Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
137


__ADS_3

"Allah tak menyegerakan sesuatu, karena itu yang terbaik. Dan tidak melambat-lambat sesuatu karena itu yang terbaik, karena itu berbaik sangkalah kepada-Nya " Rendra.


Persiapan keberangkatan keluarga kecil Rendra dengan tambahan sopir pribadi mama Rendra dan tidak terkecuali ajudan Rendra ikut serta untuk mengunjungi pondok pesantren dimana Rendra pernah ditolongnya bukan untuk ucapan terimakasih saja tapi lebih dari itu ingin terus menjalin tali silaturahmi terkhusus untuk Rendra.


Kendaraan yang dibawa oleh supir yang ditemani ajudan Rendra membawa berbagai macam kebutuhan keperluan pondok pesantren dari bahan makanan, kue-kue, buah-buahan, pakaian, alat-alat kebersihan juga mainan anak yang mendidik, maklum saja Rendra tahu semua keperluan apa saja yang di butuhkan pondok pesantren ini bukan karena Rendra pernah tinggal disana tapi karena Rendra juga punya panti yang hampir sama kebutuhannya apa saja yang diperlukan dalam sebulan.


Candy dan kedua buah hatinya sangat antusias saat Rendra mengajaknya, awalnya Rendra berpikir kedua buah hatinya akan menolak karena Rendra menjelaskan kondisi daerahnya yang jauh dari kota, mereka tinggal disana sangat bersahaja tidak seperti kedua buah hatinya yang terbiasa terpenuhi segala kebutuhannya, hanya rasa damai berada disana, Rendra terlebih dahulu menjelaskan tidak kurang tidak lebih agar mereka tidak terkejut saat berada disana.


Keduanya sangat dewasa secara berpikir, menurut keduanya ditempat itu papanya sudah diselamatkan dan dirawat dengan baik walaupun tempat itu jauh dari kota mungkin secara pergaulan anak-anak sana bukan anak gaul seperti keduanya, berkat didikan Candy keduanya tidak boleh membedakan orang lain dari salah satu sudut saja sebab bisa saja orang sana lebih baik dari keduanya, baik dari ilmu maupun pengalaman hidup.


Candy sendiri sudah terbiasa dimana pun dia berada sebab selama praktek lapangan Candy mau tidak mau harus siap tinggal juga di lingkungan yang terkadang tidak sesuai keinginannya tapi jiwa seorang dokter yang lebih mementingkan kemanusiaan diatas segalanya membuat dirinya lebih menghargai apapun dan dimana pun.


Apa yang Rendra sampaikan ternyata sama tidak ada satupun yang berbeda dari apa yang Rendra sampaikan baik ke istrinya maupun kedua buah hatinya, terlihat hamparan sawah dan ladang yang luas, tapi yang membuat Candy dan kedua buah hatinya terkejut walaupun letak pondok pesantren itu berada di tengah-tengah perkampungan kecil tapi sangat asri terlihat tanaman bunga tumbuh terawat, kebun kecil tumbuh subur sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan pondok pesantren, pohon tinggi rimbun membuat teduh pondok pesantren diwaktu siang hari seperti sekarang ini.


Keluarga kecil Rendra diterima dengan suka cita oleh pak kyai juga istrinya yang biasa dipanggil nyai oleh anak-anak pondok pesantren, begitu juga sopir dan ajudan Rendra yang sudah dikenalnya.


Anak-anak pondok pesantren membantu menurunkan barang bawaan Rendra hingga memenuhi teras depan rumah pak kyai, pak kyai dan istri serta anak-anak pondok pesantren memperkenalkan diri begitupun sebaliknya Rendra memperkenalkan keluarga kecilnya, anak-anak pondok pesantren sangat ramah tapi yang membuat anak-anak pondok pesantren terkejut istri dan kedua buah hati Rendra tidak kalah ramah dari mereka, senyum yang selalu menghiasi bibir mereka dan ucapan lembut kedua buah hati Rendra bila ada sapaan dari anak-anak pondok pesantren.


Seperti tidak merasakan lelah perjalanan kedua buah hati Rendra ingin melihat-lihat lingkungan pondok pesantren tapi terlebih dahulu mohon ijin kepada Rendra.


"Papa..boleh ga..mba sama ade..melihat-lihat pondok.." tanya Azlan ke Rendra yang masih berbincang dengan pak kyai dan istrinya.


"Mau lihat pondok..silahkan..nak.." ujar pak kyai yang bangun dari duduknya seperti mau memanggil seseorang.


Benar saja ternyata beliau memanggil seseorang dari anak santri pondok memintanya untuk menemani kedua buah hati Rendra untuk melihat-lihat sekitar pondok yang cukup luas dan asri.


"Papa mama kita..jalan dulu.." ucap Azlan yang akan keluar dari kediaman pak kyai.


"Kita..berdua permisi dulu..pak bu.." Ainun menambahkan dengan sopan ke pak kyai dan istrinya.


Keduanya telah melangkah keluar dari kediamannya pak kyai dengan seorang santri sebagai pemandu, banyak sekali hal baru yang baru dilihat keduanya, diwaktu istirahat anak-anak santri bermain, permainan yang mereka mainkan mainan anak-anak kampung yang tidak pernah dipermainkan oleh kedua buah Rendra diantaranya permainan yang gobak sodor yang dimainkan oleh banyak anak.


Azlan yang baru melihat permainan ini sangat antusias ingin ikut terlibat dalam permainan ini, hingga meminta pada santri yang memandu dirinya terlibat dalam permainan ini.


"Kakak..bolehkan..Azlan ikut..main.." pinta Azlan pada santri itu.


"Boleh..saja..ayo..kakak..antar.." santri mengajak Azlan untuk terlibat dalam permainan.

