
Polisi menemukan rekaman dari mobil pria yang mengalami kecelakaan tadi malam. Di situ terlihat kalau mobil yang dikendarai oleh Te Apoyo ditabrak oleh mobil tersebut. Jadi polisi ingin tahu, apakah mereka sedang kebut-kebutan di jalan sebelum kecelakaan. Apakah kecelakaan ada kaitannya dengan aksi ugal-ugalan dan sebagainya.
Te Apoyo harus berada di kantor polisi beserta istrinya dan diinterogasi selama berjam-jam dengan pertanyaan yang berulang-ulang. Hal ini membuat penerbangan pulang mereka jadi tertunda. Membuat Te Apoyo kembali mengingat mimpinya tadi malam.
Di dalam mimpinya Te Espere datang dan menyuruhnya untuk segera pergi dari negara tersebut. Dan ketika Te Apoyo menyentuh Te Espere, saat itu ia terkejut melihat saudarinya berubah wujud menjadi Esperanza.
Ia terbangun dan mencoba mengartikan mimpinya. Ia sudah lupa tentang sosok berjubah putih yang membawa kendi jiwa Te Espere. Karena selama ini dia sudah melihat Nicorazòn sebagai putranya. Bukan sebagai Nicolas yang terlahir kembali.
Tapi kini ia ingin segera bertemu Esperanza. Ingin tahu arti dari mimpinya. Segera ia mendatangi toko obat herbal di hari itu juga, namun Esperanza tidak ada di sana. Te Apoyo kembali ke rumah tempat mereka selama di negara itu dan akhirnya melanjutkan rencana pulang ke negaranya.
Namun hari sudah mulai gelap, meski penerbangan tetap bisa dilakukan karena cuaca mendukung. Tapi anehnya di tengah perjalanan suasana tiba-tiba mencekam saat langit menjadi lebih gelap dari yang seharusnya. Putri peunggu danau tidak mengijinkan pesawat yang mereka tumpangi meninggalkan negara itu.
Pesawat mengalami guncangan hebat. Pilot kebingungan karena kehilangan kontak. Mesin pesawat tiba-tiba mati. Seluruh penumpang yang merupakan anggota keluarga Te Apoyo diminta memakai pelampung. Sebab pesawat memperlihatkan tanda-tanda akan jatuh.
Nicorazón tiba-tiba ingat kejadian mengerikan yang sempat ia alami di danau saat melihat air laut yang tadinya tenang membuat ombak yang tinggi. Dion memegang erat tangan Lina. Te Apoyo menggenggam tangan Primavera dan Nicorazón menatap ombak yang seakan siap menelan pesawat mereka.
Pada saat yang sama Esperanza merasakan sesuatu yang ia tidak mengerti. Ia menatap langit yang tiba-tiba gelap dengan petir yang menggelegar. Dadanya berdetak kencang. Ia keluar dari kamarnya melihat kedua orang tuanya duduk bersebelahan di kursi tamu.
"Esperanza? Kamu takut? Sini, ayo duduk di sini bersama kami!" ujar papa Esperanza.
Esperanza duduk di antara papa dan mamanya. Namun hatinya tetap tidak tenang. Padahal kedua orang tuanya baik-baik saja. Ia merasa ada orang terdekatnya yang sedang dalam masalah, tapi ia tidak tahu siapa.
__ADS_1
Saat ini, orang terdekatnya adalah papa dan mamanya. Lalu ia teringat pada seorang temannya. Segera ia menghubungi orang tersebut. Untuk memastikan kalau orang itu baik-baik saja.
"Aku sedang di rumah. Minum air jahe hangat," ujarnya sambil tersenyum menyaksikan kilatan petir yang saling menyambar.
"Maaf sudah mengganggu," ujar Esperanza menutup panggilannya.
"Tidak masalah, terima kasih sudah menghubungiku," ujar pemuda sebaya Esperanza.
Pemuda itu tersenyum menatap foto Esperanza di layar depan ponselnya. Lalu mengusap bagian pipi foto tersebut. Dan membayangkan Esperanza hadir di hadapannya. Kilatan dan suara guntur mengagetkannya membuat lamunannya buyar.
