
"Setelah itu apa lagi?"
Lina diam sesaat.
"Apa mereka menyentuhmu?"
Lina masih diam juga, ia bingung menjawabnya. Karena saat ia melihat mereka, ia pasti langsung menutup mata karena ketakutan lebih dulu.
"Dari banyak orang yang mengaku bisa melihat mahluk halus, katanya jika disentuh oleh mereka rasanya seperti disentuh es. Dingin dan juga membuat merinding."
Lina mencoba mengingat hal itu. Tapi Lina tidak bisa menjawab lagi. Lalu dokter bertanya apakah dia memiliki garis keturunan yang juga seorang Indigo. Lina bilang tidak tahu. Lina pun menceritakan apa yang diceritakan oleh ibu panti asuhan padanya. Bahwa dia dulunya ditemukan menangis di teras panti asuhan tengah malam di saat hujan deras.
Dan saat dokter bertanya apakah orang yang meninggalkan Lina di panti asuhan meninggalkan sebuah pesan. Lina menjawab tidak ada. Dan pertanyaan pun dihentikan.
"Baiklah coba buka matamu sekarang."
Lina membuka mata dengan perlahan. Dan setelah ia melihat dengan jelas ia pun terkejut. Melihat reaksi Lina si dokter sudah tau apa yang terjadi. Terapi masih dilanjutkan.
"Kau melihatnya?"
Lina mengangguk, dan segera menutup matanya. Dia gemetaran. Dion yang berada di sampingnya hanya bisa menatapnya, tanpa berbuat apapun. Karena dokter menyarankan agar dia cukup bersikap pasif. Tujuannya agar terapi hipnotis berjalan lancar.
"Ok tetap tenangkan pikiran. Dengarkan aba-aba saya. Kalau kamu mengerti yang aku ucapkan, anggukkan kepala anda."
__ADS_1
Lina mengangguk. Lalu dokter mensugesti Lina kalau yang ia lihat tidak nyata.
"Maka apa pun mereka itu yang membuat anda takut, sebenarnya semua itu hanyalah sebuah ilusi. Tidak nyata. Dan juga tidak ada. Mereka tidak bisa berbuat apa pun. Pada hitungan ke tiga buka mata anda. Saya pastikan anda akan baik-baik saja. Satu... dua... tiga."
Lina membuka matanya. Dokter masih melanjutkan sugestinya. "Anda masih melihatnya? Jika ya, anggukkan kepala anda." Lina pun mengganggukkan kepala. "Sekarang coba ulurkan tangan anda dan sentuh. Saat anda menyentuh mereka yang anda rasakan hanyalah udara kosong." Lina menjulurkan tangannya.
Lina yang masih dalam sugesti dengan berani melakukan seperti yang diperintahkan padanya. Yang selama ini sangat ia takuti dengan berani ia coba sentuh.
"Apa anda sudah menyentuhnya sekarang? Anggukkan kepala anda!" Lina pun mengganggukkan kepalanya. Dion yang ada di situ ikut memperhatikan tangan Lina yang seolah-olah menyentuh sesuatu.
"Sekarang hempaskan mahluk mengerikan itu, itu hanya ilusi. Mereka tidak semengerikan penampilannya. Selain penampilannya yang mengerikan, tidak ada yang perlu ditakuti, karena mereka hanya ilusi." Lina pun melakukan hal yang sama, dan dalam penglihatannya mahluk itu terhempas dan menghilang.
"Anda sudah menghempaskannya?" tanya Dokter. Lina mengganguk.
"Dan ia susah lenyap?" tanya dokter itu lagi. Lina pun mengangguk lagi.
Lina menutup matanya.
"Dalam hitungan ke 3 anda akan bangun dan membuka mata. Rasa takut sudah hilang. Yang baru saja terjadi akan terlihat sebagai mimpi. Akan tetapi anda akan ingat kalau anda lebih kuat dari mereka. Anda bisa mengalahkan ilusi tersebut. Satu. Dua. Tiga, buka mata anda."
Lina pun membuka matanya. Ia tampak seperti baru bangun.
"Bagaimana perasaan anda? Apa anda melihat sesuatu?" tanya dokter saat Lina sadar dari hipnotis tersebut.
