
..."Diam ku sedang serius merakit do'a untukku terbangkan ke langit sana biar nanti tuhan ambil untuk dijatuhkan dipelukan mu" Rendra....
Hari ini Ainun ada perluan di kampus dan kebetulan juga Intan ingin pergi bersama, keduanya berjalan melewati lorong kampus terlihat mahasiswa baru yang sudah mulai aktif menerima pengajaran dari dosen.
"Hai..Ai.." sapa Fatur dari arah yang berlawanan dengan senyum bahagianya.
"Assalamualaikum..kak.." ucap Ainun sopan tapi tidak tersenyum.
"Waalaikum salam..Ai..sombong..deh sampai lupa kasih ucapan selamat.." protes Fatur pada Ainun juga Intan.
"Oh..iya..maaf..kak.." keduanya kompak hanya Ainun menggaruk kepalanya menutupi rasa bersalahnya.
"Mana..buketnya.." pinta Fatur dengan tangan seperti orang meminta.
"Masih..di toko bunga.." ujar Intan polos dengan tertawa meledak.
"Kalian..berdua lupa ya..gue..udah lulus.." Fatur menjelaskan dengan sedikit kecewa.
"Bukan..begitu kak..kita juga sibuk..kemarin baru saja selesai UKDI ( Ujian Kompetensi Dokter Indonesia)..ini mau persiapan wisuda.." Ainun menjelaskan dengan sedikit serius.
"Oh..gitu..ya..Ai..ada salam..dari calon mertua..kapan mau jadi mantu katanya.." ucap Fatur serius tapi tidak dengan Ainun.
"Waduh..berat.." jawab Ainun sedikit konyol.
"Dapat..salam harusnya waalaikum salam..bukan waduh.." ujar Fatur bingung.
"Terus..berat dimananya sih..sekedar jawab waalaikum salam.." Intan ikut menambahkan.
"Berat di saingannya..jadi anak..aja..biar enteng..kitakan adik kakak.." jawab Ainun menutup mukanya karena tertawa.
"Bisa..aja.." ujar Intan menyenggol Ainun.
"Serius nih..ga mau jadi mantu bapak ku.." ucapnya lagi Fatur memandang serius Ainun.
"He..hehehe..jadi mantunya abi..aja.." ucap Ainun dengan menutup mulutnya yang membuat bingung Fatur juga Intan.
"Abinya..siapa..?" tanya Intan mengguncang pundak Ainun.
"Abinya seseorang disana.." Ainun menunjukkan arah dimana letak jepang sebab saat ini Andika ada di negara bunga sakura itu.
"Ah..ups..." Fatur menghela napas dengan menunduk.
"Tenang..kak..akan ada yang lebih baik dari Ai.." seru Ainun sedikit menepuk tas punggung Fatur.
"Ai..Ai..kamu tuh..ya masih bisa nyenengin orang yang patah hati karena kamu, padahal jelas-jelas kamu yang di mau.." Fatur geleng kepala, menurutnya Ainun memang ajaib penolakannya tidak menggoreskan luka buat Fatur apa lagi sakit hati.
__ADS_1
"Kakak..kan kakaknya Ai..." ucap Ainun dengan memeluk tangan Intan.
"Kalau ada stoknya aku mau pesan satu..lagi yang kaya kamu.." ujar Fatur melihat ada seseorang melambaikan tangan yang mengharapkan dirinya mendekat kearahnya.
"Ai..gue tinggal dulu..dah.." ucap Fatur berjalan santai.
"Hus..hus..sana.." Intan mengusir Fatur seperti menyuruh pergi ayam.
"Tan..kamu jahat ya..untungnya orangnya ga tahu.." tawa Ainun pecah.
"Bodoh.." Intan menarik tangan Ainun.
Setelah keduanya menyelesaikan urusannya di kampus dan berniat pulang bareng, keduanya memilih nongkrong dulu di cafe yang tidak jauh dari kampus.
Saat keduanya memesan suara yang tidak asing buat keduanya yang menyapanya dengan sopan tapi keduanya tidak mengharapkan kehadirannya.
"Hai..berdua aja..nih.." sapanya yang terdengar akrab.
"Hai.." balas keduanya dengan malas.
"Mau..pesan apa..mba ?" tanya pelayan cafe.
"Pesan aja..saya yang bayar..mba.." ujar Rafiq yang ingin mengakrabkan diri.
"Bener..nih.." tanya Intan yang sebenarnya hanya menjailinnya.
Intan memesan banyak sekali makanan yang membuat Ainun bingung siapa yang akan menghabiskan semua makanan yang Intan pesan sedangkan kita hanya berdua.
Ainun pikir dia akan berdua saja dalam satu meja ternyata Rafiq ikut duduk bersama keduanya, rasanya tidak etis bila menyuruhnya pindah sebab dia sudah mentraktir semua makanan dan minuman yang Intan pesan.
"Libur..kak.." tanya Intan santai memulai bicara.
"Ya..kebetulan juga jalan.." balasnya melihat pada Ainun yang memainkan ponselnya.
Pesanan datang dan hampir memenuhi meja, Ainun hanya memandang semua makanan itu hanya berpikir perut siapa yang akan menghabiskan semua makanan ini pikirnya dalam diam.
"Ayo..di makan.." pinta Rafiq yang melihat Ainun masih terlihat bingung melihat banyaknya pesanan.
Intan dengan santai menikmati pesanannya dengan tanpa berdosa sedangkan Rafiq berbincang santai seputar dunia kampus.
