Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
20


__ADS_3

Waktunya penyergapan


Setelah menyatukan kesepakatan pembagian tugas dengan pihak sektor kepolisian setempat sebagai pihak penanggungjawabnya, penentuan waktunya pun telah disepakati bersama dan berharap tidak ada pihak yang mengetahui dan membocoran informasi ini, karena kasus ini sangat banyak merugikan negara.


Akhirnya waktu eksekusi penyergapan pun di laksana, dari pihak penyelundup banyak di yang bekali senjata api yang hampir sama yang di miliki oleh pihak Rendra serta timnya juga pihak kepolisian yang membuat pihak Rendra dan kepolisian hampir dibikin mundur tapi bukan Rendra dan timnya yang mudah ditaklukkan musuh, strategi dan banyaknya pengalaman di medan, sedikit banyak bisa terbaca oleh tim Rendra, kemana mereka akan meloloskan diri untuk kabur atau melakukan perlawanan dengan kemampuan yang apa adanya dari pihak mereka.


Baku tembak tidak terelakkan dari pihak penyelundup ada beberapa yang tewas dan terluka parah dan yang menjadi gembong nya juga tertangkap dan benar saja ternyata dia warga negara asing yang hanya memanfaatkan warga sipil yang tidak mengerti untuk hal seperti ini, mereka hanya untuk mencari keuntungan semata dan sangat banyak merugikan negara kita dan memanfaatkan warga sipil di sekitar pelabuhan.


Korban dari pihak warga sipil tidak ada, dan dari kepolisian ada korban tapi cuma luka tembak tidak sampai jatuh korban, begitu juga dari pihak tim Rendra, Rendra yang jadi korban luka tembak di pinggangnya, saat salah mendengar instruksi yang diberikan dari panji.


Rendra sudah terlihat bersimbah darah tapi masih bisa santai seperti tidak merasa sakit yang dia rasakan, hanya teman satu timnya sangat khawatir melihat kondisinya yang terlihat parah dari darah yang terus keluar dari lubang yang tertembus peluruh.


Saat ini tempat eksekusi sudah di pasang garis polisi, oleh pihak kepolisian dan barang bukti juga sudah di amankan oleh pihak yang berkewenangan melakukan itu.


Rendra tidak sadarkan diri karena darah yang terus keluar menjadikan rekan satu timnya panik sehingga melarikan Rendra ke Rumah Sakit secepatnya karena butuh penanganan secepatnya dari pendarahan akibat pemutih itu.


Di Rumah Sakit


Di ruang UGD saat ini di bikin kacau dengan ke datang lima pria berseragam khusus dengan senjata masih lengkap di tangan mereka, membuat keluarga pasien saling bertanya ada apa dan apa yang terjadi.


Rendra di naikan ke atas tempat tidur yang di dorong teman satu tim juga perawat untuk di bawa ke ruang operasi, dan kondisi Rendra sendiri masih tidak sadarkan diri karena banyak mengeluarkan darah.


Dua orang dokter berjalan mendekat ke arah Rendra yang akan melakukan tindakan,Teman satu tim Rendra berusaha ingin masuk namun tidak di diperbolehkan karena ini prosedur yang harus di taati hanya yang berkepentingan diperbolehkan ikut masuk.


"Maaf ijinkan kami menjalankan tugas kami"ucap Dokter wanita cantik yang berpostur tubuh mungil dengan mata indah.


Teman satu tim Rendra pun hanya bisa diam pasrah mengikuti perintahnya tanpa protes karena memang bukan kewenangannya.

__ADS_1


Entah beberapa lama proses operasi berlangsung, yang jelas bikin teman satu timnya gelisa dengan keadaan Kaptennya,dan tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang.


"Bro...gimana bisa salah kasih perintah sih..." Farel menyenggol tangan Panji.


"Gue..juga bingung..dia ga denger apa...ga fokus" Panji mikir sambil mengingat - ingat kejadiannya.


"Hus...berisik...do'ain aja dia" Ifan memberikan kode satu jarinya di mulutnya.


