Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
216


__ADS_3

..."Untuk menikah kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik kenapa? karena menikah adalan ibadah terpanjang yang harus terus dijalani dengan segala bentuknya mau baik buruknya sepanjang kita masih dalam ikatan pernikahan itu" Rendra....


Azlan tidak mau berlama-lama untuk urusan yang satu ini dalam satu bulan semuanya harus terlaksana Rendra mendukung rencana putranya, seminggu setelah lamaran Azlan di bantu mas Andika menyiapkan semua proses pernikahan yang melibatkan WO milik Rendra selaku papanya.


Eyang di buat tercengang sebab Azlan ternyata buka lelaki biasa dia memiliki keluarga yang cukup berada tapi sikap bersahaja yang Azlan selalu dia tunjukkan ini nilai plus dari seorang Azlan di mata eyang yang berarti beliau tidak salah dalam memilih Azlan untuk imam Allea.


Tapi tidak untuk Allea dia tetap dengan kata hatinya yang masih dengan gunung esnya yang belum bisa menerima seorang pun untuk masuk kedalam relung hatinya.


Seperti saat ini pihak WO datang membawakan dua gaun untuk acara akad nikah dan resepsi pedang pora untuk dikenakan Allea.


"Mongo mba.. nanti saya panggilkan.." mbok menjelaskan pada pihak WO.


"Genduk..ono tamu.." mbok menjelaskan pada Allea yang saat ini duduk di ruang tengah.


"Matur nuwun mbok.." balas Allea yang berniat menemuinya tamunya.


Pihak WO menjelaskan kedatangannya untuk memberikan gaun pengantin dan berniat untuk mengepasnya juga, Allea memberikan kesan ramah sebab Azlan menjelaskan pernikahan ini melibatkan pihak WO milik keluarga mohon bersifat seramah mungkin hanya itu permintaan Azlan.


Pihak WO dibuat kagum dengan sikap Allea yang ramah, mereka berpikir pantas kalau dia akan jadi bagian dari keluarga Rendra yang sangat baik pada semua pegawainya.


Kepergian pihak WO membuat Allea memandangi dua gaun yang tergantung rapi seperti tidak percaya dirinya akan kembali merasakan prosesi yang dulu akan dilaluinya tapi semua harus hancur berantakan karena pembatalan sepihak.


Tanpa sadar air mata sudah meluncur bebas di kedua pipinya tanpa permisi, hanya terlintas senyum kedua orang yang sangat di rindukannya selama ini yang semakin membuat Allea histeris memanggil nama keduanya dalam tangisnya seorang diri di dalam kamarnya.


Mbok yang tahu cucu kesayangan eyang menangis dalam kamarnya tidak tinggal diam dia menghampiri dan memenangkannya tapi apa yang didapat Allea makin dalam tangisnya.


Di usapnya punggung Allea yang sudah dalam pelukan mbok yang sepertinya dia banyak menasehati Allea agar bisa menerima perjodohan ini agar eyang bisa tenang di masa tuanya.


Allea merenungkan tiap ucapan mbok yang menurutnya siapa lagi yang akan membuat eyangnya senang dimasa tuanya kalau bukan dirinya, dan esok adalah hari dimana dirinya akan menyandang nama istri dari seorang lelaki yang bernama Azlan yang baru di kenalnya hanya hitungan hari.


Malam ini Allea tidak bisa bisa tidur pulas selepas pengajian untuk mengawali prosesi pernikahan yang diadakan dikediaman eyang yang dihadiri keluar dekat saja.


Allea memilih sholat malam untuk mengusir resah hatinya dalam sujud Allea meminta do'a berharap tenangkan hatinya, hingga menjelang subuh dia bersimpuh dalam kepasrahan pada pemilik hidup.


Tanpa terasa pihak WO sudah berada di kediaman eyang dan meminta Allea bersiap untuk acara akad nikah yang dilaksanakan jam delapan pagi sesuai permintaan Azlan.


Pihak WO membawa MUA yang akan mendandani Allea, pihak MUA tahu Allea kurang tidur semalam dan meminta mbok membawakan es batu untuk mengompres mata Allea dan menggodanya.


"Tenang mba..mas Azlan ga akan lari ko..semalam kurang tidur ya.." godanya pada Allea, hanya senyum yang Allea tunjukkan tanpa berkata sepatah kata pun.


Dan tidak butuh waktu lama Allea sudah terlihat cantik walaupun hanya pulasan tipis yang pihak MUA berikan sesuai permintaan mas Azlan.


