Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh
Taman Kanak-Kanak


__ADS_3

Ke esokan harinya, tubuh Dion mengalami kejang-kejang saat benda tajam merobek lapisan kulitnya. Obat bius sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakitnya. Dan untuk ke dua kalinya rohnya keluar dari raganya.


Saat sadar ia berada di sebuah Yayasan Taman Kanak-Kanak. Dia memperhatikan semua anak yang bermain dengan gembira. Namun hanya satu anak yang hanya duduk diam. Wajahnya tampak seperti Dion dalam versi mini.


Dion memandanginya heran. Ray yang sadar diperhatikan hanya diam saja. Dion yang mengira sedang bermimpi lagi, kali ini mencoba menegur bayangan yang ia lihat di dalam mimpinya.


"Halo..." sapanya.


Ray diam saja dan berpura-pura tidak mendengar. Dion kebingungan. Tapi ia tidak putus asa. Rindu sekali rasanya ada teman mengobrol. Dia yang sejak dulu tidak suka pada anak-anak yang tidak dikenal, kini sedang berusaha ramah pada seorang anak kecil.


"Halo namaku Dion, siapa namamu?" tanya Dion.


"Halo...ada orang..." kata Dion.


Ia mulai kehilangan kesabarannya.


"Aneh, apa di dalam mimpi ini aku bertemu diriku di masa lalu?" gumam Dion.


"Apa benar aku seperti itu saat kecil," pikirnya lagi.


Dion mencoba duduk di samping anak itu. Tapi ia tidak bisa duduk. Bagian tubuh yang hendak ia tempelkan ke kursi justru menembus kursi tersebut.


"Ya sudah aku berdiri saja, lagi pula aku sudah lelah berbaring seharian." gumam Dion.


Sesaat Dion diam. Ia memikirkan kembali ucapannya. Ia merasa aneh karena ia bisa mengingat dengan jelas kalau ia berbaring selama ini. Ia mengalihkan pandangannya pada anak-anak yang lain. Pandangannya tertuju pada seorang anak perempuan.


"Apa kau suka pada anak itu?" tanya Dion pada Ray.


"Aku bisa mengajarimu cara mendapatkan hati seorang anak perempuan," kata Dion.


"Mau aku beri tau?"


Dion lalu mendekati anak perempuan itu dan hendak menyentuhnya, tapi ternyata kejadian yang sama terjadi. Ia tidak bisa menyentuh anak perempuan itu. Tapi seketika anak perempuan itu menoleh.


"Paman siapa?" tanyanya.

__ADS_1


"Malika...kau berbicara dengan siapa?" tanya teman Malika.


"Dengan paman ini," kata Malika menunjuk Dion.


Teman-temannya heran. Sebab mereka tidak bisa melihat Dion. Lalu teman-temannya saling pandang dan membuat bibir bebek. Lalu teman-temannya meninggalkan Malika.


"Sudah kubilang, kalau Malika itu aneh, masa tidak ada siapa-siapa dia bilang 'paman'." kata teman Malika seolah saling berbisik satu sama lain. Padahal suara mereka sangat jelas terdengar.


"Namamu Malika?" tanya Dion.


"Paman kenal aku?" tunjuk Malika pada dirinya.


"Tidak," jawab Dion dengan singkat.


"Kok paman tau namaku?" selidik Malika.


"Itu karena teman-temanmu memanggilmu Malika." tutur Dion. Dia tidak menyangka kalau berbicara dengan anak kecil akan serumit itu.


"Paman papanya Ray ya? tanya Malika penasaran. Sebab wajah Dion dan Ray sangat mirip. Dan Malika belum pernah melihat papa yang merawat Ray dari bayi.


"Itu, yang lagi lihat ke sini." jawab Malika.


Dion melihat anak yang ditunjuk oleh Malika, anak tersebut adalah anak yang ia tegur tadi. Dan ternyata anak itu juga menatap mereka berdua. Dion tersenyum, setelah merasa mendapat perhatian dari Ray. Tapi kemudian Ray beranjak dari kursinya dan pergi.


"Apa dia cemburu?" gumam Dion lalu tertawa kecil.


"Apa iya?" tanya Malika yang mendengar ucapan Dion.


