Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Gadis yang Tersiksa


__ADS_3

Gadis itu semakin berlari kencang dan ketakutan, hingga tanpa sadar ia sudah jauh dari rumah sakit tersebut. Alam sadarnya membawanya ke tempat yang ia pikirkan. Saat itu ia hanya berpikir bisa pergi jauh dan tidak melihat pemuda itu lagi.


Namun ketika sadar, ia menjadi kebingungan. Tempat ia berada sekarang sama sekali tidak dikenalinya. Dan ia tidak menemukan jalan menuju rumah sakit. Karena ia tidak mengetahui kalau dengan mudah ia akan berpindah tempat, hanya dengan memusatkan pikirannya.


Ia justru menanyai setiap orang yang ia temui. Tapi ia bingung sendiri karena ia tidak mengetahui nama rumah sakit tempat Te Apoyo berada. Dan akhirnya sampai malam pun tiba ia tidak bisa kembali ke tempat Te Apoyo.


Beruntung ia mengingat kalau Malika memberikannya ponsel, jadi ia pun menghubungi Malika pada saat itu juga. Dan dengan bantuan Malika ia bisa bertemu kembali pada Te Apoyo.


Meski merasa kalau Te Apoyo telah melecehkannya, tapi tidak tahu kenapa, ia merasa kalau akan lebih aman jika ia bersama dengan Te Apoyo. Sehingga meski Malika menawarkannya untuk tinggal di rumah Malika, ia tetap memilih ikut dengan Te Apoyo.


Sementara di kediaman teman semasa kuliah Te Apoyo sedang menyentuh tubuh gadis itu. Ia mencium aroma parfum yang ia semprotkan pada gadis itu. Aroma mawar yang khas, yang juga tercium olehnya, di hari ia diajak oleh Te Apoyo merayakan ulang tahun pasiennya.


Di ruangan tersebut ia melihat bayangan hitam yang samar-samar. Dan aroma parfum yang sama dengan yang ia semprotkan pada gadis itu. Ia melihat bayangan hitam itu seperti menghindari sesuatu.


Meski tidak yakin, ia mencoba membuktikannya, saat anak itu berkata kalau ada seseorang bersembunyi di bawah kolong tempat tidurnya. Dan saat pemuda ini berpura-pura melakukan sesuatu dan berjongkok, ia juga melihat bayangan hitam tersebut berada di bawah kolong.


Ketika ia melihat ke bawah kolong, bayangan hitam itu keluar, dan anak itu lagi-lagi mengatakan kalau seseorang baru saja keluar dari kamarnya. Membuat pemuda itu makin penasaran lalu keluar. Tapi saat di luar kamar anak tersebut, ia tidak melihat bayangan hitam itu lagi.


Tapi ia masih mencium aroma parfum samar-samar di ruangan tersebut. Dan aroma parfum itu tercium jelas di saat ia dekat dengan Te Apoyo.


"Apa kamu pakai parfum?" tanya pemuda itu pada Te Apoyo karena penasaran.


"Tidak," jawab Te Apoyo dengan singkat.

__ADS_1


Pemuda itu semakin penasaran, sehingga ia datang lagi ke rumah sakit, untuk bertemu dengan Te Apoyo. Tapi ia justru melihat bayangan hitam itu lagi. Gerak-gerik bayangan itu sangat mirip seperti seseorang yang menghindarinya. Sekilas tingkahnya seperti gadis yang ia sekap, jika seandainya gadis itu sadar.


"Benarkah bayangan hitam itu rohmu?" tanyanya pada raga gadis itu.


"Kalau ia, mengapa kamu mengikuti Te Apoyo?" tanyanya lagi.


"Ayo jawab!" perintahnya.


Tapi raga gadis itu tidak bergeming sama sekali.


"Baiklah kalau begitu, mulai sekarang aku akan membuatmu sadar, aku akan hentikan obat-obatan ini. Sehingga bahkan jiwamu tidak akan bisa pergi dariku!" ancam pemuda itu.


