
..."Yakinlah akan rencana tuhan pasti yang terbaik buat semua umatnya, jadi jangan ada sedikitpun keraguan dalam hati agar ikhlas dalam menjalankan setiap amanah tuhan" Rendra...
Apa ini rencana tuhan yang jelas Allea tidak mengerti tapi tidak ada sesuatu yang kebetulan itu yang Allea yakini, Azlan yang kebetulan hari ini free di kedinasan langsung mengajar di kampus dan yang membuat shock semua mahasiswa sebab Azlan langsung mengajukan kuis secara mendadak yang ujung-ujungnya membuat protes mahasiswanya.
Azlan hari ini mengajar di kelas Allea yang juga kebetulan duduk tidak jauh dari meja Azlan yang sesekali mencuri pandangan pada Allea.
"Ih..ko mendadak sih.." protes semua mahasiswa yang tidak bisa di bantah.
Allea juga sedikit kaget tapi apa mau dikata yang jelas dosen adalah orang yang paling berkuasa dan maha benar dengan segala argumen yang akan dia jelaskan bila ada protes dari mahasiswanya.
Kuis berlangsung dengan tenang dan semua mahasiswa bisa menjawabnya baik yang paling jarang masuk sampai yang paling bodoh, hanya Allea yang sengaja menjawab asal ini yang membuat kawan-kawannya sedikit bertanya kenapa dengan Allea yang terkenal paling pandai sampai bisa tidak bisa menjawab kuis ini, memang sebenarnya Allea sengaja sebagai bentuk protes pada Azlan yang sudah berani mengusik ketenangannya.
"Saya..harap nama yang saya sebutkan menghadap saya..di kantor saya tunggu.." Azlan hanya a menyebutkan satu nama.
"Allea Kirana S.." seru Azlan yang sedikit terkejut sebab selama ini dia tidak pernah bermasalah dalam nilai malah terbilang dia paling pandai di kelasnya.
Semua mahasiswa terdiam seperti tidak percaya dan satu persatu memandang Allea yang terkenal pendiam dan sedikit bicara bila di tanya itupun seputar pelajaran tidak lebih.
"Saya..akhiri jam pelajaran saya..maaf tadi yang namanya saya sebut harap menghadap.." Azlan melangkah meninggalkan kelas yang membuat kawan Allea menghampiri Allea yang merapikan buku-bukunya kedalam tas dan bersiap menghadap Azlan.
"Busyet..gue ga percaya loe..ga bisa jawab kuis tadi..." protes salah satu teman Allea.
"Loe..sengaja ya..Al..biar dapat perhatian pak Azlan..." seru salah satu mahasiswa yang terkenal genit.
Allea hanya diam sebab percuma saja memberikan penjelasan padanya yang jelas dia tidak tahu menahu soal yang dihadapi olehnya.
"Woi..bisu..loe ya.." bentaknya pada Allea yang membuat kawan yang lain turun tangan.
"Itu urusan Al..lalu apa masalahnya..mungkin benar dia lagi ga bisa jawab terus kenapa dengan kamu.." bela yang lain dengan melepaskan tangan Allea dari genggaman tangan mahasiswi yang marah lebih dulu.
"Maaf..semalam saya tidak belajar..harus merawat kakek..saya.." dengan menunduk Allea meninggalkan semua kawannya.
Itu hanya alasan yang Allea buat agar tidak terjadi perdebatan diantara kawan satu kelasnya.
"Hu..makanya tanya dulu..jangan asal nuduh.." balas yang lain dengan meninggalkan kelas.
Siapa yang tidak suka pada Azlan dia gagah cakep lagi termasuk kriteria cowok ideal tapi sayang Azlan tidak banyak bicara dan tidak banyak merespon godaan mahasiswanya yang menurutnya tidak penting.
Azlan yang duduk santai di kantornya, dengan memainkan ponselnya entah dengan siapa dia sesekali membaca dan seperti membalas pesan seseorang.
"Assalamualaikum.." ucap Allea membuka pintu kantor Azlan.
"Waalikum salam.. mohon jangan ditutup pintunya agar tidak ada fitnah.." balas Azlan dan meminta Allea membuka kembali pintu kantornya.
"Silakan duduk.." pinta Azlan dengan sopan pada Allea yang masih terdiam.
"Terimakasih.." balas Allea yang langsung duduk sesuai permintaan Azlan.
"Ada..masalah dengan mu Al.." tanya Azlan langsung tanpa basa basi.
