
"Ya...Allah pengatur kehidupan, ku pasrahkan semua urusan ku padaMu, mohon di berikan keyakinan dalam melangkah untuk beribadah di jalanMu" Candy .
Suasana hati terkadang tidak seirama dengan suasana di dunia kerja Candy, seperti saat ini yang di rasakan Candy setelah selesai membantu dokter Rudi di ruang operasi, ada pasien yang harus di tolongnya lagi karena kondisinya menurun, hingga keluarga memohon untuk bisa menyelamatkannya, seorang Candy adalah manusia biasa yang tidak punya kuasa untuk memberikan kehidupan tapi rasa terpukul ada dalam hatinya tapi apa daya Sang penguasa lebih berkuasa atas-Nya.
Candy hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya dalam kesedihan yang dalam, larut dalam penyesalan tidak dapat berbuat banyak, hingga rekan dinas menenangkannya tapi tidak dapat menghentikan keresahan hatinya.
"Kita sudah berusaha yang terbaik dan berbuat semaksimal mungkin soal hasil yang
diatas lebih tahu yang terbaik" ucap Dokter Rena yang menenangkan Candy.
Candy hanya diam masih menutup mukanya dengan kedua tangannya menunduk di ruangan dinasnya.
Saat ini sudah menunjukkan waktu pulang dinasnya, Candy masih belum beranjak dari ruangannya masih ingin berlama-lama di tempat ke banggannya, tampa memperdulikan seseorang yang sudah lama berdiri lama memperhatikannya dari luar ruangannya.
Mata Candy terlihat bengkak dan sedikit merah, dilihatnya jam tangannya sudah hampir satu jam Candy diam diruangnya dari jam kepulangannya.
Candy pun berkemas dan merapihkan penampilannya sebelum pulang, diperhatikannya ruangannya sebelum dia ke luar dari ruangannya, saat menutup pintu akan berjalan menuju pintu utama Rumah Sakit, sosok yang sangat di kenalnya menghampirinya dengan sapaan lembut hampir tidak terdengar orang lain.
"Assalamualaikum, Honey...you ..ok" sapa Rendra dengan lembut seakan tahu apa yang di rasakan Candy.
"Waalaikum salam...Mas" jawab Candy dengan mengangguk tapi menyembunyikan kesedihannya.
"Honey......ok" Rendra dengan terpaksa menggandeng tangan Candy, karena melihat Candy yang menahan tangisnya dan butuh sandaran untuk menenangkan.
Keduanya berjalan beriringan dengan langkah sedikit cepat untuk menyembunyikan kesedihan yang Candy rasakan, dan menuju parkiran mobil Rendra, dengan sigap Rendra membukakan pintu mobil mempersilahkan Candy masuk.
Sebelum keluar dari parkiran Rendra menanyakan akan kemana tujuan Candy, Rendra memberikan saran untuk ke suatu tempat untuk menenangkan suasana hati Candy, dan mendapatkan persetujuan dari Candy, dan tempat yang di tujuhnya Cafe dengan nuansa taman yang berbentuk Gazebo-gazebo yang unik dan sangat nyaman dan tidak tertutup tapi sangat private .
Candy masih dalam diamnya walaupun sudah tersedia beberapa menu makanan yang telah dipesannya.
"Ko....sepi ya...ga ada orang apa..ya..."Rendra bersuara memecah kesunyian dari diamnya Candy.
"Ih....apaan sih...Mas "Candy menatap muka Rendra datar.
"Oh...ternyata ada...maklum manis bisa ngomong " Rendra mengoda.
"Mas...ih..."Candy memalingkan mukanya malu dan menutupnya dengan kedua tangannya.
Rendra yang biasanya jarang banget ketawa sampai ga berhenti dari tawa, melihat Candy yang malu, tawa Rendra terhenti pas mendengar suara Candy .
"Ga...lucu...Mas" Candy dengan suara pelan.
__ADS_1
"Maaf...maafin Mas "Rendra dengan suara memohon agar Candy memaafkanya.
Candy hanya tersenyum datar, menatap arah lain yang ramai oleh pengunjung.
"Honey.....you...ok" Rendra memberanikan diri bertanya ke Candy.
"Honey...percaya...Mas" Rendra kembali bertanya kepada Candy.
Candy menjawab dengan anggukan kepalanya yang tertutup hijab menambah imut mukanya.
♡♡♡ Jadilah, teman ceritaku , teman marahku, teman bercandaku, teman mainku, teman berjuangku dan jadilah kamu satu-satunya teman hidupku ♡♡♡
Rendra mengatakan itu dengan kesungguhan dan menatap Candy dengan rasa sayang.