Dan ia pun melakukan sesuatu untuk menyadarkan gadis tersebut. Saat gadis itu masih setengah sadar, pemuda itu melepas pakaian gadis itu. Tampak tubuh gadis itu sudah sangat kurus. Tapi pemuda itu malah menikmati tubuh gadis itu tanpa rasa kasihan.


Ke esokan harinya gadis itu terbangun di sebuah kamar kecil di atas ranjang tanpa mengenakan sehelai benang pun. Ingatannya masih kacau. Ia melihat sekelilingnya kosong dan tidak ada siapa pun di sana.


Ia mencoba untuk duduk dengan tubuh gemetaran. Saat ia baru bisa duduk pintu terbuka. Seseorang membawa sesuatu di tangannya. Seperti sebuah mangkuk dan gelas di atas talam. Ternyata pemuda itu mencoba memberinya makan.


Gadis itu menutupi tubuhnya dengan selimut. Dan pemuda itu tanpa rasa sungkan mendekatinya. Lalu meletakkan bawaannya di atas tempat tidur.


"Ayo makan!" katanya pada gadis itu.


Gadis itu tidak bisa melihatnya dengan jelas karena masih merasa pusing. Dan pandangannya juga masih kabur. Tapi ia mengingat dengan jelas suara pemuda itu. Tubuhnya yang lemah tersentak karena terkejut. Dan ia pun tumbang.

__ADS_1


"Hei, aku menyuruhmu makan! Bukan tidur!" ujar pemuda tersebut.


Lalu ia memaksa gadis itu memakan bubur buatannya. Tapi baru setengah mangkuk dimakan oleh gadis itu, bubur tersebut dimuntahkan. Karena selama ini lambungnya sudah sering kosong.


Dengan kejam pemuda itu melayangkan kelima jarinya di pipi kiri dan kanan gadis itu, hingga hidung dan bibir gadis itu mengeluarkan darah. Tapi pemuda itu malah menyuruhnya memakan bubur yang baru saja ia muntahkan.


Tanpa rasa kasihan dan rasa bersalah, ia memaksa sekali lagi. Gadis itu pun muntah lagi. Untuk ketiga kalinya, pemuda itu memaksanya makan lagi. Dan kali ini saat gadis itu hendak muntah, ia menutup mulut gadis tersebut sehingga sebagian bubur justru keluar dari hidung gadis itu.


Gadis itu tersedak lalu batuk berulang kali, dan kali ini pemuda itu melepaskannya. Dengan tatapan tajam ia menatap gadis itu sebelum pergi meninggalkannya dalam keadaan menangis.


Pemuda itu kembali lagi, dan membawa pakaian ganti untuk gadis itu. Selimut yang terkena muntahan gadis itu ia buang masukkan ke dalam plastik hitam yang besar lalu menaruhnya di dalam tong sampah.


Ia hendak pergi bekerja, maka ia mengikat tangan dan kaki gadis itu lalu mengunci pintunya dari luar. Dan saat di luar ia bertingkah seperti biasanya.


Siang hari gadis itu membuka matanya lagi. Penglihatannya sudah lebih terang. Ia melihat dirinya di ikat dengan tali. Dan mulutnya di tutup dengan perekat. Ia menangis dirinya.


Lama ia melampiaskan perasaannya dengan menangis hingga ia mengingat sesuatu. Yaitu Malika, ia ingat kalau Malika memberinya ponsel. Tapi sekarang ia tidak melihatnya di mana pun.


Di tempat itu ada dua arwah yang memperhatikannya. Salah saru dari mereka menatapnya tanpa rasa iba. Dan gadis itu tidak bisa melihat mereka.


"Kasihan gadis ini," ujar hantu berwajah hancur.


"Kasihan apanya? Yang ia alami belum seberapa dibandingkan yang di perbuat leluhurnya padaku dulu. Aku ingin sekali mereka bisa melihat keturunan ke tujuh mereka merasakan apa yang mereka perbuat dulu padaku. Kalau bisa aku ingin gadis itu mati, sama sepertiku. Setelah dinikmati beramai-ramai lalu membagi-bagi bagian tubuhku!" ujar roh kepala yang melayang dengan bagian perut yang mengantung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2