__ADS_1
"Tidak.." balas Allea singkat tanpa ingin menjelaskan.
"Lalu..kenapa dengan ini.." Azlan memperlihatkan kertas ujian dengan nilai dibawah rata-rata.
"Soalnya terlalu sulit.." jawab Allea seadanya yang membuat Azlan gemas di buatnya.
"Kamu marah ya..sama saya.." sepertinya Azlan tahu kalau Allea sedikit terusik ketenangannya sebab dia datang tiba-tiba dalam kehidupannya yang jelas siapapun pasti belum siap.
"Sok..tahu..jangan kepedean pak.." seru Allea yang makin membuat Azlan ingin terus berdebat dengannya.
"Wajar..dong kalau saya pede saya bebas dan saya dosen kamu.." Azlan masih ingin Allea membalas semua kekesalan padanya.
"Maaf...pak saya ga ada waktu untuk berdebat yang tidak bermutu dengan bapak.." Allea bangun dari tempat duduknya dan bersiap untuk keluar dari kantor Azlan tapi Azlan melarangnya.
"Maaf..Al..saya tidak bermaksud ikut campur dengan apa yang sekarang kamu rasakan..hanya saya sayangkan kenapa kamu tidak bisa menjawab kuis yang saya berikan itu saja..tidak lebih..." Azlan sekarang lebih hati-hati berkata pada Allea.
"Semua karena bapak kenapa hadir disaat yang tidak tepat.." Allea sedikit marah menyampaikan alasannya pada Azlan yang hanya tersenyum.
"Maaf..pak senyumnya tidak bikin saya tergoda dan saya tetap marah sama bapak.." Allea meninggalkan Azlan yang makin di bikin penasaran oleh sikap Allea yang sepertinya membuat Azlan makin yakin ingin menaklukkan hatinya yang saat ini membeku.
Sebelum Allea keluar dari ruangannya Azlan lebih dulu memintanya untuk menunggunya di rumah eyangnya dia akan mengajaknya ke suatu tempat.
Allea yang hanya berpikir ini orang terbuat dari apa sebab sudah jelas-jelas dia berkata seenaknya tetap saja memaksanya untuk bertemu di rumah eyang yang tidak mungkin dirinya untuk menolaknya.
"Gimana..Al.." tanya teman Allea yang ikut prihatin.
"Biasa..tugas..cari referensi buku.." dengan senyum seadanya yang jelas hanya alasan yang Allea berikan sebab Azlan tidak memberikan tugas apapun dia yang jelas-jelas marah pada Azlan.
"Mba..disuruh turun kebawah kata eyang.." pinta salah satu ajudan eyang yang kebetulan masih di rumah dari balik pintu kamar Allea.
"Apaan..sih.." dengan baju santai Allea menemui eyangnya tapi apa yang dilihatnya eyang sedang berbincang dengan Azlan yang berniat mengajak Allea jalan dan eyang mengijinkannya.
"Maaf.." Allea kembali masuk yang menurutnya tidak sopan hanya mengunakan baju santai.
Eyang yang masih menemani Azlan yang meminta ijin untuk sedikit mengenal Allea dan berjanji sebelum jam sepuluh sudah sampai di rumah eyang.
Tidak begitu lama Allea sudah kembali menemui eyangnya dengan bertanya ada keperluan apa eyang dengan dirinya.
"Iya..yang ada yang Al..bisa bantu.." tanya Allea yang pura-pura lupa Azlan akan mengajaknya jalan.
"Mas..Azlan meminta ijin sama eyang untuk mengajak Al..katanya ada yang ingin di bicarakan..pergilah eyang ijinkan.." eyang menjelaskan maksud kedatangan Azlan, sebenarnya Allea ingin eyangnya tidak memberikan ijin tapi apa yang dia dapat eyang malah mengijinkannya.
Dalam perjalanan keduanya hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun didalam mobil milik Azlan, tapi tidak masalah buat Azlan dan memaklumi sebab dirinya masih orang asing buat Allea.
Dan kini keduanya sudah berada di sebuah tempat yang tidak privasi hanya saja bila ada pembicaraan yang sifatnya privasi tidak masalah sebab masih terlihat ada jarak satu tempat dengan yang lainnya.