Ainun sangat merasa tidak nyaman berharap ada keajaiban dan tuhan mengabulkan keinginnya Fatur datang dengan beberapa teman satu angkatanya ikut bergabung dan otomatis makanan berangsur ludes begitu juga obrolan berganti topik mereka yang menguasi cafe walaupun Ainun hanya jadi pendengar tapi merasa tertolong.
Rafiq merasa jadi orang yang benar-benar asing buat Ainun juga Intan kedua nyambung dengan obrolan bareng beberapa orang yang baru bergabung itu.
Gelak tawa yang silih berganti juga dengan kekonyolan gaya khas anak kampus membuat Rafiq tidak lagi nyaman tapi kapan lagi dirinya bisa sedekat ini denga Ainun itu pikirnya.
__ADS_1
Fatur juga sesekali menggoda Ainun tapi Rafiq pikir wajar siapa juga yang tidak tertarik sama Ainun yang cantik bermata indah, belum lagi dengan kepribadian yang santun.
Tapi seperti biasa Ainun bisa menenangkan kondisinya tanpa meninggalkan kesan dirinya membalas rasa pada Fatur.
Dalam gelak tawa yang terdengar ada kerinduan pada sosok yang sudah hampir setahun ini meninggalkannya yang hanya sesekali menghubungi disela kesibukannya.
Ainun benar-benar ingin keluar dari situasi ini, tapi apa daya Intan masih asyik dengan obrolan yang sebenarnya memang asyik cuma saja buat Ainun yang berharap ada sosok yang sedikit banyak membuatnya nyaman bila bersamanya.
Sepertinya Rafiq tidak tahan juga berlama-lama dengan mereka yang secara usia sudah jelas jauh begitu juga dengan obrolan pastinya sangat tidak nyambung dan akhirnya undur diri lebih dulu berpamitan.
"Terimakasih..kak..traktirannya.." ucap semuanya bersamaan dan balasan Rafiq hanya acungan jempol saja dan berlalu meninggalkan cafe dengan isi dompet terkuras menyisahkan uang kertas berwarna hijau sendirian tanpa teman.
"Tan..ayo..kita pulang.." pinta Ainun setelah kepergian Rafiq.
"Iya..iya..sabar..apa..Ai.." Intan bangun dari kursinya untuk mendekat pada Ainun.
"Kak..kita duluan ya.." seru Ainun yang sepertinya sudah lelah.
"Ga..bareng..aja.." pinta Fatur serius dan hanya lambaian tangan dari Ainun yang sudah didepan pintu keluar.
Ainun dan Intan tidak butuh waktu lama untuk sampai di asrama yang saat ini jadi tempat ternyamannya bila pulang kuliah.
Ainun seperti biasa lebih dulu membersihkan diri bila dari luar asrama, dalam kamarnya Ainun merebahkan tubuhnya yang hampir sehari ini di habiskan di luar asrama.
Di merasa ada salah satu buku bacaan yang belum dia baca, saat menyentuh buku itu Ainun merasa ada ruang hatinya yang sedikit hilang hingga dia memeluk bantal dan terisak " tuhan apa benar aku sudah menyukainya " dalam benaknya dia bekata.
Dan dalam keadaan dirinya kacau poselnya berdering dan dalam mode panggilan video call " ih..ga mungkin kali aku menjawabnya " ujar Ainun seorang diri sebab dia tidak memakai hijab dan tidak dalam keadaan nyaman.
Tapi ponsel itu terus menghubunginya tanpa bosan hanya saja sudah berganti mode dengan panggilan biasa.
★★" Assalamualaikum..Ai.." ucapnya seperti senang mendapat balasan dari Ainun.
★★" Waalaikum salam..kak." Ainun makin terisak sebab rasa itu makin dalam ini baru dari suaranya itu pikir Ainun.
Dan samar-samar terdengar lagu dari Bunga Citra Lestari " cinta pertama (sunny)" yang makin pecah tangis Ainun masih menggenggam ponselnya.
★★ " Ai..Ai..you ok.." ucap Andika menenangkan Ainun yang semakin menangis bukan lagi terisak.
★★ "Ai..Ai..maafin aku kalau aku salah..tapi jujur bicaralah dimana letak salah ku..Ai..Ai.." Andika dibuat sangat bingung masih berusaha menenangkan Ainun.
★★ " Kalau saja..aku bisa menghilangkan diri seperti di dongeng-dongeng aku ingin ada di dekat Ai..untuk minta maaf tanpa harus tahu apa salah ku..Ai..maafin aku.." Andika sendiri juga seiring waktu ikut menangis sebab tidak bisa menenangkan Ainun dan yang dia rasakan telah menyakiti Ainun.
Kedua ponsel itu bukan lagi saling bertukar omongan tapi bertukar suara tangis keduanya yang tidak jelas apa yang membuat keduanya seperti berduka.
Hingga Intan masuk dan memeluk Ainun yang masih menangis, dan Andika seperti mendengar suara lain yang sudah dikenalnya sedikit banyak akhirnya menitipkan Ainun pada Intan untuk saat ini Andika mengakhiri menghubungi Ainun agar lebih tenang terlebih dahulu.
__ADS_1
Andika terdiam seperti mengkoreksi apa saja yang telah dilakukannya beberapa saat yang telah lewat adakah dari perkataan yang telah melukai Ainun tapi tidak ditemukan ucapannya yang melukai Ainun, tapi dia tetap akan minta maaf walaupun tidak ada salah itu pikirnya saat ini.
Sebenarnya ingin dia cepat lebih awal untuk pulang bertemu Ainun tapi protokol kedinasan diatas segalanya ini dilema buat semua seorang tentara menghadapi situasi seperti ini.