Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
08


__ADS_3

Tempat pernikahan Mas Iqbal


Tidak bisa di bayangkan bagaimana perasaan seorang Candy yang sangat sayang dan sangat dekat banget sama masnya harus datang ke acara pernikahan cuma untuk ucap selamat saja tanpa melibatkan diri dalam persiapan proses pernikahan mas Iqbal, rasa bersalah yang sangat, yang sekarang sedang Candy rasakan.


Sepanjang perjalanan Candy menyalahkan dirinya sendiri sebagai adik merasa belum berguna, belum bisa menyenangkan keluarganya terutama ayah dan mas Iqbal yang sekarang sedang akan melaksanakan prosesi ijab kabul.


Saat sampai di tempat pernikahan mas Iqbal, Candy mempercepat langkah kaki kecilnya untuk bertemu dengan keluarganya.


"Cantik....kesanyangan mas" mas Dimas merangkul bahu Candy yang matanya mencari suara seseorang yang disayangnya.


"Mas....., maafin....Can" Candy memeluk mas Dimas dalam isaknya yang tidak bisa ditahan lagi walaupun sudah berusaha untuk di tahannya tapi rasa bersalah danharunya tidak dapat di tahannya.


"Hey....tidak baik dihari bahagia ini kok menangis " mas Dimas menangkup kedua pipi Candy dan menghapus bulir bening, dari mata Candy yang berusaha meluncur dengan bebas tampa pamit terlebih dahulu kepada pemiliknya.


"Can....salah...Can...ga bisa jadi adik yang baik"ucap Candy dan isak tangisnya dalam dekapan mas Dimas yang menenangkan Candy yang masih merasa dirinya bersalah.


"Mas...tahu...sudah..kita ke dalam..yuk" ajak mas Dimas menyudahi tangisan Candy dengan rasa bersalahnya yang belum berkesudahan.


"Ayah...." Candy melepas tangannya dari genggaman tangan mas Dimas dan berlari kecil mendekat kearah ayah yang sedang menemui tamu undangan yang hadir dalam acara pernikahan mas Iqbal.


"Maafin....Can..." dalam dekapan ayah Candy terisak lagi, usapan tangan ayah menenangkan Candy yang masih dalam isak tangisnya.


"Tak...ada yang menyalakanmu cantik" suara ayah lembut terdengar ditelinga Candy yang masih dalam dekapan ayah.


"Tapi...Can..." Candy tidak bisa berkata hanya isak yang terdengar ditelinga ayahnya.


Ayah dan mas Dimas tersenyum melihat Candy yang polos masih dalam isak tangisnya merasa bersalah kepada keluarganya, Candy memang masih terus akan jadi anak kecil di mata ayah dan kedua masnya terbukti masih bisa menangis bebas tanpa memperhatikan sekitarnya sekarang dia berada.


"Sudah...semuanya sudah ayah siapkan dengan masmu, kami tahu kesayangan sibuk dan tidak bisa seenaknya saja meninggalkan kewajiban itu" ayah menenangkan Candy yang mulai tenang dan membaik dari keadaannya.


"katanya udah gede...tapi masih mewek aja" goda mas Dimas dengan santai hanya terdengar ditelinga Candy, dan cubitan dipinggang yang didapatkan mas Dimas dari Candy.


"Auw....sakit kesayangan mas" mas Dimas pura-pura kesakitan, hanya juluran lidah yang Candy berikan sebagai balasan ke mas Dimas, mas Dimas senang Candy sudah kembali kealamnya lagi.

__ADS_1


Itulah momen yang selalu mas Dimas rindu dari adik kecilnya yang manja, polos terkadang bandel juga usil, mas Dimas masih memandang Candy dan menggandeng tangannya.


"Mas temenin...yuk...kasih ucapan selamat ke mas Iqbal hayo..." ajak mas Dimas dan menggandeng tangan Candy yang berusaha merapikan riasan mukanya bekas tangisnya yang masih sedikit nampak.


"Mas...gimana" meminta tolong mas Dimas untuk melihat penampilan Candy yang tidak yakin akan penampilannya.


Tangan mas Dimas mengusap sedikit bekas air mata di pipi Candy dengan lembut dan telaten takut merusak riasan Candy yang sudah berdandan cantik senatural mungkin.


"Udah...masih cantik..kok" mengoda tapi menyakinkan Candy dengan riasan mukanya yang masih rapi tidak seperti yang dikhawatirkan Candy ucap mas Dimas.


"Ayah...mas Dimas...tu" Candy malu di goda mas Dimas, meminta tolong kepada ayahnya yang masih didekat mereka.


"Udah...sana kasihan masmu, kasih selamat ya" ucap ayah menyudahi candaan Dimas dan Candy yang tidak bakal ada habisnya bila sudah bertemu pasti saling jail dan usil.


