
..."Jangan berharap pada manusia yang akan membuatmu kecewa berhadapan pada pemilik hidup walaupun diawal kita merasa kecewa tapi disaat yang menjadikan kecewa itu rasa syukur " Rendra....
Azlan yang sudah menempati tugas dan mengambil study lanjutan disela dinasnya, hari ini berkunjung ke rumah dikarenakan libur begitupun dengan Andika dan Nasyauqi yang sudah lebih dulu ada di kediaman kakeknya sejak semalam.
"Pa..pa..pa.." teriak Azlan memanggil Rendra yang terlihat sangat penting dan serius.
"Sayang..papa ada di ruang kerja.." ujar Candy yang menjelaskan keberadaan Rendra.
Azlan memberikan salam dan mencium mamanya dan meninggalkannya menuju ruang kerja Rendra tanpa salam Azlan langsung masuk dan menutup pintu ruang kerja papanya.
"Pa..ade tahu..siapa yang mencelakakan mba.." ucapnya tanpa basa basi lebih dulu.
Rendra langsung menutup mulut Azlan agar mengecilkan suaranya dan mengajak Azlan duduk di dekatnya.
"Papa..takut..ade..ga.." ujar Azlan sedikit memelankan suaranya.
"Ade..papa ga takut siapapun selama dalam koridor kebenaran tapi ini lain.." ucap Rendra yang akan menjelaskan kenapa selama ini Rendra diam seperti yang Azlan katakan.
"Tapi pa..sama saja membiarkan orang tersebut melakukan kejahatannya.." terang Azlan masih dengan sedikit emosi, Rendra masih memaklumi sebab Azlan dalam jiwa muda, mungkin kalau Rendra seumuran Azlan akan melakukan hal yang sama tapi Rendra sudah beberapa kali harus merasakan kehilangan orang tercintanya.
"Ade..dengarkan penjelasan papa..ade usia ade terlalu muda untuk mengerti saat kehilangan yang papa rasakan jadi ade belum merasakan rasa kehilangan itu..tapi kalau papa sudah beberapa kali harus kehilangan mama dan harus kehilangan mba..tidak..ade, papa tidak ingin kehilangan lagi..mba sudah berada di sisi kita hingga hari ini merupakan bonus buat papa..jadi ade,papa ga mau harus kembali kehilangan..orang-orang yang papa cintai lagi..kehilangan itu menyakitkan ade.." Rendra sudah berlinangan air mata.
"Jadi..ade kita jaga orang tercinta kita..soal itu biar Allah lewat tangan malaikatnya yang akan menjalankan sebab semua yang kita tanam itu yang akan kita tuai.." Rendra sudah mulai sedikit tenang.
"Maaf..kan ade papa..ade hanya terlalu emosi..sebab apa salah mba.." Azlan memeluk Rendra dan Rendra membalas pelukan Azlan.
Rendra ingin Azlan belajar dari hal yang kecil tentang sabar dan menjaga apa yang jadi milik kita sebelum merasakan rasanya kehilangan itu seperti apa.
Keduanya masih asyik berbincang hingga ketukan pintu membuat keduanya menyudahi bincang serius diantara keduanya.
"Ya..masuk.." seru Rendra yang sepertinya tahu bukan dari anggota keluarganya.
"Siap..let.." ucapnya dengan tegas ajudan Rendra dan dipersilahkan duduk.
"Besok kita jadi..Istrimu mau ikut.." tanya Rendra yang sudah sedikit santai.
"Ga..si kecil ada lomba di sekolahnya.." ujarnya menjelaskan.
"Apa..kabar..om.." tanya Azlan pada ajudan Rendra yang sangat setia.
"Baik..mas Azlan libur.." balasnya pada Azlan yang duduk tidak jauh dari papanya yang sudah pindah.
__ADS_1
"Iya..om..kangen pengen kumpul aja.." Azlan menjelaskan.
"Ade..besok masih libur.." tanya papanya dengan serius.
"Iya..pa..ada apa gitu.." balas bertanya pada Rendra penasaran.
"Kita semua mau ke pondok pesantren ade mau ikut.." tanya Rendra menunggu Azlan menjawab sebab dia seperti berpikir.
"Ikut pa..dari pada libur hanya tidur.." dengan tersenyum Azlan menjawab.
Di tempat lain tepatnya di taman milik nenek Nasyauqi Andika membantu asisten merawat dan menanam beberapa bunga baru yang baru saja di beli nenek Nasyauqi.
"Mas..sudah biar saya saja..biar mas istirahat saja.." pinta asisten dengan ramah.
"Biar..pak cape duduk-duduk terus saya sudah terbiasa di ladang.." Andika menjelaskan dengan sopan Andika tidak mau dipanggil den oleh asisten nenek Nasyauqi dia lebih nyaman dipanggil mas oleh semua asisten rumah kakek Nasyauqi.
Keduanya saling bertukar cerita dari hal yang sepele sampai hal yang kecil banyak yang Andika ambil dari cerita asisten rumah kakek Nasyauqi ternyata dirumah ini asisten diperlukan seperti keluarga, keperluan keluarganya dipenuhi dari anak-anaknya bersekolah hingga berobat ke dokter bila sakit dan kebutuhan hidup seperti makanan juga tidak boleh sampai kekurangan.