Di depan cermin besar yang ada di kamar miliknya Allea memandang dirinya, tidak ada aura senang dari dirinya layaknya seorang yang akan meninggalkan masa lajangnya hanya kesedihan yang terlihat dari wajah ayu yang dilihat olehnya.

__ADS_1


Kini dirinya sudah berada di tempat dimana dirinya akan di nikahkan oleh kakaknya sebagai wali nikahnya, kakaknya tahu betul adik kesayangannya masih belum sembuh dari luka yang dalam tapi apa daya menikah bukan untuk main-main dan kakaknya berharap Azlan suami pilihan yang terbaik eyangnya.


Dalam pelukan kakaknya Allea menangis pilu, begitupun kakaknya tidak dapat menahan tangisnya mengingat masa-masa pahit yang keduanya lewati.


Ruang yang tertata apik dan cantik di sinilah awal keduanya terikat janji suci untuk menjadi halal di mata tuhan dan negara.



prosesi akad nikah berjalan dengan hikmat dan para saksi menyatakan sah dan Allea dipertemukan dengan Azlan dan keduanya saling bersalaman tidak lupa Azlan memanjakan do'a pada Allea dan berharap keduanya akan tetap berjalan bersama hingga maut memisahkan dan selalu saling menyejukkan hati serta saling membuat tentram keduanya.


Azlan yang di bantu mamanya memasangkan cincin di jari Allea yang masih canggung, Candy mengerti maklum saja keduanya hanya baru beberapa waktu saling mengenal, Azlan yang memilihkan cincin itu.



Cincin itu terlihat manis di jari Allea yang masih terlihat sedih, Candy yang sangat memaklumi hal itu mendekapnya dan menenangkannya dan berbisik lembut di telinga Allea " tenang sayang ada mama disini.." ucap Candy yang membuat Allea memandang Candy betapa cantiknya wanita yang Azlan panggil mama dan bisikannya lembut menanangkan ujar Allea dalam diam.


Ucapan selamat terucap dari keluarga besar keduanya juga kerabat dekat yang di undang dalam acara sakral ini yang khusus untuk kalangan terdekat saja sesuai permintaan Allea.


selepas sholat zduhur kembali diadakan resepsi yang sudah pihak WO siapkan yang disesuaikan tamu undangan tapi disini juga Allea tidak mau mengundang teman yang dia kenal, Azlan tidak mau ambil pusing soal itu.



Allea di bikin cape dalam acara ini menurutnya terlalu banyak aturan ternyata cape juga jadi istri perwira itu yang ada dalam pikirannya saat ini, apa lagi acara yang satu ini pedang pora.



Rendra yang banyak banjir selamat dari kawan satu timnya yang menurut mereka akhirnya Rendra pecah telor bisa menikahkan putranya, padahal disitu juga hadir Nasyauqi dan Andika juga si kembar yang tidak mau diam membuat cape ibundanya.


Sebelum magrib keluarga besar meninggalkan gedung begitu juga dengan Azlan dan Allea yang akan tinggal dulu beberapa hari di rumah eyang itu permintaan Allea dan Azlan mengiyakan.


Azlan masih bingung sebab di sini bukan rumah dan kamarnya, sebenarnya dia ingin membersihkan diri tapi mau bertanya takut Allea marah tapi dia belum sholat magrib.


Azlan dengan terpaksa bertanya pada Allea yang sudah membersihkan diri dan bersiap sholat magrib.


"Bisa..tunjukkan dimana kamar mandi.." tanya Azlan pada Allea pelan.


Allea tidak menjawab hanya melangkah membuka pintu kamar mandi dan memberikan handuk yang sudah di siapkan di atas tempat tidur.


"Terimakasih.." seru Azlan dengan melangkah meninggalkan Allea tapi sebelum masuk ke kamar mandi Azlan meminta pada Allea.


"Tunggu kita sholat bersama ya.." pinta Azlan yang benar dia tidak lama sudah berpakaian sholat dan siap menjadi imam.


Ayat-ayat yang terucap oleh Azlan terdengar menenangkan hati Allea di buat terkagum akan bacaan yang Azlan bacakan, selepas sholat dan berdo'a Azlan meminta pada Allea untuk sholat dua rakaat sunah selepas menjadi pengantin dan Allea menurut permintaan Allea.

__ADS_1


Tidak beberapa lama eyang memanggil untuk makan malam bersama yang kebetulan ada kakak dari Allea juga yang masing ingin bermalam di rumah eyang.