Setelah memesan tempat dan makanan keduanya sudah duduk di sebuah tempat yang membuat keduanya sedikit nyaman sebab keduanya sepertinya akan banyak perdebatan yang akan disampaikan untuk menyatukan satu pendapat yang jelas untuk membahagiakan seseorang yang di dicintainya terutama eyang itu misi keduanya saat ini.
__ADS_1
"Hm..eem.." keduanya bersama berucap hanya Azlan yang tersenyum.
"Silakan..apa yang ingin Al..sampaikan.." Azlan dengan sopan memberikan kesempatan Allea bicara lebih dulu.
"Kenapa..sih bapak mau melamar saya.." tanya Allea dengan muka masam sepertinya dia kesal sekali pada Azlan.
"Karena kamu cantik..dan pantas untuk di lamar.." dengan tanpa berdosa Azlan membalas pertanyaan Allea.
"Pak..saya serius..loh bertanya.." Allea masih dengan muka masamnya kembali berucap.
"Iya..saya serius..oh..ya saya bukan bapakmu dan belum bapak-bapak ya.." pinta Azlan dengan santai dan senyum manisnya.
"Tapi kan bapak guru saya.." balas Allea yang membuat Azlan sedikit gemas ingin mencubit pipi Allea.
"Iya..saya tidak pungkiri itu tapi saat ini saya tidak sedang mengajar Al.." ujar Azlan ga kalah bikin kesal Allea.
"Ok..saya panggil om.." Allea makin konyol.
"Astagfirullah..Al..ga setua itu juga kali muka saya.." kali ini Azlan serius sebenarnya Allea ingin tertawa tapi apa daya dia sedang gencatan senjata.
"Ok..apapun itu yang penting kamu nyaman.." balas Azlan yang sudah masa bodoh dengan panggilan untuknya dari Allea.
"Om..serius..mau melamar saya.." ucapnya dengan serius dan tetap dengan muka yang tidak ingin di tampakaannya alis menghadap ke arah lain.
"Memang kamu liat saya main-main..untuk urusan melamar anak orang..bisa di hajar..habis..ga kasihan kamu sama saya.." balas Azlan dengan serius.
"Kenapa harus kasihan om bukan apa-apanya saya.." balas Allea asal ngomong.
"Bener juga ya.." seru Azlan dengan menganggukan kepalanya.
"Soal melamar saya..serius..kamu ga mau saya lamar.." Azlan balik bertanya pada Allea yang terdiam sesaat.
"Saya tidak menolak demi eyang..jadi saya mohon jangan batalkan melamar saya walaupun om sudah tahu bagaimana respon dari saya.." Allea tertunduk seperti ada rasa perih yang dalam yang Allea rasakan Azlan dapat merasakan itu.
"Jadi mau kamu apa..aku masih bingung.." Azlan pura-pura bingung dengan penjelasan dari Allea.
"Om tetap melanjutkan sesuai rencana awal tapi cukup kita berdua yang tahu untuk soal yang lainnya..saya mohon kerjasamanya.." dengan memohon Allea meminta pada Azlan.
"Kita nikah tapi hanya kebohongan gitu ga..saya ga mau..saya takut dosa nikah bukan main-main..Al.." Azlan menjelaskan yang sebenarnya.
"Saya..mohon om bantu saya.." Allea menangis dengan kedua tangannya menutupi mukanya yang cantik.
Azlan bingung dengan situasi ini, ada apa dengan semua ini dan bagaimana menentukan jalan yang paling terbaik, Azlan teringat pesan papanya dan mas Andika bahwa dirinya harus banyak bersabar dan mengalah bila ini sudah jadi pilihan Azlan.
"Allea..saya sudah berani melamar jadi pasti saya akan menanggung apapun baik buruknya jadi saya akan ikuti apa mau kamu..terus saya harus apalagi.." Azlan sepertinya pasrah dengan mengikuti apa maunya Allea.
"Setelah menikah kita tidak melakukan selayaknya suami istri bila kita sedang berdua, tapi bila berada di depan keluarga kita bersikap layaknya suami istri..gimana om.." Allea meminta pada Azlan.
"Siap..jika itu mau mu tapi yang pasti saya melamar mu untuk jadi istri karena Allah..dan bukan atas tekanan dari siapapun.." Azlan menjelaskan yang Allea harus tahu.
__ADS_1
Ini awal perjuangan bagi Azlan untuk bisa mencairkan gunung es yang ada dalam hati Allea yang menurut Azlan wajar sebab luka dalam hatinya tidak semuda membalik telapak tangan, hanya satu kata mampukah.