Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Badai di Laut


__ADS_3

Setelah berhasil lolos dari ikatan tali itu dengan cepat ia beranjak keluar, sambil melepas lakban yang menutup mulutnya. Namun ternyata ada dua orang pria yang merupakan komplotan dari penculika berkepala botak dan penculik berambut gimbal.


Satu orang memiliki tato di seluruh tubuhnya dan bisa terlihat karena ia memakai baju kaos tanpa lengan. Yang satu lagi memakai kemeja dan kaca mata hitam seperti pemeran utama pada sebuah film.


"Hah dasar mereka berdua, melihat cewek cantik langsung ingin bersenang-senang." Kata yang berkaca mata.


"Pakaian mereka pun tidak sempat mereka pakai hahaha, makanya jadi orang jangan cuma mikir ngeres melulu." kata si bertato.


"Hei ayo bawa cewek ini!" perintahnya pada dua orang yang kabur karena melihat hantu Vivina.


"Ambil baju kalian, apa-apa ini. Penculik yang lari bugil saat mau bersenang-senang." kata si bertato tersenyum mengejek.


"Kau saja yang ikat." kata si kepala botak yang kembali masuk seraya memunguti pakaiannya.


Dua orang cabul tersebut memakai pakaiannya. Sedangkan dua lainnya mengikat Lina dan kembali membungkam mulut Lina. Dan kali ini mereka menutup mata Lina. Lalu mereka membawanya ke mobil. Lina di masukkan ke dalam bagasi.


Mobil pun melaju kencang setelah mereka berempat masuk dengan si bertato sebagai supirnya. Lina dengan mata tertutup menerka-nerka kemana mereka membawanya. Setelah mobil melaju kencang selama berjam-jam akhirnya bergerak secara perlahan lalu berhenti.


"Ayo naikkan dia ke perahu." kata si berkaca mata.


"Dari semalam kerjamu cuma nyuruh-nyuruh saja." sungut si botak.


Tapi meski begitu, mereka pun memindahkan Lina ke dalam kapal kecil. Kemudian dengan kecepatan tinggi mereka membawa Lina ke tengah lautan untuk di tenggelamkan.


"Hei...beneran nih dia mau di buang kelaut?" tanya si botak.

__ADS_1


Pria berkaca mata hanya memandangnya.


"Masih ada waktu nih, gimana kalau kita pakai dulu, kan sayang di buang begitu saja." katanya lagi yang masih penasaran dengan tubuh Lina.


Lina yang mendengar hal itu semakin meronta untuk melepaskan dirinya. Itu menjadi daya tarik bagi si botak dan si rambut gimbal yang belum sempat melepas hasratnya.


"Hei di sini kita kerja, bukan bersenang-senang." kata si bertato sambil memasukkan Lina ke dalam karung.


Pria berkaca mata menghentikan tindakannya. Dia sepertinya setuju akan ucapan si botak dan si rambut gimbal.


"Ayo kita cicipi dulu," katanya dengan seringai jahat sambil menatap wajah cantik Lina.


Lalu mereka pun melepas tali yang mengikat kaki dan tangan Lina setelah mereka membawa Lina masuk ke ruang dalam kapal. Dengan hasrat yang bergejolak mereka hendak melucuti pakaian Lina, tapi tiba-tiba kapal yang mereka tumpangi di terjang badai.


Mereka yang berdiri di hadapan Lina pun oleng dan terlempar menubruk dinding kapal. Mereka diam sejenak mempertahankan keseimbangan mereka. Lina yang sudah lepas dari ikatannya membuka plaster yang menutup mulutnya. Ke empat pria itu pun memperhatikannya.


"Hentikan, lepaskan aku." pinta Lina meronta-ronta.


"Hei sudahlah buang saja dia sekarang lalu kita pulang," kata pria bertato. Dia cemas kapal yang mereka tumpangi bisa oleng. Ingin rasanya ia cepat-cepat sampai ke daratan.


"Ah, tanggung. Kita pesta dulu. Nanti baru di buang, pasti seru nih. Hahaha..." kata si botak.