"Dasar penunggu danau! Hentikan ulahmu sekarang juga!" hardiknya ke arah langit gelap.
Hujan tiba-tiba berhenti mendadak. Ombak menjadi tenang. Mesin pesawat hidup kembali. Meski sempat jatuh dan kehilangan arah. Pesawat itu kembali terbang ke angkasa seperti tidak terjadi apa pun. Putri penunggu danau menjadi kesal karena ia gagal mendapatkan Te Apoyo dan putranya.
Ia melihat wajah Eaperanza di pusaran air yang kini berjalan mendekat ke jendela rumahnya. Melihat kalau hujan sudah reda. Perasaan gusarnya segera sirna. Ia tidak tahu kenapa. Tapi ia tersenyum senang saat melihat sebuah lampu pesawat membelah kegelapan di langit.
Pesawat itu adalah pesawat yang ditumpangi Te Apoyo beserta keluarganya. Te Apoyo memandang sekilas ke arah jendela. Arah pandangannya searah dengan pandangan Esperanza. Meski demikian ia tidak bisa melihat Esperanza.
Te Apoyo bergumam dalam hati mengucapkan selamat tinggal pada negara itu. Ia menyentuh kaca jendela pesawat di saat Esperanza melakukan hal yang sama pada kaca jendelanya. Tanpa mereka sadari air mata keduanya jatuh membasahi pipi mereka berdua.
Pesawat melaju dengan tenang meninggalkan negara tersebut. Meninggalkan kenangan yang terjadi selama berada di negara tersebut. Kenangan yang tidak mungkin bisa di lupakan oleh mereka seumur hidup.
__ADS_1
Setibanya di negara mereka. Orang-orang yang merindukan kepulangan mereka sudah menunggu di depan pintu. Merasa lega melihat keluarga Te Apoyo pulang dengan selamat. Ucapan selamat datang pun diucapakan oleh mereka.
Te Apoyo dan keluarganya segera memberikan bingkisan untuk mereka. Yang sengaja di persiapkan sebagai oleh-oleh. Meski lelah mereka tetap semangat membagikan souvenir tersebut hingga mereka semua kebagian.
"Terima kasih tuan besar, nyonya besar, tuan muda dan nyonya muda. Dan tuan Nicorazón atas hadiahnya," ujar mereka kompak.
Saat itu hari sudah siang di negara Te Apoyo. Te Apoyo dan keluarganya masih mengantuk meski sudah berjam-jam tidur di atas pesawat. Mereka pun melanjutkan tidur dan beristirahat di kamar mereka masing-masing, setelah barang-barang yang penting disimpan di kamar mereka.
Sementara di negaranya Esperanza juga tidur lelap di kamarnya karena hari sudah malam. Begitu pula dengan kedua orang tuanya. Berbeda dengan pesulap. Malam ini dia mabuk lagi. Setelah melakukan aksi sulap yang menewaska dua orang penonton.
Semua itu karena putri penunggu danau kesal gagal mendapatkan kedua laki-laki idamannya. Sehingga mengambil dua pemuda sebagai pengganti mereka di acara sulap sebagai persembahan untuknya.
"Tapi ini bukan malam bulan purnama! Kenapa harus ada tumbal lagi?" tanya pesulap mencoba protes.
Namun ia dilemparkan ke atas dinding. Dan diancam oleh putri penunggu danau.
"Lakukan saja perintahku! Atau aku akan mengeluarkan bola matamu itu satu persatu saat ini juga!" kata putri penunggu danau.
Karena mabuk berat, pesulap kembali tertidur dalam penyesalan yang tidak ia ketahui kapan semua itu akan berakhir.
Sementara wanita yang duduk di kursi yang sejajar dengan Te Apoyo dan Primavera, tidak bisa tidur. Ia tidak menemukan putranya di mana pun. Ia baru ingat tentang putranya saat ia menatap foto mendiang suaminya yang tewas akibat kecelakaan.
__ADS_1
Di samping foto suaminya ada foto mereka bertiga. Foto terakhir kali saat putra mereka berulang tahun. Ketika melihat foto putranya barulah ia ingat kalau putranya ikut bersamanya menyaksikan sulap namun tidak ikut pulang.
Bersambung...