
Proses pembangunan gedung masih berlanjut. Banyak masyarakat merasa terbantu. Tapi ada yang merasa terganggu. Mereka mengirim beberapa premen untuk megganggu prose pembangunan. Setiap kali di hari gajian, preman itu akan menunggu di depan gedung yang belum selesai tersebut untuk meminta uang pada tiap pekerja.
Mereka juga meminta uang keamanan pada pihak mandor. Mulanya mandor tersebut masih mentolerir hal tersebut. Sebab ia tidak ingin mencari ribut. Tapi kemudian tingkah mereka semakin menjadi, dan sudah meresahkan para pekerja akhirnya mandor melaporkan pada pihak berwajib agar mengambil tindakan pada preman tersebut.
Namun aparat keamanan tidak menanggapi hal tersebut setelah mendapatkan tumpukan benda tipis berbentuk persegi panjang dalam jumlah yang banyak. Mereka hanya manggut-manggut dan berjanji akan menindak para preman.
Untuk memuaskan sang mandor, aparat tersebut bertingkah seolah mengamankan para preman. Dengan mengangkut para preman yang melakukan pungutan liar. Tapi di tengah perjalanan mereka justru dilepaskan begitu saja, tanpa melalui proses apapun.
Sehingga ke esokan harinya mereka datang kembali dan dalam jumlah yang lebih banyak. Bukan hanya melakukan pungutan liar. Mereka juga mengambil bahan bangunan sesuka hati mereka. Mandor pun kembali melaporkan hal tersebut.
Tapi kembali kejadian yang sama terulang kembali. Kali ini para preman malah merusak bangunan yang baru saja di kerjakan. Seorang pekerja maju untuk menghadang para preman tersebut. Agar para preman tidak melakukan aksinya lagi.
Hal tersebut mengakibatkan ia jadi bulan-bulanan para preman. Lalu mandor yang melihat hal tersebut tidak tinggal diam. Dia mencoba menolong pekerjanya yang dihajar para premen. Dan mereka berdua jadi bulan-bulanan para preman.
Para pekerja yang dari tadi hanya melihat satu persatu mencoba menolong. Tapi saat preman tersebut mengeluarkan benda tajam, para pekerja pun mundur. Tidak ada satu pun dari mereka yang datang menolong.
Setelah puas menganiaya mandor dan pekerjanya, barulah para preman berhenti memukuli para korbannya. Mereka segera mengangkut bahan-bahan bangunan yang masih utuh. Lalu menjualkannya pada pihak yang membayar setiap aksi preman tersebut.
Para pekerja membawa mandor dan rekan kerja mereka ke rumah sakit terdekat. Mereka yang tinggal kebingungan.Apakah lanjut bekerja atau tidak. Lalu memutuskan pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Di hari berikutnya para pekerja kembali ke proyek. Tapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakuka. Karena mandor mereka masih di rumah sakit. Dan selama itu pula, para preman makin leluasa untuk mengambil bahan bangunan. Dan menghacurkan beberapa bagian bagunan yang baru selesai dibangun.
"Apa kita diam saja melihat kelakuan mereka?"
"Tapi apa yang bisa kita perbuat?"
"Iya, kalau nekat, bisa-bisa kita akan mengalami hal yang sama seperti pak mandor dan anak kemarin."
Terdengar perbincangan para pekerja, mereka menatap dalam-dalam bagunan yang mereka bangun dirusak begitu saja. Tapi mereka terlalu takut untuk melawan. Sehingga kelakuan para preman terus berlanjut hingga bahan bangunan habis diangkut. Dan mereka kehilangan pekerjaannya, sebab proyek pembangunan tidak berlanjut.
Kabar tersendatnya proses pembangunan sampailah ke telinga papa Malika. Te Apoyo dan Te Espere yang disibukkan dengan kegiatan sekolah, dalam menghadapi ujian sekolah, belum mengetahui kejadian di proyek pembangunan pabrik. Jika papa Malika tidak menghubungi Te Apoyo.