Pintu ruangan operasi terbuka dua orang Dokter keluar, teman satu tim Rendra menghampiri keduanya dengan banyak pertanyaan yang akan ditanyakannya.


"Gimana Dok,teman kami"ucap Panji meminta penjelasan sebab dia merasa bersalah sama Rendra yang terkena peluru.


"Alhamdulillah,kondisinya baik tidak sampai kena ginjalnya hanya tergores sedikit" Dokter Candy menjelaskan kondisi pasien sesuai keadaannya.


"Sebentar lagi juga sudah siuman dan akan di pindah ke ruang rawat " ucap Doktet Rahman (rekan Candy) ikut menjelaskan.


"Boleh kami lihat,Dok..." Ifan sudah tidak sabar ingin melihat kondisinya Rendra.


Candy dan Rahman melangkah meninggalkan mereka berempat yang masih menunggu dengan sabar di depan pintu tanpa protes.


"Busyet...itu Doktet bikin gue...ga kedip "Farel masih membayangkan Dokter Candy yang imut dengan mata indah yang di miliki Candy.


"Dasar...buaya kaga dikondisiin tuh mata" ujar Alfa yang masih bolak -balik ga jelas sebab belum melihat kondisi Rendra.


"Mubajir....kali,kapan lagi liat yang bening " Farel membelah diri memang play boy.


"Ya...tapi ga tepat waktunya kali..."panji sewot dengan mulut manyun.

__ADS_1


"Ga... boleh liat jidat licin loe mah..."Alfa ikutan komentar.


"Liat monyet pake rok terus di dandani juga mata sampe mau copot...loe mah" Panji masih dengan sewotnya.


"Sabar...Bro...nanti juga ada ada waktunya "Ifan menenangkan suasana.


Tidak beberapa lama Rendra yang masih terbaring dan belum sadarkan diri di pindahkan ke ruangan perawatan setelah beberapa perawat memindahkannya.


Dan keempat rekannya pun mengikuti dari belakang, setelah di dalam kamar perawatan perawat pun meniggalkan Rendra dan timnya yang masih melihat Rendra yang masih dalam alam bawa sadar nya seakan tidur pulas ingin menghilangkan lelah hatinya yang sangat berat untuk di tanggungnya untuk sementara.


"Bro...bangun...kami udah cape nih nungguin loe" Panji mengoda Rendra yang belum sadar dengan tangan yang masih menempel jarum infus.


"Kita sepi tahu bro...ga asyik tahu.."Alfa masih berdiri disamping tempat tidur Rendra yang masih dengan mata seperti orang tidur pulas.


"Bro...kita pulang yuk...ga enak disini" ucap Farel usil dengan menepuk tangan Rendra.


"Berisik...biar apa dia istirahat " ucap Ifan ke rekan nya yang dari tadi ngomong terus.


Akhirnya mereka hanya diam duduk di sopa yang disediakan pihak Rumah Sakit yang ada di dalam ruangan itu, hanya benda pipi yang mereka mainkan mengusir kesepian untuk mengusir sepi diantara mereka.


Alfa melangkah mendekati Rendra yang masih dengan tidur puasnya yang tidak terganggu suara rekannya juga suara TV yang menyala yang di sediakan pihak Rumah Sakit.


"Kapt...jangan bikin kita khawatir apa" ucap Alfa seakan ada kesedihan yang ia rasakan.


"Kami tunggu Kapt bangun ko" ucap Alfa lagi masih dengan omongannya sendiri.


"Ya...kita udah lapar nih" ucap Alfa lagi yang bisanya dibawa makanan oleh Rendra.

__ADS_1


"Kebiasaan loe mah...ujung-ujungnya makan" ucap Panji menjitak kepala Alfa dan yang di kotak nyengir sakit.


Yang lain tertawa melihat Alfa dapat jitakan dari Panji yang tahu Alfa doyan makan dan paling polos dengan apa yang mau di omong ya ngomong saja tidak bisa ditahan, dayang Rendra tidak tahu ini kalau saja tahu pasti dia juga akan tertawa melihat ini.


__ADS_2