
"Tuhan mempertemukan kita untuk dijadikan pasangan yang saling melengkapi kekurangan yang kita miliki dalam ikatan suci agar sesuatu yang baik kita lakukan bernilai ibadah di dalamnya" Rendra.
Beberapa hari yang lalu keluarga besar Indra sudah melakukan lamaran resmi pada keluarga besar Nisrina dan saat ini kedua keluarga sudah mempersiapkan prosesi persiapan pernikahan seperti pengajian dan siraman Nisrina sendiri mengikuti tradisi keluarga besarnya baik dari ayah dan bundanya.
Nisrina sudah meminta cuti terlebih dulu untuk memasuki masa pinggitan yaitu dimana kedua calon penganti tidak boleh bertemu sebelum ijab kabul, bagi Nisrina tidak masalah tapi tidak dengan Indra yang dibuat sedikit bete.
Nisrina melakukan perawatan yang sudah di siapkan oleh WO yang dimiliki Rendra sebagai om dari Indra juga Nisrina, seperti hari ini Ainun yang kebetulan juga ada dirumah Nisrina bersama mamanya untuk mempersiapkan pengajian dari pihak Nisrina.
"Udah wangi penganten..nih.." goda Ainun yang kebetulan masuk kedalam kamar Nisrina yang sedang melakukan perawatan pengantin.
"Apaan..sih..dek.." balas Nisrina yang sedang di lulur badannya.
"Mba..udah siap.." goda Ainun lagi dengan duduk di sebelahnya.
"Iya..lah..dek..kalau ga siap kenapa harus lakukan ini.." balas Nisrina dengan serius.
"Mba..boleh..Ai tahu mba sudah yakin sama mas Indra.." dengan pelan Ainun bertanya.
"Yakin lah..dek..laki-laki yang sudah berani datang dan meminta pada ayah berarti dia sudah siap dengan apapun yang dihadapinya..baik mau diterima maupun penolakan tapi..keberaniannya itu sudah bukti dia lelaki yang bertanggungjawab" Nisrina menjelaskan dengan serius pada tiap ucapannya.
"Gitu..ya..mba.." ujar Ainun dengan polosnya
"Gimana denganmu dek..sudah ada yang terpesona di kampus.." goda Nisrina dengan tawa kecilnya.
"Mba..Ai..mau fokus kuliah dulu..soal itu bisa menyusul " dengan gaya genit Ainun membalas membuat Nisrina gemas mencium Ainun.
"Mba..bau..lulur.." protes Ainun yang berlari keluar dengan pipinya sedikit ada lulur dari tangan Nisrina.
Itu salah satu kedekatan keduanya hampir tidak berjarak bila bersama layaknya saudara kandung saja walaupun usia keduanya terpaut jauh tapi mereka sangat dekat.
__ADS_1
Ruangan sudah tertata rapi dengan dekorasi yang cukup elegan untuk prosesi pengajian juga siraman yang akan di lakukan oleh pihak WO sedari pagi buta tadi sudah sibuk mendekorasi ruangan.
Tamu undangan untuk pengajian satu persatu berdatangan baik dari ibu-ibu pengajian, tetangga dekat yang tidak terlupakan keluarga dari ayah bundanya, Nisrina yang sudah berbalut gamis putih makin terlihat anggun dan semakin terlihat aura kecantikannya.
Acara pengajian di tempat Nisrina dilakukan pagi hari sebab sore hari nanti akan di adakan acara yang sama di kediaman rumah Indra yang jelas dari keduanya ada keluarga yang terlibat seperti Rendra dan Candy sebagai om dan tante dari keduanya jadi harus di bagi waktunya agar berjalan di hari yang sama tapi waktu yang berbeda.
"Berasa..ingat..dulu.." goda Rendra pada Candy yang kebetulan ada disampingnya.
"Paling bisa.." bisik Candy yang masih malu seperti biasanya.
"Oh..iya..kita berduakan selalu pengantin baru..ya.." goda Rendra lagi menatap mata indah Candy yang selalu saja membiusnya.
"Woi..pengantin..lama ngapain.." canda mas Iqbal yang ingin menggoda Candy yang jarang sekali bertemu.
"Enggak...enggak..mas.." ujar Candy malu di goda mas Iqbal.
"Kesayangan mas..ga berubah masih saja..grogi.." ucap mas Iqbal dengan mengusap kepala Candy dengan sayang.
"Mas.." Candy memeluk mas Iqbal penuh rasa kerinduan.
"Dra..ini nih yang bikin..mas kangen.." balas mas Iqbal masih dipeluk Candy, Rendra ikut tersenyum sebab tahu Candy akan selalu jadi anak kecil bila bersama ayah dan kedua masnya.
Tahapan-tahapan acara berjalan sesuai rencana dan haru biru mulai terasa dari Nisrina meminta do'a dan restu untuk di nikahkan dengan orang yang menjadi pilihannya dalam tiap baris kata yang Nisrina ucapan membuat keluarga dan para tamu undangan meneteskan air mata seperti saat ini dia meminta do'a dari bunda tercintanya dengan memegang tangan lembut milik bundanya dengan penuh rasa sayang.