"Mau apa, Nak? Mandornya sedang sakit, mungkin proyek ini tidak akan diteruskan. Jadi lupakan saja jika Kamu mau bekerja di sini," ujar salah satu pekerja yang masih hilir mudik melihat situasi di proyek.
Pekerja tersebut mengira kalau Te Apoyo anak yang mau mencari pekerjaan di tempat itu. Sebab ada banyak anak yang putus sekolah berkerja di situ. Te Apoyo kembali ke kota tempat tinggal orang tua kandungnya, untuk membicarakan masalah yang terjadi di proyek tersebut, pada papa Malika.
Papa Malika mengatakan kalau ia akan melaporkan para preman yang melakukan penganiayaan dan penjarah bahan bangunan. Polisi pun segera bertindak. Tapi lagi-lagi setelah memamerkan penangkapan para preman tersebut pada masyarakat, tidak lama mereka dibebaskan kembali.
Setelah mandor proyek bisa bekerja kembali, proses pembangunan kembali dilanjutkan. Para pekerja sangat senang. Sebab kini mereka tidak perlu kuatir kehilangan pekerjaan. Dan mereka bisa tenang bekerja selama para preman tidak lagi mengganggu mereka.
__ADS_1
Tapi ternyata hal itu hanya berlangsung dua hari. Hari ketiga para preman datang dan mengacaukan pekerjaan mereka lagi. Tapi kali ini ada seorang yang berani melawan para preman tersebut. Ia dengan lihai menjatuhkan salah satu dari preman tersebut. Melihat tindakan orang tersebut, para pekerja lain jadi berani melawan.
Mereka menyadari kalau proyek ini satu-satunya jalan agar mereka bisa terlepas dari lilitan hutang pada para reintenir. Jadi dengan bekerja sama mereka berhasil memukul mundur para preman tersebut. Lalu dengan bangga mereka bersorak atas kemenangan mereka.
Ternyata mata-mata yang disusupkan papa Malika, ke dalam proyek pembangunan pabrik, sebagai buruh bangunan, berhasil mengubah para pekerja di tempat tersebut. Ia berpura-pura sebagai kuli bangunan yang berasal dari desa lain. Dan bahkan mandor pun tidak mengenalinya.
Setelah para preman pergi ia pun melaporkan kondisi terbaru di proyek tersebut pada papa Malika. Dan ia mendapat ijin tinggal di rumah nanek Tomi. Serta diangkat sebagai kepala keamanan di proyek tersebut oleh mandor bangunan.
Para preman yang merasa dipermalukan berniat untuk membalas dendam. Mereka memata-matai setiap pekerja di proyek tersebut. Mencari tahu alamat dan kondisi keluarga mereka. Lalu kemudian mengatur rencana balas dendam.
Hari itu Te Apoyo dan Te Espere menghadapi ujian di sekolahnya. Dan mereka pulang lebih cepat dari biasanya. Te Espere selalu pulang bersama teman sekelasnya. Sedangkan Te Apoyo memilih jalan sendirian.
Di tengan perjalanan Te Espere dan teman-temannya dihadang sekelompok preman. Mereka berniat menculik salah satu gadis di antara teman-teman Te Espere. Saat teman Te Espere ditangkap, yang lainnya berteriak minta tolong. Penculikan tersebut akhirnya berubah menjadi penculikan pada semua gadis yang berjalan bersama target penculikan.
Melihat majikannya ikut dibawa, pengawal rahasia Te Espere muncul dan menghajar para penculik tersebut. Akhirnya setelah perkelahian Te Espere selamat. Tapi temannya yang sudah menjadi target sejak awal berhasil dibawa lari.
Te Espere dan kawan-kawannya melaporkan kejadian tersebut pada orang tua korban. Dan orang tua korban melaporkan pada pihak berwajib. Tapi pihak berwajib melalaikan tugasnya. Mereka justru menunda-nunda proses penangkapan para preman yang menculik anak tersebut.
Hingga akhirnya anak tersebut ditemukan tergeletak di tengah jalan tanpa sehelai benang pun. Dan banyak luka memar pada tubuhnya. Ia pingsan setelah dianiaya dan dipermainkan oleh beberapa pria dewasa.
__ADS_1
Bersambung...