Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Penderitaan Ray


__ADS_3

"Ya sudah kalau begitu kami pulang saja," kata Ros menyudahi pembicaraan tersebut.


"Eh tunggu dulu, kita bicara baik-baik dulu." ujar si istri.


"Maaf bu, saya rasa sudah tidak ada lagi yang harus dibahas." ujar Ros mantap.


Lalu menarik tangan Lina yang masih duduk di situ. Dan akhirnya mereka melangkah keluar dari rumah itu. Tapi di tahan oleh suami dan istri tersebut. Meski demikian, Ros dan Lina tidak menghentikan langkah mereka. Tapi kemudian Ros mengeluarkan uang dari dompetnya. "Terima kasih sambutannya, kami undur diri," ucap Ros sesopan mungkin.


Akhirnya Ros dan Lina membawa Teresia pergi dari tempat itu. "Maaf Lina, aku tidak tau kalau yang akan dijodohkan pada Teresia sudah berumur." kata Ros.


"Sebenarnya aku tidak masalah kalau soal usia mereka, aku hanya keberatan kalau harus dinikahkan." jawab Lina. Ros menatap Lina dengan sedih. Ternyata rencana tidak berjalan mulus.


Lalu mobil yang mereka tumpangi berhenti di restoran milik Ros. Ros mengajak mereka makan siang di sana. Teresia yang kelaparan sudah tidak sabar untuk makan ketika di tawari makan. Dengan mata berbinar-binar ia menatap makanan yang akhirnya datang setelah menunggu beberapa saat kemudia.


Beraneka ragam hidangan disuguhkan, Lina hanya bisa pasrah karena temannya sendiri yang memesan makanan sebanyak itu. Teresia makan dengan lahap. Tapi sebelum seluruh makanannya habis ia muntah. Ternyata Teresia tiba-tiba berbagi penglihatan.


Ray dibawa ke toilet oleh teman-temannya. Mereka mendorong wajah Ray ke toilet yang belum di siram. Sambil tertawa mereka menekan kepala Ray dengan kaki mereka dan Ray sekuat tenaga menahan kepalanya.


Setelah wajah Ray terkena kotoran tersebut barulah mereka berhenti. Ray membersihkan wajahnya dan tidak lama ia pun muntah karena rasa jijik. Serta bau yang menempel di wajahnya terasa tetap tertinggal di hidungnya.


Di kelas ia sudah tidak fokus pada pelajarannya. Dan saat lonceng tanda berakhirnya pelajaran tiba, ia bergegas pulang untuk segera membersihkan diri lebih lanjut. Tapi ternyata hari ini, teman-temannya belum merasa puas untuk menganggunya.


Tidak cukup sampai di situ, di tempat berbeda Ray yang sedang berada di jalan menuju rumahnya, kembali dijegat lima teman sekelasnya. Yang tadi menjahilinya. Mereka memang suka menjahili Ray. Dan kali ini mereka juga ingin melanjutkan kejahatan mereka.

__ADS_1


"Hei, kau...! Beraninya kau melarikan diri."


"Iya, siapa yang menyuruhmu pulang."


"Ayo berlutut!"


Ray yang sudah dikerjai dengan cara yang menurutnya berlebihan, kali ini tidak mau menurut. Ia hanya berjalan meninggalkan teman-temannya tersebut. Ia tidak mau terlambat pulang sekolah. Hari ini mamanya bekerja malam dan pulang pagi. Jika mamanya tau dia pulang terlambat ia akan kena pukul.


"Hei... apa kau tidak mendengarku!" bentak salah satu dari yang paling kaya dari semuanya. Dia anak kepala sekolah dan pemilik sekolah tersebut. Saat itu ia menarik telinga Ray.


Dan saat kulitnya menyentuh kulit Ray, hal yang tidak pernah ia lihat jadi terlihat. Sesosok roh halus menyeringai di balik punggung Ray. "Set...set...," katanya. Ia tidak bisa berbicara karena saat ia bisa melihat roh halus, saat itu pula roh halus tersebut bisa menyentuhnya.


Satu roh menutup mulut anak kepala sekolah dari belakang. Dan satunya lagi memegangi tangannya yang sedang memegang telinga Ray. "Lepaskan," ucap Ray.


"Aku bilang lepaskan," ujar Ray lagi. Ray sebenarnya berbicara pada dua arwah yang memegangi anak kepala sekolah. Tapi justru di salah artikan oleh yang lain. Dan karena mendengar perintah Ray, kedua roh halus tersebut melepaskan anak kepala sekolah. Dan saat tangan anak kepala sekolah melepaskan telinga Ray ia pun berjalan mundur.


