Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Pacar Te Espere


__ADS_3

Selama di perjalanan Te Espere tidak banyak bicara. Pandangannya terus saja tertuju ke arah luar jendela. Pikirannya kacau, ia tidak bisa fokus mengabaikan Nicholas yang terus saja mengajaknya bicara.


Jadi dia hanya menjawab sekenanya. Lalu pura-pura menguap dan berpura-pura tidur. Nicholas pun akhirnya berhenti bertanya ini dan itu pada Te Espere. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Dan membuat Te Espere larut dalam kenyamanan dan keheningan. Akhirnya ia jadi benar-benar tertidur.


Setelah tiba di rumah, Nicholas ingin membangunkan Te Espere. Tapi melihatnya yang tidur, ia berpikir untuk menggendongnya. Tapi baru saja ia menyentuh Te Espere, gadis itu terbangun. Sehingga Nicholas mengurungkan niatnya.


"Ayo masuk," ajaknya, yang kemudian dituruti oleh Te Espere.


Mereka disambut dengan gembira oleh Gina. Langsung saja mereka menuju ruang makan. Dan mereka makan bersama dengan jumlah lima orang di sana.


Di selama makan Gina malah mengungkit soal pernikahan Te Espere dan Nicholas yang membuat tiga orang tersentak kaget dan batuk. Nicholas dan Te Espere serta adik ketiga Nicholas secara serentak mengambil gelas yang berisi air dan minum di waktu yang bersamaan.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Gina pada Te Espere dengan cemas. Sebab gadis itu belum juga berhenti batuk.


Dalam tegukan kedua barulah Te Espere berhenti batuk. Kulitnya yang seperti kulit bayi semakin merah dan matanya sedikit berair. Ia menunduk karena gugup dan merasa malu.


Sejak peristiwa putar botol, yang sebenarnya sudah lama, Te Espere masih sering gugup jika ada orang, yang berbicara tentang hubungannya dengan Nicholas. Nicholas pun mengingatkan mamanya untuk tidak membahas itu lagi. Agar Te Espere tidak merasa tertekan. Makan siang pun dilanjutkan tanpa ada sepatah kata pun lagi.


Setelah selesai makan Gina mengajak Te Espere berfoto bersama. Karena mereka sudah jarang bertemu. Akibat kesibukan masing-masing. Setelah puas mengambil gambar dan memposting status baru, barulah Gina meminta Nicholas untuk mengantarkan Te Espere pulang.


Karena hari sudah sore, maka Nicholas memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum mengantar Te Espere pulang. Sesampainya di rumah Te Espere Nicholas ingin segera pulang setelah pamit pada Lina. Tapi Lina menawarkannya untuk makan malam bersama. Tapi Nicholas menolak dan pergi pulang.


Di tengah jalan ia dicegat oleh beberapa pengendara sepeda motor. Mereka memaksanya untuk turun. Karena ia tidak bisa lewat akibat sepeda motor yang diletakkan di jalan.


"Ayo turun!" ujar salah satu dari mereka.


Baru saja Nicholas turun, mereka langsung memukuli Nicholas. Tanpa perlawanan Nicholas pun rubuh. Dan mereka yang memukulinya segera mengambil foto. Lalu mengirim foto tersebut pada seseorang. Orang yang menerima foto itu tersenyum.


Segera orang-orang itu hendak pergi meninggalkan Nicholas. Tapi belum beberapa langkah, mereka kembali lagi hendak merampok Nicholas. Dan saat salah satu dari mereka membalikkan tubuh Nicholas, kerah bajunya ditarik ke bawah. Nicholas yang memberikan serangan mendadak membuat mereka gelagapan.

__ADS_1


Satu persatu mereka mendapat balasan atas apa yang mereka lakukan pada Nicholas. Mereka pun bertekuk lutut dan meminta ampun. Nicholas melepas mereka setelah mengetahui siapa yang sudah menyuruh mereka.


Lalu meminta mereka untuk merahasiakan kalau ia yang sudah membuat mereka babak belur. Orang-orang yang memukuli Nicholas setuju, lalu lari terbirit-birit membawa sepeda motor mereka.


Ke esokan harinya, Te Espere terkejut melihat Nicholas mengajar di kelas dengan wajah yang babak belur. Tapi sebenarnya lukanya tidak separah itu. Sebagian hayalah riasan. Sebab para preman tersebut lebih banyak memukuli punggungnya.


