Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
10


__ADS_3

Perjalanan karir Rendra memang mulus menurut orang yang melihatnya setelah dia sukses, sedangkan dalam proses menjadi sukses itu harus dengan ujian yang harus di hadapi tidak dengan instant seperti yang di rasakan oleh seorang Rendra, ada sosok yang membuatnya semangat "pemilik mata indah itu " yang membuatnya ingin selalu berhasil sehingga menjadi sosok seperti sekarang ini orang mengenalnya.


Rendra di mata rekan dinas dan timnya orang yang serius, smart, cuek, religius, dan sedikit tertutup untuk hal yang bersifat privasi juga hangat tapi hanya kepada orang terdekatnya saja.


Saat libur dari perjalanan dinas atau dinas di kesatuannya Rendra lebih memilih diam di rumah dinasnya saja atau ke rumah Ayudias Putri Wijaya (kakak perempuan Rendra yang seorang dokter anak) yang sudah menikah dengan Rudi Bagaskara (dokter bedah) dan sudah memiliki anak laki-laki (Indra Pramudya Bagaskara), yang tinggal satu kota dengan tempat Rendra sekarang bertugas.


Diluar kedinasan Rendra dan teman satu timnya seperti keluarga yang satu sama lainnya sudah tahu belangnya masing-masing sebab mereka kenal dari awal masuk seleksi militer, dan Rendra yang seorang Kapten tapi paling di bully saat kumpul-kumpul bersama tapi tidak jadi masalah buat seorang Rendra.


Rumah dinas Rendra


Rendra keluar dari dalam rumah dinasnya untuk mencari makan malam, dengan terkejut luar rumah dinasnya sudah ada teman-temannya hanya duduk-duduk saja tampa obrolan.


"Allah...akbar, ngapain...diam-diam bae" Rendra dengan terkejutnya saat pintu dibuka oleh Rendra.


Padahal sebelumnya mereka bilang mau wakuncar (waktu kunjung pacar ), tapi melihat raut muka mereka seperti kecewa.


"Ga...jadi perginya " Rendra dengan polosnya bertanya tanpa ada niat lainnya.


"Ngeledek ...nih ceritanya" Ifan dengan menunjukan muka betenya.


"jangan...mulai" Farel juga dengan muka ga beda sama Ifan .


"Ya...udah...aku pergi deh" Rendra dengan santai melangkah ke luar dari rumah dinas dengan santai menunjukan rasa tidak bersalahnya.


"kok...pergi,bukannya kita tamu" Panji yang keluar jailnya ingin menjailin Rendra.


"Aku,lapar..mau cari makan" Rendra dengan mengusap perutnya yang minta di isi tanda lapar.


"Oh...kenapa ga persen aja..Kapt " Alfa dengan santai ikutan ngomong.


"Sekalian cuci mata...bisa kali" Rendra mengoda keempatnya yang masih duduk belum beranjak dari tempatnya sekarang.


Tanpa Rendra sadari keempatnya kompak menghajar tubuh Rendra yang sengaja mengoda mereka yang batal wakuncar .


"Maaf..." itu yang hanya terucap dari mulut seorang Rendra.

__ADS_1


Rencana makan malam jadi tapi di pinggir jalan utama kota yang ramai di malam hari dengan lalu lalang penikmat kuliner malam, saat ini yang jadi pilihan warung tenda yang banyak memberikan banyak pilihan menu makanan, tapi soal rasa jangan ditanya citra rasa restoran begitu juga dengan harga sesuai kantong kalangan menengah, jangan menilai dahulu sebelum menikmatinya.


Tapi untuk seorang bujangan seperti Rendra dan kawan satu timnya terkadang rasa bukan hal yang penting yang terpenting perut terisi, sebab tahu sendiri mereka terkadang harus menahan lapar saat ada di medan misi.


Cuma terkadang aneh saja menurut orang tuanya Rendra yang terlahir dari keluarga yang cenderung menikmati makanan dengan pertimbangan estetika plus nilai gizi juga kebersihan menjadi faktor utamanya.


Tapi perubahan drastis terjadi pada anaknya yang apa saja dia mau dan tanpa bertanya terlebih dulu enak atau tidak apalagi makanan favoritnya atau bukan yang disajikan masa itu sudah dia lewati, Rendra yang sekarang tanpa penolakkan yang di tunjukkan ke orang tuanya Rendra yang menikmati menu apa saja masuk tanpa memprotesnya.


Rencana cuci mata itu bener cuci mata sambil menikmati makanan yang sudah di suguhkan, Rendra dan kawan-kawanya disuguhkan musik yang diperdengarkan oleh pengamen jalanan yang cukup dapat menghibur dengan suara yang enak terdengar dan lagu yang di bawakan sesuai suasananya, ada juga hiburan waria (wanita setengah pria) menghibur kami dengan caranya dia tentunya.


