Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Alfredo yang Sebenarnya


__ADS_3

"Alfredo silahkan duduk di kursi kosong," ujar guru yang mengajar di jam tersebut.


Alfredo memilih duduk di samping Te Espere. Karena kebetulan teman sebangku Te Espere tidak datang. Dan hari itu Te Apoyo tidak masuk sekolah karena urusan perusahaan.


"Hai," tegur Alfredo pada Te Espere yang ditanggapi dingin oleh Te Espere.


Berbeda dengan Te Espere, teman sekelas justru asik curi-curi pandang pada Alfredo yang suka tersenyum. Dan dengan cepat ia jadi idola baru di kelas. Semua murid perempuan mengerumuninya dan meminta nomor WA-nya pada jam istirahat.


"Kamu tidak minta jugakah?" tanyanya pada Te Espere yang hanya diam saja setelah jam istirahat usai.


Sebab Te Espere memilih menjauhinya pada saat jam istirahat. Dan kembali setelah jam masuk. Alfredo hanya senyum-senyum saja melihat wajah pucat Te Espere. Dan saat pulang sekolah ia pun membuntutinya.


Sadar kalau dirinya dibuntuti, Te Espere mempercepat langkahnya. Dan Alfredo juga mempercepat jalannya. Te Espere pun berlari saat menoleh kebelakang, ternyata Alfredo sudah dekat dengannya. Lalu Alfredo menangkap tangannya dan menariknya memasuki sebuah gang. Dan membekap mulutnya.


Alfredo menatap Te Espere lekat-lekat dan Te Espere membuang mukanya. Sebab ia hampir menangis karena ketakutan. Cukup lama mereka di posisi yang sama. Seolah Alfredo menikmati wajah ketakutan Te Espere yang sedang melepaskan diri padanya.


Lalu tiba-tiba Te Espere menggigit tangannya saat ia lengah. Dan memukul dengan tas sekolahlah kemudian melarikan diri. Alfredo tidak mengejarnya. Ia hanya tersenyum.


Malam itu Te Espere tidak bisa tidur. Ia bermimpi tentang peristiwa kasus mutilasi teman-teman satu sekolah Te Apoyo. Dan pelakunya adalah Alfredo. Dan saat ia sedang mengeksekusi tawanannya, ia menatap Te Espere seperti pemain sirkus yang sedang menunjukkan aksinya ke penonton.


Te Apoyo yang kuatir pada Te Espere setelah mereka berbagi mimpi malam itu, mengirim seseorang untuk menjaga Te Espere, sebab ia belum bisa kembali ke sekolah. Ia masih belajar tentang menjalankan bisnis pada papa Malika.


"Ada apa? Sepertinya kamu banyak pikiran akhir-akhir ini. Apa ada hal buruk terjadi di sekolah?"


"Tidak om, semua baik-baik saja." jawab Te Apoyo berusaha tenang dan memusatkan pikirannya.


Ternyata Alfredo menyadari kalau Te Espere sedang diawasi pengawalnya. Jadi ia pun menjauhinya saat di jalan menuju sekolah.


"Kenapa kau membuat pengawal? Kita jadi tidak bisa kencan kan? Apa mereka kiriman tante Gina?" tanyanya pada Te Espere.

__ADS_1


Te Espere diam saja. Dia tidak mau banyak terlibat pada Alfredo. Sampai akhirnya Alfredo bersikap nekat dengan mencium pipi Te Espere, pada jam pelajaran.


*Plak!


Tangan kanan Te Espere mendarat dengan cepat membuat suara tepukan di pipi Alfredo. Alfredo hanya tersenyum. Dan senyumannya membuat Te Espere makin takut. Sementara teman sekelas menatap arah suara berasal. Tapi mereka bertanya-tanya satu sama lain tentang apa yang terjadi. Lalu geleng-geleng kepala.


Kebetulan hari ini merupakan jadwal menyapu kelas adalah giliran Te Espere. Mau tidak mau ia harus pulang lebih lama dari yang lain bersama dengan kelompoknya. Tapi siapa sangka Alfredo menawarkan diri untuk membantu. Dan saat kemudian ia mengirim pesan ke WA teman-temannya, agar meninggalkan ia dan Te Espere berdua saja secara diam-diam.


