
..."Engkau guru pertama yang memperkenalkan dunia, dekapan hangatmu menenangkan risauku, kesabaranmu tak berujung, saat seisi dunia memandangku sebelah mata do'amu menyemangati ku, hanya ucapan terimakasih yang bisa ku berikan tapi balasanmu padaku senyum tulus ikhlas atas segala pengorbanan dialah wanita hebat yang pertama ku kenal ibu" Rendra....
"Dek..makan dulu..kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu.." itulah suara lembut mama yang selalu mengingatkan Azlan walaupun dia sudah jadi papa dari putranya tapi masih selalu diingatkan soal makannya.
"Iya..ma.." Azlan berniat membersihkan diri terlebih dahulu.
Candy berada di ruang tengah menggendong Mika yang mulai tertidur setelah dimandikan sore ini, Azlan menghampiri keduanya.
"Mika..tidur ma..?" tanya Azlan dengan melihat putranya dalam gendongan mamanya.
"Ya..jangan berisik.." pinta Candy dengan suara sedikit pelan pada Azlan yang mengusap kepala putranya.
Candy menidurkan Mika dan tidak beberapa saat sudah kembali duduk bersama Azlan yang memeriksa ponselnya, untuk mencari kabar Allea yang masih di rawat di rumah sakit di jaga orang kepercayaan kakek Azlan sementara Azlan berdinas.
Azlan bersandar di pundak mamanya merasa lelah dengan semua yang telah dialaminya tapi semua harus tetap berjalan dan tidak mungkin dia melepaskan tanggungjawabnya.
"Ma..terimakasih sudah selalu ada untuk ade.." Candy mengusap kepala Azlan yang sudah berada di pangkuan Candy.
"Mama akan selalu ada buat anak-anak mama.." Candy berusaha meringankan beban putranya.
"Ma..belum juga ade membahagiakan mama sudah ade berikan beban lagi dengan meminta menjaga Mika..mohon di ikhlaskan ya..ma.." pinta Azlan yang merasa memberikan beban pada mamanya.
"Mama tidak merasa terbebani ko..dek..malah mama senang Mika bisa disini..seperti dia mengerti keadaan mamanya dia jadi anak manis sesuai namanya.." Candy menjelaskan pada Azlan.
"Ma..entah seperti apa ade kalau tidak ada mama sama papa tidak disampingnya ade.." Azlan tertunduk lesu, Candy mengusap lembut kepala Azlan.
"Sabar..ya dek mama papa hanya bisa melakukan apa yang harus dilakukan sebagai orang tua.." Candy tersenyum menghangatkan Azlan.
"Ma..terimakasih sepertinya tidak cukup ade berikan untuk mama..maafin ade ya.." kali ini Azlan memeluk Candy.
"Ade kenapa harus minta maaf..ga ada yang salah ko.." Candy mengusap punggung Azlan.
"Ma..ade anak yang paling beruntung terlahir di keluarga yang menyayangi ade setulus mama sama papa.." Azlan sudah terlihat tenang duduk disamping Candy.
"Sudah sana siap-siap ke rumah sakit kasihan Allea menunggu.." Candy memberikan senyum pada Azlan yang siap meninggalkan rumah.
Azlan dalam perjalanan ke arah sakit yang membutuhkan waktu tidak terlalu lama sebab perjalanan lancar tidak seramai biasanya ini menguntungkan Azlan hingga dia cepat sampai di tempat tujuan.
Lorong rumah sakit dilaluinya sesekali berpapasan dengan perawatan ada juga keluarga pasien atau siapa pun itu yang jelas mereka ada kepentingan di tag sakit ini.
__ADS_1
"Pak..terimakasih ya..bapak boleh..pulang.." pinta Azlan pada orang kepercayaan dari rumah kakek yang menjaga Allea selama dirinya bertugas.
"Iya..mas..mari mas.." pamitnya sebelum meninggal Azlan untuk kembali ke rumah kakek Azlan.
"Ya..hati-hati ya..pak.." ujar Azlan yang sudah di tinggalkan beberapa langkahnya.
Langkah Azlan masuk kedalam ringan dimana Allea di rawat, ucapan salam yang Azlan ucapkan tidak ada balasan sebab Allea ada dalam kamar mandi.
"Mas..sudah datang.." tanya Allea baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ya..qalbii sudah makan.." tanya Azlan dengan mendekat kearah Allea.
"Sudah mas.." balas Allea yang naik ke tempat istirahatnya.
"Mas..Al..ingin pulang.." pinta Allea yang merasa bosan di rumah sakit.
"Menurut dokter besok baru boleh qalbii..sabar ya.." Azlan menjelaskan dan meminta Allea mengikuti aturan dokter.
"Al..sudah bosan mas.." Allea menjelaskan keinginannya dan apa yang dia rasakan.
"Mas..tahu tapi sabar..ya.." Azlan mengusap kepala Laksa yang tertutup hijab.
"Al..sudah merepotkan mama mas.." Allea menunjukkan rasa sedih.
Allea menangis dalam pelukan Azlan, wajar bagi Azlan sebab Allea masih dapat merasakan proses melahirkan dan dia ingin dekat dengan putra yang dia lahirkan setelah sekian lama dia meninggalkannya.
