Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
113


__ADS_3

"Bertemanlah dengan orang yang baik, sebab kita akan mendapatkan kebaikan pula dan dari kebaikannya suatu saat kita akan di kumpulkan dengan orang baik itu janji tuhanku" Rendra.


Semangat itu kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Rendra saat ini yang akan menerima amanah baru dari tuhan-Nya agar di jaga sebaik-baiknya dengan penuh tanggungjawab.


"Cie...cie...langsung tembak tepat sasaran nih" ucap Panji mengoda Rendra yang akan kembali ke ruangannya selesai dari ruangan Komandannya.


"Dari pada keduluan..." balas Rendra yang ingin membalas godaan Panji.


"Gue...kalah telak...deh" ujar Ifan dengan merangkul pundak Rendra.


"Ayo...barengan lagi..." ujar Rendra ke Ifan ga kalah konyol membalas.


"Hebat...loh..Kapt...langsung tokcer...bagi dong resepnya apa..." ujar Ifan dengan nyengir kuda ke Rendra yang jelas ga bakal Rendra berbagi untuk hal yang sifatnya privasi.


"Di bagi...emang resep kue..." balas Rendra dengan senyum konyol ke Ifan.


"Pelit...amat sih...bukanya berbagi itu tidak mengurangi jumlahnya" ujar Panji dengan serius memandang Rendra.


"Apa...yang mau aku bagi...ini urusan penerus...aneh" balas Rendra dengan muka seperti orang berpikir.


"Ayo...lah..." ucap Ifan yang masih ingin menyakinkan Rendra untuk membagi ilmunya.


"Apaan..sih..bang kasih tahu gue...dong kayaknya seru.." ucap Alfa dengan Farel yang baru saja datang bergabung.


"Ayo...cil...yakinin Kapten...untuk bagi ilmunya..." ucap Panji ke Alfa yang masih bingung tidak tahu pokok permasalahannya.


"Ilmu...apa..., ilmu bikin kaya...ya..kerja keras.." ucap Rendra dengan tersenyum memperlihatkan rasa bahagianya.


"Itu...mah gue...tahu..Kapt..." balas Alfa yang masih belum faham begitu juga dengan Farel.


"Dia...sudah nambah mongmongan lagi...hebat..dia" ucap Panji yang menepuk pundak Rendra.


"Ya..elah...kirain apaan...itu mah gampang" ucap Farel santai tapi tidak dengan yang lain.


"Kita...perlu bukti...bukan omdong" ucap Panji yang tahu bagaimana susahnya mengatur waktu bersama keluarga bila tugas sudah memanggil.


"Ya...gue...buktiin.." serunya terdengar konyol buat yang lain.


Benar saja Rendra langsung memberikan selembar kertas yang isinya ada misi yang baru saja di terimanya dari Komandannya beberapa saat yang lalu.


"Hea...kena...loh...katanya gampang" seru Alfa yang langsung skakmat tepat sasaran.

__ADS_1


"Ya...elah...ya...gue ngaku kalah.." tangan Farel ke atas seperti orang menyerahkan diri.


"Ya..memang harus mengakui..kebenarannya" ujar Ifan dengan menepuk pundak Farel.


"Udah..syukuri aja apa yang sudah kita terima" ucap Rendra santai dengan jari tangannya mengetik sesuatu di benda pipi di atas meja kerjanya (laptop).


"Bener...nih..bro, ga mau bagi ilmunya" ucap Panji lagi ke Rendra yang masih duduk di singgasananya yang terlihat gagah.


"Ramoan...apa gitu..." ucap Ifan yang kalah konyolnya ke Rendra.


"Mau...beneran nih..." ujar Rendra yang santai tapi serius juga terdengar di telinga kawan timnya.


"Ya...Iya lah...jangan loe bilang ramoan madura ya...ga..lucu"seru Ifan ke Rendra yang membuat Rendra menatap ke lawan bicaranya.


"Loh...ko...tahu.."ujar Rendra dengan konyol ke kawan satu timnya yang tidak percaya Rendra lakukan itu.


"Ga...ga..gue ga percaya loe...pake itu..." ucap Panji yang semakin serius.


"Sorry...bro..aku ga pake apa-apa cuma Honey kalau pagi dan malam suka kasih aku madu..itu aja ga lebih"jawab Rendra menjelaskan yang sebenarnya.


"Jangan-jangan...servis dari Mba Can...yang bikin maknyus jadi tokcer" ucap Alfa si bocil yang makin pinter saja.


"Wah...bener juga...ya...kita tanya Mba Can.. aja ayo.." ucap Farel santai tapi apa reaksi Rendra di luar dugaan kawan satu timnya.


"Tumben...bininya boleh di ajak ngomong sama orang..." ujar Panji yang tahu banget Rendra bucin tingkat dewa.


"Aku tahu...Honey...jadi jangan berharap banyak untuk hal yang satu itu" ucap Rendra yang sebelah, dua belas dengan Candy untuk soal privasi.


"Yang jelas..gunakan waktu seefektif mungkin saat bersamanya...karena waktu kita banyak untuk orang banyak...pahami itu" ucap Rendra dengan sungguh-sungguh.