Tapi karena hal itu Te Espere jadi menemuinya pada saat pulang. Nicholas cukup senang atas inisiatif Te Espere yang menemuinya terlebih dahulu. Tapi saat ia hendak berbicara pada Nicholas, seseorang menghentikannya.


Dia adalah anak reintenir yang merupakan keponakan dari almarhum kepala polisi di kota kecil tempat Te Apoyo membangun pabrik. Te Espere tidak bisa menutupi rasa terkejutnya. Saat tangannya ditarik dari belakang. Dan dengan segera dia berbalik badan dan mundur.


"Hai, masih ingat aku?" tanya anak reintenir itu. Lalu melepas tangan Te Espere.


"Kakak kuliah di sini juga?" tanya Te Espere. Sambil memegang pergelangan tangannya yang memerah.


Anak rentenir itu pun mengiyakan. Lalu ia ingin berbicara lebih lama dengan Te Espere. Tapi Te Espere mencoba menghentikan obrolan dengan cepat lalu meninggalkannya. Saat Te Espere berbalik badan dan menjauh, anak reintenir itu mencoba menarik kembali tangan Te Espere.


Tapi Nicholas bergerak lebih cepat, merangkul pinggang Te Espere dan menariknya ke arahnya. Tubuh Te Espere pun bertubrukan dengan tubuh Nicholas. Nicholas menatap reintenir itu dengan tajam.


Nicholas tersenyum dengan sinis padanya.


"Bapak seharusnya malu pada usia dan status bapak," ujarnya lagi.


"Kenapa aku harus malu?" tanya Nicholas.


"Bapak pasti memaksa Te Espere ia kan?" tanyanya.


"Apa maksudmu?" tanya Nicholas pada anak rentenir tersebut.


"Bapak memaksa pacarku untuk pulang bersama bapak kemarin. Ia kan? Katakan, apa yang bapak telah lakukan pada pacarku? Jangan karena orang tuanya berhutang pada bapak, sehingga bapak seenaknya saja berbuat macam-macam!" ujarnya berteriak membuat mereka jadi bahan perhatian.

__ADS_1


"Tunggu dulu," ujar Nicholas menghentikan ocehan pemuda tersebut.


"Aku mau bertanya padanya dulu," ujar Nicholas sambil melirik Te Espere yang diam saja dalam rangkulannya.


"Apa benar kalian berpacaran?" tanya Nicholas.


Tapi belum sempat menjawab, Te Espere segera ditarik oleh Pemuda itu dari rangkulan Nicholas. Tapi Nicholas mengenggam tangan pemuda itu dengan erat, tanpa melepas rangkulannya pada Te Espere. Sampai pemuda itu merasa kesakitan dan melepaskan tangan Te Espere.


Orang-orang banyak berkerumun menyaksikan kejadian tersebut. Lalu pemuda itu mengatakan kalau salah satu dosen di kampus mereka, telah melakukan penindasan. Memaksa Te Espere untuk melakukan yang ia inginkan.


"Dia ini orangnya, dia melakukan pemaksaan pada pacarku!" ujarnya sambil berusaha menarik Te Espere dari tangan Nicholas.


Tapi Nicholas membuatnya tidak bisa menyentuh Te Espere dan mendorongnya mundur. Ia makin kesal dan berniat memukul Nicholas, namun ditangkis oleh Nicholas.


"Cukup!" teriak Te Espere yang dari tadi diam saja.


Te Espere melepaskan tubuhnya dari rangkulan Nicholas. Dan merentangkan tangannya di antara mereka berdua.


"Apa dia pacarmu?" tanya Nicholas lagi.


"Iya!" jawab pemuda itu.


"Tidak!" jawab Te Espere bersamaan dengan pemuda tersebut.


"Bagus, kalau begitu ayo kita pulang," ajak Nicholas pada Te Espere. Te Espere mengikuti Nicholas.


"Te Espere, jangan ikut dengannya! Aku akan membayar hutang orang tuamu, jadi kamu tidak harus ikut dengan pria tua itu dan mengikuti keinginannya lagi," kata anak rentenir tersebut.


Ia bermaksud untuk mempermalukan Nicholas dan berharap kalau Nicholas akan dipecat dan tidak bisa mengajar lagi di kampus tersebut. Dengan begitu ia akan mendapat sanjungan dari Te Espere. Tentunya Te Espere akan bersedia menjadi pacarnya, khayalnya pada saat itu juga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2