
..."kamu akan terlihat sempurna dimata orang yang benar-benar mencintai kamu apa adanya" Candy....
Sudah hampir satu bulan Allea dalam masa komanya, Azlan sendiri sudah mulai menjalankan rutinitas kerjanya dalam kedinasan, ada orang kepercayaan dari rumah kakeknya yang menjaga Allea di rumah sakit baru sepulang kerja Azlan yang menggantikannya itu terjadi setiap hari membuat Candy mengkhawatirkan kondisi Azlan.
Putra Azlan sendiri sudah bisa di bawa pulang dan Candy yang menjaganya layaknya putranya sendiri, sering kali Candy menangis bila melihat Mika tertidur yang menurutnya seharusnya di usia sekecil ini dia merasakan dekapan dan kasih sayang mamanya dengan penuh kelembutan dan kehangatan.
Sesuai rencana Allea akan di bawa ke luar negeri untuk proses kesembuhan Allea dari pihak kakaknya tidak masalah dan menyerahkan sepenuhnya pada keluarga Azlan karena dia sendiri tidak mungkin mengurusi Allea bersamaan dengan harus menjalankan perusahaan milik orang tuanya.
Menurut kakak Allea, Azlan sekarang yang berhak atasnya dan hanya sesekali kakaknya melihat kondisi Allea di sela kesibukannya, Azlan dan keluarga memaklumi itu.
Kalau di ibaratkan burung kondisi Azlan saat ini seperti salah satu sayapnya patah yang jelas tidak bisa terbang untuk mencapai cakrawala untuk bisa melihat indahnya dunia dari atas sana yang mempesona.
Azlan memandang wajah Allea yang terlihat pucat, rasa sedih yang selalu menghampiri Azlan bila melihat kondisi Allea yang belum ada perubahan.
Sudah sering Azlan mengajaknya bicara agar ada respon dari Allea seperti saat ini Azlan lakukan dia memegang tangan Allea erat dan berbicara seorang diri dengan rasa haru yang dalam yang Azlan rasakan.
"Qalbii..mas sudah kehabisan kata untuk mengungkapkan isi hati mas..pada qalbii " Azlan terdiam lagi setelah berkata seorang diri, dia tertunduk berkecamuk dalam benaknya harus mengikhlaskan atau tetap mempertahankan dengan konsekwensinya tetap melihat Allea terbaring dalam waktu yang tidak bisa diprediksi akan ada kesembuhan atau akan pergi meninggal dirinya dan putranya yang belum sempat di peluknya apalagi memanggilnya mama.
Azlan mengingat masa-masa yang telah lewat saat pertama kali mengenal Allea gadis yang jutek yang tidak mau memanggilnya mas saat berdua dengan sifat keras kepalanya mempertahankan sifat dinginnya pada Azlan yang dengan sabar menunggu hingga dia bisa membuka hatinya bahwa Azlan lelaki yang tepat untuk dirinya.
"Masih sampai kapan..qalbii membiarkan mas sendiri..qalbii mau marah sama mas marah saja tapi jangan diamkan seperti ini..qalbii.." Azlan bukan bosan untuk berbicara seorang diri tapi sudah kehabisan kata-kata, rasanya Azlan berusaha dari menggoda, merayu bahkan menangis tidak ada respon sedikit pun dari Allea yang membuat Azlan makin khawatir dengan keadaannya.
Ternyata benar yang Rendra ucapkan beberapa saat yang lalu " kita terluka tapi luka itu tidak nampak disaat kita di tinggalkan orang yang kita cintai dengan sepenuh hati.." kata-kata itu benar Azlan mulai rasakan walaupun seseorang itu belum meninggalkan dirinya tapi terdiam terbujur tidak berdaya dengan senyum yang hilang dari bibirnya yang selalu di rindukan.
Wanita itu sangat wajar bila di bilang cerewet tapi saat dirinya terdiam seperti dunia sedang berduka, jadi biarkan dia dengan cerewetnya walaupun cukup menyaingi kicau burung di pagi hari yang menandakan hari akan cerah, begitupun wanita suaranya membuat hari-hati seisi rumah ikut cerah maka berharaplah ibu dari anak-anakmu ceria menunjukkan dia nyaman bersamamu itu yang Azlan harapakan dari Allea yang masih dipandanginya dalam komanya.
"Gimana dek..sudah siap.." tanya Rendra pada putranya yang terkejut mendengar suara papanya yang langsung bicara tanpa salam.
"Ya..pa cuma belum ngomong..lagi sama dokternya." Azlan menjelaskan pada papanya.
Saat keduanya berdiskusi ada hal yang tidak di harapkan terjadi Allea kondisinya makin menurun membuat dokter dan perawat berlarian mendengar panggilan dari bel yang Azlan tekan.
Rendra dan Azlan di minta keluar dari ruangan dimana Allea di rawat, dan bersamaan Candy baru saja datang dari rumah dengan membawa Mika yang tertidur dalam gendongan Candy.
__ADS_1
"Kenapa..mas.." Candy melihat Rendra dalam keadaan tegang dan rasa khawatir yang sangat.
Belum sempat Rendra menjawab seorang dokter keluar dengan sedikit rasa kecewa dan ingin menjelaskan pada keluarga pasien yang telah menunggu dengan harapan semua baik-baik saja.
"Maaf..saya manusia biasa hanya bisa berusaha..mohon ikhlaskan mungkin ini yang terbaik..sekali lagi saya mohon maaf..saya permisi.." dokter meninggalkan keluarga Rendra dan kembali kedalam ruangan dimana Allea.