Malam semakin larut Allea terlelap dalam tidur malamnya tapi tidak dengan Azlan yang masih sedikit terjaga dia masih bisa mendengar sesekali langkah kaki orang yang melakukan aktivitas apapun itu yang jelas Azlan tidak tahu sebab dirinya di dalam ruangannya.
Rasa syukur yang Azlan panjatkan dalam sujud sholatnya untuk banyak hal kepada Allah yang telah mengembalikan kebahagian keluarga kecilnya yang beberapa waktu lalu di ujung kecemasan dengan keadaan Allea yang tidak sadarkan diri.
Tapi ada rasa kekhawatiran dalam diri Azlan untuk menyampaikan tentang keberadaan eyang yang saat ini Allea belum mengetahuinya, rasanya Azlan belum memiliki keberanian untuk memulainya dan waktu yang belum tepat untuk memeberikan tahukah kabar ini dengan pertimbangan kondisi Allea yang baru saja pulih.
Dan Azlan berharap Allea bisa menerima kabar ini dengan ikhlas sebab ini mungkin yang terbaik, kita ambil sisi baiknya saja salah satunya faktor usia eyang dan menurut eyang Allea sudah ada yang menjaganya.
pagi menjelang suara burung bersahutan menyambut pagi sebagai ucapan syukur pada sang pencipta agar selalu di diberikan keberkhahan di sepanjang hari ini.
Allea terlihat sangat bersemangat sebab dirinya ingin lekas pulang agar cepat berkumpul dengan buah hatinya yang sekian lama harus terpisahkan.
"Pagi..bu.." sapa suster yang memeriksa Allea dengan ramah tersenyum.
__ADS_1
"Pagi..sus.." balas Allea juga dengan tersenyum.
"Seneng betul bu.." goda suster dengan tangan memeriksa Allea.
"Suster bisa saja.." balas Allea yang memang dia merasa bahagia.
Seorang dokter masuk dan langsung memeriksa Allea serta memeriksa catatan yang suster berikan padanya.
"Kata pak Azlan ibu ingin pulang..kalau saya belum ijinkan gimana ya..bu.." goda dokter yang membuat wajah Allea langsung berubah.
"Ga..dokter pokoknya hari ini saya mau pulang.." protesnya dengan suara sedikit jutek.
"Memang siapa yang dokternya..pulang mah gampang tapi jika ibu sakit lagi siapa yang tanggungjawab.." dokter pura-pura menjelaskan kondisi Allea.
"Dokter ga kasihan ya..sama putra saya.." pinta Allea denga sedikit sedih terdengar suaranya.
"Bukannya ada yang merawatnya.." dokter makin ingin menggoda Allea.
"Ya..dok tapi saya ibunya..yang seharusnya ada di dekatnya..." Allea menangis membuat dokter merasa bersalah, Azlan yang datang melihat Allea menangis menenangkannya.
"Maaf pak saya hanya ingin menggoda saja.galau ibu malah sedih beneran.." dokter merasa bersalah dan menjelaskan yang sebenarnya bahwa Allea sudah boleh pulang ada hanya saja ada waktu-waktu tertentu untuk kontrol bersamaan Mika imunisasi.
Azlan sendiri sudah membereskan urusan administrasi Allea dan sudah merapikan semua barang-barang milik Allea ke dalam mobil miliknya tanpa sepengetahuan Allea.
Kini keduanya sudah dalam perjalanan untuk pulang tapi ada sedikit berbeda Azlan membawanya ketempat yang bukan rumah dinas bukan juga rumah besar milik kakeknya yang jelas Allea tidak tahu tempat apa ini dan dimana.
Terdengar suara ramai anak-anak yang didengar Allea yang saat ini di buat bingung oleh Azlan.
Sebenarnya Azlan ingin memberikan kejutan atas kepulangan Allea yang sudah bekerja sama dengan keluarga besarnya.
Dan tempat ini adalah panti asuhan Azlan berharap Alleal merenungkan bahwa dirinya harus bersyukur masih bisa dapat berkumpul dengan keluarganya sedangkan anak-anak panti hanya bisa berkumpul dengan kawan-kawan satu nasib dengannya.
Rendra yang menyiapkan semua pesta kecil ini dengan harapan Allea senang dirinya sudah bisa kemali dengan keluarga besarnya.
"Tante.." teriakan khas si kembar menyambut kedatangan Allea.
"Hai.." balas Allea senang melihat semuanya baik-baik saja dan terlihat semuanya hadir termasuk kakaknya hanya eyang yang menurutnya tidak terlihat sosoknya saat ini.
Semua anggota keluarga besar bergantian memberikan ucapan selamat dan memberikan ciuman dam pelukan hangat yang Allea terima dari mereka.
__ADS_1
Terlihat anak-anak panti memenuhi ruangan mereka seperti antusias dalam acara penyambutan kedatangan dan kesembuhan Allea .
Azlan sendiri berharap di kehidupan kedua ini Allea jadi pribadi yang lebih baik lagi dan selalu bersyukur bisa di berikan kehidupan kedua.