Dan karena telinganya sudah dilepaskan Ray pun beranjak pergi tapi di tahan oleh yang lain. Merasa Ray mulai berani melawan, mereka pun beramai-ramai menghajar Ray. Karena Mereka memukuli bagian tubuh yang tertutup, mereka tidak melihat penampakan.


Tapi berbeda dengan anak kepala sekolah ia memilih melarikan diri dari tempat itu. Setelah melihat anak kepala sekolah berlari, teman sekelas Ray menghentikan pukulan mereka. Mereka sebenarnya tidak berani berbuat apa-apa, jika tidak ada anak kepala sekolah, sebagai pelindung menurut mereka.


Jadi mereka pun mengekor mengejar anak kepala sekolah. Ray yang kesakitan melangkahkan kakinya perlahan. Lambat laun sampailah ia di rumah. Emile yang melihatnya terluka, justru semakin emosi dan memukulinya. "Aku menyekolahkanmu bukan untuk jadi berandalan!" bentaknya.


Setelah memukuli Ray ia pun pergi. Ray menangis sedih, niat untuk kabur dari rumah pun muncul. Tapi pintu di kunci dari luar. Dan jendela rumahnya berjeruji besi tidak dapat ia buka. Rasa sakit membuatnya pingsan.

__ADS_1


Beberapa hari ia demam, dan ia merasa beruntung, setidaknya ia tidak perlu pergi sekolah. Dan beruntung ia tidak dipukul. Tapi selama ia sakit mamanya tidak pulang-pulang. Jadi ia hanya makan dengan bubur nasi bercampur garam. Ia bersyukur setidaknya masih ada untuk dia makan.


Keesokan harinya mamanya pulang bersama seorang pria. Melihat Ray ia menjadi kesal. "Kenapa belum pergi ke sekolah! Mau bolos hah?!" bentaknya.


Ray yang ketakutan memilih bersiap untuk berangkat sekolah. Tapi saat melihat gerbang sekolah sudah tutup ia mengurungkan niatnya. Ia memilih tidak masuk sekolah. Tapi sial ia ketahuan oleh guru. Lalu ia di hukum memungut sampah. Dan di kelas ia dihukum berdiri di depan kelas sampai mata pelajaran selesai.


Jam istirahat pun tiba dan untuk menghindari gangguan temannya ia pun pergi kesuatu tempat. Tapi temannya memergokinya, ada hal baru yang ingin mereka lakukan pada Ray. Kali ini mereka ingin melakukan hal yang lebih parah. Mereka menyalakan rokok dan menyundut tangan Ray.


Ray yang selama ini memakai kaus lengan panjang merasa kepanasan saat api rokok membakar lengan bajunya dan mengenai kulitnya. Ray di pegangi oleh beberapa orang agar tidak melarikan diri. Saat Ray berteriak kesakitan salah satu dari mereka membekap mulut Ray. Dan akhirnya ia melihat hal yang menyeramkan.


"Jika kau ijinkan, kami akan memberi mereka pelajaran," ucap para mahluk mengerikan tersebut.


Ray yang sudah tidak sabar dengan kejahatan temannya akhirnya mengijinkan para mahluk menyeramkan itu untuk menyakiti mereka. Dengan sengaja ia menyentuh kulit mereka dengan telapak tangannya, setelah berhasil membuka sarung tangannya ketika ia sempat lepas dari pegangan teman-temannya.


Ray yang sudah muak dengan tingkah mereka merasa perlu memberi mereka pelajaran. Dan saat teman-temannya melihat para mahluk mengerikan mereka terkejut bukan main. Dan akhirnya yang memiliki batin paling lemah dirasuki oleh mereka.


Dan mereka mengunakan tubuh yang mereka rasuki untuk menghajar yang lain. Ray akhirnya terbebas dan berhasil meloloskan diri. Saat ia hampir tiba di rumah, ia melihat pintu rumah tertutup. Timbul niatnya untuk lari dari rumah.


Dan saat hendak pergi ia melihat pria yang datang bersama mamanya keluar dari rumah dengan cara yang mencurigakan. Ia pun bersembunyi, dan saat orang itu sudah pergi jauh ia pun masuk ke dalam rumahnya.


Betapa terkejutnya dia saat...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2