Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
92


__ADS_3

"Cinta bukan mengajarkan kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan, cinta bukan mengajarkan kita menggunakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan, cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat" Rendra.


Rumah sakit hari ini sangat ramai karena Alfa yang baru saja keluar dari ruangan operasi masih dalam keadaan belum sadarkan diri.


"Nyaris kena jantungnya" ujar Dokter Rudi yang seorang dokter bedah (kakak ipar Rendra) yang tahu Alfa.


"Syukur deh..dok..tapi sampai kapan dia akan sadar dok" tanya Panji yang didampingi Rena istrinya.


"Sampai dia melewati masa kritisnya"ujar Dokter Rudi yang melepaskan tutup kepalanya untuk ke ruangan kerjanya.


Saat ini Alfa masih di ruanga ICU yang semakin bikin kawan satu timnya was-was dengan keadaannya, mereka hanya sesekali masuk bergantian melihat kondisi Alfa selebihnya hanya Rena istri Panji yang lebih intensif mengecek kondisi Alfa.


"Cil...bangun apa..sudah kelamaan loe tidur" ucap Panji duduk di sebelah tempat Alfa terbaring dengan tidur pulasnya.


"Kapten nyari loe...bawa makanan banyak buat loe...ayo bangun" goda Panji lagi yang bicara seorang diri berharap Alfa menyudahi tidurnya.


"Kapt...bocil ga denger nih" goda Panji lagi dengan suara yang nyaris ingin menangis haru karena melihat kondisi Alfa yang banyak melekat selang di tubuhnya.


Tangis Panji pecah dengan tersedu-sedu dalam dengan memeluk salah satu tangan Alfa "Kapt kami butuh loe...nih liat bocil tidur ga mau bangun" dalam tangisnya Panji memanggil Rendra.


Begitu juga dengan Ifan dan Farel yang bergantian melihat kondisi Alfa yang masih saja belum sadarkan diri.


"Bangun apa...cil...gue janji beliin loe duren sepuas loe makan deh...tapi bangun dulu" rengek Farel dengan tangan mengusap salah satu punggung tangan Alfa.


"Kita semua sayang loe...cil ayo...bangun" ujar Farel lagi yang masih memandang ke wajah polos Alfa yang sangat dia sayang seperti adiknya.


Ketiganya menunggu di ruangan tunggu dalam diam dengan pikirannya masing-masing, tanpa di sadari ketiganya Mama Rendra memasuki ruangan dan menepuk pundak Panji.


"Sabar...do'akan yang terbaik" ucap Mama Rendra dengan tersenyum ramah dan menenangkan kawan satu tim Rendra.


"Ma...." ketiganya bersamaan menyapa dan menyalami Mama dengan sopan dan membalas senyuman Mama.


"Terimakasih...Ma..tahu dari siapa Ma"tanya Panji ke Mama Rendra dengan sopan.


"Rudi dan melaksanakan pesan Rendra" ujar Mama dengan mengusap lembut salah satu pundak kawan Rendra.


Mama masuk kedalam ruangan Alfa yang masih terbaring tak sadarkan diri dalam tidur pulasnya "Assalamualaikum...Alfa...ini Mama masih belum hilang ya...kantuknya, Kapten nanyain tuh...kangen katanya" ucap Mama dan membacakan do'a di kepala Alfa dengan mengusapnya lembut.

__ADS_1


Di luar rungan ketiga kawan Rendra dikejutkan dengan kedatangan Tazkia dan kedua orang tuanya yang ingin melihat kondisi Alfa yang telah menolong putrinya sebagai rasa simpati dan terimakasih.


"Gimana...bang kondisi Mas Alfa" tanya Tazkia dengan menyalami tangan ketiganya begitu juga kedua orang tuanya.


"Masih belum sadar...kia..."ujar Ifan yang tahu Tazkia, berbeda dengan Panji yang masih bingung siapa Takzia sebab saat Tazkia datang ke pernikahannya dia jadi pengantin jadi ga gabung bersama timnya untuk mengenal siapa Tazkia.


"Terimakasih sudah membantu menyelamatkan putri saya" ucap Ayah Tazki dengan senyum ramahnya.


"Sama-sama Pa...itu sudah tugas kami" ucap Panji sopan ke Ayah Tazkia yang masih berdiri.


"Bisa saya lihat kondisinya" tanya Ayah Tazkia ke Panji dengan sopan ingin melihat kondisi Alfa.


"Bisa Pa...tapi ada Mama tunggu sampai Mama keluar dulu" ujar Panji yang mewakili kawan satu timnya menjelaskan.


"Maaf bisa panggil om saja ya...biar akrab, oh...ada orang tuanya kebetulan saya mau berterimakasih" ujar Ayah Tazkia dengan tersenyum ramah.


"Maaf...om, bukan orang tuanya tapi Mama Kapten kami" Farel menjelaskan yang sebenarnya agar tidak salah paham.


Ayah Tazkia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti penjelasan dari Farel dan di persilakan duduk di ruang tunggu.


Tidak berapa lama Mama Rendra keluar dari ruangan Alfa di rawat dan betapa terkejutnya melihat kehadiran Tazkia dan kedua orang tuanya ada di ruangan tunggu.


"Ko...ada di sini" ucap Ayah Tazkia ke Mama Rendra bertanya.


"Anakku...belum sadar..." ucap Mama Rendra yang sudah menganggap semua kawan tim Rendra adalah anaknya.


