
"Esperanza, itu nama yang diberikan papa dan mama padaku," ujar gadis penjual tersebut.
"Nama yang bagus, berapa usiamu sekarang?" tanya Te Apoyo.
"17 tahun tuan," jawab Esperanza.
"Seusia dengan putraku, ia berulang tahun 7 hari yang lalu," kata Te Apoyo.
"Benarkah? Kalau begitu sampaikan ucapan selamat ulang tahun dariku, semoga ia panjang umur dan sehat selalu," kata Esperanza.
"Terima kasih banyak, aku akan menyampaikan padanya kalau ada gadis cantik yang bernama Esperanza, mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Dia pasti sangat senang," ujar Te Apoyo tersenyum.
"Hehehe, tuan anda terlalu memuji saya," ucap Esperanza malu-malu sambil tertawa kecil.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," ujar Te Apoyo lagi.
Lalu Te Apoyo melirik jam tangannya sekilas. Dan menyadari kalau ia sudah cukup lama berada di toko itu.
"Oh, ya saya permisi dulu, terima kasih sekali lagi atas bingkisannya," kata Te Apoyo sambil memperlihatkan bingkisan pemberian Esperanza.
"Terima kasih kembali tuan, jangan lupa untuk mampir lagi," ucap Esperanza dengan sopan seperti penjual kepada pelanggannya.
Te Apoyo hanya mengangguk lalu melangkah menuju pintu. Saat mendorong pintu langkah kakinya terhenti. Seolah mendengar suara Te Espere.
"Sampai bertemu lagi, Te Apoyo!"
Te Apoyo menoleh ke arah Esperanza, Esperanza melihatnya dengan wajah biasa saja.
"Apa masih ada yang ingin dibeli lagi, tuan?" tanya Esperanza saat melihat Te Apoyo menatapnya tanpa berkedip.
"Tidak, tidak ada," jawab Te Apoyo setelah sadar menatap gadis yang baru dikenalnya dalam waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Esperanza tersenyum. Dan Te Apoyo menganggukkan kepalanya sedikit lalu keluar dari toko itu dengan perasaan tidak rela. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Tapi ia tidak tahu kenapa.
Di tengah perjalanan ia masih sering terbayang-bayang akan wajah Esperanza. Lalu ia menggelengkan kepalanya. Kemudian menghembuskan napasnya dengan berat. Dan mencoba melepaskan pikirannya dari Esperanza.
Meski ia tahu kalau itu bukanlah pikiran seorang laki-laki terhadap perempuan, tapi ia merasa tidak pantas memikirkan perempuan lain selain istrinya. Apalagi usianya sebaya dengan putranya.
Tiba di rumah, ia disambut oleh istrinya. Persiapan untuk berangkat pulang dua hari lagi telah rampung. Te Apoyo memutuskan akan merawat Nicorazón di negaranya sendiri. Dan di rumah sakitnya sendiri.
"Sayang, aku dengar di sekitar sini ada sebuah gedung teater yang menampilkan sulap. Sebelum pulang, bisakah kita menyaksikannya hari ini?" ujar Primavera pada Te Apoyo.
"Benarkah? Tapi Nicorazón bagaimana?" tanya Te Apoyo sambil melirik putranya yang sedang menyaksikan siaran televisi.
Nicorazón pura-pura tidak mendengar. Dan pura-pura asik menonton televisi tentang berita beberapa mahasiswa yang membersihkan danau untuk melestarikan lingkungan bawah laut.
Yang membuatnya tiba-tiba mengingat hal aneh yang ia alami di danau. Ia belum menceritakan kejadian aneh tersebut kepada siapapun. Sebab semua terlalu fokus pada peristiwa kecelakaan yang dialaminya.
"Kalian mau pergi? Ya sudah pergilah. Biar mama yang jaga Nicorazón. Anggap saja kalian sedang berlibur. Jika sudah pulang nanti, kalian akan sulit mendapatkan kesempatan seperti ini lagi," kata Lina.
"Iya betul itu," ujar Dion pula.
Dan akhirnya Te Apoyo dan Primavera pergi menyaksikan pertunjukan pada malam hari setelah selesai makan malam.