Andika di buat kagum dengan keluarga besar Nasyauqi yang bukan hanya baik tapi juga dermawan pantas saja anak sultan ini tidak mau diperlukan seperti berlebihan dia terbiasa dengan hal yang kecil harus melakukan sendiri terkecuali dia sendiri tidak mampu dan soal makanan lebih memenuhi standar kesehatan saja soal harga dia tidak mempertimbangkan mau murah kalau enak dan sehat kenapa tidak.
Setelah selesai Andika yang kebetulan akan masuk bertemu ajudan Rendra yang akan pulang, dan dengan sopan Andika menyalaminya.
"Sehat..om.." sapa Andika mengikuti Nasyauqi memanggil ajudan Rendra.
"Insyaallah..om..mau kemana om.."tanya Andika pada ajudan yang sudah akan meninggalkan rumah Rendra.
"Pulang dulu..mas biar pagi-pagi tidak terburu-buru..mari mas.." ajudan Rendra menjelaskan dan meninggalkan Andika.
Keluarga Rendra memang ada rencana akan berkunjung ke pondok pesantren untuk silaturahmi sekalian refresing penat dengan rutinitas hari-hari yang cukup menyita waktu dan pikiran, hingga butuh menyegaran diri agar pikiran kembali fres.
Nasyauqi yang sibuk di dapur menyiapkan kue-kue yang akan dibawanya untuk anak-anak pondok pesantren yang menurutnya akan senang sebab kue-kue dihias sedemikian memikat.
Nasyauqi tidak sendiri dalam membuat kue-kue dia dibantu beberapa asisten rumah neneknya juga mamanya yang sangat pandai membuat kue-kue lucu yang diminati anak-anak.
Wangi aroma kue yang enak membuat Rendra ingin mencicipnya apalagi dilihat dari bentuknya sangat menggoda ingin segera di nikmati dan bentuknya yang unik dengan beberapa pilihan rasa.
__ADS_1
Rendra dibuat kagum pada putri cantiknya yang pandai dalam membuat kue-kue cantik kekinian pantas tokonya sangat di minati terutama untuk kepentingan rapat dan acara-acara khusus baik santai maupun resmi.
Entah apa lagi yang saat ini dia buat yang jelas menurutnya yang satu ini terkhusus untuk mertua tercintanya kue yang tidak terlalu manis tapi sangat enak di nikmati kapan pun sebagai teman minum teh atau kopi.
Andika sendiri melarangnya membawakan kue-kue yang membuat Nasyauqi lelah baginya dia ingin orang tercintanya sehat dan tidak merasakan lelah dalam beraktivitas yang terlalu berlebihan.
"Ruuhi..sebanyak ini.." tanya Andika merasa sangat khawatir Nasyauqi cape.
"He...he..iya.." ujar Nasyauqi dengan memeluk satu tangan Andika manja.
Andika memandang dengan serius yang dipandang merasa bersalah dan salah tingkah dengan manja Nasyauqi berucap.
"Di bantu..kok..ga sendiri.." dengan manja Nasyauqi berucap pada Andika.
"Tanya..mama sama ibu..." ucap Nasyauqi masih dengan manja.
"Bohong..mas..ga dibantuin..mba sendiri yang bikin.." goda Azlan dengan usil yang meninggalkan keduanya.
"Ade..papa..ade pa.." teriak Nasyauqi yang membuat Andika menutup mulut Nasyauqi agar tidak berteriak memanggil papanya.
"Ade..mas.." rengeknya dengan mata berkaca-kaca takut Andika marah padanya yang tidak boleh terlalu cape.
Andika memeluknya dan berbisik "mas percaya kok..lain kali bilang mas ya..biar mas bantu..ya.." yang membuat Nasyauqi makin memeluk Andika seperti merasa bersalah.
"Sudah..nanti dikira papa mas..yang marah sama ruuhi.." Andika mengusap kepala Nasyauqi dan menciumnya tanpa henti, yang tanpa keduanya tahu Rendra memperhatikan dan dalam benak Rendra berkata "terimakasih sudah menjaga putri manja ku.." dan meninggalkan keduanya tanpa keduanya tahu telah di perhatikan oleh Rendra yang bersyukur dengan kehadiran Andika disisi putrinya.
"Mas.." ucap Nasyauqi manja yang sepertinya meminta sesuatu.
"Ya..ruuhi..laper..ya.." Andika tahu sebab Nasyauqi pasti lupa makan kalau sudah membuat kue.
"Tunggu..di sini.." pinta Andika yang menuju meja makan dengan mengambil nasi beserta lauk pauknya juga satu gelas air minum.
Andika menyuapinya dengan telaten Nasyauqi sendiri memainkan satu tangan Andika, Candy yang kebetulan masuk ke dapur hanya tertunduk malu melihat keduanya memang seperti itulah Candy.
"Makan..ma.." Andika menawarkan makan pada mama mertuanya dengan sopan.
"Iya..mas..terimakasih..lanjutkan saja..mama hanya mengambil minum.." ujar Candy dengan bergegas keluar dari dapur.
Candy merasa sangat bersyukur Andika sangat menyayanginya putrinya yang sangat dia disayangi, perlakuan Andika begitu tulus pada putrinya terlihat begitu sabar Andika menyuapi Nasyauqi yang seharusnya dia yang mengurus suaminya.
__ADS_1
Tapi dimata Candy sepertinya Andika tidak merasa terbebani jadi mau dikata apa mungkin ini cara mereka agar selalu merasa dekat dan selalu bersama.