Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Kerasukan


__ADS_3

"Jika kamu tidak mau jadi pacarku, maka tidak ada lagi yang boleh jadi kekasihmu," ancam Klara.


"Aku bahkan tidak punya niat untuk menjalin hubungan dengan siapa pun," ujar Te Apoyo.


"Bohong, kalau memang begitu, kenapa kamu berpacaran dengan gadis menyebalkan itu?"


"Karena usianya sudah tidak panjang lagi," jawab Te Apoyo santai.


"Jelas-jelas ia mengancammu!"


"Aku sudah tahu ia akan mengancamku dengan alasan membeberkan rahasiaku," jawab Te Apoyo.


"Dan kamu membiarkan dia berbuat seenaknya? Begitu?" tanya Klara geram.


"Ya, karena aku tidak ingin ada lagi gadis yang mati penasaran sepertimu," jawab Te Apoyo.


"Apa?!"


"Kenapa? Benarkan yang aku katakan? Kamu masih di dunia ini, untuk apa jikalau bukan karena penasaran? Selesaikanlah urusanmu dan pergilah ke tempat dimana kamu seharusnya berada," kata Te Apoyo pada Klara.


Te Apoyo lalu pergi dari tempat itu dan meninggalkan Klara yang masih terdiam. Setelah bayangan Te Apoyo menghilang dari pandangan Klara, Klara pun berkeliling sekolah tersebut sambil mengawasi Te Apoyo dari kejauhan.


Hingga ia melintasi berbagai orang yang hilir mudik di sekolah itu, dan pada akhirnya ia menyadari jika ia bisa merasuki seseorang. Biasanya ia akan menembus tubuh seseorang yang melewatinya atau pun yang ia lewati. Tapi kali ini, ada tubuh yang tidak bisa ia lewati. Dan rohnya terperangkap di tubuh tersebut.


Ia mengerjap-ngerjapkan matanya saat ia merasakan pipinya ditepuk-tepuk oleh seseorang. Di sekitarnya ada banyak orang mengerubunginya. Dia terkejut dan heran, sebab ada banyak orang yang bisa melihatnya.


"Kamu tidak apa-apa kan Lizie?" tanya seorang gadis yang tampak cemas padanya.


"Lizie? Siapa dia? Dan kamu siapa? Kenapa kalian mengerumuniku?" tanya Klara yang belum paham akan kondisinya kini.


"Astaga?! Kamu hilang ingatan?!" ujar gadis yang tadi menepuk-nepuk pipinya.


Klara yang kebingungan langsung duduk dari posisi tidurnya. Lalu ia berdiri dan beranjak pergi dari kerumunan. Saat ia melangkah ia melihat sebuah kaki yang mengenakan sepatu sekolah. Lalu ia melihat kaki itu bergerak seiring dengan pikirannya yang ingin menggerakkan kakinya.

__ADS_1


Ia mengernyitkan keningnya, melihar tangan lalu meraba wajahnya. Matanya membelalak seakan tidak percaya dengan pemikirannya.


"Mungkinkah, aku hidup kembali?" pikirnya.


Lalu ia pergi ke tempat Te Apoyo, tapi sebelum bertemu Te Apoyo ia melintasi kaca jendela yang memantulkan dirinya. Mulanya ia hanya melintasinya begitu saja. Tapi ekor matanya sempat menangkap, gerakan yang ada di kaca tersebut, yang bergerak seperti mengikuti gerakannya.


Lalu ia mundur perlahan, menoleh dan berbalik badan. Kemudian ia menyentuh kaca tersebut dengan tangannya, maka sadarlah ia kalau tubuh itu bergerak sesuai dengan pikirannya. Ia tersenyum kegirangan. Sebab tubuh itu bisa ia gerakkan dan ia jadi merasa seperti hidup kembali.


"Lizie? Kamu sedang apa? Ayo kita masuk, jam pelajaran akan dimulai!" ujar gadis yang menepuk pipinya.


Klara menatap nama yang tertera dipakaian gadis itu. Lalu ia menatap wajah gadis tersebut lalu tersenyum.


"Akila, maaf kepalaku pusing, bisakah kamu, menghubungi orang tuaku untuk menjemputku pulang?" ujar Klara.


"Hah? Pulang?!"