"Ah iya benar, kapal goyang-goyang bisa bikin permainan tambah seru." kata si rambut gimbal.


Gemuruh ombak dan kilat yang menyambar-nyambar tidak mengusik ke tiga pria yang sudah di penuhi *****. Berbeda dengan pria bertato. Rasa cemas menghantuinya ketika ia ingat seorang wanita tiba-tiba mengatakan padanya,"Tubuhmu ini kelak akan jadi makanan ikan jika kau meneruskan pekerjaanmu hari ini."

__ADS_1


Entah siapa wanita itu, tapi kata-katanya mengusik pikiran pria bertato. Dengan kesal karena teman-temannya masih asik mempermaikan Lina, ia pun menodongkan pistol.


"Aku bilang hentikan, cepat buang dia sekarang juga." katanya. Tapi lagi-lagi kapal oleng. Dia kehilangan keseimbangannya. Hal itu di manfaatkan oleh pria berkaca mata untuk merebut pistol dari tangan pria bertato.


Setelah pistol itu berpindah tangan isi pelurunya pun segera berpindah dan bersarang di tubuh pria bertato. Lina menutup mulutnya.


"Sudah lama aku tidak menyukai orang ini, dia terlalu kaku untuk menjalankan misi. Ayo buang tubuhnya kelaut." kata pria berkaca.


Si botak dan pria berambut gimbal pun mengangkat jasad yang sekarat itu. Dan mengikatkannya ke sebongkah batu dan membuangnya beserta batu tersebut ke laut. Saat itu juga petir menyambar ke duanya. Sebagian dari bagian kapal ikut terbakar bersama ke dua penculik itu.


Mendengar suara keras dari petir yang menyambar ke dua temannya, Pria berkaca mata keluar dan melihat ke dua temannya sudah meregang nyawa dengan tubuh gosong. Ia hendak masuk ke dalam kapal saat petir berikutnya datang, namun ia terlambat. Ia pun menjadi daging panggang beserta ke dua temannya.


Lina kini sendirian, tapi keadaan belum aman. Bagian kapal yang terkena petir menjadi hancur dan perlahan kapal mulai tenggelam. Lina yang tidak bisa berenang menjadi sangat panik. Ia keluar kapal dan untungnya ada pelampung yang terikat di sisi tepi kapal. Dengan cepat ia membuka ikatan pada pelampung itu.


Saat kapal mulai tenggelam ia pun memakai pelampung tersebut. Dan akhirnya mengapung di tengah laut saat kapal menghilang di telan kedalaman laut bersama dengan tiga jasad yang hagus. Ombak terus berguncang, membuat tubuh Lina terseret ke sana kemari.


Perlahan ombak mulai reda, namun Lina sudah kehilangan kesadarannya. Dalam keadaan pingsan ia mengapung dengan pelampung yang melingkar di tubuhnya. Pagi hari ia ditemukan oleh pelayan yang hendak mencari ikan.


Dia lalu dibawa ke daratan dan langsung menuju klinik terdekat. Detak jantung Lina sangat lemah. Selama tiga hari ia tidak sadarkan diri. Dan selama itu pula ia diinfus.


Ketika sadar perlahan ia membuka matanya. Suara televisi yang sedang menyala menarik perhatiannya. Perlahan ia memalingkan kepalanya ke arah suara. Televisi itu sedang menyiarkan sebuah berita tentang dua jasad yang terdampar di tepi pantai dalam keadaan hangus terbakar.


Lina yang belum sepenuhnya sadar hanya mendengarkan berita itu dengan tatapan kosong. Ia tampak seperti orang ling lung. Lalu ia pun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seorang wanita memakai baju putih sedang asik menonton televisi membelakanginya.


Lina masih diam dan menyesuaikan diri dengan tempat yang asing itu. Oleh karena itu wanita berbaju putih tersebut tidak tau kalau Lina sudah siuman. Setelah acara di televisi berganti dengan iklan ia pun berpaling.

__ADS_1


Saat berpaling ia dan Lina saling beradu pandang, lalu wanita berbaju putih tersebut tersenyum. "Siapa dia?" batin Lina.


Bersambung...


__ADS_2