Satu per satu teman Te Espere meninggalkan kelas. Dengan berpura-pura membuang sampah atau mengambil air untuk menyiram tanaman. Dan ada yang berpura-pura pergi ke toilet. Akhirnya Te Espere sadar kalau hanya tinggal mereka berdua di kelas. Jadi ia mempercepat pekerjaannya. Dan terburu-buru mengambil tasnya dan pulang. Namun ternyata Alfredo sudah mengunci pintu dari dalam.


"Mau apa kau?" tanya Te Espere.


"Jangan macam-macam atau aku akan teriak!" ancam Te Espere.


"Teriak saja, memangnya siapa yang akan mendengar teriakanmu?" tanya Alfredo sambil berjalan mendekati Te Espere.


Te Espere mundur, lalu saat Alfredo hendak menangkapnya ia pun berlari ke arah pintu. Tapi Alfredo menangkapnya.


"Aku ingin melihat wajah ketakutan ini lebih dekat dan lebih lama lagi, tingkahmu sangat mencolok saat kita pertama kali bertemu. Sebenarnya siapa kamu?" tanya Alfredo.


"Apa kita pernah bertemu?" tanyanya lagi.


"Tidak, aku tidak mengenalmu, lepaskan aku!" teriak Te Espere meronta.


Tapi Alfredo mencengkramnya lebih kuat. Dan ia baru melepaskannya saat seseorang mengetuk pintu. Te Espere lari ke arah pintu dan membukanya. Tampak seorang pria berdiri di ambang pintu.


"Kak Nicholas?" tanya Te Espere seakan tidak percaya.


Nicholas membawa Te Espere pulang, sempat ia melirik ke arah Alfredo. Alfredo memandang tajam pada tatapan tidak bersahabat Nicholas. Setelah Nicholas dan Te Espere tidak terlihat lagi, ia pun mengambil tas sekolahnya dan berjalan santai.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Nicholas pada Te Espere. Te Espere mengangguk meski ia masih gemetaran.


Te Apoyo menghubunginya, dan memberitahukan tentang siapa Alfredo saat Te Espere menyentuhnya. Te Apoyo mengatakan kalau Te Espere bisa melihat masa lalu Alfredo yang ternyata pembunuh berantai teman sekolahnya dulu. Pelaku mutilasi teman kelompok putri kepala sekolah Te Apoyo yang dulu. Tapi ia sudah mengubah wajahnya.


Orang tuanya membayar sejumlah uang agar putranya dibebaskan. Tapi di publikasikan kalau putranya dipindahkan ke sel lain. Untuk menipu mata masyarakat.


"Kalau begitu kamu bisa dalam bahaya. Sebaiknya pindah sekolah saja." ujar Nicholas.


"Tidak bisakah kita lapor polisi?" tanya Te Espere.


"Kita tidak punya bukti." jawab Nicholas.


"Tapi apa kita harus menunggu jatuh korban dulu?"


Nicholas tidak menjawab, lalu memutuskan menginap di rumah Te Apoyo. Penjaga yang disuruh oleh Te Apoyo untuk mengawasi Te Espere sudah tidak dapat dihubungi. Ke esokan harinya ia ditemukan telah meninggal dunia di jalan.


Alfredo menyuruh seseorang untuk menghabisinya. Sehingga penjaga tersebut tidak bisa dihubungi saat Te Espere dikunci di kelas oleh Alfredo. Beruntung Te Apoyo menghubungi Nicholas untuk menjemput Te Espere ke sekolahnya. Dan ia datang tepat waktu.


Dengan ditemukannya jasad penjaga Te Espere di jalan, maka ia makin takut. Dan memilih untuk tidak pergi ke sekolah. Lalu bersama Nicholas pulang ke rumah Gina. Gina menyambutnya dengan senang hati. Tapi saat Nicholas menceritakan yang dikatakan Te Espere tentang Alfredo ia pun terkejut.


"Tapi bukankah wajahnya berbeda dengan yang di televisi dan surat kabar?" tanya Gina ragu.


"Tapi bisa sajakan ia melakukan operasi plastik ma," jawab Nicholas.


"Jadi itu sebabnya Te Espere langsung pucat pasi saat bersalaman dengan Alfredo kemarin. Apa yang sebenarnya pihak keamanan lakukan? Kenapa mereka melepaskan seorang psikopat?" gumam Gina menanggapi ucapan Nicholas.


Ia tidak terlalu terkejut saat tahu kalau Te Espere mampu melihat masa lalu orang lain. Sebab menurutnya Te Espere bukan manusia biasa pada umumnya.


"Tapi apakah Alfredo tahu kalau rahasianya kita ketahui?" tanya mama Nicholas kuatir.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2