Semua diam benar-benar menyimak apa yang Rendra ucapkan adalah fakta yang sebenarnya tentang kinerja kesatuannya yang banyak di butuhkan oleh orang banyak dan sedikit waktunya untuk keluarga.


"Kita siap...menjalankan tugas.." ucap Rendra dengan terdengar tegas.


"Siap...Kapt..." seru kawan tim Rendra yang lantang terdengar.


"Misi kita kali ini...membongkar perdagangan anak dan gadis-gadis muda untuk di jadikan pemuas nafsu...,oh..ya kita tidak sendiri ada devisi dari kepolisian yang lebih berwenang dalam hal ini, kita hanya membantu dan dibutuhkan kerja samanya...ok" ucap Rendra menjelaskan sedikit garis besarnya proses misi yang akan di jalankannya.


Tim kawan Rendra kembali ke tempatnya masing-masing Rendra sendiri sedang menyiapkan strategi yang akan di jalankannya, tapi Rendra tidak ingin menyalai aturan dalam misi ini, dia mengkonfirmasi terlebih dahulu ke pihak devisi lain agar misi dapat berjalan sesuai harapan.


Setelah berpamitan ke Candy untuk menjalankan misinya Rendra dan kawan satu timnya berkumpul di tempat biasa untuk menjalankan misi kali ini.

__ADS_1


Misi kali ini sangat membuat Farel mati gaya karena dia harus di Make Over menjadi lebih feminim memang tidak sia-sia punya tampang cakep bisa lebih muda di make over jadi lebih gemulai, tapi sebenarnya Farel protes tidak terima tapi tiap misi pasti ada saja yang dijadikan kambing hitam percobaan buat keberhasilan misi jadi suka atau tidak terima saja akan lebih mendalami misi yang jelas akan tepat sasaran.


"Cie...cie...hai...cewe sendirian aja godain kita dong" goda Panji ke Farel yang sudah sedikit terlihat feminim.



"Apaan...sih...bikin gue...ga pede aja tahu..." ucap Farel yang merapikan rambut palsunya.


"Asli...loe..cantik...bang..." ucap Alfa ke Farel dengan senyum mengoda yang bikin Farel meninju tangan Alfa.


"Eh..bisa galak juga ya...neng..." ujar Rendra mengoda Farel yang membuat kawan satu timnya tertawa hampir terkencing-kencing.


"Habis...abangnya jail.." balas Farel dengan gaya lebay yang makin terdengar tawa yang tidak tertahankan dari semuanya.


"Jangan...galak-galak neng...suit...suit" goda Panji dengan menyentuh ujung hidung Farel konyol.


"Cocok-cocok...coba bininya liat pasti tambah...seru" ucap Ifan yang langsung membuat Farel protes.


"Janganlah...hilang deh...wibawa gue..." ujar Farel dengan muka terlihat datar.


"Tenang...bro itu rahasia...kita.." ucap Rendra yang terdengar serius tanpa ada main-main.


"Loe..ga percaya kita apa.." ujar Ifan yang ga kalah dengan Rendra.


"Bukan ga percaya..gue ga pede tahu ga sih..." ucap Farel yang mengaruk kepalanya sebab tidak terbiasa mengunakan wing.


"Ya...sudah kita berharap saja misi ini cepat selesai..." ucap Rendra dengan membuang senyumnya ke arah lain agar Farel tidak tersinggung terus di goda.


Pelaksanaan misi berjalan sesuai harapan Rendra yang sudah bersiap di tempat menunggu proses penyamaran Farel yang akan di jual ke pihak yang sudah menunggu di tempat yang sudah dijanjikan.


Entah apa yang mereka bicarakan sebab mereka mengunakan bahasa sandi yang tidak di mengerti oleh Farel yang hanya mengikuti petunjuk sesuai skenario dari pihak kepolisian yang lebih berwenang.


"Cantik...juga..loe...berapa umur loe" tanya seorang lelaki paru baya yang menghampiri Farel karena melihat kecantikan Farel.


"23...om.." ucap Farel dengan gaya malu-malu yang harus ditunjukan ke lelaki itu.


Setelah ada kesepakatan dan Farel dipertemukan dengan pihak yang akan membelinya, Farel tidak sendiri ada beberapa gadis belia didekatnya yang membuat Farel tersadar betapa mereka meremehkan wanita.


Dan setelah dirasa cukup untuk jadi barang bukti pihak kepolisian dan kawan satu tim Rendra menyergap tempat yang dijadikan transaksi jual beli manusia.


Misi berjalan sesuai harapan tanpa ada korban jiwa hanya korban perasaan yang Farel rasakan saat ini tapi tidak apa, tapi ada satu hal yang dapat diambil dari misi ini dan hanya Farel yang tahu ternyata wanita makluk indah tapi masih ada saja yang merendahkannya karena materi yang tidak berujung.

__ADS_1


Rendra tidak banyak bicara hanya banyak berterimakasih ke kawan satu timnya atas kerja samanya yang terkadang tidak bisa ditebak medannya, yang jelas satu kata buat kawan satu timnya solid.


__ADS_2