Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
(Season 2) Pergi Sejauh Mungkin


__ADS_3

"Bagaimana kalau kamu saja dulu yang menontonnya," saran Te Apoyo.


Lalu memutar rekaman Vidio saat Gris beraksi. Gris tidak menyangka kalau rekaman itu bisa ada. Te Apoyo tersenyum puas.


*BRAK!


Gris menggebrak meja, dengan keras.


"Apa yang sebenarnya anda inginkan dari kekasihku?"


"Apa maksudmu?" Te Apoyo balik bertanya.


"Jangan pura-pura, membuat beasiswa palsu dan menahannya di tempat ini, kalau bukan karena niat tersembunyi lalu apa?"


"Jaga bicaramu, dia adalah saudariku. Dan jangan coba-coba membawanya pergi!"


"Saudari? Hei... itu dulu... Tu-an!" ejek Gris.


Te Apoyo mengepalkan tangannya geram.


"Tapi sekarang, jika anda menikahinya pun tidak akan ada yang bisa melarang. Anda punya banyak uang, bukan?" lanjut Gris.


"Kamu sudah kelewatan!" Satu pukulan mendarat di wajah Gris.


"Kenapa? Apa kata-kataku benar? Padahal anda sudah tahu kisah tragis kepergian Esperanza. Tapi anda masih memaksa! Jika anda ingin menyelamatkannya, harusnya anda tidak mendekatkannya pada putra anda. Kecuali anda sendiri yang ingin menyentuhnya." Gris mencoba menyulut emosi Te Apoyo lebih banyak lagi.


Tapi Te Apoyo diam saja. Menatap ke dalam bintik mata Gris yang duduk di lantai. Anak itu tidak punya kemampuan apapun lagi.


"Bawa dia pergi, bawa Esperanza pergi sejauh mungkin. Aku akan mengirimkan berapapun uang yang kamu perlukan. Selama kamu bisa memastikannya aman," kata Te Apoyo geram.


"Tapi jika sampai terjadi sesuatu padanya. Aku akan pastikan kamu merasakan hal yang lebih menyakitkan dari yang bisa kamu rasakan!" ancam Te Apoyo.


Dua hari berikutnya Gris, serta Esperanza bersiap untuk berangkat. Cuaca sangat cerah dan pesawat khusus untuk mengantarkan mereka pun telah tersedia. Tapi saat berpamitan Esperanza mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman.


Te Apoyo dan Primavera ikut mengantarkan mereka yang akan berangkat. Tapi Nicorazón tidak.

__ADS_1


"Jika butuh sesuatu, saya harap tuan dan nyonya jangan sungkan untuk segera menghubungi saya," pinta Te Apoyo.


"Boleh aku memelukmu sekali?" tanya Te Apoyo pada Esperanza.


Esperanza menatap sekilas ke Gris, lalu mengangguk. Te Apoyo dan Esperanza pun berpelukan. Saat pelukan itu diakhiri. Gadis itu merasakan sesuatu yang gelap dan dingin seolah menghampirinya.


Kemarilah gadis kecil. Ikutlah dengan kami!


Esperanza menoleh, namun tidak ada seseorang yang tampak sedang berbicara padanya. Lalu Te Apoyo melepas kepergian mereka.


Di pesawat Esperanza baik-baik saja, sampai ia mendengar suara-suara aneh yang sama berulang-ulang. Ia mencari ke sekeliling pesawat tapi hanya mereka penumpang biasa.


Selain pilot, pramugari, serta seorang perawat dan empat orang yang khusus untuk menjaga mereka selama di perjalanan tidak ada siapapun di sana. Tidak ada gadis kecil.


Kemarilah gadis kecil. Ikutlah dengan kami!


Tubuh Esperanza tiba-tiba menggigil dan ia mulai merasa tidak nyaman. Mengira kalau itu pengaruh AC. Gris yang duduk di sampingnya memberikan selimut karena melihatnya kedingan.


"Sudah lebih nyaman?" tanya Gris. Esperanza mengangguk.


Beberapa saat kemudian ia merasa seolah sedang tertidur. Suara-suara yang ia dengar tidak ada lagi. Sepi. Ia tersentak ketika kakinya disentuh. Tapi saat membuka mata, yang ia lihat hanya gelap.


Esperanza tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Napasnya terasa sesak. Kini ia merasakan dengan jelas yang menyentuh kakinya. Tangan-tangan dingin.