Allea lebih dulu meninggalkan keluarganya untuk masuk kamar tapi tidak dengan Azlan yang masih duduk bersama eyang juga kakak Allea yang banyak menitipkan Allea dan mohon bersabar bila ada sikap Allea yang tidak berkenan di hati Azlan memahami tiap permintaan kakak Allea.


"Istirahatlah..sudah seharian kamu..menjadi raja..pasti cape.." seru kakak Allea pada Azlan.


"Iya..mas Azlan..sana..istirahat.." pinta eyang dengan tersenyum.


"Ya..mari mas..yang.." balas Azlan meninggalkan keduanya.


Azlan masuk ke kamar yang di dapat Allea sudah tertidur di salah satu sopa yang ada di kamarnya, Azlan mengangkat tubuh Allea untuk tidur di atas kasur tapi apa yang didapat Allea terbangun dan akan kembali tidur di sopa tapi Azlan memegang tangan Allea dan berucap lembut pada Allea.


"Aku..tidak mau istriku harus di laknat oleh Allah hingga pagi menjelang karena harus tidur terpisah dengan suaminya.." ucap Azlan lembut dan mempersilakan Allea tidur di kasur kesayangannya.


"Tenang..om..ga akan meminta sebelum pemiliknya mempersilakan dengan sepenuh hati.." godanya dengan meninggalkan Allea untuk ke kamar mandi.


Panggilan ke banggaan itu hanya untuk keduanya bila berdua tapi bila di depan keluarga Allea memanggilnya mas, Azlan tidak masalah sesuka hati Allea saja pikir Azlan.


Azlan yang tidur disebelah Allea dengan bantal guling sebagai batal pemisah yang terlihat lucu di mata Azlan yang menyelimuti tubuh Allea yang di lihatnya tertidur pulas dan tidak lupa mencium kepalanya yang masih tertutup hijab dan sedikit berucap " ya..rabb lindungi istri ku dari mimpi buruk..".


Yang sebenarnya di dengar oleh Allea yang pura-pura tidur, ada rasa iba pada Azlan yang terlihat baik menurut Allea dan dia tidak bersalah dalam hal ini tapi hatinya masih sekokoh gunung es yang sangat dingin dan beku.


Di sepertiga malam Azlan terbangun dan sholat malam dan di lanjutkan melantunkan ayat suci hingga menjelang subuh Allea sebenarnya terbangun saat Azlan membaca ayat suci tapi dia pura-pura masih tertidur.


"Ya..Qalbii ( hatiku)..ayo sudah subuh.." Azlan mengusap lembut kaki Allea berharap Allea bangun.


Allea terbangun dan langsung ke kamar mandi membersihkan diri, Azlan yang akan bersiap ke masjid terlebih dulu berpamitan pada Allea "om ke masjid dulu ya.." ucap Azlan mengusap lembut kepala Allea yang sudah memakai mukena.


Azlan meninggalkan Allea yang masih memandang kepergian Azlan dengan rasa senang sebab dirinya bebas untuk sesaat di kamarnya.


Allea yang sudah bersiap untuk ke kampus membuat eyang bertanya kenapa dirinya harus meninggalkan Azlan yang masih dalam masa cutinya.


"Memang tidak bisa ijin hingga habis masa cuti mas mu Al.." tanya eyang yang membuat Allea sedikit kesal.


"Ada..ujian yang ga bisa ditinggalkan eyang.." Azlan tiba-tiba menjelaskan pada eyang yang sebenarnya hanya alasan saja.


"Oh..seperti itu..ya..sudahlah.." ujar eyang meninggalkan keduanya yang terlihat canggung karena takut ketahuan bohongnya.


"Om..antar ya..qalbii.." pinta Azlan pada Allea yang hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Dalam perjalan ke kamus Allea hanya satu kali bicara " mohon jangan turun di depan kampus.." pinta Allea dan di disanggupi oleh Azlan.


Saat Allea akan keluar dari mobil Azlan bertanya " mau om jemput.." dengan memberikan tangannya dan Allea mencium tangan Azlan dan hanya gelenggan kepala dari Allea yang artinya tidak perlu.

__ADS_1


"Ya..sudah..oh..ya didalam tas om..masukan kartu atm pinnya tanggal lahir qalbii.." Azlan menjelaskan Allea hanya diam dan menutup pintu mobil pelan juga bersamaan ucapan salam yang pelan terdengar di telinga Azlan.


Azlan tidak sedikitpun marah ini misi terberat dalam hidupnya dan harus bisa di taklukan, hanya keikhlasan dan kesabaran dalam misi ini dan berharap yang dirinya dan mas Andika yang tahu.


__ADS_2