Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
206


__ADS_3

..."Dalam kehidupan ini kita tidak selamanya senang tapi akan ada kesedihan menyertai kita sebagai bukti bahwa tidak akan ada yang abadi di dunia ini, kita akan kembali kepada pemilik hidup yang sebenarnya " Rendra....


Baru saja beberapa bulan Candy mendapatkan kabar bahagia dari kehamilan Nasyauqi, kini ada kabar duka menyelimuti kelurga besar Candy atas sepulangnya ayah tercinta yang membuat Candy terpukul.


Candy masih memandang jasad ayahnya yang sudah tertutup kain kafan dengan wajah yang terlihat tersenyum walaupun dengan mata yang sudah tertutup rapat.


Candy merasa sangat kehilangan sebab sudah tiga hari dirinya menemani ayahnya yang mengeluh tidak sehat dan ingin Candy di dekatnya, memang ayah tidak sakit parah hanya sakit yang wajar di usianya yang semakin bertambah.


Beberapa hari yang lalu ayah meminta anak dan menantunya berkumpul di rumah beliau termasuk cucu dan cicit beliau, berawal dari mas Iqbal dan istri yang di minta masuk kamar ayah bergantian dengan cucu juga cicit dari generasi mas Iqbal, di lanjutkan dengan mas Dimas juga disusul dengan anak mas Dimas juga menantu juga cucu mas Dimas.


Begitu juga dengan Candy dengan Rendra yang sangat lama masih berada di dalam kamar ayah, ternyata ayah banyak bicara saat ini yang tidak seperti biasanya.


"Nak..Rendra boleh..ayah meminta.." pinta ayah dengan kondisi masih terbaring lemah.


"Apa pun..ayah Rendra akan penuhi.." jawab Rendra yang serius tapi berbeda dengan Candy yang terlihat banyak menangis sebab menurutnya ini bukan seperti biasanya ayah bersikap seperti saat ini.


"Tetap..lah jaga dan sayangi putri ayah..hanya itu pinta ayah.." ayah dengan tangan menggenggam tangan Rendra sangat erat.


"Pasti ayah..dengan sepenuh jiwa dan raga.." balas Rendra dengan tersenyum.


"Dia..tidak mengenal laki-laki sebaik ayah dan kedua masnya...karena itu berjanjilah..untuk tetap disampingnya baik dalam keadaan apa pun.." pinta ayah lagi dengan mata yang terlihat berkaca-kaca dengan menatap Candy yang di maksud oleh ayahnya.


"Janji ayah..Rendra akan tetap disamping honey.." dengan satu tangan Rendra memeluk Candy sebab tangan yang satunya masih di genggaman ayah Candy.


"Cantik..tetap..lah jadi istri yang baik..seperti apa yang ayah pesan padamu..ayah akan marah bila cantik melakukan hal ya g tidak terpuji dengan membuat suami dan keluarganya dipermalukan dengan sikap tidak terpuji cantik.." pinta ayah dengan tersenyum.


"Ayah...." Candy memeluk tubuh lemah ayahnya yang terbaring lemah.


"Ayah..tidak apa-apa.." ayah mengusap punggung Candy dengan menenangkan Candy yang terus menangis.

__ADS_1


Sebenarnya Candy tahu kondisi ayahnya yang semakin lemah begitu pun dengan Rendra yang seakan tahu beliau tidak akan lama lagi berpulang sebab sedikit banyak ucapan dari beliau berisikan wasiat.


Candy enggan jauh dari sisi ayah tercintanya hingga dia memutuskan untuk menginap dikediaman ayahnya, Rendra mengerti hal itu dan tidak jadi masalah buat Rendra begitu pun dengan papa mama Rendra yang tahu bagaimana kedekatan Candy dengan ayahnya, sepeninggal ibundanya.


Ayah adalah segalanya bagi Candy sebelum kehadiran Rendra yang saat ini sudah memberikan dua buah hati dan akan memiliki dua cucu kembar dari Nasyauqi dengan Andika.


Ayah tidak hanya sebagai ayah tapi juga sebagai ibu dari Candy, dia mengajari bagaimana mengenal lelaki yang baik sesuai ajaran agama dan bagaimana menjadi seorang istri dan menantu yang baik.


Anak-anak dari Candy juga menjenguk ayah dari mamanya, menurut Nasyauqi mamanya adalah orang yang paling kuat tapi untuk saat ini tidak beliau nampak bersedih dan tidak bersemangat hingga beliau terlihat tidak merawat dirinya sendiri.


Begitu juga Azlan yang menyempatkan diri datang ke rumah kakeknya untuk melihat kondisinya, kakeknya banyak memberikan nasehat agar bisa menjaga nama baik keluarga juga menjadi orang yang bertanggungjawab dalam segala hal.


Andika sendiri hanya dititipin pesan agar bisa menjaga Nasyauqi dan menyayanginya dengan segenap jiwanya apalagi dalam posisi hamil saat ini.


Wajah ayu Candy terlihat murung yang tidak mau jauh dari jasad ayahnya, Rendra sendiri sibuk menyiapkan proses untuk pemakaman bersama mas Dimas, sedangkan mas Iqbal menyiapkan proses sholat jenazah tepatnya di masjid yang tidak jauh dari rumah yang terlihat pelayat yang memenuhi rumah milik ayah hingga keluar halaman.


Ayah Candy dikenal tetangga sekitar rumahnya orang yang baik walaupun tidak banyak bicara, di kalangan rekan dinas kerjanya pun dia kenal orang yang penuh loyalitas dalam bekerja dan pertemanan, beliau orang yang peduli sesama baik tua ataupun muda.