__ADS_1


Setelah Azlan masuk kedalam salah satu regu gobak sodor, Azlan dengan semangat ikut memainkan permainan ini sebab Azlan sudah terlebih dahulu diberi tahukah cara permainannya.


Regu Azlan menang, Ainun yang menjadi pemandu sorak sangat senang walaupun suaranya hingga serak karena berteriak-teriak saat lawan regu Azlan akan membobol benteng pertahanan regu Azlan.


Santri-santri yang melihat tingkah kedua buah hati Rendra ikut senang walaupun aneh sebab permainan ini sangat biasa menurut mereka tapi menurut keduanya ini permainan yang baru dan mengasyikan.


"Terimakasih..semua..sudah mengajak saya bermain.." seru Azlan dengan menangkap tangannya tanda terima kasih.


"Sama-sama..kami semua juga senang..berkat kamu..permainan jadi ramai.." ujar salah satu santri.


"Saya..pamit..dulu..Assalamualaikum.." ucap Azlan meninggalkan lapangan gobak sodor dengan melambaikan tangannya.


"Ade..bau..ih.." ucap Ainun dirangkul oleh Azlan yang berkeringat.


Santri yang memandu hanya tersenyum melihat keakraban keduanya yang terlihat sangat hangat walaupun Azlan yang sangat usil.


Setelah berpamitan santri kembali ke tempatnya, untuk kembali mengikuti kegiatan pondok yang masih berlangsung.


"Pa..ade..tadi ikut main..bareng anak santri.." dengan senang Azlan bercerita.


Rendra dan Candy hanya jadi pendengar yang baik hanya sesekali tersenyum melihat begitu semangatnya Azlan menceritakan permainan yang baru saja dilakukannya.


"Apa..sih ma..yang ade..ga suka main..yang heboh gitu.." ujar Ainun yang duduk melihat Azlan minum karena kehausan.


"Ya..disini..ini..lah..papa beberapa waktu yang lalu berada..gimana.." tanya Rendra kepada kedua anaknya.


"Disini tenang..ya papa.." ujar Ainun yang melihat sekeliling.


"Disini kita lebih banyak berpikir jernih..dan lebih dekat dengan tuhan dan alam.." Rendra menjelaskan.


"Kenapa kita tidak tinggal disini saja..pa.." tanya Azlan yang terlihat serius.


"Mama..mau.." ucap Candy serius yang dipandang Rendra.


"Serius..Honey.." tanya Rendra terheran-heran.


"Ya...kalau saja sudah tidak memiliki tanggung jawab kedinasan.." Candy menjelaskan maksudnya.

__ADS_1


"Oh..ya..papa lupa kasih tahu mba..sama ade..kita bermalam disini ya.." ucap Rendra yang ingin mendapatkan persetujuan.


"Hore..asyik..bener..pa.." teriak Azlan senang.


"Mba..gimana..?" tanya Rendra yang takut Ainun menolak.


"Ga..masalah..ikut aja.." ujar Ainun santai tidak terlihat ada pemaksaan.


"Gimana..Honey.." tanya Rendra pura-pura meminta persetujuan dari Candy yang tersenyum di perhatikan Rendra.


"Ikut..suara terbanyak saja.." ucapnya dengan senyum tertahan.


Rendra tahu Candy dimanapun akan betah selama bersama dirinya, Rendra hanya ingin menggoda Candy yang tahu akan malu bila diperhatikan didepan anaknya.


Keluarga kecil Rendra yang melihat santri-santri yang sudah membersihkan diri bergegas menuju masjid untuk melakukan kegiatan wajib membaca al-qur'an bersama hingga sholat isya.


"Enak..ya..kita bisa sama-sama..dapat pahalanya.." ucap Azlan seorang diri namun terdengar ditelinga keluarganya.


"Kalau dilingkungan pondok ya..seperti ini..semua dilakukan serba bersama-sama.." Rendra menjelaskan.


"Pa..ade..boleh ikutan.." tanya Azlan ke Rendra.


"Pergilah..akan banyak ilmu yang ade dapat disana.." ucap Rendra menjelaskan.


Candy menyiapkan pakaian untuk Azlan disesuaikan dengan kegiatan yang akan diikuti Azlan.


"Yang..sholeh ya..nak.." diciumnya kepala Azlan oleh Candy yang dilihat oleh Rendra.


Azlan mencium tangan Candy dan mencium salah satu pipi Candy.


"Ma..ade..pergi dulu..Assalamualaikum.." ucap Azlan yang ditunggu Rendra didepan.


"Pa..ade pamit.." Azlan mencium tangan Rendra dan Rendra mencium pipi Azlan.


"Seraplah ilmu yang banyak buat bekal dirimu kelak.." ucap Rendra dengan penuh harap.


Kepergian Azlan membuat Rendra semakin yakin anak lelakinya akan jadi penerus keluarga besar Wijaya, dengan penuh harap anaknya agar jadi pribadi yang baik terutama untuk dirinya sendiri sebagai laki-laki yang bertanggungjawab akan jadi imam keluarganya kelak.

__ADS_1


Harapan Rendra untuk kedua anaknya jangan melihat sesuatu dari luarnya saja seperti tempat ini, mungkin untuk sebagian orang menilai kampung karena tempat yang jauh dari hiruk pikuk orang yang lebih mengejar duniawi tapi disini semua proses kehidupan serba seimbang, baik hubungan dengan tuhan dan manusia juga alam.


Rasa kebersamaan lebih diutamakan, satu sama lain saling tolong dan bekerja sama tidak ada yang mendominasi, hingga tercipta kerukunan yang semua orang inginkan dalam hidup.


__ADS_2