__ADS_1
"Bunda..terima kasih untuk kasih sayang yang selama ini bunda berikan pada Nis, do'a dan restu bunda berikan selama ini..hingga Nis bisa menjadi Nis yang sekarang ini..walaupun Nis belum jadi anak yang sesuai harapan bunda tapi akan Nis ingat tiap ajaran bunda yang baik untuk bekal Nis nanti dalam mendidik buah hati Nis di kemudian hari..dengan tulus dari lubuk hati paling dalam Nis mohon di maafkan segala kesalahan Nis baik yang Nis sengaja atau pun tidak yang menggoreskan luka dan sakit di hati bunda..dari Nis kecil hingga saat ini..berkenankah bunda memaafkannya..dan merestui Nis.." ucap Nisrina yang sudah berlinang air mata.
"Nisrina Nur Kamilah anakku..kasih sayang yang bunda berikan tulus untukmu agar jadi pribadi yang baik di masa yang akan datang..tiap baru do'a selalu menyertai setiap langkahmu nak.., tidak sedikitpun bunda terluka atau sakit hati dengan segala tidak tanndukmu nak..Nis sudah jadi anak kebanggaan buat bunda..do'a dan restu bunda akan selalu menyertaimu..maafkan bunda juga belum jadi bunda yang sesuai harapan Nis..maafkan..ya.." bundanya memegang tangan Nisrina dengan erat dengan air mata yang mengalir deras dari kedua matanya.
Yang paling berkesan dalam acara permintaan do'a dan restu adalah Candy yang lebih terbawa suasana hingga Rendra tidak dapat menahan harunya, Candy yang duduk diapit ayah juga suami tercintanya, Candy seperti membayangkan seadainya saat dulu dia meminta do'a dan restu dulu ada sosok ibu didekatnya akan seperti ini rasanya, isak tangis Candy tidak kalah dari Rahma sebagi bunda dari Nisrina.
Rendra yang tidak ingin orang tersayangnya menangis berusaha menenangkannya dalam pelukannya begitu juga sang ayah yang tahu apa yang dirasakan dalam batin Candy mengusap punggung Candy yang dipeluk Rendra, tidak ada kata yang terucap dari bibir Candy hanya tangisnya yang tidak tertahan terasa dari isaknya yang begitu dalam.
Begitu juga dengan kedua masnya yang tidak tega melihat Candy terus terisak mengingat pigur ibu yang tidak begitu lama menyertai perkembangannya.
Acara siraman akan berlangsung yang sedikit membuat Candy melupakan rasa sedihnya berubah menjadi tertawa walaupun hanya senyum yang terlihat karena mas Dimas sebagai ayah dari Nisrina harus menggendong Nisrina untuk terakhir kalinya sebelum menikah, mas Dimas yang tegap dengan mudahnya menggendong Nisrina yang malu di gendong sang ayah menyembunyikan mukanya di dada sang ayah, yang sebenarnya dirinya sedih akan melepaskan anak gadisnya harus berpisah dengannya karena memenuhi kewajibannya kepada suami sebagai imamnya.
Prosesi-prosesi acara berlangsung hikmat sesuai harapan tapi Rendra dan Candy juga Ainun tidak bisa bercengkrama seperti biasanya dengan keluarga besar ayah dari Candy karena harus berpindah tempat untuk mengikuti prosesi acara pengajian juga siraman di kediaman orang tua Indra yang akan berlangsung beberapa saat lagi.
Lagi dan lagi pihak WO yang mempersiapkan semua dekorasi pengajian sesuai permintaan mba Ayu sebagai mama dari Indra yang ingin membahagiakan putra pertamanya.
Tidak berbeda dengan keluarga Nisrina disini juga mba Ayu banyak menangis dalam tiap do'a dan restunya yang Indra pinta, dia merasa Indra belum lama bersamanya harus secepat ini menurutnya melepaskan masa lajangnya yang akan memberikan tanggungjawab pada anak orang yang dia tahu dari keluarga yang baik dalam segala hal terutama nilai-nilai agamanya.
Tamu yang datang tidak sedikit maklum saja keluarga besar Wijaya di usahakan hadir dalam acara ini sebab ini acara inti sebenarnya karena kesibukan mereka siapapun tahu itu.
Dalam acara ini dijadikan ajang kumpul keluarga besar Wijaya dari yang paling dekat domisilinnya hingga yang paling jauh, tidak terlihat canggung bila berkumpul itu yang Candy rasakan semuanya dekat walaupun mereka orang berada tidak sedikit orang penting yang mengenal mereka tapi mereka begitu hamble kepada siapapun apalagi kepada penerus Wijaya menurut mereka.
Bila berkumpul mereka menanggalkan semua atribut yang mereka emban di pundaknya, seperti direktur utama, presiden direktur, dokter spesialis, bahkan letnan satu yang Rendra emban di tanggalkanny agar mereka dekat itu pesan dari kakek dan nenek Rendra.
Indra sendiri sedikit lebih lega telah menjalankan prosesi permintaan do'a dan restu kepada kedua orang tuanya juga pada keluarga besar dari papa mamanya, hanya menyisakan sedikit rasa tegang untuknya esok adalah puncak segalanya itu yang dia pikirkan di balik sikap ramahnya menjamu keluarga besarnya yang saat ini berkumpul.
__ADS_1