"Cantik...tidak malu sama ayam..lihat ayam saja sudah bangun..tapi cantiknya ayah masih berselimut..." itu candaan ayah yang masih Candy ingat.


Atau godaan ayah bila Candy enggan bangun pagi yang masuk ke kamar dengan membawa secangkir susu hangat.


"Oh..matahari hari ini..juga malas ya..sebab..tuan putri ayah masih sembunyi di balik selimut.." dengan membuka selimut yang menutupi tubuh mungil Candy kalah itu.


Rengekan Candy bila di goda mas Dimas dan ayah akan memanggil mas Dimas dengan suara sedikit melindungi Candy, agar mas Dimas menyudahi menggoda Candy kalah itu.


"Mas...kasihan..ade..mu.." Candy tertunduk mengingat momen itu.


"Yah...Can..belum puas rasanya membahagiakan ayah..tapi..ayah.." ucap Candy dalam diamnya hanya air mata yang mengalir tanpa terasa oleh dirinya memandang wajah ayahnya yang seakan tahu dirinya di pandang Candy.

__ADS_1


"Yah..apakah ibu lebih merindukan ayah di banding Can..hingga ayah memilih meninggalkan Can.." pertanyaan konyol dari Candy dalam tangisnya seorang diri.


Kini tiba waktunya ayah harus di sholatkan dan semua anggota keluarga baik anak dan menantu juga cucu dan cucu menantu ikut serta dalam proses sholat jenazah.


Haru biru sangat terasa dalam tiap proses pemberangkatan kepergian ayah, Rendra yang ikut membawa jenazah ayah bersama mas Iqbal juga mas Dimas, tidak ketinggalan Azlan, Indra serta Andika yang membuat kagum orang-orang yang mengenal ayah Candy sebab semua anak menantu juga cucunya tidak mau menyerahkan tanggungjawab mengurus jenazah ayahnya pada orang lain, tidak ketinggalan anak dari mas Iqbal juga mas Dimas mengambil bagian.


"Bersyukurnya..pak Ahmad memiliki mereka.." seru salah satu pelayat dengan kagum melihat bagaimana keluarga menyayangi ayah Candy.


Begitupun saat penurunan jenazahnya, mas Iqbal dan mas Dimas juga Rendra turun di bawa sebagia penerima jenazah sedangkan diatas Andika, Indra juga Azlan serta Habibi anak mas Iqbal.


Terdengar memandang azan dari mas Iqbal yang menahan haru dengan suara sedikit parau, tapi mas Iqbal menguatkan diri untuk yang terakhir kalinya memberikan sesuatu hal yang menjadi kewajibannya sebagai anak tertua dari keluarganya.


Satu persatu pelayat meninggalkan keluarga besar Ahmad Hidayat yang masih mengelilingi kuburannya terdengar isak dari mas Iqbal yang membuat mas Dimas hampir terjatuh kalau saja Indra tidak memeluknya.


"Ya...rabb ku..titipkan ayahku..berikan beliau tempat yang terbaik sebagaimana beliau menjaga kami, sebaik-baiknya menjaga..pertemukan beliau dengan semua kebaikan yang pernah beliau ajarkan pada kami..jangan biarkan beliau dalam kesempitan di dalam kuburnya..karena beliau sebaik-baiknya orang tua yang kami miliki.." ucap mas Iqbal dalam do'a yang membuat semua tertunduk dalam haru.


Satu persatu anak dan menantu meninggalkan pemakaman hanya Rendra yang masih terdiam bersimpuh di pemakaman yang masih sangat basah dan wangi bunga yang masih bisa tercium.


"Ya...rabb pemilik..sebaik-baiknya pemilik..jauhkan orang tua kami dari siksa kubur dan berikan tempat sebaik-baiknya tempat..karena beliau orang terbaik yang pernah kami miliki.." do'a Rendra dalam kusyuknya.


"Yah..akan aku jaga amanah ayah sebagaimana aku menjaga diriku..sendiri..rabb sudah memberikan putri yang terbaik untuk ayah dan akan ku jaga..sesuai janjiku.." seru Rendra, yang terdengar oleh Andika yang kebetulan menjemput Rendra karena yang lain menunggu untuk pulang bersama.


Dalam diam Andika mengagumi sosok di depannya yang masih bersimpuh, sebegitu tanggungjawabnya seorang Rendra pada mertuanya hingga tubuh yang sudah tertutup tanah pun masih Rendra ucapkan janji Rendra pada jasad yang sudah tidak lagi dapat di lihatnya.


"Pa...yang lain menunggu.." ucap Andika pelan yang membuat Rendra bangun dari tempatnya bersimpuh.


"Ya..ayah..beristirahat dengan tenang..kami akan selalu mendo'a kan mu selalu.." ucap Rendra sebelum melangkah meninggalkan kuburan yang masih basah itu.


Terlihat sisa air mata di sudut mata Rendra yang sempat Andika lihat, terlihat bagaiamana kedekatan ayah dan Rendra itu yang Andika rasakan yang menurutnya status Rendra jauh diatas keluar Candy tapi jauh lebih hormat Rendra pada ayah dari Candy yang sangat sholeha sebagai istri itu yang dapat Andika simpulkan.

__ADS_1


Pantas saja putri sultan julukan untuk Nasyauqi yang Andika berikan seperti itu dia sangat mencontohkan papa dan mamanya yang lebih memilih agama dari pada persoalan dunia, Andika makin terbuka matanya dengan agama kita semua akan bermuara soal dunia akan ikut serta bila kita lebih dulu memikirkan akhirat.


__ADS_2