__ADS_1
Lina melihat sekeliling dan kemudian melihat yang ia takuti. Tapi kini ia bisa menahan rasa takutnya. Ia tidak histeris dan gemetaran karena ketakutan. Melihat gelagat Lina yang tiba-tiba diam, dokter sudah tidak butuh jawaban lagi.
"Baiklah terapi hari ini cukup sampai di sini dulu. Saya harap kalian bisa datang lagi minggu depan," kata dokter. Dan Dion mengangguk sebagai perwakilan mereka berdua.
Dokter kemudian memberi beberapa resep obat untuk Lina. Pulangnya mereka singgah di sebuah apotik dan membeli obat.Setelah itu mereka pun pulang ke rumah. Vivina memperhatikan mereka berdua sejak turun dari mobil. "Aku penasaran, seperti apa nyonya sekarang? Aku jadi ingin cepat-cepat memberikannya hadiah khusus," kata Vivina dengan senyuman nakal.
Sesampainya di dalam rumah Dion meminta pelayannya untuk membawakan minuman segar untuk mereka berdua. Hal itu di manfaatkan Vivina untuk beraksi. Dua gelas minuman segar telah ia bubuhi obat khus untuk kedua majikannya.
"Silahkan diminum tuan, nyonya," katanya seperti biasa.
Dion dan Lina pun akhirnya minum. Setelah istirahat sejenak mereka makan siang. Karena kondisi Lina belum stabil setelah makan dan minum obat pun Lina pergi ke kamar untuk beristirahat.
Saat hari telah petang, Lina masih tidur, tidak ada tanda ia akan menyediakan makanan untuk Dion. Sebenarnya Dion sudah lama rindu pada masakan istrinya. Tapi karena keadaan Lina masih belum stabil, Dion hanya bisa menerima saja situasi itu. Dion tidak tega meminta Lina melakukan ini dan itu.
Saat makan malam Vivina jadi kesal, ia melihat nyonyanya tidak lagi ketakutan seperti biasa. Meski sudah diberi minuman yang dicampur dengan obat khusus. Lina sesekali terlihat terkejut dan gemetaran tapi kemudian ia bisa tenang hanya dengan memegang tangannya sesaat. Seolah ia mendapat kekuatan tambahan untuk menghilangkan rasa takutnya.
Dan Dion setiap kali Lina ketakutan, pasti akan segera memegang tangan Lina. Dan itu adalah bagian peran Dion dalam proses terapi Lina. Dokter menyarankan agar Lina selalu ditemani oleh seseorang. Dan setiap ia ketakutan, maka seseorang harus memegang tangannya. Agar ia sadar kalau saat ketakutan ia tidak sedang sendirian.
Saat ketakutan acap kali Lina seolah lupa pada orang di sekitarnya. Semua itu karena ia terlalu fokus pada mahluk halus yang dilihatnya. Jadi ia hanya ketakutan. Tidak bisa berpikir dengan jernih. Sekarang setelah mendapat terapi ia mulai berpikir seperti yang dokter katakan. Meski awalnya takut karena terkejut, tapi kemudian dia bisa menguasai dirinya sendiri.
Hari-hari berikutnya, Dion meminta salah satu pelayannya untuk menemani istrinya, tatkala ia sedang tidak ada di rumah. Ros dipilih untuk menenani Lina kemana pun ia pergi dan di mana pun ia berada. Tidak lupa Dion mengingatkan Ros untuk melakukan apa yang Dion lakukan untuk menenangkan Lina.
Vivina akhirnya melaporkan berita terbaru tentang Lina kepada majikan keduanya. Dan tidak lupa ia mengatakan kalau obat itu sama sekali tidak berfungsi pada tuannya.
__ADS_1
Majikan keduanya atau tante Dion jadi kebingungan. Tapi walau begitu, ia tetap menyuruh Vivina memberikan obat itu setiap kali ada kesempatan.
"Batu yang keras saja bisa hancur oleh tetesan air, memangnya sehebat apa lalat-lalat itu. Justru bagus kalau obat itu tidak terlihat mengganggu otak mereka. Karena meski terlihat baik-baik saja. Obat itu akan merusak otak mereka secara perlahan-lahan. Dan mereka tidak akan menyadari itu," kata tante Dion melalui ponselnya.