Di sebuah kamar seorang pesulap merasa resah karena ia menyaksikan malam yang diterangi oleh bulan purnama saat malam tiba. Ia memilik perjanjian yang harus ia tepati. Kebingungan dan merasa galau serta takut menghantuinya.
"Apakah aku harus melakukannya?" tanyanya pada bayangan dirinya di cermin yang juga menanyakan hal yang sama padanya.
"Kenapa kamu menjadi ragu? Menjadi pengikutku tidak boleh memiliki keraguan sedikit pun!" ujar sebuah suara yang merupakan suara putri penunggu danau.
Dan sosok bayangan putri itu muncul dibelakang pesulap itu dan memeluknya dari belang. Memberinya sentuhan lembut di wajahnya. Sambil tersenyum penuh arti.
"Ingat kenapa kamu sampai memilih untuk bunuh diri beberapa hari yang lalu. Apa kamu sudah lupa? Apa perlu aku mengingatkanya padamu? "
__ADS_1
Pesulap itu mengingat kembali peristiwa pahit yang menimpa papanya. Yang meninggal karena kecelakaan. Dan sejak saat itu gedung teater menjadi sepi perlahan-lahan karena papanya telah tiada.
Ia mencoba mempelajari trik-trik sulap dan mencoba melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan papanya. Namun ia tidak bisa melakukan trik itu sebaik papanya. Dan semua pertunjukannya tampak sangat mengecewakan penontonnya.
Semakin lama ia makin terpuruk karena harus membayar hutang untuk biaya sehari-hari. Ditambah lagi dengan biaya modal untuk melakukan pertunjukan. Mengganti alat-alat yang sudah rusak. Serta biaya perawatan gedung.
Himpitan ekonomi membuatnya putus asa dan mencoba melakukan jalan pintas agar terbebas dari lilitan hutang. Akhir yang membawanya pada takdir bertemu putri penunggu danau. Dan kini membuatnya berada dalam masalah yang lebih besar.
"Apa yang kamu pikirkan? Takut? Atau kamu tidak tahu apa yang harus kamu lakukan? Pikirkan saja caranya agar salah satu pengunjungmu, pada malam ini bisa menjadi persembahan untukku. Selanjutnya para roh itu dan kemampuan yang aku berikan, akan menolongmu agar tidak diketahui telah menghilangkan nyawa seseorang."
Setelah berkata demikian putri penunggu danau tersebut menghilang. Dan tinggallah pesulap muda itu sendirian. Kini ia mulai berpikir tentang hal apa yang akan ia lakukan. Pertunjukan sulap apa yang bisa ia lakukan. Agar tidak terlihat sebagai tindakan kejahatan yang menghilangkan nyawa seseorang.
Ia memperhatikan kursi-kursi penonton yang mulai terisi. Dan penonton yang tampak begitu bersemangat untuk menyaksikan pertunjukan sulapnya. Tanpa menyadari kalau salah satu dari mereka akan menjadi persembahan untuk kesuksesan sulap malam ini.
"Apa aku letakkan senjata tajam pada kursi penonton?" tanyanya pada bayangannya.
Ia menggelengkan kepalanya, saat membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
"Tidak mungkin, aku rasa itu tidak mungkin. Aku harus memikirkan cara lain!" katanya lagi.
Ia melihat-lihat alat-alat sulap yang ada di sana. Sambil menimang-nimang baik buruknya. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk melakukan trik sulap yang bisa ia lakukan sembari melakukan ritual persembahan.
Kali ini ia memanggil para roh yang berada di bawah kekuasaanya. Memberikan mereka aba-aba, tentang tidakan apa yang harus mereka lakukan, di saat pertunjukan khusus sedang berlangsung. Para roh itu mengangguk tanda mengerti dan mengambil posisi mereka masing-masing.
Pada saat itu Te Apoyo dan Primavera tiba di lokasi tersebut. Primavera turun lebih dulu. Saat melihat gedung teater yang berhiaskan lukisan tentang tongkat sihir dan dunia ajaib, membuatnya merasa seperti melihat dunia dongeng. Cerita yang sering dibacakan mamanya ketika ia masih kecil.
"Sayang, aku parkirkan mobilnya dulu ya!" ucap Te Apoyo membuat lamunan Primavera kembali ke tempat kakinya berpijak.
Primavera mengangguk dan tersenyum.
Bersambung...
__ADS_1