"Kenapa..."tanya Bunda Tazkia ke Mama Rendra penasaran.


"Biasa kalau lagi dinas ya...mainannya peluruh" ujar Mama Rendra dengan candanya.


"Oh...jadi yang tolong kia..." ujar Ayah Tazkia dan anggukkan kepala Mama berikan.


"Makasih Mba...anakku sudah ditolong tapi jadinya..." ujar Bunda Tazkia tidak melanjutkan ucapannya.


"Sudah...lah do'akan saja yang terbaik biar cepat sadar" ucap Mama Rendra mengusap punggung Bunda Tazkia.


Ayah Tazkia masuk ke dalam ruangan Alfa di rawat "Terimakasih nak...sudah menolong anak om..." ucap Ayah Tazkia dengan memegang tangan Alfa.

__ADS_1


Diruang tunggu Bunda Tazkia masih berbincang dengan Mama Rendra membahas Alfa dan Tazkia hanya menjadi pendengar saja.


"Alfa anak...baik dia tidak banyak ulah" ujar Mama Rendra menjelaskan siapa Alfa.


"Maaf ya...Mba...harus seperti ini" ucap Bunda Tazkia yang sudah lama kenal Mama Rendra.


"Sudah jalannya kenapa harus minta maaf...ini sudah jadi tugas mereka"ujar Mama Rendra menenangkan Bunda Tazkia untuk tidak menyalahkan keadaan.


Kini giliran Tazkia yang masuk kedalam ruangan Alfa yang masih saja belum menunjukkan kesadarannya dari tidur panjangnya.


"Mas...ini kia...bangun dong " ucap Tazkia berbicara sendiri berharap Alfa mendengarkan apa yang di ucapkannya.


"Kia...belum bilang makasih...sudah merepotkan Mas...lagi" ucap Tazkia lagi dengan menatap wajah tidak berdosa Alfa yang selalu saja apa adanya.


"Mas...bangun dong...kia ga mau disalahkan yang menyebabkan Mas seperti ini" ujar Tazkia yang terdengar konyol berharap ada perdebatan dari Alfa karena kesal.


"Mas...bangun...kia minta maaf..sudah menyusahkan Mas" isak Tazkia tidak tertahankan melihat kondisi Alfa yang biasanya jadi teman saat bertemu dengan Tazkia yang selalu jadi penyelamat buat dirinya.


Alam bawa sadar Alfa mendengar suara seseorang memanggilnya tapi yang tampak nyata Rendra hadir dan menepuk pundaknya "mau sampe kapan cil kamu tidur...bangun ada yang kangen tuh, ayo...bangun jagoan..." suara Rendra seperti nyata terdengar di telinga Alfa, dan sekarang berganti suara seorang gadis menangis memanggil namanya.


"Mas...bangun kia mau Mas...bantu kia lagi, kia butuh Mas..." ucap Tazkia tanpa berfikir malu seandainya Alfa bangun dari sadarnya.


Di luar ruangan Ayah Tazkia menceritakan apa motif penculikan Tazkia, sebenarnya yang menculik Tazkia adalah orang suruhan mantan pacar Tazkia yang berharap untuk melanjutkan hubungannya dengan Tazkia lagi tapi mantan Tazkia mempunyai maksud lain yaitu mengharapkan harta dari orang tua Tazkia , yang tahu orang tua Tazkia hanya mempunyai dua orang anak, kakaknya sudah mandiri jadi menurutnya hartanya akan jadi milik Tazkia seutuhnya dan berarti miliknya, Tazkia sendiri menolak menjalin hubungannya kembali jadi dia melakukan hal yang di luar kendali dengan menculik dengan mengunakan orang bayaran yang profesional dalam melakukan penculikan dan meminta tembusan ke orang tua Tazkia sebagai gantinya.


"Pengen kaya...tapi konyol " ujar Panji yang ngemas mendengarnya.


"Orang tuanya aja ga kasih dia warisan ko bisa pengen warisan dari orang ngarep itu mah" ujar Ifan menambahkan ikut kesal.


"Ada aja ya...orang ngarepin punya orang masuk rumah sakit jiwa ini...mah harusnya" ujar Farel konyol tapi benar juga sih menurut yang lain.


Tazkia berlari keluar ruangan memanggil nama orang yang masih ada di luar ruangan untuk memanggil dokter, yang membuat semua yang ada di ruang tunggu bertanya ada apa dengan kondisi Alfa.


Sebelum Tazkia memanggil orang untuk memanggil dokter ini yang terjadi.


"Mas...jangan biarin kia sendiri apa" ucap Tazkia dalam kesendiriannya berbicara.


"Mas...ga sayang ya...sama kia..." ucap Tazkia lagi mengharapkan Alfa bangun.

__ADS_1


Mata Alfa berlahan terbuka tapi Tazkia tidak menyadari itu dia lebih fokus memegang tangannya Alfa, Alfa sendirian menikmati pemandangan di depannya berharap dia salah apa halunya dia sudah mati di depannya ada bidadari yang menunggunya bangun, napasnya Alfa tersedak dan membuat Tazkia terkejut melihat Alfa yang sudah membukakan matanya yang terus memandangnya tanpa berkedip hanya diam membisu.


Alfa...oh...Alfa si Bocil yang dirindukan kawan satu timnya dengan segala tingkah polos dan konyolnya seperti adik kecil menurut mereka.


__ADS_2