"Dah...ayah.." Candy berjalan menuju podium bersama Dimas meninggalkan ayah yang menyambut tamu yang datang.


Diatas podium mas Iqbal masih menyalami tamu yang datang memberikan ucapan selamat padanya dan Istrinya.


Oh...ya belum diperkenalkan mas Iqbal menikah dengan mba Salma yang seorang dosen juga cuma bedah universitas yang sama-sama sibuk mengajar tentunya.


"Terimakasih...tidak ada yang perlu di maafin sebab tidak ada yang salah, mas tahu itu" ucap mas Iqbal dalam peluknya terdengar lembut di telinga Candy yang masih dalam sedihnya.


"Masih...lanjut nih..meweknya...nanti tambah jelek loh " goda mas Dimas yang tidak ingin Candy terus merasa bersalah.


"Tidak...mau kasih selamat mbamu...cantik" ujar mas Iqbal menangkap wajah imut Candy dengan kedua tangannya.


"Maaf...." Candy memeluk Salma dengan sayang.


"Udah...dong sedihnya, mba mau cantik yang manis bukan yang lagi jelek" Salma ikut menggoda Candy yang sangat disayang mas Iqbal.


"Selamat ya mba..maafin Can...baru sampe " dengan senyum di buat semanis mungkin berusaha menghentikan tangisnya.


"Nitip masku ya..mba..jangain awas banyak yang mau" bisik Candy ditelinga mba Salma memang mas Iqbal cakep dengan posturnya yang terbilang cukup ideal.

__ADS_1


Salma hanya tertawa kecil yang membuat mas Iqbal tahu apa yang di bisikan Candy.


"Mas, awas...cantik bikin ulah" canda mas Dimas yang membuat mas Iqbal melihat Candy dan Salma.


Merekapun tertawa bersama seakan tahu kemana arah pembicaraan antara Salma dan Candy, sebab kedua Mas Candy hafal semua apapun tentang Candy yang kartunya ada di kedua masnya.


Waktu tidak bisa kita ajak berdamai , terus bergulir mengikuti alurnya, serasa begitu cepat, belum hilang rasa kangen yang Candy rasakan sudah harus berpisah dengan orang tersayang.


Acara pun telah usai tamu-tamu undangan satu persatu meninggalkan acara, kamipun kembali ke rumah masing-masing, mas Iqbal harus pulang ke keluarga mba Salma.


Ayah, mas Dimas dan Candy kembali ke rumahnya tapi mas Dimas tidak bisa lama harus mengurus perpindahan tempat kerja, dari tempatnya yang lama ke kantor pusat yang dekat dengan kediaman ayah dan biar ayah ada temannya itu alasannya.


Sedangkan Candy harus menyelesaikan tugas KOASnya yang hanya tinggal beberapa bulan lagi selesai.


Sebenarnya Candy tak ingin meninggalkan ayahnya tapi apa daya tugas tidak bisa Candy tinggalkan, dengan berat hati Candy berpamitan kepada ayahnya.


"Yah...maaf ga bisa lama, tugasku belum selesai, liburan nanti Can...pulang menemani ayah" Candy menahan tangisnya.


"Ayah tahu...ayah do'akan semoga di mudah kan"tangan Ayah memeluk tubuh mungil Candy yang menahan tangisnya


"Terimakasih..yah..Can...pamit" Candy masih memeluk ayahnya dengan rasa sayang.


"Dah...ayah" mencium pipi ayahnya dan mencium punggungnya tangan ayahnya.


"Assalamualaikum..yah" langkah Candy ke luar dari pintu rumah ayahnya.


"Waalaikum salam" jawab ayah yang sudah tak terdengar lagi oleh Candy .


Ayah masih berdiri di menatap gerbang rumahnya yang dia pikirkan saat ini, dia sudah menyelesaikan satu tugasnya menikahkan anak pertamanya, masih ada tugas yang belum dia selesaikan untuk kedua anaknya lagi, rasa syukur yang sekarang dia panjatkan kepada Allah sebab masih bisa melihat anaknya berkeluarga dengan pilihannya dan pasangan yang baik pula.


"Bu..aku sudah memenuhi tugasku dengan baik sesuai harapanmu, semoga aku bisa menyelesaikan tugasku yang lainnya" guman ayah dalam batin.


Tidak ada raut sedih yang tampak dari wajah ayah tapi senyumnya yang menggembang menandakan hatinya bahagia.

__ADS_1


Ayah telah menjadi ayah yang berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya sebagai amanah dari tuhan yang harus dijaga dan memberikan yang terbaik untuk kehidupan anak-anaknya.


__ADS_2