"Mungkin," jawab Dion cengengesan. Ia merasa lucu, anak kecil sudah tau rasa cemburu. Tapi Malika justru terlihat cemas.


"Wah apa mereka pacaran. Dan aku merusak hubungan mereka." batin Dion kemudian dan membelalakkan matanya dan mulutnya pun menganga.


"Gawat!" teriak mereka serentak. Ke duanya saling pandang.


"Paman cepat jelasin ke Ray," kata Malika.

__ADS_1


"Hah, jelasin?"


"Iya...paman harus jelasin kalau aku tidak merebut papanya, papaku masih hidup. Buat apa aku merebut papanya." kata Malika.


Ucapan Malika terasa janggal di telinga Dion. Tapi ia sadar kalau pemikirannya dan pemikiran anak itu berbeda.


"Hei nak, kau tidak perlu kuatir, aku bukan papanya. Apa dia pacarmu?"


"Ishhh paman, anak kecil tidak boleh pacaran. Nanti tidak boleh ke kebun binatang." ujar Malika mencontoh ucapan mamanya, saat ia bertanya arti pacaran pada mamanya.


"Hahahaha..." sontak Dion tertawa kencang.


Suara tawanya kemudian dilanjutkan dengan suara lonceng masuk ke dalam kelas.


"Dah, paman...aku masuk dulu. Tante itu tidak punya teman. Dari tadi lihat paman terus." ujar Malika dan berlalu meningalkan Dion.


Dion menoleh dan melihat roh wanita yang tetawa ke arahnya. Dalam pikirannya ia sedang menggoda Dion, tapi Dion justru bergidik ngeri. Dan akhirnya rohnya kembali ke raganya.


Kembali ia merasakan sakit yang luar biasa, namun kemudian pingsan. Obat bius sudah menguasai tubuhnya, setelah dosisnya ditambahkan.


Arwah wanita yang melihat Dion di Taman Kanak-Kanak mengikutinya. Dan sampailah ia di ruan operasi tempat raga Dion berbaring. Ia yang melihat hal itu menjadi kasihan. Tapi kemudian ia menjadi kesal saat mendengar pembicaraan orang-orang yang memakai seragam operasi. Ia teringat akan dirinya yang dijadikan bahan mall praktek.


"Mereka harus dihukum, aku akan membalas kalian...!" teriaknya sekuat mungkin.


Namun teriakannya tidak terdengar oleh orang-orang yang ada di situ. Ia menjadi kesal karena tidak dapat menyentuh orang-orang yang memakai seragam operasi. Akhirnya ia hanya diam saja. Dan mematung menyaksikan orang-orang itu memperlakukan tubuh Dion dengan semena-mena.


Ia kemudian tidak tahan melihat hal tersebut dan pergi. Karena ia merasa tidak ada gunanya ia berada di situ. Ia pun pergi dari tempat itu dan kembali ke Taman Kanak-Kanak. Tempat yang membuatnya tidak ingin meninggalkan dunia ini. Tempat putranya bersekolah. Tapi sayangnya putranya tidak bisa melihatnya. Dan jika putranya telah pulang sekolah, maka ia hanya akan duduk diam dia atas salah satu ayunan. Dan menunggu pagi hari tiba, untuk melihat putranya lagi.


Sementara itu di rumah peninggalan kakek Dion. Seorang wanita berhasil menemukan ruang rahasia yang ada di rumah Dion. Dia adalah pembeli rumah peninggalan kakek Dion. Dia terkejut sekaligus kagum dan saat melihat isinya ia semakin tercegang.


Ada sebuah peti di ruangan itu menarik perhatiannya. Lalu ia melihat sebuah tulisan kuno terukir di situ. Dia mengambil ponselnya lalu mengirim gambar tulisan tersebut pada salah satu kontak di ponselnya. Tapi anehnya, saat dikirim tulisan di peti itu tidak terlihat dalam gambar. Berulang kali ia melakukanya, namun berulang kali pula hal yang sama terjadi.


"Ben datanglah kemari. Ada hal menarik di sini." ujarnya.


Lalu ia meraba tulisan-tulisan tersebut dan mencoba menerjemahkannya. Tapi ia tetap saja tidak tau artinya. Rasa penasarannya membuat ia tidak sabar menanti kedatangan Ben.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2