Waria itu menghibur kami dengan lagu yang tidak jelas kemana arahnya, musik yang di pukul tidak seirama dengan lagunya apalagi ditambah goyangan yang menurutnya mengoda tapi sayang kita tidak tergoda tapi satu yang jelas kita semua terhibur dengan hiburannya.


"Ya...jelas kita terhibur" ucap Rendra tanda menang malam ini ga sendiri ada yang menemani malam liburnya.


"Belum...puas.." Ifan santai dengan menunjukkan kepalan tangannya kepada Rendra


"Sorry...masih belum terhibur " Rendra masih ingin mengoda semuanya dengan tawa kecil yang jarang ditampakannya.


"Mau ga aku pesenin mba yang tadi biar fress" ucap Rendra sudah siap ambil langkah menghindar dari keroyokan mereka.


"Awas...ya..pembalasan...gue..Kapt" sekarang Alfa yang jawab dengan siap ambil ancang -ancang.


Sepanjang perjalan pulang ke rumah dinas ada saja yang di jadikan pembahasan dari yang konyol sampe yang serius mereka lakukan tanpa merasa lelah.


"Boleh...nginep sini,Kapt" Panji yang malas untuk pulang ke rumah dinasnya meminta persetujuan Rendra.


"Terserah...tapi aku ga mau kalau nanti ada istri kalian nginep sini" Rendra buka suara tanpa mikir akibatnya apa, sebab yang mereka tahu kaptennya tidak pernah bicara soal gadis pujaan selama ini, ini langsung bicara istri tanda apa sinyal buat mereka yang baru pertama mendengarnya.


"Istri.....!" keempatnya kompak.


"Up...." Rendra menutup mulutnya dengan tanganya tanpa dipikirkan dulu.


"Cius...mie apa...istri " Alfa ngomong dengan longat bicara anak kecil yang baru belajar ngomong.


"Kenalin...dong,kapt " Ifan merajuk dengan gaya polos memohon.

__ADS_1


"Gadis...mana?" Panji ikut penasaran dengan peryataan dari seorang Rendra.


"Cantik...ga?" Farel yang terkenal play boy ikutan ngomong.


"Semua gadis pasti cantik...lah" Alfa dengan suara tegasnya.


"Apaan...sih kalian kepo deh" Rendra terjebak dengan omongannya sendiri dengan malu.


Mereka masih menunggu jawaban dan penjelasan dari Rendra yang dia sendiri belum bisa menjelaskannya bagaimana harus menjawabnya dalam keadaan masih bingung Rendra terjebak apa yang harus dia jelaskan ke kawan satu timnya.


"Do'akan...aja, tiba waktunya akan aku kenalkan kepada kalian" Rendra dengan santai menjelaskan.


"Ga...asyik...deh" Alfa memonyongkan bibirnya seperti mulut bebek tanda kecewa.


"Kita bantu...Kapt" Panji seakan tahu apa masalah yang di hadapi Kaptennya.


"Terimakasih..saat ini aku cuma butuh do'anya saja" Rendra menyakinkan mereka supaya percaya bahwa dia baik-baik saja.


"Gimana dengan kalian...mana pasangan kalian" Rendra berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Susah cari yang setia..." ucap Panji dengan lemas merebahkan tubuhnya.


"Rata-rata made in jepang" ujar Alfa si bocil ikutan ngomong.


"Apaan itu..." Rendra yang kurang gaul soal pacaran.


"Ituloh...Kapt...harus bawa mobil setidaknya motor tapi yang sports gitu" Panji yang benar putus dengan pacarnya.


"Hmmmm gitu ya..." jawab Rendra yang menurut lucu ya..orang pacaran.


"Kapt sendiri seperti apa gadisnya " ucap Ifan masih dengan pemasarannya.


"Dia biasa aja...intinya do'akan saja..ok" Rendra masih belum bisa bicara banyak soal gadisnya.


"Siap...jangan sungkan kalau butuh kita" Farel memberikan semangat Kaptennya yang akan mengeluarkan jurus play boynya.

__ADS_1


"Terimakasih...dukungannya untukku " ucap Rendra dengan senyum datarnya terlihat santai.


Akhirnya malam minggu ini tidak kelabu lagi berkat Rendra, dari ucapanya yang tidak disadarinya menjadi pembahasan yang panjang tidak terasa hingga tengah malam, begitulah Rendra yang tidak pernah sadar kalau dirinya jadi korban bullyan teman satu timnya, membuat bahagia orang lain bagi Rendra itu sangat menyenangkan baginya, biarlah mereka menikmati waktu kebersamaan ini sebab saat bekerja hanya keseriusan dan ketegangan yang mereka tampakan, kesenangan itu hanya bisa di nikmati saat mereka tidak lagi dalam misi.


__ADS_2