu mengomel di sebuah ruangan bersama teman-temannya.
"Gadis itu benar-benar tidak tahu malu ya, berasal dari negara miskin saja berdandan seperti artis," cibir yang lain membicarakan Esperanza.
"Tapi anak yang pendiam itu tampan juga ya, Nicorazón," ujarnya mengingat papan nama anak itu.
Tapi ada satu gadis yang tertarik pada Gris.
__ADS_1
"Akhirnya aku menemukanmu juga, aku akan kembalikan kekuatanmu asal kamu mau jadi kekasihku!" batinnya.
Bersambung...