Akila heran lalu melakukan permintaan Klara, karena ia mengira kalau gadis yang di hadapannya itu, benar-benar sakit. Dan setelah beberapa menit sambungan panggilan diangkat. Anita meminta seseorang untuk menjemput Klara yang bersemayam di tubuh Lizie.


Sementara Te Apoyo dan Te Espere sepulang sekolah dan berganti pakaian dijemput supir untuk pulang ke rumah orang tuanya. Karena hari itu bertepatan dengan hari sabtu.


Saat acara makan dimulai para pelayan diajak makan bersama, setiap orang harus melayani diri sendiri. Para pelayan dilarang memakai pakaian seragam pelayan. Jadi mereka harus mengunakan pakaian selain pakaian seragam mereka. Dan hal itu akan diabadikan dalam sebuah video dokumenter.


"Di mana Klara?" tanya Malika saat mereka selesai makan pada Te Apoyo.


Sebab biasanya Malika akan mengikuti kemanapun Te Apoyo pergi. Lalu Te Apoyo menjawab kalau kemungkinan Klara pergi ke alamnya sendiri. Malika pun mengangguk tanda mengerti.


Di acara tersebut Nicholas merasa heran dengan sikap dingin Te Espere. Tidak biasanya Te Espere bersikap dingin padanya. Pertanyaan yang ia tanyakan dijawab dengan sangat singkat. Tapi sikapnya pada Gina tetap seperti semula. Dan hari itu Te Espere lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Gina. Sebab Gina terus menempel pada dan membuat status-status baru tentang dia dan Te Espere.


Lina hanya geleng-geleng kepala. Dan akhirnya ia memilih mendekati Nicholas. Tapi Dion malah jadi cemburu, karena merasa diabaikan. Tapi kemudian para orang tua membuat kelompoknya sendiri. Dan anak-anak mereka membuat kelompok mereka sendiri.


Lalu para orang tua membahas tentang kegemaran mereka dan membicarakan rencana mereka tentang masa depan anak-anak mereka. Sementara para anak memilih melakukan permainan putar botol.


"Kalian siap, pertanyaannya gampang-gampang kok. Dan jika tidak bisa menjawab dihukum memakan ini," ujar Malika memperlihatkan empedu ikan yang masih mentah.

__ADS_1


"Hiii," jawab yang lain bergidik lalu tertawa.


"Siapa yang akan mengajukan pertanyaan pertama?" tanya Nicholas.


"Aku, karena aku yang membuat permainan," jawab Malika.


"Tidak bisa, permainan tidak akan ada tanpa adanya pemain," jawab adik ketiga Nicholas.


"Ya sudah, aku saja, karena aku yang tertua di sini," kata Nicholas lagi.


"Di mana-mana, wanita yang duluan," ujar Malika tidak mau mengalah.


"Kalau terjadi perang, apa kamu juga mau maju duluan, karena kamu perempuan?" tanya adik ketiga Nicholas.


"Ya, kalau yang itu berbeda," jawab Malika sambil mengangkat satu alisnya.


Para anak lelaki pun tertawa, sedangkan Malika pura-pura tidak perduli.


"Hei, jangan kaku begitu," ujar Malika pada Te Espere.


Malika senyum-senyum melihat Nicholas dan Te Espere duduk bersebelahan. Tapi ia merasa heran karena keduanya tampak seperti tidak saling kenal. Nicholas memandang Te Espere sekilas.


"Ayo siapa jadinya yang memutar botol dan bertanya lebih dahulu?" tanya Nicholas.


"Biar adil ayo kita undi," saran Te Apoyo.


Sebuah koin dijadikan sebagai alat undi, masing-masing memilih salah satu sisi koin tersebut. Lalu koin di lemparkan ke udara dengan keadaan berputar. Lalu ditangkap dengan kedua tangan, dan diperliatkan bagian sisi mana yang muncul saat tangkupan tangan dibuka.


Yang benar adalah Nicholas dan Malika dan akhirnya koin diundi lagi. Pada akhirnya yang menang adalah Malika.


"Apa aku bilang, yang buat pertanyaan pertama itu harus aku," katanya bangga. Lalu memutar botol kosong di atas meja.


Malika sebenarnya ingin membidik Nicholas dan Te Espere tapi ujung botol justru menunjuk ke arah adik kedua Nicholas.

__ADS_1


"Ya, ya, ya lalu apa pertanyaannya?" ujar adik kedua Nicholas, saat melihat ujung botol mengarah kepadanya.


Bersambung...


__ADS_2