Candy mendengarnya dengan menahan bulir bening yang semakin berat hingga bulir itu tidak permisi kepada memilikinya untuk meluncur dengan bebas tidak tertahan, yang semakin lama ada isakan kecil terdengar.
"Honey.....jangan nangis Mas ga mau melihat honey sedih" Rendra mendekati Candy yang sebenarnya tidak ingin ada sentuhan di keduanya.
"Mas....stop...Candy...ok, hanya terbawa suasana saja" jawab Candy dengan suara khas orang habis nangis.
Rendra pun kembali ke tempat awal tidak ingin Candy merasa tidak nyaman saat bersamanya.
Sebenarnya Candy teringat perkataan Ayahnya tentang sosok lelaki yang baik untuk jadi imam dalam hidupnya, memang Rendra sesuai apa yang Ayah bilang.
Akhirnya Candy bercerita tentang beban hatinya yang sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahannya hanya Candy merasa bersalah dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Honey...kita hanya bisa usaha, selebihnya atas kehendak sang maha kuasa" Rendra dengan suara menenangkan.
"Kita hanya membantu tapi tidak punya kemampuan untuk menyembuhkan hanya tangan tuhan yang punya itu" Rendra merasakan kesedihan Candy.
Rasa bersalah Candy berangsur membaik, dengan terlihat senyumnya yang malu saat Rendra bercerita lucu.
"Mas...kok...di Rumah Sakit ada apa" Candy sudah lebih baik dan mulai bertanya kepada Rendra.
"Kangen...." jawab Rendra singkat.
"Can...tanya serius Mas" Candy penasaran dengan muka bete.
"Serius, kangen....."Rendra dengan santai menjawabnya.
"Ih...Mas" muka Candy memerah karena malu.
__ADS_1
"Ga...boleh, memang Honey ga..kangen Mas" Rendra masih mengoda Candy tapi memang Rendra kangen ingin ketemu Candy dan ingin menanyakan kapan bisa ketemu Ayahnya.
"Ga....bo...leh..."ucap Candy penuh penekanan dan dengan ledakannya mengeluarkan lidahnya yang di tarik lagi.
Rendra yang melihatnya langsung tertunduk malu, sekaligus di bikin ngemes pengen cepet di halalin.
"Kapan Mas boleh ketemu Ayah?" ucap Rendra malu karena sikap Candy.
"Kapan Mas bisa "Candy bertanya balik.
"Sekarang..." Rendra dengan suara tegasnya.
"Ok...tapi telpon Ayah dulu " Candy menjawab dengan santai, tapi jawaban Candy membuat Rendra senang bukan kepalang.
Candy pun menghubunginya Ayahnya dan Ayah menyanggupi bertemu dengan Rendra.
"Mas...boleh Can...bertanya yang berhubungan dengan Mas ?" Candy dengan suara yang takut untuk bertanya.
"boleh...silakan "Rendra menjawab dengan tersenyum ke Candy.
"Yang pertama kenapa Mas pilih seorang Candy, yang kedua gimana orang tua Mas, Can...boleh sekolah lagi, sebab Can...sedang menunggu pengumuman penerimaan untuk S2 Can.."Candy mengeluarkan napas pelan menandakan perasaan yang lega.
Rendra tersenyum memperhatikan tingkah Candy salah tingkah diperhatikan Rendra.
"Kenapa seorang Candy yang Mas pilih sebab Honey Cinta pertama Mas, sejak pertama kita bertemu Mas sudah terpesona.
Dengan Orang tua, Mas diberikan kebebasan untuk memilih yang akan menjadi pasangan Mas, mau dari kalangan mana pun Mas yang menentukan orang tua hanya merestui.
Dan Soal sekolah silakan apa yang Honey mau yang jelas jangan bikin Honey tidak nyaman, ok..., puas dengan jawaban yang Mas sampaikan " Rendra menjawab dengan santai tampa terlihat basa - basi.
"Mas...Can...dari keluarga yang apa adanya, bukan yang apa-apanya ada seperti Keluarga Mas" Candy menyampaikan isi hatinya.
"Honey....tahu Mas punya apa?" Rendra bertanya balik ke Candy.
"Ga...tahu.."Candy menjawab polos.
"Mas..hanya punya hati yang tulus, jujur apa adanya" Rendra merendahkan diri.
"Honey mau berjuang dari nol bareng Mas" Rendra mengoda Candy.
Hanya mengangguk kepalanya jawaban dari Candy dengan malu menundukan mukanya yang memerah.
__ADS_1
Rendra merasakan kelegaan dalam hatinya ternyata rasa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan yang selama ini dalam penantian panjangnya.
Kalau saja dia hanya seorang diri mungkin Rendra akan berteriak "Terimakasih kasih Tuhan" sebagai tanda kelegaan hatinya.