Ingatan tentang penculikan membuatnya ingin meronta. Tapi semakin ia meronta semakin ia kehilangan udara. Seseorang seperti sedang menutup hidung dan mulutnya.


"Ke mana semua orang? Kenapa tidak ada yang menolongku? Gris, Papa, Mama, kalian di mana?" batin Esperanza.


Sementara di dalam pesawat terjadi ke kacauan Esperanza tidak sadarkankan diri. Hidungnya mimisan. Gris dan kedua orang tuanya panik. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Gawat! Dia tidak bernapas!" gumam seorang pesawat memeriksa denyut nadi dan pernapasan Esperanza.


Gris meletakkan dua jarinya untuk memastikan kata-kata perawat itu. Sekejap ia ingat kata-kata Te Apoyo.


"Mereka ditakdirkan bersama, tanpa campur tanganku pun sesungguhnya, mereka akan bertemu cepat atau lambat. Aku menantangmu membawa Esperanza sejauh mungkin. Tapi aku tidak yakin berapa lama dan seberapa jauh kamu bisa memisahkan mereka," kata Te Apoyo sehari sebelum keberangkatan.

__ADS_1


"Kita harus kembali!" kata salah satu pengawal pada sang pilot.


Maka dengan cepat pesawat itu harus melakukan putar haluan setelah memastikan situasi.


Kejadian yang terjadi segera diberitahukan pada Te Apoyo. Saat itu Te Apoyo dan Primavera belum pergi dari tempat terakhir kali berpisah dengan Esperanza.


Segala cara dilakukan untuk mencoba agar Esperanza bernapas kembali dan denyut jantungnya berdetak tapi tetap saja. Tubuhnya semakin lama semakin dingin. Dan wajahnya semakin pucat. Kini darah juga mengalir dari kedua mata dan dari mulutnya.


Sementara jiwa Esperanza kini terasa berat dan seolah ditarik ke lubang gelap tanpa dasar. Lalu ia melihat bayangan-bayangan yang blt menakutkan.


"Sudah lama tidak bertemu. Beraninya kamu melarikan diri. Kenapa tidak jadi anak manis saja di rumah?" kata seorang wanita padanya.


Wanita dari masa lalu itu tampak lebih menyeramkan dari saat Esperanza hidup sebagai anak yatim piatu yang diadopsi keluarga berada. Namun sayangnya kedua orang tua angkat itu tewas di tangan seorang wanita yang tergila-gila pada papa angkat gadis kecil itu.


Kekesalannya membuatnya meracuni orang yang menerimanya sebagai keluarga selama ini. Kejahatannya dilihat oleh si gadis kecil. Sehingga ia mengancam anak itu agar tutup mulut. Tidak boleh keluar. Tidak boleh bertemu siapa pun.


"Hahaha, kamu mengenaliku sekarang? Ikutlah denganku ke alam kematian."


Esperanza sekuat tenaga mencoba meronta dan ia merasa seperti tidak punya harapan lagi sampai ia merasakan tangan yang hangat menggenggam kedua tangannya.


"Kamu! Apa ini yang kamu inginkan? Apa kamu puas sekarang! Kamu mempercepat kematian saudariku!" teriak Te Apoyo berang pada Gris saat tiba.


Ia menggenggam kedua tangan gadis itu dengan erat. Tapi gadis itu tidak bisa membalasnya. Tangan tersebut terkulai lemah tidak berdaya.


"Ayo kita kembali!" kata Te Apoyo pada supirnya.


Ia menggendong Esperanza masuk ke kursi belakang. Primavera ikut mencoba menghangatkan tubuh gadis itu yang hampir beku. Gris dan kedua orang tuanya hanya bisa diam. Dan akhirnya menyusul dengan mobil yang lain.


"Tangan yang hangat, tapi kenapa tidak menarikku dari lubang ini? Rasanya sakit sekali. Aku tidak bisa menarik diriku ke luar," batin Esperanza.


"Hihihi, sepasang tangan yang hangat itu tidak ada gunanya sayang. Sekarang ikut kami! Karena cepat atau lambat genggaman itu akan lepas! Jangan berharap bisa lepas dari kami," ujar para Roh menarik Esperanza makin dalam.


"Tidak, aku mohon. Siapapun di sana, jangan lepaskan aku," tangis Esperanza.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2