Azlan tidak bisa berkata-kata hanya diam seribu bahasa, seakan-akan dunianya hancur serta gelap menaunginya saat ini.
Dan hal yang tidak diharapkannya harus terjadi pada keluarga kecilnya, dokter dan perawat keluar dari ruangan dimana Allea di rawat dengan membawa peralatan yang tadi melekat pada tubuh Allea.
"Ma..bisa ade..gendong Mika.." Azlan membawa putranya kedalam untuk di pertemukan dengan Allea.
Allea terbujur kaku dengan sedikit senyum yang dapat Azlan lihat, Azlan membaringkan Mika tepat di jantung Allea dan mendekapkan tangan Allea hingga memeluk tubuh kecil Mika dengan bantuan Azlan.
"Mika..dia mamamu nak.. menangislah sebagai salam perpisahan pada mamamu nak.." pinta Azlan yang masih tegar melihat Allea yang sudah tertidur dalam keabadian.
Sepertinya Mika mengerti akan permintaan papanya dia menangis kencang dan membuat Candy yang di luar ruangan masuk.
"Dek..kenapa Mika.." tanya Candy dengan rasa khawatir.
"Qalbii..dengarkan tangisannya..apakah kau tak mendengar dan melihat jerit kehilangan darinya..baru saja dia ingin bersamamu.." teriak Azlan yang membuat Mika makin menangis karena suara teriakan Azlan.
Candy mendengar suara teriakan dari isi hati Azlan lemas dan tidak bisa berdiri betapa rapuhnya Azlan kehilangan Allea yang baru saja merasakan cinta dalam ikatan halalnya.
"Kenapa kau tinggalkan aku sendiri kenapa..apakah aku tak pantas bersamamu.." Azlan mendekap tubuh Mika bersama dengan tubuh Allea.
"Sabar..ade..sabar.." pinta Candy yang sudah disamping Azlan.
"Ga..ma Al..ga sayang ade..ma..ga ma.." teriak Azlan bersamaan tangis Mika.
"Maaf..pak..bisa saya bawa sekarang.." pinta perawat laki-laki pada Azlan dengan sopan untuk membawa Allea ke ruangan lain yang akan dimandikan.
"Biar..saya saja yang melakukan itu..saya suaminya.." pinta Azlan yang tidak mau jasad istrinya dimandikan oleh bukan muhrimnya.
__ADS_1
"Ya..pak..." perawat menutup kembali wajah Allea dengan kain penutup.
"Saya masih bisa ditinggalkan sendiri sebentar.." pinta Azlan pada perawat.
perawat meninggalkan Azlan bersama Mika, Candy sendiri keluar untuk menemui Rendra yang telah menghubungi keluarga Allea dan pengurusan administrasi kepulangan jenazah Allea.
"Qalbii..kalau memang ini yang terbaik mas akan merawat Mika dengan sepenuh hati..yang pasti qalbii sudah membawa separuh hati mas.." Azlan kembali memeluk Allea dengan erat bersama Mika.
Mika merengek merasakan sesak dipeluk Azlan dan tubuh Allea, Azlan merebahkan kembali tubuh Allea dan berniat memperbaiki posisi gendongan Mika.
Terdengar suara seseorang terbatuk-batuk dan Azlan pikir ada orang lain selain dirinya dan Mika tapi tidak ada, saat kaki Azlan hendak melangkah suara seseorang membuatnya terkejut.
"Mas.." Azlan memalingkan mukanya kearah sumber suara, dilihatnya tubuh tidak berdaya itu membuka matanya tapi sangat lemah.
"Qalbii.." teriak Azlan memeluknya tapi tubuhnya yang lemah tidak bisa membalas dekapan Azlan.
"Maafkan Al..tidak bisa menemani mas.." ucapnya lemah dalam bisiknya perlahan.
"Sudah..qalbii jangan jangan bicara lagi.." Azlan menekan tombol untuk memanggil dokter.
Tidak lama dokter datang dan terkejut melihat kondisi Allea yang sudah sadar tapi ini keajaiban menurut dokter sebab ini merupakan kasus yang jarang terjadi.
Rendra dan Candy tidak bisa berkata-kata hanya ucapan syukur tidak ada henti pada Allah atas nikmat hidup baru untuk Allea.
Allea sendiri hanya bisa memandang suami tercintanya dengan menggendong bayi yang sangat tampan terdiam, seperti dia nyaman dalam gendongan Azlan.
"Ya..qalbii ini putra kita..Mika.." Azlan memperkenalkan Mika pada Allea.
"Sayang sapa mamanya..sayang.." Azlan mendekatkan Mika dan menempelkan pipi keduanya hingga bersentuhan.
Candy hanya bisa menangis melihat adegan ini, membayangkan kalau Allea tidak bangun dari tidur panjangnya Mika akan jadi anak tanpa kasih sayang ibu seperti dirinya.
Azlan seakan enggan beranjak dari sisi Allea dan dokter memakluminya begitupun keluarganya hanya Candy tidak ingin Mika harus tidur di rumah sakit dia tetap akan di bawa pulang untuk kesehatannya juga Azlan mengerti keinginan mamanya.
__ADS_1
Azlan saat ini orang yang paling berbahagia sebab di dipersatukan kembali dengan Allea yang hampir saja akan tetap dalam tidur panjangnya dengan meninggalkan buah hati dan suami tercintanya.